
brakk
Gaga menutup pintu mobilnya, mengenakan seatbeltnya dan menyalakan mesin mobilnya.
"sudah siap?" ucapnya sambil mengusapkan lebut tangannya pada rambut Jenna.
Jenna hanya mengangguk.
"Ga, kenapa kamu engga bicarain dulu sih tentang keputusan kamu tadi?" Jenna baru berani protes.
"apa kamu keberatan?" jawabnya sembari mengemudikan pelan mobilnya menekan, klakson saat melewati pos satpam komplek yang membukakan portal untuknya.
"bukan begitu, tapi aku tak suka saat kamu mengambil keputusan sendiri tanpa melibatkanku, bukankah kita menjalani ya berdua?" kini nada bicara Jenna serius.
Gaga menepikan mobilnya, kini duduknya sedikit menyamping, memandang wajah yang amat ia sukai.
Diraihnya kedua tangan Jenna, diciumnya lembut, kemudian menggenggamnya.
"maaf aku tidak memberitahumu dulu, tapi ini demi kebaikan kita semua, sebenarnya berita berita sampah itu aku tak memperdulikannya, memang itu cara mereka mendapatkan uang." Menghela nafasnya pelan.
"aku bisa menjagamu dari bahaya bahaya diluar sana, tapi sungguh aku kesulitan menjagamu dari diriku sendiri" mata tajam Gaga menembus manik mata Jenna dengan pandangan memelas.
"ma maksud kamu?" Jenna tak paham dengan apa yang Gaga ucapkan.
Gaga tak menjawab.
Dia malah mengulurkan tangannya pada tengkuk Jenna, menariknya hingga wajah mereka saling berhadapan, bahkan hidung mancung mereka sudah bersentuhan.
Cup
Satu kecupan lembut mendarat dibibir Jenna yang berwana pink tersebut.
Tak tertahan lagi, Gaga melu*mat rasa manis disana, mengabsen setiap inci rongga mulut Jenna, meninggalkan gigitan kecil dan melepasnya.
Dengan nafas yang sama tersengal Gaga melepas cium*an gila yang baru pertama dirasanya. Mengusap bibir Jenna yang basah karna ulahnya.
Jenna masih terpaku dengan apa yang dilakukan kekasihnya untuk pertamakali itu.
"kamu lihat? aku hampir gila Jen menahan bahaya dari diriku sendiri" ucapnya yang masih memandang lekat Jenna.
"bahkan bisa lebih bahaya lagi dari itu Jen" Gaga malah terkekeh, melajukan kembali mobilnya.
Jenna masih terdiam, menyembunyikan raut mukanya yang sudah merona merah.
aku sangat tau itu, aku juga bukan wanita bodoh Ghanes, bahkan aku tau ada sesuatu mengeras dibawah sana setiap kamu mendekapku sebelum aku terlelap
...
"jangan melamun tuan putri ayo turun" Gaga sudah membukakan pintu mobilnya dan membuyarkan lamunan Jenna.
__ADS_1
Berjalan beriringan, memasuki lift menuju ruangan Jenna.
"pikirkan sejak sekarang, seminggu lagi aku akan meng eksekusinya" goda Gaga yang melihat Jenna terus diam setelah kejadian dipinggir jalan tadi.
Jenna melirik tajam kearah Gaga yang malah menyengir kuda sembari menaik turun kan alis tebalnya.
"menyebalkan! dasar lelaki mesum!" ujarnya meninggalkan Gaga setelah pintu lift terbuka.
Orang suruhan Gaga sudah berdiri rapi didepan pintu ruangan Jenna, menunduk memberi hormat pada bosnya.
"sudah mau apa lagi? pergilah kekantormu!" seru Jenna yang melepas blazernya dan menaruhnya di sandaran kursi kebesarannya.
"salim dulu sini" Gaga mengulurkan tangan kanannya kepada Jenna.
Jenna menunjukan ekspresi penolakan tapi tetap menjabat tangan Gaga dan mencium punggung tangannya.
Dengan iseng Gaga malah menariknya, membawa Jenna dalam dekapnya.
"ih apaan sih kok jadi gini kalo ada yang masuk gimana" Jenna berontak mencoba melepaskan diri.
"cium dulu baru aku lepas, atau begini terus seharian juga aku tak keberatan" ucap Gaga begitu enteng.
Jenna mendengus kesal. Masih kekeh ingin melepaskan diri dengan sekuat tenaganya.
tok tok tok
Suara pintu terketuk membuat Jenna semakin gusar ingin lepas dari dekapan yang sebenarnya sangat myaman itu.
"cium dulu, atau biarkan saja orang itu masuk" goda Gaga tak hentinya.
