Teman Hidup (New)

Teman Hidup (New)
Bab 19


__ADS_3

Kerjasama demi kerjasama yang Arya Group dan Wardha Group lakukan menambah kedekatan antara Jenna dan Gaga. Kedua belah keluarga pun sudah sangat mendukung jika kedua anak mereka dapat berjodoh. Namun Gaga juga Jenna belum ada yang menginginkan hubungan yang lebih.


...


"Mbak Lola Jen ada didalam?" tanya Seren saat berpapasan dengan Lola didepan lift.


"Bu Jen ada diruangannya baru selesai meeting mbak Seren masuk aja" jawab Lola dengan senyum.


Seren melangkah menuju ruangan sahabatnya untuk mengajaknya makan siang bersama.


ceklek


"hai Ser" ucap Jen melihat siapa yang masuk ruangannya.


Seren melambaikan tangannya kemudian menghempaskan tubuhnya ke sofa dan meletakan tas jinjingnya dimeja kaca. "kusut amat muka nya buukkk" ledek Seren.


"ada problem tadi" Jen melepas blazernya dan menaruhnya di kursi kerjanya.


"mau makan dimana? Tadi Gaga bilang dia mau ke Saung Laut" tambah Jen yang sudah mendaratkan bokongnya pada sofa yang berhadapan dengan Seren.


"nyusul juga boleh lah" Seren berpindah tempat duduk diseblah Jenna.


"kamu belum ada kemajuan sama Gaga?" tanya Seren serius, hingga mukanya benar benar menghadap pada Jen dan melihatnya tanpa berkedip.


"apaan sih jangan lebay gitu dong!" Jen memalingkan muka Seren dengan tangannya.


"engga tau Ser, belum berani aku" imbuhnya sambil merebahkan punggungnya pada sandaran sofa.


"apalagi sih Jen? udah enak kalian tuh tinggal iya gitu doang!" Seren memang selalu gemas dengan dua sahabatnya itu.


"aku hanya takut kalau kalau perasaanku hanya pelarian aja" Jen tersenyum kecut.


"halooo Jennaira! 3bulan ini kalian udah lebih dari deket apa itu masih bisa dibilang rasa kamu cuma sekedar pelarian?" Seren mulai kesal dan melipat kedua tangannya pada dadanya.


...


Dua wanita yang sama cantiknya itu melenggang masuk pada sebuah restoran dengan tema laut. Aroma seafood mulai menyeruak pada indra penciuman mereka.


Tanpa ragu berjalan menuju sebuah gasebo dekat kolam ikan yang cukup besar.


Digasebo tersebut nampak dua lelaki berpenampilan rapi sesang duduk menikmati es kelapa muda mereka. Satu lambaian membuat dua wanita tadi mempercepat langkah mereka.

__ADS_1


"hai hai hai!" seru Seren yang memang selalu heboh dimana saja.


"waaa udah dateng semua makananya!" mata Seren membelalak melihat berbagai hidangan laut itu tertata rapi di meja lesehan itu.


"dasar, dimana mana para model itu selalu kontrol makan ya Ser, kamu doang yang lab leb gitu!" kini ganti Koko yang membuka suara.


"udah udah, yuk makan keburu dingin" ucap Gaga yang sudah geleng geleng melihat dua manusia yang sering adu mulut tapi tetep kompak itu. Ya kompak soal urusan jodohin dia dan Jen.


"Jen cobain deh udang bakar sini bestseller loh" Gaga mengambil satu ekor udang ukuran jumbo dan meletakan pada piring Jenna.


"tuh kan salah tempat kita!" celetuk Koko yang malah disambut lemparan potongan kol oleh Jenna.


Makan siang berlangsung cukup damai hingga berbagai jenis penghuni laut itu berhasil dipindahkan dalam perut mereka.


"besok besok lagi yuk gaes!" seru Seren dengan mengacungkan dua jempolnya.


"iyaa suasananya kaya engga ditengah kota adeemm" tambah Jenna.


"malem minggu besok yuk, kalo malem kayanya lebih seru deh" Jen mencuri pandang pada Gaga yang sudah tersenyum dan menganggukan kepalanya tanda setuju.


Setelah dirasa makanan sudah turun ke perut ke empat sahabat ini kembali menuju parkiran dan mobil yang mereka bawa tadi.


"iya, udah lama juga engga mampir kesana" jawab Jen yang memang berjalan beringingan dengan Gaga.


