Teman Hidup (New)

Teman Hidup (New)
Bab 21


__ADS_3

Perhatian dan kelembutan adalah obat paling mujarab untuk kesembuhan, begitu kiranya yang Jenna rasakan. Tiga hari dirawat Gaga selalu setia menemaninya selalu menyempatkan pagi dan malam untuk sekedar berkunjung.


Sore ini Jenna dijadwalkan untuk pulang kerumah meski ia masih perlu banyak istirahat demi memulihkan mentalnya yang sangat syok dengan kejadian buruk itu. Jenna keluar dari toilet dengan muka berseri rambut sebahunya di jepit sebagian kebelakang. Ia memilih memakai loose pants hitam dengan sweater berwarna cream dengan model crop.


ceklek


"Jen, sudah siap kita pulang sekarang ya?" ujar pak Hari pada putrinya yang tengah duduk disofa dan sibuk memainkan ponselnya.


Jenna malah terlihat mencari sosok yang sedari pagi tak terlihat menjenguknya, bahkan tak ada notifikasi di ponselnya. Ia mengangguk dan berjalan digandeng oleh mamanya.


Didalam mobil Jenna hanya terdiam melihat keluar jendela, tampak kekecewaan tersirat diparas cantiknya yang mulai kembali segar. Sesekali diusapnya layar ponselnya dan tak juga satu pesan yang masuk dari orang itu.


Setibanya dirumah Jenna langsung diantar kekamarnya dan masih sangat ragu untuk ditinggal sendiri saat mamanya meminta ijin untuk berganti pakaian.


Jenna duduk bersandar diranjangnya, berkali kali menatap ponselnya dan tak juga pesan yang diharapnya masuk. Semakin kecewa ia merebahkan tubuhnya ke ranjangnya dan membalut tubuhnya dengan selimut tebalnya.


tok tok tok


Jenna terperanjat dari tidurnya ditatapnya pintu yang diketuk dari sebrang sana.


"masuk" jawabnya sambil kembali bersandar diranjang.


ceklek


Sosok lelaki dengan setelan kemeja lengkap muncul dari balik pintu bercat coklat tua itu, sontak Jenna turun setengah meloncat dari ranjangnya dan menuju ke sosok yang masih diambang pintu.


sreepp


Dipeluknya lelaki bertubuh tinggi itu dengan erat dan Jenna kembali menangis.


"hei hei tuan putri ada apa?" Gaga menyambut pelukan Jenna meski bingung dengan apa yang Jenna lakukan.


"aku takut, kemana kamu seharian?" ya begitulah Jenna setelah kejadian naas itu, ia seolah sangat bergantung pada Gaga, bahkan terlihat sangat manja padanya tak seperti sebelumnya.


"maaf ya" Gaga melepas pelukannya dan mengajak Jenna duduk disofa yang menghadap ke balkon kamarnya. "ada pekerjaan mendadak dan tadi pagi pagi sekali aku berangkat, ini baru pulang" dengan sangat lembut Gaga menjawab kekhawatiran Jen.

__ADS_1


Jenna hanya diam dan mengangguk dengan mulut yang masih mengrucut.


"tuan putri belum makan kan? yuk kebawah makan dulu" seperti kata dokter semua orang terdekatnya memang bersikap sangat halus dan lembut pada Jen untuk segera memulihkan mentalnya.


Jen menggandeng tangan Gaga saat menuruni anak tangga, diruang tengah terlihat mama papanya sedang duduk dan mengobrol.


"sayang makan dulu" bu Suvia berjalan menuju tangga dan mengajak mereka makan malam.


...


Duduk diruang tengah seusai makan malam dan mengobrol santai adalah kebiasaan dikeluarga ini.


"Jen aku pulang dulu ya, sudah hampir setengah sepuluh oke, kamu istirahat juga biar cepat sehat" ujar Gaga pada Jen yang duduk diseblahnya.


"om tante Gaga pulang dulu ya" Gaga berpamitan pada kedua orang tua Jenna dan berjalan keluar setelah mencium tangan keduanya.


Jenna mengikuti Gaga sampai ke pintu rumahnya seperti tak rela ditinggal pergi.


"udah masuk sana, dingin diluar, besok aku mampir lagi" Gaga mengusap lengan Jenna.


