
Jenna mengetuk pintu kamar mamanya setelah mengantar Andra menuju mobilnya setelah berpamitan pada papanya.
ceklek
"Maaaa" panggil Jenna yang memasukan sedikit kepalanya pada ruangan yang sangat besar dengan warna putih.
Dilihatnya sang mama sedang duduk dimeja riasnya membersihkan sisa makeupnya.
"kenapa sayang?" jawab mama Jenna yang mendapati anaknya sudah bersiri dibelakngnya.
"mama kenapa sih tadi gitu banget kan kasih Andra ma, segala ngajak Gaga makan malem juga" keluh Jenna pada sikap mamanya tadi.
"dia udah bikin kamu sakit hati Jen, dan mama tau itu, mama tau kamu setiap malam menangisinya, mama tau hati kamu hancur dan terluka samapi sekarang" perasaan seorang ibu tak pernah salah memang.
"mama" kini Jenna memeluk mamanya dari belakang.
"mama kurang setuju kamu balikan sama Andra" tegas mama Jenna namun dengan suara yang halus.
"Andra bilang dia akan berubah ma, Jenna pun mencoba memberi kesempatan padanya, bukankah mama yang bilang memberi kesempatan orang itu ngga salah" Jenna yang memang masih merasakan sakit ditinggalkan Andra pun menesteskan kembali air matanya yang kini disaksikan langsung oleh mamanya.
Bu Suvia berbalik badan dan memeluk anak gadisnya itu. Diusapnya punggung yang bergetar itu, dan mengajaknya duduk disofa agar lebih nyaman.
"mama tidak membenci Andra Jen, kamu lihat? gimana tadi pas makan malam? kamu dan papamu pungusaha besar sekarang dan setiap saatpun kalian membiacaran itu tapi lihat Andra dia hanya bisa terdiam tidak bisa mengimbangi obrolan kalian, bukankah itu akan membuatnya terluka lama lama?"
Jenna hanya menunduk dan tertegun dengan perkataan mamanya. Mama benar bahkan selama ini kami hanya saling bercerita tanpa bisa saling menanggapi.
...
Jenna duduk dibalik meja jati dengan kaca diatasnya, ia bersandar pada kursi putih kebesarannya. Ia terlihat memandang kosong laptop dihadapannya. Otaknya sedang tidak bersahabat untuk diajak bekerja rupannya.
Jenna bangkit dari duduknya dan berjalan menuju dinding kaca yang membentang luas dihadapannya.
Dilihatnya pemandangan indah dibalik kaca tersebut, tiba tiba saja dia ingin menemui Andra dan mengajaknya makan siang juga untuk permintaan maafnya soal makan siang yang kurang membuat nyaman dirinya. Pas setengah jam lagi jam makan siang!
__ADS_1
Jenna mengambil tas jinjing hitam ya yang tak begitu besar itu kemudian melangkah keluar ruangannya.
"mbak Lola aku mau makan keluar ya" pamitnya pada asisten pribadinya.
Jenna berjalan dengan anggunnya menuju lift dan menekan tombol menuju lobby gedungnya.
Seorang petugas sudah menyiapkan mobil Jenna setelah mendengar arahan dari Lola bahwa bos mereka akan keluar.
Jenna kini melaju memecah keramaian jalanan disiang hari yang panas ini, tujuannya adalah rumahsakit tempat Andra bekerja sekarang.
tak butuh waktu lama Jenna sudah berada di lobby rumahsakit dan menuju lantai tempat Andra berada.
Setelah keluar dari lift ia merapikan sedikit rambut juga pakaiannya sebelum mengetuk ruangan berpintu putih dengan tulisan dr. Andra Lukmana Sp. PD
"masuk" ucap seorang yang tertulia namanya didepan pintu.
"siang dok" sapa Jenna dengan senyum jahilnya.
"mau kasih kejutan ajaa, kamu ngga makan siang pak dokter?" tanya Jenna yang sudah duduk dihadapan Andra.
