Teman Hidup (New)

Teman Hidup (New)
Bab 31


__ADS_3

Sore ini hujan cukup deras mengguyur, cuaca sedang tak bisa diprediksi. Bisa berhari-hari panas, bisa pula pagi panas dan siangnya hujan. Kadang malah hujan berhari-hari.


Suara riuh tepuk tangan didalam restoran tak kalah ramai dengan suara hujan diluar sana. Para tamu undangan bertepuk tangan atas pemotongan pita yang dilakukan oleh Gaga. Banyak media juga mengabadikan momen tersebut, pengusaha muda yang sedang berkilau karirnya.


Acara pembukaan resto itu dilanjutkan dengan ramah tamah, hidangan yang ada dalam buku menu semua tersaji berderet diatas meja hidangan. Tamu undangan yang adalah rekan bisnis, beberapa orang dekat dan tentu publik figur yang sedang ramai turut diundang untuk membawa nama The Kambodja Resto dikenal banyak orang.


Beberapa wartawan media masa menghampiri Gaga yang sedang berada di tengah ruangan menyapa beberapa tamu khusus.


"pak Ghanes boleh minta waktu sebentar" tanya seorang wartawan televisi"


"silahkan, namun waktu saya tak banyak" jawab Gaga santai, mempersilahkan.


Beberapa pertanyaan seputar resto, dari konsep, dan apalah basi-basinya.


"the kambodja adalah kerjasama antara Wardha group dan Arya Group, lantas kemana bu Jennaira sehingga anda melakukan opening sendiri?" sebenarnya inilah topik yang mereka cari.


"Jen memang tidak hadir, namun pak Hari ada" ditunjuknya sisi kanan dimana papa Jen berada.


"apa kalian sedang ada masalah?" lanjutnya bertanya.


"tidak justru kami sedang memepersiapkan hal yang lebih besar" jawab Gaga santai namun mulai melihat arlojinya.


"kapan kalian menikah pak?" ya setelah acara pertunangan itu semua orang terasa semakin mengidolakan mereka, mereka bukan selebriti namun karena sosial media yang jangkauannya luas dengan kepribadian mereka yang terbuka jadilah mereka mendapat sorotan dari warganet.


"tunggu saja ya, tentunya cepat atau lambat juga ada doa dari kalian semua" Gaga melambaikan tangannya dan meninggalkan beberapa wartawan yang masih ingin mengajukan pertanyaan.


Tak merasa cukup kini para wartawan mendatangi papa Jenna, namun Gaga sudah menyuruh orangnya untuk mengamankan calon papa mertuanya.


Pak Hari tidak menjawab pertanyaan yang dilempar padanya namun hanya meminta doa agar acara itu segera terlaksana sebelum berlalu ke VIP room.


ceklek


"kalian benar benar sedang menjadi favorit banyak orang, sepertinya media datang kesini hanya untuk meliput kalian" ujar Pak Hari setelah memasuki VIProom dan duduk disebelah Gaga.


"om benar bahkan selebriti pun kalah dengan pemberitaan mereka" imbuh Koko yang juga berada disana.


Beberapa pembicaraan ringan terjadi disana, sesekali gelaktawa mengisi langit-langit. Jenna memang tak hadir disana, dia sedang sibuk mempersiapkan acara pernikahannya.


"Gaga pamit dulu ya pa, Loka akan tetap disini katakan saja apa yang perlu diurus padanya, aku ada janji dengan Jenna" Gaga berdiri meraih tangan pak Hari dan menciumnya kemudian melangkah keluar dan menuju mobilnya.

__ADS_1


Terlihat beberapa wartawan masih diluar mencari narasumber yang bisa dimintai keterangan entah tentang resto maupun hubungan pemiliknya.


Gerimis masih menemani perjalanan Gaga menuju sebuah butik ternama dikota itu. Karyanya sudah sampai mancanegara. Desainner dunia pun mengakui hasil karyanya, tak jarang selebriti ternama pun menggunakan salah satu juga lebih koleksi butik tersebut.


Mobil terparkir rapi di sebuah gedung empat lantai, mobil yang tadi diserahkan pada sopir pribadinya untuk menjemput Jenna juga mamanya sudah ada disana. Terlihat pula mobil mamanya juga rapi berjejer.


Jenna sedang duduk bersama mamanya juga mama Gaga disana, juga terlihat Seren sedang mencoba sebuah gaun untuk pernikahan adik iparnya.


