Teman Hidup (New)

Teman Hidup (New)
Bab 14


__ADS_3

Gaga menghubungi Seren dan Koko untuk menuju mobil Jenna. Gaga masih saja memeluk Jenna yang masih sesekali terisak saat dua sahabat lainnya mendatangi mereka.


"Jen! ada apa?" Seren terlihat panik melihat Jenna dalam kondisi seburuk itu.


Seren dan Koko memandang Gaga namun hanya gelengan kepala yang diperlihatkannya.


Jenna berganti memeluk Seren dan kembali menumpahkan sakit dan kecewanya. Setelah dirasa cukup ia menjauhkan tubuhnya dari Seren dan menghapus airmata yang seakan tak habis habis.


"Jen kita harus segera kembali kedalam, kita sudah ditunggu, dan Ser tolong bantu Jenna dengan makeupnya, aku dan Koko akan tunggu disini" Gaga tak memungkiri kekawatirannya terhadap wanita yang nama nya memenuhi relung hatinya. Namun ia tetap mendorong Jenna untuk profesional dengan gelaran yang sedang mereka adakan.


15menit berselang Jenna dan Seren keluar dari mobil Jenna. Tak perlu waktu lama bagi Seren untuk memoles make up di wajah Jenna karena bagi seorang model sepertinya memang dituntut untuk bisa berdandan sendiri bukan.


Setelah Jenna terlihat lebih baik dan dengan sekuat hati mengeluarkan senyum indahnya mereka pun kembali kedalam.


Memasuki lobby mall yang digunakan sebagai pintu masuk ke acara itu Gaga merengkuh pundak Jenna dan memberi senyuman seolah memberikan aura posistifnya pada Jenna.


Begitu memasuki mall yang lantai bawahnya disulah menjadi area perjamaun para tamu undangan yang adalah petinggi dari perusahaan perusahaan besar Jenna menebar senyum dan masih saja banyak tamu yang memberi ucapan selamat padanya dan Gaga. Karna memang mall serta hotel yang berdiri satu gedung ini sangatlah megah dan mewah.


Kini seorang mentri pariwisata sedang melakukan pidato kecil dan telah diberi kehormatan untuk melakukan potong pita tanda mall diresmikan dibuka.


Riuh tepuk tangan memenuhi area tersebut dan para tamu undangan yang menjadi pelanggan pertama mall itu dipersilahkan untuk memasuki area perbelanjaan mall dimana berderet banyak brand ternama dunia di gerai gerai pertokoan dalam mall.


Semua wanita yang datang adalah para wanita kelas atas dan sosiolita papan atas mata mereka seakan berbinar melihat deretan koleksi koleksi ternama berjejer rapi dalam tokonya masing masing.


Kini Jenna sedang bersama mamanya yang tak ingin kalah melihat lihat koleksi tas dengan harga fantastis itu. Jenna yang mood ya masih samgat buruk hanya mengikuti arah langkah kaki mamanya beranjak dan sesekali menjatuhkan pilihan pada barang yang di tenteng mamanya.


Dilain tempat Gaga yang sedang duduk disebuah gerai kopi ternama yang juga dibooking untuk acara ini masih berpikir keras tentang apa yang terjadi pada Jenna.


Tepukan dipundak Gaga membuyarkan lamunannya dan menghentikan pergerakan tangannya yang asik mengaduk aduk minuman coffe latte ya demgan sedotan stenlis nya.


Seorang itu duduk dihadapan Gaga dengan sudah membawa Mocacinno yang ditaruhnya dimeja bulat itu.


"kenapa?" tanya Koko pada sahabatnya yang terlihat diam dan termenung setelah acara potong pita itu.


Gaga hanya menoleh sekilas dan kembali meminum coffe latte nya.

__ADS_1


"Jenna ya?" jelas Koko tau hal yang mengganggu pikiran sahabatnya itu.


"ada masalah apa dia sampe nangis sehisteris itu?" ucap Gaga dengan raut muka serius dan mata tajamnya.


"eh Ga tadi kayanya aku lihat Andra, kok ini dari tadi ngga nongol ya?" Koko teringat akan manusia yang menurutnya menjengkelkan itu.


Gaga memutar otaknya dengan cepat dan dapat menebak bahwa apa yang terjadi pda Jenna adalah ulah Andra.


