Teman Kakakku

Teman Kakakku
Lebih sehat karena melihatmu


__ADS_3

Aku masih terus mondar-mandir di depan ruang operasi Bang Reza. Aku awalnya tidak tahu jika hari ini Bang Reza akan dioperasi karena pagi ini aku sudah kembali masuk sekolah dan sekarang pun aku masih memakai seragam sekolahku.


Bang Reza awalnya juga tidak mau jika dirinya akan dioperasi, tapi karena Kakak Jo yang terus membujuknya dan menggunakan aku sebagai alasannya maka ia pun menyanggupinya.


Lampu ruang operasi sudah berwarna hijau, itu pertanda operasinya sudah selesai. Dengan segera aku mendekat ke arah pintu ruangan tersebut.


Kak Jo pun sama, ia yang sedari tadi duduk di kursi tunggu yang berada di seberang ruangan tersebut sambil memperhatikan aku yang mungkin mengganggu penglihatannya karena tingkahku, kini ikut mendekat ke arah pintu ruangan tersebut.


Dokter yang menangani operasi Bang Reza pun ke luar, masih mengenakan seragam operasi warna hijau, masker, tutup kepala dan juga sarung tangan warna putih yang melekat di ke dua tangannya.


"Bagaimana, Dok, operasi Kakak saya?" tanyaku segera pada laki-laki yang berumur sekitar 45 tahun itu.


"Iya, Dok, bagaimana?" sambung Kak Jo dengan wajah yang tidak kalah panik dengan diriku.


"Semua berjalan dengan baik, tidak ada yang perlu dicemaskan lagi!" jelasnya membuat kami bisa bernafas lega akhirnya. Dia pun kemudian berlalu, dan tak berselang lama Bang Reza kemudian dibawa ke luar dari ruangan itu dan kembali dimasukkan ke dalam ruang perawatan.


Aku dan Kak Jo kemudian mengikuti para perawat yang kini tengah memindahkan Bang Reza ke dalam ruangan itu.


"Tidak perlu cemas, semua pasti akan baik-baik saja. Reza orang yang kuat!" Kak Jo menggenggam tanganku mencoba memberi kekuatan padaku yang kini masih terlihat sedikit cemas.


"Iya, terima kasih, Kak Jo. Tapi, siapa yang sudah mendonorkan ginjalnya untuk Bang Reza, apa Kak Jo tahu?" tanyaku sesaat setelahnya


Kak Jo kemudian menceritakan jika orang yang mendonorkan ginjalnya itu adalah seseorang yang ia kenal, seseorang itu baru saja meninggal beberapa hari yang lalu, dan sebelum dia meninggal dia sudah berniat untuk mendonorkan seluruh organ tubuhnya.


Aku kemudian menanyakan siapa orang itu, karena jujur saja aku harus mengucapkan terima kasih untuknya dan juga keluarganya karena ia sudah mendonorkan ginjalnya untuk Bang Reza.


Tapi Kak Jo hanya mengatakan jika aku tidak perlu mengetahui siapa dan bagaimana orang itu, karena identitasnya harus dirahasiakan dan tidak boleh diketahui oleh siapa pun.


Aku hanya mangut-mangut ketika mendengar semua penjelasannya. Dan kini kecemasan dan juga kegelisahan sudah hilang, berganti dengan rasa bahagia karena sekarang Bang Reza sudah dioperasi.


Tak berselang lama, para perawat pun ke luar dari ruangan itu, menyisakan aku dan Kak Jo yang kini duduk di samping ranjang Bang Reza.


"Apa kamu sudah makan?" aku menggeleng menanggapi pertanyaan Kak Jo

__ADS_1


"Kamu mau makan apa, biar aku membelikannya untukmu?" lanjutnya lagi dan aku pun masih diam.


"Atau, kamu mau makan makanan yang kemarin?"


"Tidak, Kak. Nanti saja, aku tadi sudah makan saat jam istirahat dengan Syafa!" jelasku dan Kak Jo pun mengangguk.


.


.


.


Syafa baru saja selesai mandi dan berganti pakaian, sore ini rencananya dia akan ke rumah sakit untuk menjenguk Bang Reza.


"Cantik" ucapnya sambil melihat bayangan dirinya di pantulan cermin sambil menyemprotkan minyak wangi di tubuhnya.


