Teman Hidup (New)

Teman Hidup (New)
Bab 20


__ADS_3

Tubuh Jenna terhempas dilantai gudang, sementara Andra menutupnya dan mengganjal pintu dengan sebuah kursi.


Jenna mulai menangis melihat raut muka Andra yang seperti orang kesetanan terus mendekat kearah Jenna yang bahkan untuk bangunpun tenaganya hilang kemana. Jenna hanya mencoba bergeser bergerak dibantu tangannya seolah mencari sesuatu yang dapat menolongnya.


Andra meraih kerah jaket jeans Jenna membuat pergerakan Jenna terhenti dan Andra berhasil mendekati wajah Jenna. Di sentuhnya lembut namun tangan itu malah terus menuju turun kearah dada Jenna. Jenna terperanggah mencoba melepaskan diri dan berteriak minta tolong.


Namun Andra semakin menggila dia memojokan Jenna di tembok dan mulai mencicipi leher jenjang Jenna.


"kumohon jangan An! hentikan! toloong! siapapun tolong! hiks" Jenna berusaha memukul tubuh Andra yang sudah berhasil mengungkungnya dan kini kedua tangannya pun telah berhasil dikuasai Andra.


"pergi ! tolong! hiks tolong!" Jenna terus berteriak.


"teruslah berteriak sesukamu sayangku! kamu terlihat semakin sek*si" ujar Andra dengan senyuman yang sangat menakutkan.


Jenna mulai menangis sekuat apapun dirinya meronta Andra bahkan tak bergeser sedikitpun.


Andra menyobek kaos yang dikenakan Jenna dilihatnya sesuatu yang sangat mengga*irahkan itu, bahkan ia sangat menahannya ketika berpacaran dengan Jenna.


Brakkk


Suara pintu yang tersonrak berhasil membuat Andra lengah dan Jenna menjadikannya kesempatan untuk menyerangnya dengan sebuah botol bekas minuman yang tak cukup jauh darinya. Andra berhasil terjatuh namun dengan cepat menangkap tubuh Jenna yang mencoba berdiri.


"tak butuh waktu lama cukup membuatmu tak pera*wan Jen!" ucap Andra penuh amarah.


Andra berusaha menyingkap rok jean milik Jenna


Braakkk


Bugh


"Breng*sek" Gaga langsung melayangkan pukulan kerasnya tepat mengenai rahang Andra, Dewa yang membatu mendobrak pintu pun langsung menghampiri Andra dan menghajarnya habis habisan.


Jenna dalam kondisi yang sangat kacau terlebih pakaiannya, Gaga mencoba menyelimuti tubuh Jenna dengan jaketnya dan menyuruh Seren menguhubungi pihak rumah sakit.


Jenna yang terus histeris memeluk Gaga dengan sangat eratnya hingga ia kehilangan kesadarannya.


...


Jenna terbaring lemah dan tak sadarkan diri diruang VVIP rumah sakit setelah mendapatkan perawatan di UGD.


Bu Suvia masih sesenggukan mengetahui apa yang terjadi pada putri sematawayangnya. Pak Hari hanya memeluk tubuh istrinya yang tak henti hentinya meneteskan air mata.

__ADS_1


Seren, Koko, Dewa juga Gaga menunggu Jenna sadar didepan ruangannya. Gaga masih terlihat emosi dengan tangan yang terus mengepal matanya merah dan tubuhnya pun sedikit panas menahan amarah.


"Ga Jenna akan baik baik saja, dengar kan tadi dokter bilang apa?" Koko menepuk pundak Gaga mencoba menenangkannya.


"iya Ga, si baji*ngan itu pasti ngga akan berani deketin Jenna lagi aku udah kasih pelajaran dia" tambah Dewa yang sudah berhasil membuat Andra babak belur.


Didalam ruang VVIP itu tangan lentik Jenna mulai bergerak matanya mulai mengerjap, Bu Suvia mendekat kearah putrinya.


"sayang mama disini nak" ucapnya masih dengan deraian air mata.


Jenna membuka matanya dan langsung menangis histeris dan meronta membuat bu Suvia tersentak dan semakin panik.


"pah! panggil dokternya pah!" seru bu Suvia.


Gaga yang mendengar jeritan dari dalam sana langsung menerobos masuk dan melihat Jenna menangis histeris.


Tanpa meminta ijin Gaga langsung mendekap tubuh Jenna sekuat tenaganya dan mengucapkan kata kata penenang dan membuat tangisan Jenna berangsur teratur meski tubuhnya masih bergetar hebat.


