
H-1 sebelum dilaksakan ijab kobul Jenna dan Gaga menjadikan kediaman Wardhana sangatlah ramai. Beberapa saudara dekat terlihat membantu menyiapkan persiapan yang belum beres.
Seren juga Dewa terlihat membantu beberapa bagian dekorasi halaman belakang. Seren memang memutuskan berkunjung sebentar meski dirumah mertuanya juga sedang sama sibuknya.
"De kamu udah tanyain Jen ini bener gini yang dia mau?" tanya Seren pada Dewa yang sedang menunggui dekorasi dipasang.
"iya Jen sendiri yang mau nuansa merah gini, engga mau ada bunga lain selain mawar merah terus lilin lilin gitu" jawabnya sambil menunjuk sebongkok mawar merah yang belum terpasang.
"iyalah dulu Gaga nembaknya kan pake balon merah sama lilin" Seren terkekeh juga Dewa, kemudian dia berlalu menuju kamar calin pengantin.
ceklek
Seren membuka pintu kamar berwarna putih itu, didalam sana belum ada dekorasi sama sekali. Hanya terlihat Jenna sedang duduk disofanya memegang tan ditangan, sedang bekerja mungkin.
"calon pengantin kerja aja sih" goda Seren yang sudah duduk disebelah Jenna.
"habis mau ngapain coba? semua udah ada yang urus" balas Jenna meletakan tabnya.
"berbunga-bunga ngga sih?" Seren menyikut lengan Jenna sambil memainkan alisnya naik turun.
Jenna memejamkan mata sekejap, menarik nafas agak dalam dan menghembuskannya perlahan.
"kamu tau ngga sih? aku ngga tau ini salah atau benar. Aku memang merasa aman dan terlindungi olehnya, bahkan aku kadang merasa tak mau jauh, tapi aku belum mantap dengan hatiku" kini Jenna bersandar disandaran sofa, menundukan pandangannya.
"ayolah, mau sekecil apa perasaan itu sekarang atau belum ada sama sekali, tapi paling tidak kamu tau Jen siapa Gaga, dan bagaimana dia memperlakukanmu selama ini. Baik menjadi teman dekatnya maupun jadi teman hidupnya nanti" Seren menepuk punggung tangan Jenna.
"aku pun sedang berjuang, jika disini kamu yang merasa belum yakin, aku justru yang sedang berusaha meyakinkan, berusaha menumbuhkan perasaan yang sama dihati Gyan" mendengar ucapan Seren Jenna menaikan pandangannya memandang raut sahabatnya yang tersenyum kecut dengan jalan cintanya.
Betapa Jenna tau sekarang bagaimana nanti perasaan Gaga, pasti juga akan sama seperti Seren ada kekecewaan.
Jenna memeluk Seren memeberinya semangat.
"terimakasi Ser, mulai saat ini aku engga akan biarkan Gaga berusaha sendiri menumbuhkan rasa itu dihatiku, aku juga akan berusaha memupuknya" Dua sahabat itu masih berpelukan beberapa saat hingga ponsel Seren bergetar.
Seren mengusap layar ponselnya menggeser tombol hijau dan mengangkat telpon.
"iya mas"
__ADS_1
"aku segera pulang, kamu udah dijalan?"
"bye hati-hati"
Seren menutup telponnya kemudian memasukannya dalan cluthnya.
"calon pengantin harus bahagia biar auranya keluar oke? aku pulang dulu ya Gyan udah dijalan mau pulang" ujar Seren kemudian bangkit dan berjalan keluar kamar Seren.
...
Seren mengemudi mobilnya dan memasuki pelataran rumah mertuanya, selang semenit kemudian mobil suaminya ikut terparkir disebelahnya.
Seren yang audah turun sengaja menunggu Gyan.
"hai" Gyan mengampiri Seren dan mengecup ujung kepalanya. Setelah mencoba memikirkan perkataan Gaga padanya Gyan jadi lebih mencoba membuka lagi hatinya memperlakukan Seren seperti semestinya seorang lelaki memperlakukan istrinya demgan sangat manis.
Sepasang suami istri inipun berjalan bergandengan memasuki rumah yang penuh dengan bawaan esok pagi yang sudah berjejer dimeja meja.
Melihat mama mertuanya yang sedang mengecek parcel-parcel hantaran Seren menemuninya dan mencium tangannya.