Jenna melotot mengedarkan pandangan ke segala arah, handle dipintu berputar.
Cup
satu kecupan diberikan Jenna dipipi kanan Gaga. Setelahnya menjauhkan tubuhnya dan tepat disaat pintu terbuka.
Gaga tersenyum kemenangan, membalikan badan dan berpapasan dengan Lola yang membawa beberapa map untuk Jenna.
...
ceklek
Koko masuk keruangan Gaga, menghampirinya yang masih sibuk dengan map map didepannya juga layar laptop yang menyala.
"duh yang nikah kakaknya tapi kok aura pengantennya disini!" tegurnya yang melihat raut muka Gaga yang berseri sedari pagi.
Gaga hanya menoleh sekilas, menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum.
"jam makan siang nanti ajak Beryl ke butik, cari gaun terbaik juga tuxedo untukmu" Gaga membuka mulutnya meski tangannya masih lincah membolak balikan kertas.
__ADS_1
"eh? buat apa? kalo kami bertunangan maunya pake batik sama kebaya" sahut Koko asal.
"siapa peduli, bukan untuk acaramu!" seru Gaga dan kemudian terkekeh.
"minggu depan kamu harus kembali menghadiri acara pernikahan" imbuhnya yang kini tatapannya beralih ke laptopnya.
"apa! kau dan Jen apa menikah secepat ini?" kini Koko tak bisa menahan nada biacaranya. Mendapat anggukan dari bos sekaliagus sahabatnya ia beranjak menghampirinya dan memeluknya, memberi selamat.
"tunggu, bukankah minggu depan acara peresmian resto baru yang kalian kerjakan?" tanya Koko kemudian.
"iya, aku sudah minta Loka memajukannya menjadi lusa" Gaga memang sudah merencanakan semuanya.
Gaga kini sudah duduk disofanya, meraih bungkusan makanan yang tadi ia pesan begitu pula dengan Koko.
"iya, bagaimana kabar Permata?" Gaga tentu masih mengingat wanita itu.
"dia sudah baik, sudah dipindah keruang rawat inap, tadi pagi aku mampir karna Demon menelpon" ujarnya.
Gaga tak menjawab namun ekspresinya menunjukan keingintahuan.
"Entah apa yang sudah permata katakan, atau juga entah hidayah aku tak tau, tapi Demon menyesal dan memintaku untuk mengatur pertemuan dengan Kak Gyan setelah Permata sudah lebih baik lagi" jelasnya sambil memasukan sesendok sop daging ke mulutnya.
"lalu kau sudah menghubungi kak Gyan?" tanya Gaga setelah menelan makanannya.
"sudah, Seren juga mendengarnya, tapi aku mengenal Seren aku lebih dari paham ekspresi Seren yang tak nyaman. Entah cemburu, entah takut" ya Koko juga Seren sangatlah dekat mereka bersama sejak duduk dibangku menengah pertama, sedang denganku dan Jenna baru saat SMA.
...
Menerobos kemacetan dijam pulang kerja jelas sudah sangat biasa dilakukan para pekerja. Antrian panjang dilampu merah juga tak bisa dihindari, klakson bersautan, satu dua kendaraan menyerobot jalan.
drrtt drrt drrt
Ponsel dijas Gaga berbunyi, bunyi khusus yang sudah diatur untuk kontak bernama My Jen❤️.
"apa kamu sudah rindu?" ucapnya segera setelah menggeser tombol hijau dilayar pinselnya.
"dasar! Aku sedang dijalan mau kembali ke kantor-.." belum genap Jenna menyelesaikan kalimatnya.
"darimana kamu! dengan siapa? aku menyusul ada dijalan apa?" serobot Gaga dengan pertanyaan bertubi.
"aku pakai taxi online, baru selesai meeting, aku kuar dengan mbak Lola, tunggu saja di kantor dua lampu merah lagi aku sampai" tanpa mendengan jawaban Gaga telpon itu terputus.
Gaga bersandar paka kap mobilnya, berkali kali petugas keamanan mempersilahkannya untuk duduk namun Gaga menolaknya.
Kini sebuah mobil MPV berwarna putih memasuki pelataran lobby kantor, berhenti tepat dibelakang mobil Gaga.
Jenna dan Lola kelur dari pintu belakang mobil tersebut. Dengan cepat Gaga melangkah menuju Jenna yang baru saja menutup pintu.
Sreep
__ADS_1
"Tidak ada lagi pergi tanpa pamit, aku cukup khawatir" Gaga tiba tiba memeluk Jenna bahkan dihadapan banyak karyawan kantor yang sedang berjalan menuju parkiran.