Sore ini Syafa mengenakan jaket warna merah muda yang menjadi warna kesukaannya serta celana panjang warna hitam, tak lupa kacamata berbentuk bulat tipis dan juga rambutnya yang ia ikat dengan bentuk ekor kuda.


Setelahnya, dia pun ke luar dari kamar bercat merah muda itu dan menghampiri Ayahnya yang kini juga sudah bersiap untuk pergi ke rumah sakit.


Mereka berdua kini tengah duduk di ruang tamu yang bercat biru laut itu, ruang tamu itu cukup luas yang dilengkapi dengan televisi layar datar yang lumayan besar serta sofa yang melingkar dari ujung timur ruangan tersebut.


"Wah, anak Ayah cantik sekali, kita bukannya akan pergi ke rumah sakit, kan?" selidik sang Ayah pada putrinya yang malam ini memang terlihat cantik itu.


Ayahnya memang sengaja menggodanya karena sang Ayah sebenarnya juga sudah tahu jika anaknya memiliki perasaan lain pada Bang Reza.


"Iya, sayang. Kamu cantik banget?" timpal sang Mama pada putrinya sambil mendekat dan melihat apa yang dipakai putrinya.


Syafa terlihat malu, "Ayah apaan sih, Mama juga"


"Anak kita sudah semakin dewasa sekarang, iya kan, Ma?" ucap sang Ayah kepada istrinya sambil mendekat ke arah putrinya.


"Sudah jangan menggodanya lagi, ayo kita cepat berangkat!" Ucap sang Mama mengakhiri pembicaraan tersebut dan kemudian melangkah ke luar dari rumah.

__ADS_1


Mereka bertiga segera masuk ke dalam sebuah mobil berwarna hitam itu dan segera melajukannya ke rumah sakit, di mana Bang Reza dirawat.


Satu jam kemudian, Syafa dan keluarganya sudah sampai di rumah sakit. Mereka bertiga kemudian bergegas turun dan segera pergi ke ruang perawatan Bang Reza.


Syafa melangkah dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya, entah apa yang kini sedang ia pikirkan. Karena semenjak kepulangannya kemarin dari rumah sakit ini, Syafa terlihat berbeda dan selalu tersenyum.


Ia berjalan dengan langkah yang santai, sambil menenteng beberapa buah yang mereka beli di dalam perjalanan tadi sambil mengikuti ritme langkah kedua orang tuanya. Meskipun sebenarnya ia ingin berlari dan segera menemui Bang Reza.


"Assalamu alaikum!" seru ketiganya ketika membuka pintu ruang perawatan Bang Reza.


"Waalaikumsalam" jawabku kemudian menghampiri Syafa dan orang tuanya. Ayah Syafa tidak langsung masuk, ia malah mengamati ruangan yang kini dipakai untuk merawat Bang Reza, ia membatin dalam hatinya kenapa Bang Reza bisa dirawat di rumah sakit dengan fasilitas yang tentunya tidak murah itu


Aku mempersilakan mereka masuk dan duduk di ruangan itu.


Malam ini aku menjaga Bang Reza sendiri, karena Kak Jo harus pulang dan mengurus restoran miliknya yang beberapa hari ini sudah ia tinggalkan.


Bang Reza pun juga sudah siuman dan kini sudah terlihat lebih sehat dari sebelumnya.


"Bagaimana keadaan Kakak?" tanya Syafa sambil meletakkan barang bawaannya di meja samping ranjang Bang Reza


"Alhamdulillah, aku baik-baik saja. Dan sepertinya aku merasa lebih sehat karena melihatmu" Syafa merasa kalau dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Bang Reza,


Syafa menundukkan kepalanya dan menyembunyikan wajahnya yang kini terasa sedikit panas. Ada rasa bahagia yang menyeruak di hati Syafa.


Aku dan kedua orang tua Syafa hanya memperhatikan mereka dari jarak yang sedikit jauh, mereka berdua terlihat begitu akrab dan juga dekat.


"Aku tidak tahu bagaimana hubungan mereka, tapi yang pasti jika mereka memiliki hubungan maka aku akan merestui mereka!" Ucap Ayah Syafa tiba-tiba.


.


.


Jangan lupa untuk vote like dan komennya.

__ADS_1


🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡


__ADS_2