"belum, barusan selesai rawat jalan, kamu mau ajakin makan siang?" tanya pria berkacamata itu penuh senyum.
"yukkk keburu jam makan siangnya abiss" ajak Jenna bersemangat.
...
Mereka memilih tempat tak jauh dari rumah sakit sebuah kedai makanan Jepang yang berjarang kurang lebih 250m dari rumah sakit.
"An, maaf yaa kalo semalem kamu kurang nyaman" ucap Jenna sambil meraih tangan kiri Andra yang sedang menikmati mie ramennya.
Andra melepas nafas panjang "engga papa sayang bukan masalah"
Sungguh bukan Andra yang Jenna kenal, dia akan sangat tidak suka jika ada orang lain masuk ke kehidupan Jenna apalagi seorang lelaki.
__ADS_1
"lain kali mau kan makan malem dirumah lagi?" Jenna tetap saja merasa tak enak hati pada Andra.
"jika kalian ada waktu tentu aku mau" jawaban Andra memang terdengar santai namun malah terdengar seperti sebuah sindiran bagi Jenna.
Satu jam berlalu merekapun selesai dengan makan siangnya, Jenna kembali mengantar Andra ke rumah sakitnya dan ia kembali lagi menuju kantornya, kini dengam perasaan lebih lega.
...
Disuatu makan siang lainnya.
"Kak kamu tau ngga sih gemes banget aku sama adek kamu sumpah" ucap Seren pada Gyan yang sedang mengunyah burger double dihadapannya.
"kalo gemes sama Gaga jalannya jangan sama aku" Gyan memang terlampau cuek dengan wanita, yang sebenarnya hanya Seren saja yang ditanggapinya.
"ih bukan gemes yang kearah itu, tapi tu ya ngenes aja lah jalan cinta dia" Seren dibuat makin gemas dengan tanggapan Gyan.
"aku ngga ngerti, apa dia ditolak sama Jenna? kata papa mereka deket?" Gyan memang kurang tau apa yang adiknya lalui terutama urusan percintaannya.
"boro boro ditolak ungkapin aja belom, kok ya tahan dia itu mendem rasa dari SMA sampe sekarang, giliran udah nempel mulu ngga ditembak tembak, eh sekarang keburu si Andra balik lagi deketin Jenna" begitulah cerita Seren yang sedikit mengomel.
Gyan tau betul adik semata wayangnya itu sangat pandai menutupi perasaan dibalik tingkah tingkah konyol dan banyaknya stok candaan yang ia miliki.
Sebenarnya dia sangat cocok dengan Jenna, walaupun perempuan dia memiliki kinerja yang sangat hebat juga pemikiran pemikiran nya selalu fresh. Dan dilihat dari proyek yang mereka berdua jalani merekapun sangat bisa menggabungkan ide ide mereka.
Jenna seperti kakaknya Janu, meski tak terlalu mengenal Janu tapi Gyan cukup paham betul apa yang ia lakukan hingga Wardha hotel sebesar ini. Dan kini Jenna malah yang mengembangkan sayap dan membuat nama Wardha Group semakin besar.
"Ehm Kak Gyan juga tuh kyanya oknter banget mendem perasaan, buktinya sampe mau 30th masi jomblo juga" Seren melontarkan perkataan yang mendapat lirikan sinis dari Gyan.
"emang kamu udaj siap ninggalin dunia permodelan itu dan sibuk dengan perkakas dapur?" jawaban Gyan malah membuat Seren membulatkan mata.
"me memang kak Gyan mau nikahin Seren?" Seren malah salah tingkah sendiri.
"ya kamu pikir aja sendiri, kursus masaknya jangan bolos bolos lagi" lagi lagi jawaban Gyan berhasil membuat pipi Seren merona merah meski ucapannya sangat biasa biasa saja tapi bagi Seren itu adalah sebuah kalimat yang mampu menerbangkan hatinya.
__ADS_1