Teman Hidup (New)

Teman Hidup (New)
Bab 23


__ADS_3

Sepagi ini dimusim hujan sangatlah biasa hujan turun lebih pagi sedari jam 5 tadi. Bahkan tubuh Gaga seakan tak mau lepas dari selimutnya, dan yang menyebalkan ini hari senin.


Berkali kali pintunya terketuk dari luar, suara mamanya pun semakin tinggi ketika memanggil namanya.


Dengan langkah gontai ditujunya kamar mandi dalam kamarnya, menyalakan kran air hangat dan merendam dirinya dalam bathup.


Apakah perasaan Jen sudah untukku?


Kalimat yang sedari malam memenuhi otaknya. Gaga memang menaruh rasa dalam bahkan bertahun lamanya pada Jenna namun dia tak pernah tergesa dalam menyatakan apalagi memaksa agar Jenna menerimanya. Bahkan dalam keadaan Jen yang terlihat mulai bergantung padanya.


Tap tap tap


"Pagi ma, pa"sapa Gaga pada kedua orangtuanya.


"kak Gyan mana? tumben belum kebawah?" imbuhnya sambil mencomot mendoan yang yang sangat cocok dengan grimis pagi begini.


"tu" mama Gaga menunjuk arah ruang tamu.


"pagi om tante, pagi juga calon adek ipar" seru Seren yang memasuki ruang makan.


"pagi sayang, duduk ayo kita makan" jawab mama Gaga menyambut uluran tangan Seren.


"apaan pagi pagi udah bucin" dengus Gaga dengan mulut penuh mendoan.


"jangan sirik, kalo mau kamu juga bisa" jawab Gyan yang duduk disebelah Seren.


"iya Ga, tunggu apa lagi? segera susul kakakmu" imbuh Pak Hendra.


Gaga menoleh kearah Seren yang sudah senyam senyum sedari tadi. Juga kakaknya yang terlihat lebih sumringah dari biasanya.


"adekku yang ganteng segera cari pasangan ya, bulan depan kakak mau nikah" jawaban Gyan membuat Gaga tersedak tak henti henti.


"pelan nak pelan, ini minum dulu" dengan sigap mama Gaga mengambilkan segelas air putih untuk putranya.


"iya, mama kesepian dirumah ini jadi mama ingin segera punya menantu " imbuhnya menyodorkan sepiring nasi komplit demgan lauk pauknya pda Gaga.


Sarapan berlangsung dengan senyum yang mengembang diwajah pesertanya. Gaga pun ikut senang melihat kakaknya bisa move on dari mantannya itu, juga perjuangan sahabatnya tak sia sia untuk mendapatkan hati kakaknya.


...


Dikantor hari ini sangat sibuk, Gaga juga Gyan banyak jadwal dari cek lokasi hingga bertemu client. Dua pemuda tampan dengan prestasi luar biasa, membawa perusahaan yang mereka jalankan mengembangkan sayap dimana mana.


Arya Group memang berjalan dibidang pembangunan dan properti, Gaga lebih suka mengembangkan New Grand Residance nya bahkan ia terus memperluas jangkauannya. Sementara Gyan lebih suka bekerjasama dengan pihak lain dan bergerak sebagai kontraktor.

__ADS_1


Meski begitu mereka tetap berada dalam satu gedung karena gedung yang mereka tempati sangatlah cukup untuk menjalankan dua bisnis bersamaan. Dengan begitu mereka masih bisa saling bertemu dan bertukar pikiran dikantor.


drrtt drtt drrrtt


Baru saja Gaga melangkah memasuki ruangannya ia baru sadar sedari tadi ponselnya terus bergetar.


Baru membaca nama pemanggilnya saja sudah membuatnya tersenyum.


"iya tuan putri ada yang bisa dibantu?" sahutnya setelah menggeser tombol hijau dilayarnya.


"maaf ya, padet banget hari ini, makan siang yuk aku jemput"


Begitulah Gaga begitu lembut dan selalu lembut pada tuan putrinya, bahkan Jenna pun lebih posesif entah kenapa, padahal mereka tak punya hubungan khusus hanya bersahabat.


Menerobos lampu merah dan jalanan yang padat di jam setengah 12, dua insan yang masih sama sama bungkam dan belum bicara.


"jangan ngambek dong, maaf ya ponselnya aku silent tadi" begitu usaha Gaga merayu gadis di sampingnya yang masih diam tak bersuara.


