
Ditengah macetnya malam sabtu mobil Mazda CX9 Andra melaju melintasi lampu merah yang sudah menyala hijau. Diputarnya stir mobil kearah kiri memasuki area perumahan elite tengah kota. Ia kembali memutar stir ya ke arah kanan setelah melewati pos penjagaan. Ditujunya rumah paling ujung dengan pagar besi bercat putih, rumah yang terihat paling berbeda, lebih luas dari rumah sebelum sebelumnya atau bahnkan paling luas di dalam komplek tersebut.
Tak lama setelah satu kali membunyikan klaksonnya pintu pagarpun dibuka oleh seorang penjaga. Sudah sangat terbiasa dia menyinggahi rumah ini sehingga para pekerja sudah hafal dengannya. Setelah mobilnya terparkir dihalam rumah ia berjalan mantap dan mengetuk pintu rumah.
Tak sampai satu menit pintu terbuka. Dilihatnya seorang seusia ibunya berbalut pakaian rumah namun tetap terlihat elegan dan cantik untuk seusianya.
"Malam tante," sapa Andra pada ibu suvia.
"Malam nak, lama tidak datang, masuk dulu ya Jenna tadi pesan lagi ambil barang ketinggalan dikamarnya" dengan ramah ibu suvia mengajak Andra duduk di ruang tengah.
Disana terlihat pak Hari sedang menyesap tehnya sambil memegang tab berwarna silver ditangannya.
"Andra, duduk dulu" tak kalah ramah pak Hari menyapa Andra yang terlihat berjalan kearahnya. Andra menebar senyum dan duduk di sisi kanan papa kekasihnya itu.
"sehat kan om?" Andra selalu menanyakan kabar saat bertanya orang tua Jenna.
"calon dokter ini harusnya bisa melihat betapa segar bugarnya pria ini" papa Jenna terkekeh kecil setelah menjawab Andra.
tap tap tap
Terdengar suara seorang menuruni tangga. Balutan dress berwarna maron sebawah lutut dengan lengan sebawah siku melekat indah di tubuh Jenna. Heels hitam nya sangat menegaskan kulit putihnya. Ia berjalan dengan senyum kearah dua lelaki yang sedang asik melempar tawa.
__ADS_1
"Pa, Jenna mau keluar sama Andra dulu ya" pamit Jenna begitu sampai dihadapan papanya.
"Jangan malam malam oke?" Jenna mencium punggung tangan papa nya setelah mendapat restu. Andra ikut bangkit setelah berpamitan. Tak lupa ia mengulurkan tangannya pada Jenna dan digemngamnya dengan lembut. Mereka berjalan beriringan menuju mobil hitam Andra.
Malam ini mereka akan makan malam diluar mengingat berbulan bulan lalu mereka sangat jarang menghabiskan waktu berdua. Dan Andra mencoba me refresh otaknya sejenak sebelum sidang skripsi hari senin mendatang.
*Weekend* malam memang sangat ramai dan jalanan cukup macet. Mereka berjalan menuju restoran yang berada di rooftop sebuah hotel. Tentu Jenna tau lokasi itu karena hotel tersebut pernah menjalin kerjasama dengan hotel papa nya. Dan sebenarnya resto itu cukup terkenal dikalangan muda mudi karena suasananya.
*30menit memfah kemacetan kini mobil Andra sudah terparkrir rapi di lobby* hotel dan meminta petugas vale untuk memarkirnya mobilnya. Dengan tangan yang masih saling bertautan Andra dan Jenna melangkah ke kotak besi yang akan mengantar mereka ke lantai paling atas digedung itu.
tring
Kini lift yang mereka tumpangi sampai di lantai yang mereka tuju. Andra mengarahkan kesebuah meja dipinggiran swimmingpoll. Terlihat meja bulat dengan balutan kain putih dan dihiasi dua lilin kecil yang menyala serta vase bunga yang dihuni tiga buah mawar merah menyita pandangan Jenna.
Alunan musik jazz sangat terdengar lembut ditelinga menambah nuansa romantis semakin mendekap mereka berdua. Disisi kiri mereka terbentang lautan kerlap kerlip lampu kota yang terlihat sangat cantik saat malam tiba. Angin berhembus dengan lembutnya bahkan bulan pun terlihat sangat bersinar melihat dua insan yang sedang saling melempar senyum dan mengeratkan tangannya.
