Teman Hidup (New)

Teman Hidup (New)
Bab 33


__ADS_3

"SAH!" seremoak terdengar suara menggema diruang tengah kediaman Wardhana yang dipadati keluarga juga kerabat yang menyaksikan janji sehidup semati Gaga dan Jenna. Semua saling bertukar senyum satu dua menitihkan air mata bahagia termasuk kedua mama pengantin.


Terlihat senyum tipis dibibir Jenna yang dibalut gaun pengantin putih yang melekat persis ditubuhnya. Ditatapnya lelaki yang telah mengucap janji menjabat tangan Papanya. Lelaki dengan setelan tuxedo putih melihat kearahnya melempar senyum.


Kini sepasang pengantin baru itu berdiri berhadapan saling mengenakan cincin dijari pasangan. Mendapat sorakan gembira dari kerabat juga keluarga. Gaga melingkarkan tangan kepinggang ramping istrinya, mengecup sekilas kening pujaan hatinya.


Setelah beberapa prosesi ambil foto dilokasi ijab kabul, kini mereka berganti ke halaman belakang. Pukul 11 tak sepanas biasa, cuaca cerah namun panas tak menyengat.


Gaga menuntun Jenna yang dibalut gaun yang sedikit menyentuh lantai. Senyum sama mengembang diwajah keduanya. Satu dua kerabat mengucap selamat mengulurkan tangan, memeluk juga cipika cipiki.


"Selamat ya! sekarang kita bisa saingan" ucap Gyan memeluk adiknya.


"eh saingan apa?" jawab Gaga melepas pelukan.


"siapa yang bisa cepet kasih cucu!" seru Gyan disusul kekehan Gaga, Jenna juga Seren.


"mana ada, kalian kan udah nyolong start!" balas Gaga yang kembali melingkarkan tangan dipinggang Jenna setelah menerima pelukan dari Seren.


Belum reda tawa kedua pasangan itu.


"hai bro!" Koko memeluk Gaga juga Seren bergantian "selamat untuk kalian" mengucap selamat bergantian dengan Beryl yang menyusul dibelakangnya.


"Terimakasi Ber, semoga kalian juga cepat menyusul ya, biar rame kita kalo nongky!" seru Jenna yang baru melepas pelukan Beryl.


"semoga saja ya doakan" jawab Beryl dengan senyum menoleh pada Koko.


"jngan mau dilama-lamain Ber" imbuh Seren.


Kini riuh sudah dengan candaan yang saling bersaut satu sama lain. Jenna dan Gaga pamit terlebih dulu untuk menemui undangan yang lain. Berjalan dengan Jenna bergelayut manja dilengan kekar Gaga. Serasi. hanya iyu yang cocok dengan mereka.


Bukan hanya fisik, namun latar belakang merekapun sangat setara, cocok, dan berimbang.


"ah selamat pak Ghanes bu Jen" ucap salah seorang kolega dekat, suplier bahan bangunan yang menjadi lengganan mereka.


"terimakasih pak Jodi atas doanya" balas Gaga dan Jenna hanya tersenyum ramah.


"jadi apakah ini juga awal untuk kalian menyatukan perusahaan?" tentu pertanyaan ini adalah mewakili banyak kolega juga pesaing mereka namun ini hanya gurauan tentunya hanya dibalas kekehan ketiganya.


Kembali berjalan menuju sisi kolam renang, disana benar-benar penuh mawar merah. Terlihat sangat menyala seperti perasaan mereka.


"benarkan kalian akan segera menikah" kini giliran Dewa menyapa, memeluk Jenna juga Gaga, seperti yang lain mengucap selamat.

__ADS_1


"ini bukan karna ramalanmu kak De" Jenna terkekeh dengan jawabannya sendiri.


"paling tidak aku tak salah menebak bukan Ga?" Dewa mencari pembelaan dari adik iparnya.


"tentu aku akan cepat melangsungkannya kak, atu dia bisa berubah pikiran" balas Gaga kemudian.


Mereka kembali melangkah.


"Ga boleh aku duduk sebentar" ujar Jenna sambil terus tersenyum membalas sapaan para tamu.


"duduklah aku akan ambilkan minum" Gaga membawa Jenna kesebuah bangku putih panjang dibawah pohon cemara yang tumbuh dihalaman belakang rumah Jenna.


"Jen kemana Gaga?" sapa mama Gaga yang melihat menantunya duduk sendiri.


"eh, mama, Ga, eh maksudku Mas Gaga sedang ambil minuman mungkin juga ada beberapa yang mengajak mengobrol" jawab Jenna sopan.


