
Pagi ini Jenna bangun lebih awal dari biasanya. Dikenakannya setelan jas beserta celana basicnya dengan warna nude yang terlihat sangat lembut. Dengan riasan tipis namun tetap memperlihatkan kecantikan yang ia punya. Dikuncir rambut hitamnya yang tak terlalu panjang itu menyerupai ekor kuda.
Dengan pakaian yang sudah lengkap serta semua keperluan kantornya ia menuju meja makan. Dia hanya mengambil selembar roti tawar yang kemudian diolesnya selai kacang juga di tandaskan segelas susu coklat hangat didepannya.
Ia memang berniat kekantor lebih awal mengingat jam 9 nanti ia harus datang ke kampus untuk menemani sang kekasih menjalani ujian terakhirnya. Bisa saja dia langsung menuju kekampusnya nanti, tapi ada suatu urusan dikantor yang tak bisa menunggu untuk diselesaikan.
Kali ini lalu lintas belum terlalu padat hanya butuh 30menit Mobil Mini 3doors nya sudah memasuki area hotel. Ia sengaja meminta mobilnya tetap berada di depan lobby karna ia hanya akan sebentar didalam. Lobby hotel belum terlalu ramai dijam setengah 8 pagi, juga di lantai tempat ruangannya berada hanya ada satu dua karyawan yang sudah terlihat menghuni mejanya.
Jenna melangkah ke ruangan dengan pintu putih diujung lantai. Disana Lola sudah menunggu, kini Lola pun merangkap menjadi asisten Jenna.
"Pagi bu Jenna" sapa Lola dengan ramah seperti biasa.
"Pagi mbak Lola, langsung aja siapin berkas yang harus saya pelajari buat meeting nanti sore ya, jam 8 saya keluar dulu dan kembali setelah makan siang mungkin sedikit terlambat" mereka sudah duduk berhadapan di sofa berwarna biru muda dan meja berwana putih yang memisahkan dua sofa disana.
Dirasa cukup mempelajari tumpukan kertas dihadapannya kini Jenna bersiap menuju kampusnya untuk membantu persiapan sidang Andra.
Dilajukannya mobil putih yang sangat terlihat lincah membelah kemacetan jalan raya yang mulai padat oleh kendaraan lain. Ia menyalakan audionya dan didengarnya playlist lagu lagu kesukaannya untuk mengusir penat karena panjangnya antrian lampu merah disuatu perempatan jalan.
45menit berselang sampailah dia di parkiran gedung kedokteran. Ia melihat mobil hitam milik Andra sudah terparkir berjarak dua mobil darinya. Dengan langkah sedikit berlari ia memasuki gedung tempat Andra akan melangsungkan ujian terakhirnya. Tak membutuhkan waktu lama dilihatnya seorang lelaki bertubuh tegap dengan celana hitam kemeja putih dan jas almamater berwarna biru tua.
"Hai sayang, gimana semua persiapannya sudah beres?" sapa Jenna yang duduk dibangku berseblahan dengan Andra.
"Sudah semua tinggal nunggu aja jadwalnya 10menit lagi, doain ya sayang" Andra memandang kekasihnya dan tangannya pun di genggam hangat oleh Jenna seolah memberi semangat.
__ADS_1
Waktu yang ditunggu sudah tiba, Andra memasuki ruang ujiannya dengan langkah mantap. Jenna terus memandang punggung lelaki itu hingga hilang dibalik pintu. Sambil menunggui lelaki yang sedang berjuang demi gelar nya ia meluangkan waktu untuk mengerjakan sedikit pekerjaannya yang sudah di emailkan oleh Lola.
Hampir satu jam Andra berada dalam ruangan bercat putih dengan pintu hitam itu. Jenna sesekali bangkit dari duduknya untuk sekedar mencari celah pada jendela ruangan demi melihat keadaan sang pujaan hati.
ceklek
"Gimanaa sayang?" Jenna langsung menyergap Andra yang keluar dari pintu ruangan, terlihat sedikit buliran keringat dikening lelaki beralis tebal itu.
"Semua lancar, tapi mereka sedang berdiskusi disana" Andra menjawab pertanyaan Jenna dan mencoba menghilangkan buliran keringat di keningnya.
