
"Siapa yang memasak semua ini?" tanya Kak Jo di sela-sela aktivitas makannya
"Bang Reza," ucapku lirih sembari menundukkan kepala,
"Aku kira ini masakanmu" lanjut Kak Jo kemudian menghentikan kegiatannya dan menatap ke arahku yang kini berada di seberangnya. Dia tersenyum,
Aku tidak menjawabnya, aku merasa sangat malu. Ketika beberapa hari yang lalu, saat Bang Reza pulang dari rumah sakit, aku berencana memasak dan membuat makan siang untuk Bang Reza, Kak Jo dan diriku sendiri.
Tapi, masakan yang aku buat sama sekali tidak bisa dimakan, satu masakan yang aku buat terasa sangat asin dan yang satunya lagi malah menjadi gosong di atas wajan.
Benar-benar hal yang sangat tidak ingin aku ingat, rasa malu yang kurasakan benar-benar sudah sampai pada tahap tak terhingga.
Bagaimana tidak, satu sisi aku ingin meringankan beban Bang Reza, tapi aku malah mengacaukannya dan di sisi lain, aku ingin menarik simpati dari Kak Jo tapi pada kenyataannya aku malah dibuat malu oleh perbuatanku sendiri.
"Kenapa tidak kamu yang memasak, bukankah kamu harus belajar memasak agar kelak suamimu tidak berpaling karena istrinya tidak bisa memasak?" Lanjut Kak Jo, Bang Reza dan Syafa hanya menahan tawanya sambil terus makan.
"Belum waktunya!" Jawabku agak ketus
"Terus waktu yang tepat kapan?" Kak Jo mulai memakan makanannya lagi
"Nanti akan aku pikirkan" hanya itu yang bisa aku katakan, benar-benar suasana yang tidak bersahabat.
Syafa yang biasanya membelaku, kini malah seperti berpihak pada Kak Jo dan terus saja menahan tawanya.
"Aku pernah sekali mencoba masakan dari Aulia," kata Syafa aku melotot ke arahnya namun dia tidak menggubris sama sekali dan malah melanjutkan kata-katanya
" Bagaimana rasanya?" tanya Kak Jo dengan nada mengajak
"Tapi setelahnya, aku harus membeli obat ke apotik!" jawab Syafa dan setelahnya semuanya tertawa terkecuali aku. Ini benar-benar memalukan,
"Belajarlah memasak, minta pada Jonathan untuk mengajarimu!" Perintah Bang Reza. Ini untuk yang ke sekian kalinya aku melihat perubahan dari Bang Reza, ia sudah memperbolehkan aku berinteraksi dengan orang lain dan tidak terlalu menghalangi apa yang seharusnya terjadi.
"Jika memang ingin belajar, datanglah ke restoran setelah pulang sekolah. Aku akan dengan senang hari mengajarimu memasak yang benar!" aku mengangguk masih dengan menundukkan kepala.
"Nasi di piringmu tidak akan lari ke mana-mana, tidak perlu mengawasinya!" lanjut Kak Jo mengejekku dan untuk yang ke sekian kalinya mereka kembali tertawa.
Kami sudah selesai makan dan kini tengah berkumpul di pelataran rumahku sambil duduk di sebuah tikar, memandangi langit yang kebetulan malam ini penuh dengan bintang.
Aku duduk di samping Kak Jo, sedangkan Syafa dengan Bang Reza berada sedikit menjuah tapi masih berada di tikar yang sama.
__ADS_1
Kedua orang itu tengah berbincang dan sesekali mereka tertawa, entah apa yang ditertawakan. Membuatku sedikit cemburu, karena dengan sengaja mereka memperlihatkan keromantisan mereka tepat di depan mataku.
"Kenapa, iri dengan mereka?" tanya Kak Jo yang menyadari bahwa aku memperhatikan mereka
"Tidak!" Jawabku singkat kemudian beralih pandangan.
Kak Jo tertawa, " Wajahmu itu tidak bisa berbohong"
"Entah," hanya itu yang ke luar dari mulutku
"Entah, apa maksudnya?" Lanjut Kak Jo melirikku dengan tatapan yang tajam
"Tidak tahu, dan jangan mencari tahu!" aku masih memandang ke sembarang arah
"Apa kamu sudah memiliki pacar?" pertanyaan itu ke luar dari mulut Kak Jo, membuatku sedikit kaget, kenapa dia menanyakan hal itu.
