
Seren berteriak melihat tubuh Permata tergeletak dengan darah mengalir dari perutnya. Gyan tak kalah tersentaknya, kejadian begitu cepat saat wanita itu mengeluarkan pisau dari balik cluth yang dipegangnya ditangan kiri dan langsung menikam dirinya sendiri.
Gaga berlari menghampiri Gyan yang berjongkok berusaha menjaga Permata tetap sadar. Koko pun dengan cepat membawa Seren turun dari pelaminan dan meminta Jenna juga Beryl menenangkannya.
"Ta, bertahan Ta, apa yang kamu lakukan?" Gyan menyandarkan tubuh Permata pada pangkuannya.
Denis dengan cepat menghubungi ambulance dan memastikan kondisi aman tak ada anak buah Demon yang menyelinap membuat kerusuhan.
"Be berbahagialah, sudah cukup aku gila olehmu" ucap Permata terbata bata diselingi air matanya yang mengalir.
"kak bawa Permata ke ambulance cepat!" Seru Gaga membantunya membopong tubuh Permata yang sudah sangat lemas.
"aku akan ikut, tolong jaga Seren" Gyan berlalu begitu saja menumpang ambulance yang mulai meraungkan sirine nya.
Gaga kembali masuk ke resort, meminta orang WO untuk kembali menstabilkan keadaan, membuat para tamu kembali tenang dan meminta maaf atas kejadian tak terduga ini.
Seren masih syok melihat kenekatan Permata, tubuhnya masih bergetar, kini ia ditemani Jenna juga Beryl berada disalah satu kamar hotel di resort itu. Tentu dengan penjagaan ketat disana.
"papa, mama tenang, Permata akan baik baik saja, kalian tetaplah menemui tamu tamu kalian, Seren belum stabil dan kak Gyan ikut kerumah sakit. Koko sudah menyusulnya" Gaga memghampiri kedua orang tuanya yang tentu masih sangat kaget dengan kejadian itu terutama mamanya.
Setelahnya ia berganti mendatangi orang tua Seren dan meyakinan hal yang sama.
...
Mobil ambulance melaju cepat menuju lobby IGD, dengan sigap para perawat dibantu keamanan yang berjaga di pintu lobby menurunkan ranjang dorong yang Permata tempatk setelah ambulance berhenti sempurna.
Beberapa perawat dan dokter jaga segera memeriksa dan mengambil tindakan untuk menyelamatkan Permata. Gyan masih dengan raut paniknya menatap ruang IGD yang tertutup.
Masih dengan setelan tuxedo berwarna silver dengan noda darah, ia duduk dikursi tunggu mengusap kasar mukanya. Sungguh tak bisa menerima kenekatan Permata.
Disisi lain tak bisa pula membayangkan kemurkaan Demon saat mengetahui kabar adiknya. Juga pikirannya melayang pada Seren yang ditinggalnya begitu saja dipesta pernikahan mereka.
Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan!
__ADS_1
Koko berlari begitu melihat Gyan yang sudah berada dibawah cengkraman Demon.
"tenanglah kumohon tenang jangan membuat gaduh disini! apa kau tak lihat didalam sana nyawa adikmu sedang diperjuangkan!" Koko berusaha melepas cengkraman dileher Gyan.
Mendengar kalimat Koko seperti menyadarkan bahwa adiknya kini sedang berjuang untuk dapat kembali bersamanya. Merenggangkan cengkramannya dan berhasil dilepas oleh Koko.
Koko membawa Gyan kesisi lain sedikit menjauhkannya dari Demon.
"aku sangat menyesal atas kejadian ini, aku bahkan tak mengira Permata akan senekat ini" Koko sebenarnya masih bersepupu dengan Demon, namun keras hati Demon seolah memutus persaudaraan mereka.
"Pergi" ucap Demon dengan kepala menunduk dan duduk didepan ruang IGD. "Pergi!" serunya saat Koko tak kunjung menghilang dari hadapannya.
...
Koko membawa Gyan kembali ke resort dan menyuruhnya berganti pakaian ysng lebih bersih. Jam sudah mulai larut dan para tamu undangan sudah banyak yang pulang menyisakan satu dua orang kerabat dekat.
Gyan menghampiri Seren yang terduduk bersama Jenna juga Beryl di area privat di sisi kanan pelaminan.