Sampai di tempat bernuansa joglo mobil Gaga terparkir rapi ditengah padatnya parkiran disana. Dengan senyum yang terus mengembang pria berjas biru tua itu membukakan pintu Jenna. Diulurkannya tangan kekar itu, meski masih diam wanita dengan dress kantor dan blazer hitam itu menyambutnya. Mengikuti langkah Gaga menuju area outdoor dengan meja dan kursi kayu kuno.


"duduk dulu ya, aku pesenin makan" ucap Gaga menarik sebuah kursi untuk Jenna.


Jenna hanya mengangguk dan mengulas sesikit senyum.


Beberapa hidangan sudah dipesannya, kini lelaki beralis tebal itu menuju meja yang ia tinggalkan tadi.


"Ghanes!" suara perempuan terdengar memanggilnya sebelum ia menarik kursi untuk ditempatinya.


"Claudia?" ucap Gaga mengenali wanita berambut pirang bermuka indo yang memanggilnya.


"how are you?" sambung Claudia sambil memeluk Gaga.


Mendapat tatapan dari Jenna Gaga dengan cepat melepasnya.


"baik, sejak kapan kamu disini?" jawab Gaga sambil mengarah ke kursi Jenna dan meletakan tangannya pada sandaran kursi.


"aku kesini dua minggu lalu, aku mencari mu" dengan tangan memegang lengan Gaga wanita berdarah indonesia australia itu tak menatap Jenna sedikitpun.


Gaga berdehem kecil.


"Clau kenalkan ini Jenna, Jen ini Claudia teman kuliahku" Gaga yang merasa hawa mencekam mencoba menetralkannya.


Claudia menjabat tangan Jenna dengan senyum tak enak, begitu pun Jenna malas melihatnya.

__ADS_1


"siapa? bukan kekasihmu kan?" tanya Claudia melihat gelagat Gaga yang kini kedua tangannya memegang pundak Jen yang sedang duduk membelakanginya.


Gaga memandang Jenna yang menoleh kearah Claudia setelah mendengar pertanyaan itu, apa Jenna terlihat tak pantas untuk Gaga, begitu gumamnya.


"iya dia bukan kekasihku," Jenna memalingkan wajahnya, namun tidak dengan Claudia yang mengembangkan senyum diwajahnha.


"tapi aku akan segera menikahinya" Jenna sontak menoleh kearah belakang dimana Gaga berdiri, Claudia pun membulatkan matanya seolah tak percaya.


"Bulan depan kita akan bertunangan benar kan sayang?" imbuh Gaga yang balas melihat tatapan heran Jenna.


Claudia yang terihat kesal pergi begitu saja meninggalkan mereka.


Makanan tersaji memenuhi meja mereka, nasi yang ditempatkan dalam bakul kecil, sayur pecel, ayam goreng tahu dan tempe bacem, ikan goreng dan teman temannya yang lain.


"jangan bengong, makan Jen" ucap Gaga mengambil nasi dari bakul kecil itu.


"Si siapa tadi?" tanya Jenna yang masih terlihat merona pipinya.


"kan tadi aku udah bilang namanya Claudia, teman kuliahku, jangan cemburu, kami memang pernah dekat namun tak lama, juga sudah kebiasaan mereka jika bertemu kawan lama akan seperti tadi" jawab Gaga panjang lebar.


"oh" sesingkat itu Jenna menjawab"


"oh apanya sih Jen?" Gaga mulai sedikit kesal karna tingkah Jenna seharian.


"jadi kamu bilang seperti tadi biar dia cemburu?" jawab Jenna sambil mengambil sayur pecelnya.


"yang mana?" Gaga terus sibuk menyuapkan ayam goreng ke mulutnya.


"udahlah cowo sama aja" Jenna malah terlihat lebih badmood setelahnya.


Makan siang itu berlangsung dengan obrolan yang tak berbobot.


"pecelnya kurang pedes ya"


"ikan gorengnya enak, sama sambel ijonya"


"tempe bacemnya manis pas"


Begitulah kira kira, cuma biar engga sepi aja dimeja mereka.


Setelah semua tandas tak bersisa Gaga dan Jenna kembali menuju kantor mereka, terlebih dulu Gaga mengantar Jenna yang juga masih mengerucutkan bibirnya.


"itu bibir manyun terus minta dicium ya!" Gaga sudah kesel melihat muka Jenna yang asemnya lebih dari asem jawa itu.

__ADS_1


__ADS_2