"sayang, kamu udah siapin semua ini? aku kira kita cuma makan malam biasa ajaa" Jenna mengungkapkan rasa tak percayanya atas kejutan manis dari sang pujaan hati.
"ini untuk menebus waktu waktu yang sudah kuhabiskan tanpamu kemarin Jen" Andra tersenyum manis melihat gadis didepannya terlihat bahagia. Raut mukanya benar benar memancarkan kebahagiaan.
Setelah saling mengungkapkan rasa rinda makan malam romantis itupun dimulai. Sedikit demi sedikit hidangan diatas mejapun tandas. Senyum bahagia semakin terpancar di raut kedua insan yang saling mendamba ini.
__ADS_1
"Sayang kamu janji ya senin besok datang di sidang skripsi aku, aku ngga mau terima alasan apapun dari kamu oke?" Andra kembali meminta janji dari Jenna, setelah sebelumnya ditengah menyantap hidangan Jenna sudah menyatakan janjinya.
"Tentu, dan tidak ada alasan yang membuatku untuk tidak menemuimu besok" Jenna kembali melengkungnya bibirnya. Tangan mereka kembali tertaut satu sama lain.
"Aku harap setelah ini kamu bisa memikirkan kembali langkah kedepanmu sayang. Aku tak ingin kamu kelelahan dan tak punya banyak waktu untukku" Andra menyinggung sedikit masalah yang kembali muncul sebulan lalu.
Jenna sudah lulus sidang skripsinya tiga bulan lalu, kini ia hanya sedang menunggu kelulusannya untuk mendapatkan gelar yang selama ini dikejarnya. Bukan hanya kadang kadang kini setiap hari ia datang kehotel untuk sedikit demi sedikit meringankan pekerjaan sang ayah. Dan itu menurut Andra sangat menyita waktu Jenna untuknya.
"Kamu kan masih mau nemurin profesi kamu, biar aku bantu papa dulu ya sayang" Jenna terus memberikan senyumnya agar masalah ini tidak menjadi besar, ia tak ingin malam indah ini jadi kacau hanya karna membahas lagi masalah yang beberapa kali muncul belakangan.
"Semakin lama kamu terjun, kamu akan semakin tenggelam Jen, dan bukan tidak mungkin akan sulit bagimu naik kepermukaan lagi" Andra mulai menunjukan muka seriusnya.
"Sayang kita bahas lagi besok yaa, kamu fokus buat ujian kamu besok" Andra pun menuruti permintaan gadisnya.
Arloji dipergelangan tangan Andra sudah menunjukan pukul 22.00, ia memutuskan untuk mengajak Jenna pulang. Selama menjalin hubungan dengannya Andra memang tak pernah mengajaknya pergi hingga tengah malam. Dia benar benar mengingat pesan papa Jenna.
Mereka kembali melangkah kedalam kotak besi yang siap membawa mereka kelantai dimana mereka tiba. Hanya mereka berdua didalam sana, Andra memalingkan tubuh Jenna untuk menghadapnya. Ditempatkannya rambut hitam sebawah bahu Jenna kebelakang telinganya. Terlihat sebuah anting berlian yang tak terlalu mencolok mata terpasang disana. Cantik sungguh cantik gadis didepannya itu.
*Dilihatnya dengan seksama dua bola mata yang memancarkan rasa cinta untuknya. Diliriknya angka dalam lift* yang menunjukan lantai yang mereka lewati. Sebelum lift sampai dilantai tujuan mereka Andra meninggalkan ke*upan hangat dipipi Jenna yang langsung memerah itu.
Tring
__ADS_1
*Selang beberapa detik pintu lift* terbuka, Andra kembali menggandeng tangan kekasihnya itu dan menuju mobil yang sudah kembali terparkir di lobby hotel. Dengan sigap dibuka kannya pintu mobilnya dan mempersilahkan gadis pujaannya untuk masuk. Andra yang sudah berada dibalik kemudi melajukan lagi mobil hitamnya menuju istana sang kekasih.