"ah kalian sudah pulang, mandilah dulu, Seren banyu suamimu membersihkan diri, layani dulu dia setelah itu turunlah dan makan malam" ujar mama Gyan dengan senyum.
"aku siapkan air hangatnya dulu ya" Seren bergegas menuju kamar mandi, menyalakan air hangat untuk suami ya mandi.
Hendak keluar kamarmandi dan menemukan Gyan yang sedang menunggunya didepan pintu kamarmandi.
"ada apa?" tanya Seren heran.
Gyan mendekat memeluk Seren dan menempatkan kepalanya ke ceruk leher istrinya yang terlihat jelas dengan rambut yang terikat keatas. Tentu Seren sangat kaget, hampir seminggu menikah mereka bahkan belum melakukan hubungan itu, bahkan bisa sihitung berapa kali Gyan memeluknya begini.
Masih dengan berpelukan Gyan membawa Seren menuju sofa, dibaringkannya tubuh Seren disofa dengan Gyan diatasnya.
"kita mulai ini semua dengan lebih baik lagi oke?" hanya itu yang diucapkan Gyan.
Selebihnya hanya gerakan tangan dan sentuhan bibir yang berkata, hingga merwka tenggelam dalam sebuah pergulatan hangat. Saling membalas kecupan juga lum*atan.
Hingga sebuah lengu*an kemenangan terdengar. Melihat istrinya sedikit meringis kesakitan Gyan langsung membopongnya dan membawanya kedalam kamarmandi, menaruhnya dibathup dan membilas tubuh bersama.
__ADS_1
(dikit ceritain Gyan Seren yaa, ntar kasih bonus dah dibelakang cerita mereka)
Mama Papa juga Gyan dan Seren sudah berada dimeja makan untuk makan malam, namun sicalon pengantin belum juga pulang.
Baru bergumam Gaga sudah memasuki ruang makan dan menyapa satu persatu.
"kamu besok menikah dan sekarang malah pulang telat, tidak bisakah orang kantormu menyelesaikan sedikit pekerjaanmu. Pergi keatas bersihkan badanmu dan segera makan" ya begitulah omelan Mamanya seperti satu tarikan nafas.
Gaga yang sudah selesai mandi kembali keruang makan meski semua sudah selesai makan namun masih menikmati beberapa buah iris dimeja.
"Ga apa kalian bisa menjalani pernikahan ini jika kalian sama sama sibuk bekerja? Jenna juga seorang pimpinan, kalian nanti pasti kurang waktu bersama" keluh mama Gaga yang sedang mengupas buah apel.
Gaga memang sudah memikirkan itu, juka beruntung hanya malam saja mereka bersama, namun jika ada pekerjaan luar kota tentulah bisa tak bertemu sama sekali.
"benar nak, namun bagaimana lagi, siapa yang mau meneruskan Wardha group jika bukan Jenna" kini papanya ambil suara.
"papa mama tenang aja, nanti Gaga bicarakan sama papa Jenna juga Jenna" Gaga kembali menyendok nasi dengan sayur asem yang terasa begitu segar.
...
Selesai makan semua berkumpul keruang tengah, Gaga menyusul karena memang belum selesai dengan makanannya. Gyan juga Seren masih duduk dihadapannya.
Seren terlihat sangat merona, begitu juga Gyan terlihat segar meski tadi banyak meeting yang berantakan. Seren dengan telaten mengupaskan buah mengiris dan mnyuapkannya pada Gyan.
"kalian kenapa? bungah bener" celetuk Gaga.
"nanti juga tau" hanya jawaban serta seringai diberikan Gyan.
Seren hanya tersenyum, mencoba bangkit dan berjalan kecucian piring untuk mencuci tangannya.
Gyan menahan tangannya.
"kalo masih sakit aku ambilin air aja kesini" ucapnya bangkit dari kursi.
"ha sakit? Kamu sakit Ser?" Gaga mencoba mendapat jawaban dari kakak juga kakak iparnya.
Gyan yang meletakan mangkok berisi air dihadapan Seren kemudian melangkah menuju Gaga.
__ADS_1
"sakit yang bawa enak" bisiknya kemudian terkekeh dan kembali menuju Seren untuk membantunya berjalan.
Gaga hanya menyerngitkan dahinya menatap Seren yang seakan malu itu.