"kita ke apartemen ya istirahat, para tamu undangan sudah pulang" ujar Gyan halus sambil mengusap pundak Seren yang terbuka.
Tak berselang lama semua orang yang tersisa menuju mobil mereka masing masing, pulang kerumah dan mengistirahatkan tubuh juga menenangkan pikiran mereka.
...
Gaga mengantar Jenna sampai kekamarnya seperti biasa, menunggunya hingga selesai berganti pakaian tidur, dan akan menungguinya hingga terlelap.
"tidur yang nyenyak kamu pasti lelah" Gaga mengusap lembut rambut Jenna yang kini sudah bersandar diranjangnya.
"tadi sangat menyeramkan, apakah setelah ini akan banyak tragedi tragedi lainnya?" ucap Jenna memandang Gaga dengan raut kesedihan.
Gaga menyandarkan tubuh wanita itu dalam pelukannya, memberikan ketenangan dan mengecup ujung kepalanya berkali kali.
"kamu tau? kita tidak bisa tau apa yang akan terjadi sedetik kemudian, tapi aku berjanji tidak akan membiarkanmu sedetikpun dalam bahaya" Jenna semakin menelusupkan kepalanya pada dada bidang Gaga. Lelaki itu selalu bisa membuatnya merasa aman juga nyaman.
__ADS_1
"istirahatlah, mimpi indah" Gaga kembali mengecup kening Jenna setelah membenarkan posisi tidurnya. Memastikan kondisi kamarnya aman juga orang suruhan yang berjaga didalam maupun diluar.
Dituruninya tangga dan segera menuju pintu keluar, ini sudah pukul setengah saru dinihari.
Sosok Pak Hari yang suduk diruang tengah menyita perhatiannya. Gaga memutuskan untuk menghampirinya.
"papa belum tidur?" sapa Gaga kemudian duduk disebelahnya.
"papa khawatir Ga, meski bukan kalian yang memiliki masalah sebenarnya namun kejadian tadi semakin membuat papa berfikir betapa sudah hilangnya akal waras orang orang" suara khas orang tua memecah keheningan ruangan tersebut.
"papa tenang Gaga akan urus semua secepatnya. Gaga pamit dulu" diciumnya tangan papa Jenna kemudian melangkah keluar.
...
Pagi ini Gaga menjemput Jenna lebih awal, ia duduk di meja makan untuk sarapan bersama terlebih dahulu. Menikmati lebih dari tiga hidangan yang rapi tertata.
Menggeser piring yang telah kosong, meraih segelas air putih dan meneguknya hingga tandas.
"Pa, Ma, boleh Gaga bicara?" ucapnya sopan sambil bergantian mengedar pandangan pada dua orangtua Jenna.
Pak Hari hanya mengangguk mempersilahkan.
"Ijinkan Gaga menikahi Jenna minggu depan" baru kalimat awal sudah membuat Jenna melongo, juga mamanya dan berhasil membuat pak Hari menautkan kedua alisnya.
"kenapa semendadak itu?" sahut cepat bu Suvia.
"Gaga pun tak tenang dengan kondisi sekarang ma, juga sangat tidak baik dilihat orang jika terus menerus Gaga keluar dari rumah larut malam. Media entah mengapa tak ada capeknya memberitakan kami" Gaga menolah Jenna meraih tangannya.
"banyak kabar miring mulai beredar dari sumber tak jelas, Gaga tak ingin ini bertambah rumit lagi, selain menjaga nama baik, berita berita itu bisa membuat nama perusahaan ikut jelek." Kini Gaga menoleh pada pak Hari.
"tak perlu mengundang banyak orang, keluarga juga kerabat dekat saja, supaya kita bisa menangkis berita berita gila itu dengan status halal kami" sambungnya.
Pak Hari nampak saling tatap dengan istrinya. Jika dipikir memang benar banyak berita yang headlinenya mulai aneh aneh bermunculan. Bahkan rekan bisnisnya pun satu dua orang pernah menanyakan hubungan putrinya yang memang terlihat selalu bersama Gaga dibanyak kesempatan.
__ADS_1
"Ya Papa setuju, kami akan mempersiapkan semuanya, bukan begitu Jen?" suara pak Hari begitu halus.
"i iya Pa, Jen setuju" pasalnya Jenna juga lelah dengan para client lelakinya yang seolah memandang rendahnya seakan dia benar benar berhasil menggoda Gaga demi mendapat banyak proyek juga kerjasama.