Karena tak ada alasan lagi bagi Jenna menangis seperti tadi jika bukan lelaki yang aok terlihat kalem itu.


"Ja jangan jangan Ga!" Koko mendelik sempurna saat pemikirannya sama seperti yang didalam kepala Gaga.


"biarkan Jenna yang bercerita, kita hanya perlu ada disisnya untuk memberinya semangat" ujar Gaga yang walaupun sangat suka bercamda dia juga sosok yang bijaksana menurut teman temannya.


Koko hanya mengangguk dan setuju dengan jawaban Gaga.


Kini mereka hanya sedang memandangi lalu lalang para tamu undangan yang sudah menenten minimal dua paperbag dengan berbagai brand favorit mereka.


Seorang wanita dengan balutan dress formal berwarna merah maroon dengan Jas hitam terlihat menenteng tiga paperbag ukuran sedang.


sebuah deheman berhasil membuat wanita berambut coklat tua sepunggung itu menoleh.


"hai Ko, aku baru lihat kamu dari tadi" sapa wanita itu mengenal siapa lelaki yang tengah berdiri disampingnya.


"eh i iya, dibalik layar soalnya" canda Koko sambil menyembunyikan rasa malunya.


"kalo begitu aku duluan ya?" ujar wanita dengan lesung pipi di sebelah kiri itu.


"Beryl! tunggu" ya wanita itu bernama Beryl ia adalah seorang teman Kiya yang juga seorang model seperti Seren.


Ya tentu saja acara seperti ini akan mengundang banyak kalangan, dari para petinggi perusahaan, beberapa keluarga pejabat, beberapa artis juga tak luput para model seperti Seren juga Beryl.


"biar aku bantu bawa" ujar Koko kemudian mengambil alih tiga paperbag ditangan Beryl.


"jika itu tak merepotkan dan memberatkan mu tak masalah" begitulah Beryl yang memang sangat pandai bergaul.

__ADS_1


Koko mengantar Beryl sampai ketempat mobilnya terparkir. Tanpa arahan pun Koko langsung menaruh bawaannya dikursi belakang yang juga terlihat sedikit berantakan dengan beberapa kardus sepatu dan baju baju yang sedikit berserakan.


"hehe maaf berantakan banget yaa kaya kapal pecah" ucap beryl sambil tersenyum kuda dan terlihat deretan gigi putih disana.


"kamu abis pulang kerja ya?" Koko yang juga melihat hal yang sama pada mobil Seren saat ia baru saja selesai bekerja.


"iyaa, cuman lupa aja mau keluarin dulu tadi dirumah" Beryl terlihat sangat malu dengan apa yang dilihat Koko.


"jadi thanks ya Ko bantuannya, ketemu lagi lain waktu" pamit Beryl yang hendak memasuki mobilnya namun dengan cepat Koko membukakan pintu nya dan mempersilahkan Beryl masuk.


Beryl hanya tersenyum manis pada Koko yang akan menutup pintunya.


"hati hati dijalan Ber" tambah Koko kemudian menutup pelan pintu mobil Beryl.


Dipandanganya mobil sedan berwarna merah itu hingga tak terlihat oleh Koko.


Hatinya merasa sangat berbunga meski hanya 10menit bersama wanita yang beberapa bulan ini mengisi hatinya.


"dah balik lu!" seru Seren yang ikut duduk bersama Gaga ditempat yang sama seperti saat Koko pergi tadi.


"Paan sih sirik aja!" Koko menarik sebuah kursi intuknya duduk.


"Jenna belum kelihatan?" tanya Koko yang melihat kondisi mall mulai sepi namun sahabatnya yang satu itu belum juga kembali.


"tadi aku lihat masih sama tante Suvia sih dia" jawab Seren.


"Ga kamu ngga mau samperin dia?" tambah Seren.


"engga ngapain, besok aja kalo dia udah tenang kita samperin" Gaga masih sibuk dengan ponselnya entah apa yang dia lakukan.


HALLO SEMUA TERIMAKASIH YANG SUDAH MENYEMPATKAN MEMBACA NOVEL PERTAMA SAYA.


SILAHKAN KOMEN YA APA KURANGNYA CERITA INI JUGA BOLEH ATAU MAU BERI MASUKAN JUGA SANGAT SAYA TERIMA.


ENJOY BACANYA YAA

__ADS_1


__ADS_2