Tak lama dokter yang merawat Jenna pun datang dan memberikan suntikan penenang melalui infus Jenna.


"pasien masih mengalami trauma, namun tidak terlalu parah, setelah dia bangun nanti dia akan lebih tenang mungkin masih akan menangis namun tidak sehisteris tadi, tolong jika pasien bangun semuanya bersikap dan berbicara yang halus, karna dengan kondisi seperti ini pasien sangat membutuhkan bantuan dari orang orang disekitarnya." penjelasan dokter cukup membuat seisi ruangan mengangguk paham.


Kini jam menunjukan pukul 2pagi Koko dan Seren juga Gyan sudah pulang, tertinggal Gaga dan Dewa masih didepan ruangan Jenna.


"Ga pulang saja dulu Jenna akan baik saja, aku bahkan menyesal hal seburuk itu terjadi ditempatku sendiri dan itu menimpa adikku sendiri" Dewa meremas rambutnya frustasi.


"kamu duluan aja Wa, aku masih mau disini" jawab Gaga yang menatap kosong pintu ruangan Jenna.


Dewa pun bangkit dan menepuk pundak Gaga berpamitan.


Pak Hari yang datang membawa kresek berisi dua kotak sterofoam menghampiri Gaga yang duduk sendirian.


"kamu ngga pulang Ga? " tanya pak Hari.


"eh om, engga Gaga mau nungguin Jen sadar" balas Gaga masih dengan padangan ke pintu putih itu.


"ayo masuk tunggui didalam" bujuk Pak Hari.


Gaga pun duduk di sofa dan mengarahkan pandangannya pada sosok wanita yang sedang tak berdaya itu.


"kamu sudah makan nak?" tanya bu Suvia yang berjalan kearahnya. Hanya gelengan yang diberikan Gaga.

__ADS_1


"Makan dulu itu papa Jenna beli 2 nasi goreng" tawarnya.


"Gaga engga laper tante" ujar Gaga singkat.


"Ga, makasih kamu sudah jaga Jenna dengan baik" ucap Pak Hari pada Gaga.


"saya gagal om" kini pandangan Gaga tertunduk merasa menyesal tak mengantar Jenna ke toilet waktu itu.


"tidak nak kamu berhasil menyelamatkan kehormatan Jenna, kehormatan kami hiks" kini bu Suvia ikut biacara dan kembali meneteskan air mata.


Suara dari ranjang Jenna mengalihkan perhatian tiga orang disana, dan langsung cepat menuju ranjang Jenna.


Bu Suvia dan Pak Hari disisi kanan Jenna, tangan bu Suvia menggenggam tangan putrinya yang masih lemas. Dan Gaga berdiri disisi kiri ranjang memandangi mata lentik yang mulai terbuka perlahan.


"mama hiks Jen takut maaa" Jenna mulai menangis dan langsung dipeluk mamanya.


"mama disini sayang ada kami disini, kamu ngga papa sayang ada papa ada Gaga juga hiks" ucap bu Suvia yang terus mengeratkan pelukan pada tubuh lemah anaknya.


"Jen takut ma, Jen takut sendirian hiks" Jenna tak melepas pelukan sang mama.


"sayang lihat ada papa disini ya Jenna ngga perlu takut" pak hari mengusap halus rambut putrinya.


Kini Jenna berganti memeluk papanya.


"Sudah yaaa makan dulu ya sayang mama suapin, tadi papa beli nasi goreng seafood kesukaan kamu" tawar mama Jenna dan dijawab anggukan kecil anaknya.


"biar Gaga ambilkan" Gaga melangkah mengambil satu sterofoam bertulis seafood diatasnya dan menyerahkan pada bu Suvia.


"lihat Gaga juga jagain kamu disini sayang kamu nggak perlu takut" ucap pak Hari sambil terus mengusap punggung putrinya.


Jenna menoleh kearah Gaga dan kembali meneteskan air mata meski tak bersuara.


"hei tuan putri jangan nangis yaa, kan kita mau makan?" Gaga duduk di samping Jenna, suara Gaga sangat terdengar lembut.


"maaf, maafin aku udah ngga nurut kamu hiks" Jenna kembali menangis mengingat dirinya menolak niat Gaga yang ingin mengantarnya ke toilet.


Gaga menyelipkan rambut Jenna ke belakang telinganya dan kembali tersenyum hangat.


"makan dulu biar cepat sehat" ucap Gaga sambil menunjuk nasi goreng yang ada ditangan bu Suvia.


Jenna mengangguk dan mulai memakan nya perlahan juga samgat sedikit.

__ADS_1


__ADS_2