
"heh beraninya!" ketus Jenna mendengar seruan Gaga.
"berani lah! emangnya kamu" goda Gaga.
"emangnya aku bocah" ucap Jenna memalingkan wajahnya ke jendela.
"coba sini kalo berani" Gaga semakin menggoda Jenna dan mendapat lirikan tajam darinya.
"kamu cemburu ya tadi sama Claudia?" imbuh Gaga
"cemburu? kenapa? bukannya kamu yang udah bohong demi bikin dia cemburu?" sahut Jenna kesal.
"bohong? mana yang bohong?" tanya Gaga bingung, dan tangannya tetap lincah di stirnya.
"iya kamu bohongin dia bilang kita mau tunangan" kini Jenna bertambah kesal dibuatnya.
"emang kamu ngga mau?" kini Gaga ganti bertanya.
Jenna hanya melirik tanpa menjawab.
Gaga menghentikan mobilnya yang sudah hampir sampai dilobby kantor Jenna.
"kok berhenti disini!" seru Jenna.
"jawab dulu, emang kamu ngga mau?" Gaga kembali bertanya, dan mendapatkan raut muka Jenna yang tak paham.
"kamu ngga mau bulan depan kita tunangan? apa minggu depan sekalian bareng Seren sama kak Gyan" imbuh Gaga.
"tunangan itu sama pacarnya Ga bukan temennya!" ngga ada romantisnya ini orang kalo mau nglamar beneran batin Jenna yang menoleh ke jendela memalingkan rona merah diwajahnya.
"oh jadi gitu menurut kamu? oke" Gaga melajukan mobilnya dan menghentikannya tepat didepan pintu lobby kantor Jenna. Kali ini dia membiarkan Jenna turun tanpa dibukakan pintu untuknya.
Setelah berterimakasih Jenna menutup pintu mobil Gaga dan berjalan masuk dalam gedung dengan lebih dari dua puluh lantai itu.
...
Setibanya didalam kamarnya Jenna merebahkan tubuhnya ia menguatkan hatinya sekali lagi mengusap layar ponselnya, dan Gaga pun tak membalas pesannya sedari sore tadi.
apa aku salah bicara tadi? apa dia marah karna aku menolak ajakannya
pet
lampu rumahnya tiba tiba padam, sepertinya sedang terjadi pemadaman, tapi kenapa jenset rumahnya tak juga kunjung menyala.
Jenna mencoba mengambil ponselnya dan menyalakan senter dari flash kameranya.
__ADS_1
pletak
sebuah batu dilempar dan mengenai jendela kamarnya. Jantung Jenna mulai berdegub lebih kencang saat lemparan batu terjadi untuk ketiga kalinya.
Ia berjalan mendekat ke balkon kamarnya, dibukanya perlahan pintu kaca itu, terlihat tiga buah batu yang tadi mengenai kaca jendela entah pintu kacanya. Semakin ia mendekat ke pagar besi berwarna putih itu terlihat sedikit cahaya dari bawah.
Berjarak dua langkah dari pagar balkon dilihatnya sesuatu terbang dari bawah.
Tiga buah lampion dengan cahaya kuningnya terbang beriringan. Disusul banyak balon berwarna merah yang entah berapa jumlahnya ikut mengudara.
"Jennaira Sukma Wardhana!" suara keras terdengar dan membuyarkan kekagumannya pada lampion juga balon yang terbang melewatinya.
Segera ia melihat kebawah balkon kamarnya.
Lilin lilin ditata berbentuk hati. Juga beberapa balon berbaris dengan tali yang mengikatnya.
Seorang lelaki masih dengan setelan jas tang tadi siang ia lihat.
"Jennaira Sukma Wardhana! Maukah kamu menjadi kekasihku!" teriak Gaga dengan menggenggam satu ikat besar balon berwarna merah.
Jenna menggunakan tangannya untuk menutup mulutnya yang menganga. Tak percaya dengan apa yang dia dengar juga lihat.
apa apaan dia seperti bocah begitu
Batin Jenna.
Jenna menoleh mengamati meja di balkonnya dan mendapati sebuah lilin juga korek api disana.
"kalau tidak apa?" kini ganti Jenna yang berteriak kebawah.
"kamu tidak akan bilang tidak kan Jen?" jawab Gaga yang masih mendongak keatas.
