Teman Kakakku

Teman Kakakku
Kita enaknya ngapain, ya?


__ADS_3

"Apa Ayah mau?" Sekali lagi pertanyaan itu keluar dari mulut Bang Reza, Pak Burhan tidak langsung menjawabnya dikarenakan dirinya terlampau senang. Ia seolah membatu dan hampir saja limbung saking senangnya, tapi Pak Burhan bisa menguasai dirinya sendiri dan bersikap lebih tenang


Lain hal dengan dirinya, Mr. J kini telah menangkap adanya ketamakan dan juga kepuasan akan apa yang dipikirkan oleh Pak Burhan selama ini. Sejalan dengan itu, Pak Sanjaya juga mampu melihat adanya rencana yang ia pun sebenarnya tahu, namun Pak Sanjaya lebih memilih pura-pura dan mengikuti alur yang diberikan oleh Pak Burhan


"Baik, Ayah mau" setelah cukup lama akhirnya jawaban itu terdengar, ia mengembangkan senyumnya perlahan. Padahal, keadaan sebenarnya sangat jauh berbeda. Jika saja saat ini tidak ada orang maka ia akan melompat atau pun guling-guling di lantai sebagai tanda rasa bahagia yang ia rasakan, tapi ia lebih memilih menyimpan semuanya agar rencana yang sebenarnya tidak diketahui oleh banyak orang


"Jika anda mau, maka besok kita pergi ke HR grup guna menyampaikan hal ini. Tapi sebelumnya saya minta tanda tangan Tuan Reza di berkas ini agar apa yang menjadi mandat dan wasiat almarhum Tuan Haryokusumo punya bukti kuat dan pergantian pimpinan bisa segera dilakukan" Pak Sanjaya menyodorkan sebuah berkas yang isinya entah apa, Bang Reza tampak ragu sebelum akhirnya ia membubuhkan tanda tangannya di sana


"Semuanya semakin dekat, tinggal selangkah lagi dan akan aku miliki segalanya. Hahahaha" batin Pak Burhan penuh kemenangan


"Terima kasih karena sudah bekerja sama, untuk rumah dan tabungannya, jika kalian belum bisa menerimanya maka akan kembali saya simpan. Ah, saya kira beban saya akan hilang hari ini tapi ternyata masih harus saya pikul" Pak Sanjaya merebahkan punggungnya di kursi ruang tamu rumah itu


"Berhubung semuanya sudah selesai, mari kita segera makan siang. Ini sudah waktunya" ajak Mr. J pada kami semua, kami segera beranjak dari sana menuju dapur di mana di atas meja sudah terhidang berbagai jenis maskan yang tentunya dimasak oleh Mr. J sendiri


Semua orang mengambil makanan yang tersaji di sana, setelah piring yang mereka bawa sudah terisi makanan maka mereka segera mengambil tempat duduk yang sudah disediakan


Kuamati sekitar tempat itu sebelum aku ikut duduk, kembali terlintas kejadian lama yang menjadi awal untuk diriku menjauh dari Mr. J. Sakit memang, ketika kita harus melawan arus dan mengabaikan semua yang sebenarnya dirasakan. Hingga saat ini, sebenarnya masih ada sedikit rasa yang entah kenapa, seberapa keras aku mencoba melupakannya, rasa itu semakin terasa nyata


Aku menghindarinya bukan karena aku tidak lagi menyukainya, aku menghindarinya karena aku tahu, bahwa dia sudah bersama orang lain dan orang itu lebih baik dari pada diriku. Aku mengakui, baru kali ini menyukai seseorang seperti ini, aku menyukainya melebihi rasa suka pada kakakku, Bang Reza. Namun, sekali lagi aku mencoba menguatkan dinding pertahanan agar rasa ini tak terlampau jauh dan dalam


🌼

__ADS_1


🌼


🌼


"Kenapa anda mengusulkan Pak Burhan, bukan kah dia akan merasa menang pada akhirnya?" Mr. J tampak mengobrol dengan Pak Sanjaya. Setelah kami semua pergi dari rumahnya, hanya Pak Sanjaya yang tinggal dengan dalih ingin melihat lingkungan sekitar