"nah itu dia" ujar mama Gaga yang melihat putranya sudah berdiri dibelakang Jenna membawa dua gelas jus ditangannya.


"jangan tinggalkan istrimu lama-lama" menepuk pundak Gaga dan tersenyum menuju teman sosialitanya.


Gaga mengulurkan tangannya menyerahkan gelas yang berisi jus mangga itu.


"ehm, apa kamu bilang kemamah tadi?" tanya Gaga yang sudah duduk disamping pengantinnya.


"yang apa?" tanya Jenna bingung.


"panggil aku apa?" kini raut Gaga menahan senyum.


"ya aku rasa tak sopan memanggil suami langsung namanya walaupun kita seusia bukan?" Jenna kembali meneguk minuman yang terasa segar itu.


"pertahankan itu, aku suka" Gaga memandang Jenna yang malah tersipu dengan perkataan suaminya.


Acara berakhir pukul 12. Iya hanya acara sederhana saja, resepsi besar baru akan diadakan malam selanjutnya.


Jenna melangkh menuju lantai dua rumahnya, menuju kamarnya karena dibawah hanya tinggal keluarganya juga Gaga saja tak lupa Koko dengan Seren.


Gaga masih duduk dengan Gyan, Koko juga Dewa diruang tamu. Sedang Seren juga Beryl bergabung dengan para mama diruang tengah. Para Papa justru ada diruang baca entah mengobrolkan apa.


"jadi apa rencana kalian berikutnya Ga? kalian tidak akan melulu membesarkan bisnis terus kan? kapan kalian akan membesarkan seorang anak?" ujar Dewa dengan terkekeh disambut yang lainnya.


"hei! seperti yang bicara sudah melakukannya saja? bahkan kita disini belum ada yang melakukannya" keluh Gaga.

__ADS_1


" tapi kau benar kak, mungkin aku akan membatasi kegian Jenna untuk mengurus perusahaan" imbuh Gaga serius.


"kalian butuh waktu bersama, tak mungkin bisa kalian dapatkan kalau kalian sama-sama sibuk memimpin perusahaan yang berbeda" kini Koko ambil suara.


"jangan kau pikir aku akan ambil alih semua semdiri dan kau yang memegang perusahaan Jenna ya!" Gyan sedikit membenarkan duduknya.


"sudahlah, baru berapa jam kalian sah menjadi suami istri, itu nanti gampang diurus, susulah dulu istrimu, sepertinya dia tak mau menunggu malam" Goda Gyan selanjutnya.


Akhirnya Gaga meninggalkan gerombolan lelaki itu dan menuju lantai dua, menuju ruangan yang sudah sering ia datangi sebelumnya.


ceklek


Gaga membuka pintu kamar pengantin yang temtu sudah didekor sedemikian rupa agar terlihat romantis, bunga mawar dibeberapa sisi, lilin aroma terapi, serta taburan kelopak mawar di kasur kingsize Jenna.


Dilihatnya Jenna berdiri di balkon kamarnya. Didekatinya wanita yang beberapa jam lalu sah menjadi istrinya.


Jenna menengok sekilas menydari ada yang masuk kamarnya, tersenyum sekilas dan menghampiri Gaga yang tinggal berapa langkah sampai ditempatnya berdiri.


Gaga melingkarkan pelukan dipinggang Jenna, Jenna tak melawan meski terlihat malu.


apa iya dia akan melakukannya sekarang disaat dilantai bawah masih ramai orang


Pikir Jenna.


"istrihat dulu kalo lelah, kenapa malah termenung disini" ucap Gaga yang berjarak sangat dekat dengan Jenna.


"aku hanya sedang meyakinkan diri kalo ini bukan mimpi" Jenna menjawab dengan senyum.


"apa ini terlihat mimpi?" Gaga melayangkan ciuman lembut kebibir Jenna yang balut lisptik berwarna merah.


"jangan coba-coba ini masih siang" Jenna coba melepaskan diri.


"kenapa? aku berhak melakukannya kapanpun dan dimana pun" Gaga menggoda Jenna dengan senyumnya.


"apa? dimanapun? kamu kira aku kucing" kini Jenna memanyunkan sedikit bibirnya.


"jangan lakukan itu lagi atau aku bisa mengganti malam pertama dengan siang pertama" Gaga menarik hidung Jenna dengan lembut.


"ih apanya jangan mesum!" Jenna memukul pelan dada suaminya.


"kalo gerah ganti pakainmu, Seren juga Beryl masih dibawah, temui dulu mereka" Gaga melepas pelukannya dan mencium kening istrinya.

__ADS_1


__ADS_2