"aku anter ya" Gaga yang memang ada waktu senggang karena meeting nya diundur hari mendatang memilih menemani Jen.


Jen yang tadi datang dengan Seren pun meminta ijin dan juga menitipkan Koko padanya. Nasib sekali Koko udah kaya barang.


...


Mobil Ford Mustang putih Gaga kini sudah terparkir didepan salah satu bangunan ruko paling besar. Bangunan itu dibeli oleh salah satu sepupu Jen dan membuka sebuah bar. Yang tentu dijam 1 siang masih sangat sepi hanya ada beberapa karyawan disana.


Jen dan Gaga melangkah menuju lantai 3 dimana ruangan Sadewa Putra Sukma berada.


ceklek


"wah pak bos lagi sibuk" seru Jenna saat mendapati sepupunya sedang bergelut dengan serumpuk kertas dimejanya.


"hai Jen, apa kabar?" sahut Dewa, melihat lelaki dibelakang Jen "Loh ada Gaga juga?"


Gaga ganti menyapa Dewa dan mengikuti Jen yang duduk di sofa panjang dengan warna hitam itu.

__ADS_1


"kalian dateng bukan mau kasih undangan kan?" ya Dewa juga salah satu yang mendukung mereka untuk melangkah lebih jauh.


"kak Dewa apaan sih!" seru Jen dengan mata melotot namun tidak seram itu.


"tunggu apa lagi sih?" kini Dewa menoleh ke arah Gaga dan hanya mendapati seulas senyum disana.


Setelah mengobrol dan berbincang panjang lebar Jenna pun meminta pamit karna Gaga juga masih ada pekerjaan.


"inget ya nanti malam datang kesini, aku traktir" ucap Dewa yang mengantar kedua tamunya keluar dari ruangannya.


...


Sudah lama memang mereka berempat tidak main ke bar, bukan tipe peminum namun hanya sesekali melepas penat dan senang senang layaknya orang seusia mereka.


Tiga sekawan ini pun menuruni mobil Gaga dan melangkah menuju bar milik Dewa. Ya Seren datang dengan Gyan bahkan kini mereka sudah reami berpacaran yang artinya Gaga akan menjadi adik iparnya nanti.


"disini!" suara Seren cukup kencang ditengah alunan musik yang sangat kencang disana.


Hanya bir dan beberapa camilan yang menghuni meja mereka. Bintang tamu yang datang ke bar milik Dewa malam ini cukup membuat minat mereka untuk datang.


"Aku ketoilet dulu ya" pamit Jenna yang merasa ingin buang air kecil, merasa tangannya ditahan oleh seorang dan cukup menggelengkan kepalanya tanda menolak untuk diantar dan tangan itu sudah melepasnya.


Malam itu cukup ramai karena pamor sang bintang tamu, Jenna menerobos beberapa kerumunan menuju toilet.


Selesai dengan urusan ya Jenna kembali menerobos gerombolan pengunjung dan tersentak ketika tangannya dicekal seorang.


Matanya bulat sempurna melihat pemilik tangan itu, ia mencoba melepasnya tapi sayang tenaganya kalah besar.


"ikut aku" sebuah kalimat perintah yang tak dapat dibantah Jenna saat tubuhnya sudah ditarik dan menuju lorong toilet.


Tubuh Jenna di hempaskan pada ujung lorong yang merupakan sebuah gudang.


"mau apa kamu bawa aku kemari!" Jenna meninggikan suaranya menutupi rasa takutnya karena area itu sangat sepi.


"urusan kita belum selesai Jennaira" ucap Andra dengan mata yang sudah merah.


"aku harus hidup seperti ini berteman alkohol setelah kepergianmu bahkan aku meninggalkan keluargaku karena menolak menikahi wanita itu! hanya untukmu Jenna, tapi tapi apa yang aku lihat kamu semakin dekat dengan laki laki bang*sat itu!" tangan Andra mengepal dan mendekat kearah Jenna yang sudah sangat terpojok.


"a aku minta maaf An, aku sudah meminta perpisahan secara baik padamu, dan Kyra bahkan lebih baik dariku" Jenna sangat takut dan mulai merasa tubuhnya dipenuhi kringat dingin.


"apapun caranya aku akan mendapatkanmu!" Andra mengungkung Jenna didepan pintu gudang, dan sialnya keisengan Andra membuka handle pintu yang tak terkunci malah semakin membuat niat jahatnya berkobar.

__ADS_1


__ADS_2