Tidak ada kecurigaan di pikiran Pak Burhan sebab kini hati dan pikirannya sudah dipenuhi rencana-rencana licik dan juga kesenangan yang menurutnya tidak akan pernah habis


"Dia hanya merasa menang dan bukan benar-benar menang" Pak Sanjaya menerawang ke arah langit-langit ruang tamu rumah itu


"Maksud anda?" Mr. J terlihat agak bingung


"Biarkan dia menikmati semuanya sejenak, saya sudah mengumpulkan beberapa bukti kecurangannya dari berbagai pihak. Sebentar lagi dia pasti akan berbuat hal yang sama di HR grup, nah saat itu juga kita bisa langsung menjeratnya dan meringkusnya. Saya sudah menempatkan seseorang yang kompeten di HR grup, dia nantinya akan bekerja sebagai bawahan dari Burhan sekaligus menjadi mata-mata" jelas Pak Sanjaya akan rencananya, Mr. J hanya mengangguk


"Ya begitu lah hidup. Terkadang banyak dari mereka yang mengincar hal yang pastinya bukan milik mereka, mereka semua terlalu silau dan haus akan duniawi tapi mereka tidak sadar jika itu semua hanya ilustrasi dan tidak abadi. Biarkan dia mengejarnya, suatu saat nanti Tuan Reza sendiri yang pasti akan menghentikan semuanya" Pak Sanjaya terlihat yakin akan ucapannya


"Bantu saya menjaga Tuan Reza dan juga Nona Aulia, perlahan saya akan mencoba menyakinkan mereka akan harta ini. Ada hal yang seharusnya diketahui oleh Tuan Reza secepatnya, dan itu berada di dalam brangkas yang ditinggalkan oleh Tuan Haryokusumo dan kunci brangkas itu adalah cincin yang dipakai olehnya atau oleh istrinya" lanjut Pak Sanjaya


"Brangkas?" Pak Sanjaya mengangguk


"Dan brangkas itu berada di rumah yang ditinggalkan kepadanya, begitu lah pesan dari Tuan Haryokusumo. Saya sendiri juga kurang tahu apa isinya, tapi beliau berpesan agar segera menyampaikan hal ini jika Tuan Reza dan juga adiknya sudah mau menerima semuanya. Tapi, mungkin ini akan sulit" Pak Sanjaya terlihat bingung bagaimana cara agar aku dan Bang Reza menerima semuanya, ia tampak memijat pangkal hidungnya

__ADS_1


"Reza itu sangat keras kepala, dia bukan orang yang mudah percaya dengan kata-kata. Dia lebih percaya dengan tindakan dan apa yang dia lihat" sahut Mr. J


"Bantu saya untuk meyakinkannya, bukankah anda sudah mengenalnya cukup lama?" Mr. J mengangguk


🌼


🌼


🌼


"Hati-hati, kak" tampak Syafa tengah berpamitan dengan Bang Reza, suaminya sekaligus kakakku. Ah, rasanya seperti mimpi, aku sudah punya dua kakak saat ini. Meski aku dan Syafa seumuran tapi dia sekarang sudah jadi kakakku dan kini anggota keluargaku. Aku yang awalnya berada di dapur kini mendekat ke arah mereka


"Hati-hati ya, Bang" kataku kemudian. Kuraih punggung tangan Bang Reza dan menciumnya. Dia sudah tampak rapi pagi ini, sesuai janjinya kemarin, dia hendak pergi ke HR grup dengan Pak Sanjaya dan Om Burhan, mertuanya


"Kalian baik-baik ya di rumah. Jika ingin pergi ke mana-mana hubungi kakak dulu!" sorot netra Bang Reza memindai kami berdua. Kami mengangguk bersamaan. Tak lama, ia pun berangkat ke alamat yang diberikan Pak Sanjaya semalam


"Kita enaknya ngapain, ya?" Syafa menggandeng tanganku dan kami masuk ke dalam rumah kembali


"Tapi aku udah ijin sama kak Reza. Kita hari ini pergi ke suatu tempat" jelasku


"Kemana?" Syafa kembali bertanya

__ADS_1


"Ada pokoknya. Cepet ganti baju dan kita berangkat" aku mendorongnya ke kamar dan setelahnya aku masuk ke dalam kamarku sendiri untuk ganti baju


__ADS_2