"katakan saja jika aku menolak aku harus apa?" Jenna menunjukan lilin itu kebawah.
"lempar saja lilin itu kebawah" seru Gaga setelah memejamkan matanya.
Namun Jenna malah menghilang, tak juga menjawab, juga tak melempar lilin itu.
Setelah berteriak beberapa kali, Gaga melihat Jenna keluar dari rumahnya, wanita itu juga masih menggunakan pakaian kantornya.
"hei kenapa kamu malah kesini engga jawab sih!" seru Gaga kesal.
Jenna berjongkok mengulurkan tangan yang disimpannya dibelakang tubuhnya menuju lilin yang ditata berbentuk hati yang berada didepan Gaga.
Ia menyalurkan lilin yang dibawanya pada lilin yang ada dibawah sehingga lilin yang dipegangnya menyala. Jenna kembali berdiri menghadap Gaga.
__ADS_1
"mana bisa aku menjawab? aku ngga bisa nyalain korek api gas begini!" ucap Jenna sambil memperlihatkan korek api gas ditangannya.
Gaga mengerutkan alis tebalnya.
"Jadi?" tanya nya pada Jenna.
"ya gimana artinya kalo aku nyalainnya ambil api dari lilin itu?" jawab Jenna dengan wajah yang tetap terlihat merona meski di cahaya minim disana.
"kamu terima Jen?" ucap Gaga masih mematung.
"ya kalo lilinnya nyala apa kata kamu?" ujar Jenna yang malah mengerucutkan bibirnya gemas dengan respon Gaga.
"sini dong peluk!" seru Gaga merentangkan tangannya ke Jenna dan mendekapnya dalam peluknya.
"kamu kenapa sih ngga bisa pake korek api gas kan gampang! skrip nya jadi beda kan" imbuh Gaga yang memeluk Jenna dengan satu tangan dan satu tangan lagi memegang satu ikat balon.
"emang harusnya gimana?" Jenna masih betah dipelukan Gaga yang nyaman itu.
"ya kan kamu nyalain lilinnya, ntar aku teriak i love you terus aku lepas balonnya keatas, kamu turun kebawah samperin aku terus peluk" Gaga bercerita tentang apa yang dibayangkannya tadi.
"yauda aku naik lagi" Jenna melepas peluknnya namun ditahan Gaga.
"jangan dong, pegang talinya kita lepas balonnya sama sama ya" kata Gaga.
Jen dan Gaga melepas pegangan pada tali balon tersebut dan balon merah itu terbang keatas berhambur mengikuti arah angin, kini diatas dua sejoli itu dipenuhi dengan balon merah.
Gaga kembali mendekap tubuh Jenna dalam dada bidangnya.
"i love you Jennaira" bisiknya lembut.
Jenna hanya tersenyum, menoleh ke mata tajam namun teduh milik seorang yang sedang mendekapnya, dan mengeratkan pelukannya.
Lampu tiba tiba menyala, Jenna melepas pelukannya ke Gaga dan menunduk agar mukanya yang tengah memerah tak terlihat oleh Gaga.
"yuk masuk aku mau lamar kamu!" seru Gaga sambil menarik tangan Jenna menuju rumah.
Kini Gaga duduk disebelah Jenna, bersembrangan dengan papa dan mama Jenna.
"Om tante sekarang Jenna sudah jadi pacar Gaga, Gaga mau meminta ijin om dan tante buat lamar Jenna, setelah pernikahan kak Gyan Gaga ingin bertunangan dengan Jenna" Gaga menatap manik mata tegas yang mulai berkriput dari papa dan mama Jenna.
"kenapa harus acara pacaran dulu?" tanya papa Jenna yang sedari sore dibuat bingung dengan permintaan Gaga dengan acara mati lampu itu.
"karna Jenna bilang kalo mau tunangan itu sama pacar bukan sama teman" Gaga terkekeh begitu juga papa dan mama Jenna, sedang Jenna menunduk malu.
"om dan tante akan selalu merestui kalian nak, untuk waktu kalian bisa atur sendiri, tapi om harap bisa secepatnya" kini pandangan pak Hari menatap teduh putrinya.
__ADS_1
"iya Jen, Gaga niat baik seharusnya dipercepat" sambung mama Jenna dengan senyum mengembang diwajahnya yang tetap cantik meski sudah hampir berkepala 5.