"kamu sudah datang nak?" mama Gaga menyapa, lelaki dengan setelan jas hitam itupun bergantian menyalami dua wanita paruhbaya itu.


Duduk disebelah Jenna yang terlihat cantik dengan dress navy bermotif bunga. Ya hari ini dia tidak kekantor mungkin sampai acara pernikahannya selesai.


Jenna memandang Gaga yang sedikit basah, diambilnya tissu dari tasnya dan digunakannya untuk mengeringkan area muka calon suaminya.


"harusnya musim begini kamu sedia payung, kamu bisa demam walaupun kena grimis gini" ucap Jenna yang masih mengeringkan area leher Gaga.


"engga papa kalo demamnya nanti udah punya istri" Gaga malah menggoda Jen yang langsung mencubit perutnya.


"aww!" pekik Gaga.


"kalian kenapa sih calon pengantin ribut gitu" tegur mama Jenna.


"ah sudah selesai sayang?" imbuhnya yang melihat Seren berjalan menuju mereka.


"udah ma, kan ukuranku masih ada yang kemarin jadi cuma mastiin aja" jawab Seren dengan senyum mengembang.


"eh adik ipar udah dateng" celetuk ya saat melihat Gaga.


"hem! pengantin baru dateng sendirian?" jawab Gaga menanggapi Seren.


"mana bisa kakakmu punya waktu selain jam makan siang" kini Seren memanyunkan bibirnya dan duduk di dekat Jenna.


"udah sana kamu fitting kita semua udah selesai" Jenna menyuruh Gaga berdiri dan membuntutinya ke ruang fitting.


...


"aku balik kekantor dulu, nanti aku engga kerumah ya, jangan rindu oke" pamit Gaga pada Jenna yang bergelayut dilengannya.


Jenna hanya mengangguk, didepan butik hanya menyisakan mereka berdua mamanya dan Seren sudah duluan pulang, sementara mama Jenna berada didalam mobil yang tadi menjemput mereka.

__ADS_1


"Jangan takut" Gaga mencium ujung kepala Jenna dan membukakan pintu untuknya. "masuklah"


"jangan lupa mengabariku" sela Jenna sebelum Gaga menutup pintunya.


...


Gaga berjalan menuju ruangan Gyan yang beda satu lantai dengannya.


ceklek


Tanpa ketukan dan permisi Gaga membuka pintu ruangan berwarna hitam itu.


Terlihat Gyan sedang sibuk dengan tab besarnya juga beberapa tumpuk kertas.


"kakak kenapa engga temenin Seren tadi" tanpa basa-basi Gaga melayangkan protesnya.


"kamu ngga lihat aku sedang apa?" jawab Gyan tak menoleh sedikitpun ke adiknya.


"paling tidak sedikit perhatianmu bisa meredakan kegelisahan hatinya" kini Gyan yang mendengar jawaban Gaga meletakan tabnya, membenarkan duduknya dan menatap wajah adiknya.


"jangan bilang kamu tak tau betapa Seren khawatir dibalut cemburu atas kedatangan Permata" imbuh Gaga dengan nada datar.


"nanti malam aku akan mengajak Seren menjenguknya, aku sudah jelaskan semuanya, aku tahu Seren sahabatmu, tapi bukan berarti jika suaminya adalah kakakmu kamu berhak terlalu mencampuri urusan rumah tangga kami" Gyan kembali meraih tabnya.


"terserah kakak aku hanya tak ingin kejadian ini menjadi kerikil kecil yang menggores kaki kalian yang baru mulai menapak" Gaga bangkit dan meninggalkan ruangan kakaknya.


Bukan maksud mencampuri urusan rumahtangganya tapi Gaga paham betul Gyan belum sepenuhnya mencintai Seren, Permata terlalu berharga dihatinya bertaun bermukim disana. Gyan menikahinya karna memang rasa sakit hatinya belum juga hilang, dan mencoba mengalihkannya dengan menikahi Seren.


Terdengar jahat, bahkan Gaga sebelumnya menolaknya, namun Gyan sudah berjanji untuk tak main-main dan akan belajar mencintainya.


.


.


.


LIKE DAN KOMEN YUK BIAR JADI PENYEMANGAT


KRITIK SARAN JUGA BOLEH BANGET YA

__ADS_1


__ADS_2