
*Jenna sudah duduk disebuah sofa yang terletak disamping diding kaca yang mengarah ke area outdoor *sebuah kafe. Gadis 22 tahun dengan rambut hitam sebawah bahu itu terlihat sedang menunggu seseorang. Terlihat dimejanya terdapat dua gelas teh manis yang gelasnya sudah berembun, dan dua piring nasi goreng seafood.
5 menit setelah makanan disajikan terlihat Jenna melambai kearah seorang pemuda dengan kemeja kotak kotak berwarna biru putih dengan perawakan cukup tinggi. Senyum terlihat dari kedua pasangan yang sedang duduk berhadapan dan menyantap makan siang mereka. Obrolan mereka meliputi kegiatan mereka dikampus. Walaupun satu kampus mereka beda jurusan. Jenna mengambil jurusan manajemen, dan Andra lelaki yang sedang duduk dihadapan Jenna seorang mahasiswa kedokteran.
*Ini adalah tahun terakhir kuliah mereka, bukan hanya saling meluangkan waktu ditengah kesibukan kuliah mereka, mereka juga sedang menciptakan momen momen tak terlupakan sebelum Andra meninggalkan Jenna untuk melanjutkan study* nya ke negeri sebrang. Mereka terbilang pasangan bucin tingkat parah. Sejak kedekatan mereka 2tahun lalu mereka hanya melakukan segala kegiatan berdua, Jenna bahkan sampai tidak sempat lagi bersama sahabat sahabatnya dulu. Ia hanya memiliki teman sekelas yang bahkan tak tergolong bestie seperti kebanyakan gadis lainnya.
"Jen, aku ngga bisa lama lama ya sayang, aku harus segera selesein laporannku, dateline nya dimajuin nih" Andra yang memang sangat sibuk sebagai mahasiswa kedokterkan bukan lagi menjadi hal baru bagi Jenna. Sudah meluangkan 1jam untuk makan siang saja sudah sangat bagus untuk nya.
Jenna yang sudah menyelesaikan makan siangnya langsung diajak Andra menuju parkiran mobil. Sepanjang menuju mobil Jenna Andra terus menggandeng tangan putih Jenna. Dibukakannya pintu mobil untuk Jenna dan setelah memastikan kekasihnya memakai sabuk pengaman dengan baik ia pun mempersilahkan Jenna untuk lebih jalan terlebih dulu.
*Jenna yang sudah tak ada jam kuliah pun menuju kantor papanya. 25menit berselang mobil Mini 3doors *putih milik Jenna memasuki pelataran hotel bintang 5 yang merupakan salah satu hotel terbesar dikotanya. Ia memarkir mobilnya didepan lobby hotel dan seorang karyawan yang mengetahui kedatangan putri dari pemilik hotel itupun langsung sigap menghampiri dan memarkirkan mobil Jenna.
Jena memasuki lobby hotel dan menuju lantai tempat papa nya berada.
Tring
__ADS_1
Dengan langkah tegap ia berjalan menuju ruang paling ujung sambil sesekali menganggukan kepalanya saat para karyawan menyapanya. Tak asing memang untuk para karyawan atas kedatangan pewaris tunggal Wardha Hotel, ia kerap kali datang kehotel hanya untuk mengantar makan siang untuk bos besar mereka atau bahkan mengikuti beberapa rapat.
Jenna sudah mulai membiasakan dirinya dengan pekerjaan yang akan ia jalani nanti . Ia tak mau menyusahkan papanya lagi saat tahta itu diberikan padanya. Bukan terpaksa tapi dia harus meneruskan apa yang sudah keluarganya bangun selama ini, jika boleh memilih Jenna malah menginginkan membuka usaha kecilnya sendiri. Atau hanya sekedar menjadi iburumah tangga seperti mamanya.
