Teman Kakakku

Teman Kakakku
Ini awal yang bagus


__ADS_3

Aku dan Bang Reza sudah bersiap, malam ini kami akan datang ke rumah Syafa dan berniat untuk melamarnya.


Kami berdua memakainya baju batik yang kami padukan dengan bawahan warna hitam.


Agak terburu-buru memang, tapi mau bagaimana lagi ini semua kami lakukan agar Bang Reza dan Syafa tidak berpisah.


Kami akan berangkat ke sana dengan mobil Kak Jo, dia sampai saat ini belum datang, sedangkan Bang Reza sudah tampak panik.


Ia melirik jam yang kini melingkar di tangannya sambil sesekali mendesis, ia juga masih mondar-mandir bak sebuah alat setrikaan yang melicinkan baju atau celana.


Aku merasa pusing ketika melihatnya, tapi mau bagaimana lagi, mungkin dengan begitu ia bisa mengurangi kecemasan dan kegugupan yang kini ia rasakan.


"Halo, Jo. Kok belum sampai sih?" katanya pada orang yang berada di seberang telepon


"Ok, baiklah" lanjutnya kemudian menyimpan ponselnya kembali di saku celana warna hitam yang ia kenakan malam ini.


"Ini, Bang" aku menyerahkan sebuah gelas yang penuh dengan air putih, aku berinisiatif dia meminumnya dan kemudian duduk


"Bismillah" ucap Bang Reza sambil melirik cincin yang kini ia pegang, aku hanya menggelengkan kepalaku melihatnya yang bersikap tidak seperti biasanya.


Deru mobil terdengar dari pelataran rumah, Bang Reza seketika bangun dari duduknya dan membuka pintu rumah.


Kak Jo sendiri yang baru ke luar dari mobil warna hitam miliknya tampak terkejut dengan tingkah Bang Reza.


"Sabar kali, Za!" ucapnya sambil memberikan rangkaian bunga yang cantik kepada Abang. Rangkaian bunga itu merupakan bunga warna merah yang dikombinasi dengan bunga warna ungu dan putih.


Bunga itu merupakan bunga favorit Syafa, Bang Reza sudah hafal betul. Maka dari itu dia meminta tolong pada Kak Jo untuk membelikannya.


"Pasti Syafa akan sangat bahagia, dia bisa bersama dengan orang yang ia cintai dan juga bisa menerima rangkaian bunga indah itu!" ucapku lirih sambil berdiri tepat di belakang Bang Reza


Setelah menerima bunga itu, Bang Reza pun segera masuk ke dalam mobil Kak Jo.

__ADS_1


Aku sendiri masih berdiri di sana, mematung dengan pikiran yang tidak menentu.


Kak Jo juga berbalik badan dan akan mengikuti Bang Reza, tapi kemudian ia pun kembali ke arahku


"Jangan cemberut, nanti tambah jelek!" ucapnya sambil memberikan setangkai bunga mawar putih yang ia simpan di balik setelan jasnya.


Mataku terbelalak, rasa iri yang sempat aku rasakan kini berubah bahagia. Seorang Jonathan yang tampan dan juga lembut, laki-laki yang beberapa minggu ini menjadi Guruku dan menjadi tameng untukku dan Bang Reza, kini memberikan setangkai bunga mawar putih padaku.


Jantungku berdegup kencang, rasa suka yang selama ini aku rasakan menjadi bertambah. Aku menerimanya tapi aku tidak tahu apa maksudnya bunga ini.


"Ini apa maksudnya?" aku memberanikan diri bertanya


"Anggap saja ini wujud rasa sayangku pada dirimu!"


Deg, jantungku rasanya mau lepas dari tempatnya. Kakiku gemetar, begitu juga tubuhku, terasa lemas tapi sangat bahagia. Apakah ini waktu yang tepat, apakah ini saat di mana cinta yang aku rasakan berbalas.


"Rasa sayang?" aku mencoba mencari kejelasan dari kata itu


Perkiraanku salah, aku kira sayang itu adalah sayang karena dia tertarik padaku tapi ternyata hanya sayang sebagai adik. Menyebalkan.