10menit berlalu seorang dosen memanggil Andra untuk kembali masuk dalam ruangan.
drrt drrt drrt
Getaran ponsel Jenna membuyarkan ketegangannya yang mengiringi kepergian Andra menuju ruang ujiannya lagi.
"Maaf bu Jen, ada meeting penting yang mendadak dan Ibu harus datangi, seharusnya meeting itu untuk Pak Hari seusai makan siang nanti, tapi karna suatu hal jamnya dimajukan jadi 30menit lagi" Dengan sigap Lola menyampaikan kepentingannya menelepon bosnya.
*Sial* umpat Jenna dalam hati, ia tahu persis apa yang akan terjadi jika ia pergi begitu saja meninggalkan Andra apalagi untuk urusan kantor seperti ini. Tapi ini juga meeting penting untuk pembangunan komplek ruko baru milik Wardha Group.
"Baik aku akan datang, tapi tolong mbak Lola kesana dulu mungkin aku akan terlambat beberapa menit" Jawab Jenna mencoba mencari jalan keluar.
Jarak kampus ke tempat meeting nanti hanya 15menit itu waktu yang cukup singkat ditempuhnya, jadi dia mencoba untuk bertahan sebentar menunggu Andra keluar dari ruangannya.
__ADS_1
10menit menunggu dengan cemas Jenna pun melihat pintu ruangan terbuka. Andra keluar dengan senyum merekah diwayahnya, Jenna yang sudah tau akan hasil ujian Andrapun menghampiri dan mengucapkan selamat padanya.
"Selamat sayang aku tau kamu bisa melewati ini" icapan selamat yang sudah beberapa kali Jenna utarakan pada Andra.
"Ini juga karna semangat darimu Jen" Andra tak lupa juga memberikan rasa terimakasihnya untuk semangat dan pertolongan kecil Jenna saat ia mengerjakan tugas akhirnya.
Dilihatnya arloji berwarna silver yang melekat dipergelangan kanan Jenna, apa 10menit lagi meeting dimulai! gumam Jenna dalam hati.
"ehmm... Sayang maaf sepertinya aku tidak bisa menemanimu makan siang dengan keluargamu, mbak Lola menelpon dan memberitahuku ada hal mendadak yang harus aku hadiri" Jenna mengucapkan kalimatnya dengan degupan kencang didadanya, ia pun bersiap menerima jawaban Andra.
Tapi raut muka Andra terlihat berubah ketika mendengar permintaan maaf Jenna, ia sudah sangat menunggu lama momen ini, ia melepaskan tautan tangannya pada Jenna, berbalik dan mengambil ransel besar hitam di bangku tempat mereka duduk tadi.
"Pergilah, kita tidak bisa hidup bersama jika menikmati waktu bersamapun sangat sulit" Andra melangkah meninggalkan Jenna.
Jenna mencoba mengejar Andra dengan perasaan tak karuan mencoba mengartikan maksud kalimat Andra.
"Andra tunggu dulu, aku tidak bermaksud-"
Andra menghentikan langkahnya dan membiarkan Jenna berhasil mengejarnya.
"Cukup Jen, selama 2tahun ini memang waktu yang indah tapi 5bulan terakhir seperti petaka bertengkar karna hal itu itu saja. Jika kamu tetap memilih jalan masa depanmu maka biarkan aku juga melangkah menggapai cita ku." Andra melanjutkan langkahnya dengan lebih cepat, ditujunya mobil hitam miliknya dan mulai melajukannya tanpa memperdulikan Jenna yang berlari dan berteriak memanggilnya.
Jenna mulai merasakan pedas pada matanya dan sesak pada dadanya, ia tak tahu pasti maksud dari perkataan Andra tapi pertengkaran mereka sebelumnya juga tidak pernah berakhir dengan kepergian Andra.
__ADS_1
Ia memasuki mobilnya, dilihatnya pantulan wajahnya pada cermin yang ada dimobilnya, ia menata kembali penampilannya, karna tak mungkin membiarkan orang lain mengetahaui apa yang barusan ia alami. Getaran ponsel kembali terasa pada tas jinjing hitam miliknya.
"iya sebentar lagi sampai" singkat saja Jenna menjawab telpon yang masuk pada ponselnya.