Tapi keinginan Jenna harus ia tutup rapat saat kejadian buruk menimpa kakak semata wayangnya. Janu Sukma Wardhana, anak lelaki semata wayang keluarga Wardhana harus meregang nyawanya saat kecelakaan kereta api menimpanya. Kabar duka yang datang pada saat ia berusia 15tahun.
Jenna dan Janu memiliki selisih usia cukup jauh yaitu 10tahun. Kehilangan putra pertamanya membuat Pak Hari seperti kehilahangan pegangan hidup. Putra yang sudah membantunya membesarkan nama Wardha hotel harus pergi dengan sangat cepat menginjak usia 25tahun. Kondisinya memburuk hingga membuat kinerja hotel tersebut anjlok dan kehilangan banyak kerjasama.
Jenna yang tak tega melihat kondisi papa nya yang sangat terpuruk berjanji untuk membantu papa nya kelak untuk menjalankan bisnis mereka. Pak Hari sangat terenyuh dengan keputusan Jenna yang pasalnya adalah anak perempuan yang dianggapnya tak perlu bersusah payah untuk mendapat kenyamanan hidup. Setelah 3tahun terpuruk ia mencoba bangkit dan kembali membawa kembali nama Wardha hotel diatas angin.
"Siang Bu Jenna" sapa Lola sekretaris papa nya. semenjak ia mulai masuk dalam sendi kehidupan hotel para karyawan disana memanggilnya dengan sebutan Ibu.
"Siang mbak Lola, papa didalam?" ya begitulah Jenna meski ia terkenal tegas dan disiplin ia selalu menghormati ke yang lebih tua walaupun itu karyawannya. Setelah mengetahui keberadaan sang papa Jenna melangkah memasuki ruangan dengan pintu jati putih yang cukup besar.
ceklek
__ADS_1
"haloo paahh" Jenna menyapa dan menberi kecupan pada pipi kanan papanya.
"hai sayang, udah ngga ada jam kuliah? kok kamu kesini" papa Jenna yang sudah tau kebiasaan anaknya tak heran lagi atas kedatangan tiba tiba putri cantik ya itu.
"udah kok pa, tadi ngga ada matkul aku cuman konsul aja sama dosbingku, Papa udah makan siang kan?" Jenna sudah duduk di sofa ruang kerja papanya, ia mengedarkan pandangannya menembus dinding kaca yang menyuguhkan pemandangan gedung pencakar langit lainnya dengan sangat jelas.
"sudah, tadi papa makan diluar sekalin meeting, gimana Andra? masih sibuk ya? udah lama dia ngga main kerumah Jen" Pak Hari adalah sosok ayah yang perhatian, ia selalu mencoba mengerti hal hal kecil tentang keluarganya, termasuk hubungan putrinya dengan Andra.
"iya pa, tadi juga cuman ketemu makan siang bentar aja" mereka selalu mengobrolkan segala hal, bukan hanya soal ayah dan anak, juga bisnis saja.
Pukul 5sore Pak Hari dan Jenna keluar dari lobby hotel bersama meski mereka menaiki mobil berbeda.
"Pa papa duluan aja ya aku mau mampir beli buku sebentar" pamit Jenna pada papa nya dan menuju mobilnua setelah mencium punggung tangan sang papa.
Jenna sebenarnya sangat merindukan teman temannya. Ia sangat iri ketika ia harus jalan sendirian dan berpapasan dengan gadis seusianya hangout dengan teman temannya. Ya bagaimana lagi Andra yang menyadari tak memiliki banyak waktu untuk Jenna memang menjadi posesif dan melarang Jenna pergi dengan orang lain. Jadi Jenna selalu memutuskan untuk pergi pergi seorang diri jika ia sangat terpaksa.
__ADS_1
Ia tak suka pergi berlama lama, apalagi untuk nongkrong sendirian itu hanya akan membuatnya terlihat semakin tidak memiliki teman. Jenna memang seperti kebanyakan remaja pada umumnya terlalu bucin parah kepada pasangannya.