Aku sudah berpikir kepada hal yang dalam tapi pada kenyataannya semua itu hanya dangkal dan masih tak berarti.


"Sudah, ayo berangkat!" ajaknya dan dia pun berjalan ke arah mobilnya karena Bang Reza sudah berkali-kali memanggil nama kami berdua


Dengan segera aku mengikutinya meski langkahku agak malas karena harapan dan impian yang baru saja aku lamunkan kini harus buyar dan tak berarti.


Kubuka pintu mobil Kak Jo dan kemudian duduk di sana, di dekat Bang Reza yang tengah gugup tapi masih bisa tersenyum.


Lima belas menit berlalu, kami bertiga sudah sampai di rumah Syafa.


Kami bertiga turun dan kemudian mengetuk pintu rumah mini malis yang bercat coklat itu. Ayah Syafa membuka pintu dan tampak sudah bersiap dengan setelan batik panjang dan juga celana hitam

__ADS_1


"Mari masuk!" kami bertiga pun masuk dan duduk di ruang tamu rumah itu


Di sana sudah tampak Syafa dan Mamanya yang berpenampilan tak kalah cantik dan anggun, Syafa tersipu malu dan menundukkan kepalanya ketik Bang Reza masuk ke dalam rumah itu.


Tanpa basa-basi Bang Reza pun segera mengutarakan niatnya datang ke tempat ini, sebenarnya ini bukan niatnya juga, ini semua ia lakukan karena memenuhi syarat dari Ayah Syafa.


"Maaf sebelumnya, kedatangan saya ke sini karena ada satu hal yang ingin saya sampaikan, mungkin ini terkesan terburu-buru tapi ini semua saya lakukan karena saya bersungguh-sungguh menyukai Syafa, Om"


"Terima kasih, Reza. Om sangat bangga padamu, kamu berani datang dan berani menyatakan apa yang kamu rasakan!"


Ini semua bukanlah karena Reza berani, tapi ini semua ia lakukan karena ia tidak ingin kehilangan cintanya. Ia juga merasa heran kenapa sedari tadi Ayah Syafa bersikap seolah Bang Reza sendiri yang mempunyai niat ini.


Apakah Syafa tidak tahu jika itu semua adalah syarat yang diajukan oleh Ayahnya untuk Bang Reza, entah, tapi satu hal yang pasti, Bang Reza melakoni itu semua dengan ikhlas


"Sama-sama, Om."


"Om sendiri tidak bisa memutuskan, semua keputusan ada di tangan Syafa sendiri. Bagaimana Syafa, apa kamu menerima Reza!"


Syafa hanya menganggukkan tanpa berpikir panjang, ia sebenarnya sangat bahagia tapi ia juga malu, sedari awal pun ia hanya menundukkan kepalanya sambil menggenggam tangan Mamanya.


Bang Reza pun kemudian mendekat ke arah Syafa dan kemudian membuka sebuah kotak yang ia simpan di saku baju batiknya.


"Syafa, aku mungkin tidak sempurna, tidak seperti yang engkau harapkan, aku hannyalah aku yang mencintaimu penuh kekurangan, tapi satu hal yang harus kamu tahu bahwa rasa cinta ini tak akan pernah berkurang untukmu!" mata Bang Reza tampak berkaca-kaca, kebahagiaan terpancar jelas di sana.


Syifa pun sama, yang awalnya terlihat malu kini mau mendongakkan wajahnya dan memandang pujaan hatinya.


Bang Reza kemudian mengeluarkan sebuah cincin yang begitu indah, cincin peninggalan kedua orang tua kami yang sebentar lagi akan menjadi saksi betapa besarnya cinta Bang Reza pada Syafa.


Ayah Syafa pun pandangannya tak ter alihkan dari benda tersebut, ia seperti sedang berpikir keras dan sesekali menyunggingkan senyuman ketika melihat adegan di mana Bang Reza menyematkan cincin di jari Syafa dan juga sebaliknya.


"Akhirnya cincin itu ke luar juga, ini awal yang bagus!" Batin Ayah Syafa penuh kebahagiaan.

__ADS_1


__ADS_2