Ada getaran aneh yang kini aku rasakan, aku bahkan sempat berpikir setelah Kak Jo bertanya hal itu maka kemudian dia memintaku untuk menjadi pacarnya 😁😁
"Apa yang kamu pikirkan, kenapa senyum-senyum sendiri?" Kak Jo menyentil keningku dan membuyarkan lamunan indah itu. Lamunan tentang aku dan dirinya yang mungkin akan menjadi sepasang kekasih.
Tapi semua itu hanya lamunan dan khayalan, sampai pada akhirnya hal itu hilang setelah perbuatan Kak Jo
"Cepat katakan apa yang kamu pikirkan, atau aku akan menyentil keningmu lagi!" ancamnya namun aku tidak mengatakan apa yang sebenarnya aku pikirkan.
Aku masih malu untuk mengatakannya, terlebih lagi itu tentang perasaanku padanya yang sejak lama aku rasakan.
Entah sejak kapan aku memiliki perasaan ini, perasaan yang mungkin tidak seharusnya aku rasakan atau mungkin memang seharusnya tidak pernah ada.
Kak Jo, Guru sekaligus teman Kakakku, menjadi orang pertama yang selalu ada saat aku dan Bang Reza sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Dia telah mengorbankan semuanya, tidak hanya waktu tapi juga materi yang ia miliki untuk membantu kami.
Tidak munafik, perhatian dan juga kelembutan sikapnya membuatku menjadi memiliki perasaan yang lain. Ini semua memang seharusnya atau hanya aku saja yang salah mengartikan hal ini dan menjadi berharap lebih padanya.
"Kak, sejak kapan Kakak memiliki perasaan itu?" tanya Syafa pada Bang Reza
"Sudah sejak lama," Jawab Bang Reza baik melihat ke arah langit, memperhatikan bintang yang malam ini bertaburan. Syafa pun kemudian mengikuti arah ke mana Bang Reza memandang.
"Oh," Bang Reza kemudian menoleh ke arah Syafa
"Kenapa memangnya?" Lanjut Bang Reza
__ADS_1
"Tidak, aku hanya ingin tahu saja" timpal Syafa
"Lalu, kamu sendiri sejak kapan mulai memiliki perasaan itu?" tanya Bang Reza kemudian menggenggam tangan Syafa.
Ada rasa bahagia di hati keduanya, atmosfer cinta menguar di sekeliling mereka membuat perasaan cinta yang tumbuh menjadi semakin besar dan tak terhingga.
Tangan hangat Bang Reza menyelimuti jari jemari Syafa yang kini terasa agak dingin
"Sudah lama, sangat lama bahkan"
"Sangat lama, kapan?" selidik Bang Reza
"Saat aku masuk SMP, sejak saat aku sering berkunjung dan menginap di rumah Kakak, sejak saat itu aku mulai menyukai Kakak" jawab Syafa sambil tertunduk, wajahnya terasa agak panas karena malu.
"Sama, aku juga mulai menyukaimu pada saat itu. Tapi aku tidak berani mengatakannya, karena aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri pada saat itu"
Syafa terkejut akan pengakuan dari Bang Reza, ia tidak menyangka jika sejak saat itu perasaan cintanya pada Bang Reza sudah terbalas hanya saja di antara mereka berdua tidak ada yang berani mengungkapkannya.
Kebahagiaan itu semakin bertambah, karena rasa yang mereka jaga sejak dulu tidak pernah sia-sia.
"Aku kira hanya aku saja yang memiliki rasa itu, aku bahkan sempat merasa takut jika pada akhirnya perasaan yang aku miliki tidak pernah terbalas" kata Syafa
"Sama, aku juga sempat memikirkannya"
"Terima kasih, Kak. Aku tidak pernah mengira jika kita akan bersama!" lanjut Syafa
"Sama-sama, aku juga berterima kasih padamu, karena kamu masih menyukaiku bahkan setelah aku pernah melarangmu untuk berteman dengan Aulia dan bahkan aku pernah membentakmu pada saat itu, maafkan aku"
Bang Reza mulai mengingat saat di mana ia melarang Syafa untuk berteman denganku sesaat setelah kepergian orang tuaku. Bang Reza bahkan sempat membentaknya dan bahkan Syafa menangis tersedu-sedu karena ulah Bang Reza.
" Tidak perlu mengingatnya ,Kak. Aku sudah memaafkan Kakak jauh sebelum hari ini!"
.
.
.
Jangan lupa vote like dan komennya
__ADS_1
🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