"iya janji, oiya besok kan malam minggu bukannya kamu pengen ke Saung Laut lagi?" Jenna hanya mengangguk "besok malam aku jemput ya" kini seulas senyum terlukis diwajah cantik Jenna.


Dilambaikannya tangan kearah mibil Gaga yang mulai meninggalkan halaman rumahnya.


...


apa perasaanku ini nyata? atau hanya sekedar nyaman terlindungi dan telinga ini sangat suka saat dia berbicara begitu halus juga tubuh ini sangat hangat saat bersentuhan dengan dirinya.


jika perasaan ini pelarian bukankah sangat berlebihan? raga ini pun selalu gelisah saat tak disampingnya juga tak ada kabar darinya. hati ini selalu bergetar, bergemuruh hebat saat netranya menembus kesadaranku.


apakah ini perasaan yang normal sebagai seorang sahabat? apakah perlakuannya tak berlebih dengan seorang sahabat? juga apakah perasaan yang semakin meminta untuk selalu dekat ini juga dialami oleh setiap sahabat disana?


ku harap dia akan jadi temanku saja, teman susah senang ku, teman segala kondisiku, teman hidupku.


...

__ADS_1


"Jen kamu belum selesai pilih baju?" tanya Seren yang sedari sore menemani Jenna didalam kamarnya yang sudah seperti gudang pakaian itu.


"bantuin aku dong Ser aku pakai apa nanti? yang engga terbuka dan aman" jawab Jenna yang terus melempar keuar pakaiannya dari lemarinya.


"kamu bingung pilih yang aman apa bingung cari pakaian yang menarik untuk Gaga sih?" kini Seren mendekati Jenna dan mengusap punggungnya. Membawanya ke sofa untuk menenagkan ke galauan sahabatnya itu.


"Tenang Jen, Gaga akan selalu tertarik padamu bagaimanapun kamu, bagaimanapun penampilan kamu, baginya kamu sudah sangat menarik" Seren tersenyum saat kata katanya dapat membuat Jenna mengembangkan senyumnya, matanya menerawang keluar seolah membayangkan seorang.


...


Setelah hari itu Jenna selalu berpakaian yang tertutup ia menyingkirkan semua pakaian minimnya dari lemari. Dan lebih was was saat sendirian meskipun itu dirumahnya.


"Nah sudah cantik" Seren menatap paras cantik Jenna dari pantulan cermin, dia membantu Jenna berdandan meski sangat tipis sesuai permintaan Jenna.


"makasi ya Ser" Jenna berbalik dan memeluk sahabatnya yang setia menemaninya sedari sore itu.


Bukan makan malam spesial hanya jalan jalan biasa bahkan ramai ramai, ini juga atas permintaan Jenna.


"sayang Gyan juga Koko sudah datang" ucap mama Jenna dari ambang pintu


Jenna dan Seren menuruni tangga dan melihat tiga dari peserta makan malam itu sudah datang. Gyan, Koko juga Beryl. Mereka berdua pun bergabung duduk diruang tamu dan tak lama sebuah mobil memasuki halam rumah. Ya seorang yang sangat Jenna harap kedatangannya.


Lelaki dengan celana chinos cream dengan sepatu santai dan kemeja flanel kotak kotak memasuki ruang tamu.


"yuk udah komplit kan, keburu malem!" seru Seren yang sudah berdiri dan mengajak Gyan menuju mobil.


Gaga menghampiri tuan putrinya dan mengulurkan tangannya, berjalan menuju mobilnya, sementara Koko, Beryl, Seren dan Gyan satu mobil dengan mobil Gyan.


...


Dalam mobil yang berpenumpang dua orang ini sangatlah senyap, Jenna sesekali melempar pandangannya keluar jendela dan Gaga fokus dengan jalanan didepannya yang cukup padat.


"jangan khawatir aku akan selalu disampingmua" ucap Gaga memecah keheningan saat mobilnya berhenti di perempatan jalan dengan lamput merah.


Wanita disebelahnya hanya menoleh sekilas dan mengangguk.

__ADS_1


"jangan pikirkan banyak hal oke? Senyum dong" rayu Gaga, dan didapatinya senyum manis dengan rona pipi yang memerah. Dengan isengnya Gaga mencubit manja pipi Jenna yang membuat wanita itu membulatkan matanya dan kembali membuang pandangannya ke jendela namun itu dilakukan untuk menyembunyikan raut muka malunya.


__ADS_2