Teman Kakakku

Teman Kakakku
Sah


__ADS_3

Hari yang dinanti pun tiba, aku dan Bang Reza sudah bersiap untuk pergi ke rumah Mr. J untuk melakukan ijab qabul dengan kekasihnya. Wajah gelisah dan juga gugup nyata terlihat di sana, beberapa kali ia menghela nafasnya sambil komat-kamit melafalkan sesuatu serta membenahi setelan jas warna hitam yang kini melekat di tubuhnya


Pun sama dengan aku, meski kini bukan aku yang menjalaninya namun aku juga tak kalah gugup dengan Bang Reza, aku mendudukkan diriku di kursi ruang tamu sembari terus melihat ke arah jarum jam yang bertengger di dinding


Pukul sembilan pagi ini tepatnya, kami berdua masih gelisah menunggu Mr. J yang akan menjemput kami berdua untuk ke rumahnya. Sesekali kami melongok ke arah halaman dan tidak berani keluar sebab ini masih pagi dan pastinya masih ada banyak orang yang lalu-lalang di depan rumah kami, kami menghindarinya agar tidak timbul banyak pertanyaan dari para tetangga yang nantinya akan menanyakan hal yang tidak bisa membuat tidur nyenyak, terlebih lagi acara ini mendadak dan pastinya akan semakin heboh jika mereka semua tahu


Mobil warna hitam itu berbalik ke arah halaman rumah kami, kami sudah bisa menebak siapa pemiliknya. Dan benar saja, sedetik kemudian pemiliknya keluar dari sana dengan dandanan yang cukup mengejutkan. Celana sebatas lutut, baju oblong kedodoran dan juga rambut yang masih acak-acakan, dengan langkah percaya diri dia pun masuk ke dalam rumah kami


"Sudah siap?" tanyanya lantang tanpa salam


"Waalaikumsalam" jawabku masih berada di posisi sebelumnya


"Eh, iya. Assalamualaikum" ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil cengar-cengir tidak jelas


"Cantik" lanjutnya lagi dan berhenti tersenyum. Aku tahu ia memuji diriku, bukan kepedean loh ya, tapi memang benar. Kan di rumah ini yang perempuan cuma aku jadi ya pastinya pujian itu ditujukan padaku. Eh tunggu, kok jadi gini lagi sih


Mr. J sendiri masih mematung melihatku, ia yang biasanya melihatku dalam balutan seragam sekolah maupun pakaian santai lainnya, kini melihatku agak lain. Ya, kali ini aku memakai hijab dan juga dress panjang warna biru tua, dress peninggalan almarhum ibuku yang kini melekat di badanku, wajahku yang biasanya polos kini sudah aku bubuhi dengan bedak dan juga teman-temannya. Hal ini aku pelajari dari internet semalam


"Ayo berangkat!" sahut Bang Reza seraya menutup pintu kamarnya tapi alangkah terkejutnya dia saat melihat tampilan Mr. J yang sangat tidak dipahaminya


"Astagfirullah, Jonathan" dan sang pemilik nama sadar mengapa Bang Reza beristighfar, ia menyadari tampilannya pagi ini


"Maaf, Za. Semalem gue tidur di restoran, baju ganti yang ada di sana cuma ini, ya mau tidak mau harus aku pakai" jelasnya akan apa yang membuat Bang Reza terkejut


"Kok tidur di sana, ada apa memangnya, ada masalah lagi?" tebak Bang Reza


"Enggak, semalem gue ketemuan sama seseorang. Dia pulang larut malam dan gue malas balik ke rumah" jelasnya


"Kamu berkencan semalam?" mendengar pertanyaan itu, aku seketika menoleh pada Mr. J dan Bang Reza yang kini duduk di dekat pintu, aku yang awalnya enggan mendengar percakapan mereka kini seolah tertarik dengan pertanyaan dari Bang Reza


"Bukan kencan, Za. Semalam ada tamu penting yang menawarkan kerja sama" bohong Mr. J

__ADS_1


"Oh kirain kencan"


"Jadi berangkat enggak sih?" tanyaku agak kesal mendengar mereka berdua mengobrol hal tidak penting


"Iya jadi dong, yuk berangkat!" ajak Bang Reza


"Tapi tunggu dulu" kata Mr. J menghentikan langka kami berdua


"Apa lagi?"


"Kamu pakai jaket deh, Za. Entar dilihat orang terus mereka akan mulai mencari tahu semuanya, kan males kalau harus melayani para tetanggamu yang biang gosip itu" saran Mr. J, Bang Reza mengiyakannya, setelahnya Bang Reza masuk kembali ke dalam kamarnya, ia mengambil dua buah jaket dan satunya ia berikan padaku. Kami pun segera berangkat menuju rumah Mr. J


🌼


🌼


🌼


Kami ber enam berkumpul di ruang tamu rumah milik Mr. J. Untuk kali kedua aku datang ke tempat ini, kenangan waktu itu kembali berputar dan entah kenapa tiba-tiba aku merasa sakit hati dan juga ingin menangis. Bayangan wanita cantik yang menjulurkan kuku panjang yang penuh dengan cat kuku itu masih saja terlintas di pikiranku tapi sekali lagi aku menepisnya dan mencoba menguatkan hati demi Bang Reza dan juga Syafa


"Tapi sebelumnya, apa saya boleh bertanya?" lanjutnya, Pak Burhan mengangguk sekali lagi


"Berapa umurmu, Nak?" pandangan mata itu beralih dari Bang Reza lalu ke Syafa


"Saya tujuh belas tahun" jawab Syafa yang kali ini terlihat berbeda dengan hijab dan juga gamis syar'i warna putih itu


"Saya dua puluh tiga lima tahun" jawab Bang Reza kemudian


"Kenapa kalian menikah secara siri, bukan kah kalian bisa menikah secara sah?" selidiknya lagi seolah ia curiga dengan apa yang terjadi di hadapannya. Semua terdiam, entah alasan apa yang akan dilontarkan kali ini. Tidak mungkin juga alasan sebenarnya akan diutarakan di sini


"Calon menantu saya ini sedang bekerja di perusahaan, menurut kontrak yang berlaku, dirinya tidak boleh menikah sebelum kontraknya selesai" sahut Pak Burhan segera, entah dari mana ia mendapatkan alasan itu tapi yang pasti itu bisa menyelamatkan kami semua

__ADS_1


"Dan lagi, mereka sudah cukup lama berpacaran. Saya tidak ingin hal buruk terjadi pada mereka" alibi itu diperkuat dengan alasan berikutnya, Pak Ustadz hanya mengangguk dan bisa menerima alasan itu


"Lalu, apakah kalian akan menikah juga?" pandangan Ustadz itu beralih pada Mr. J dan juga padaku. Aku terkejut kala mendengarnya, berbeda dengan Mr. J, ia malah santai dan tersenyum


"Insyaallah segera, saya masih menunggunya lulus sekolah" lanjut Mr. J, membuatku semakin tidak mengerti


"Niat baik itu harus disegerakan, bukankah begitu?" aku masih canggung dengan apa yang baru saja terjadi. Berbeda dengan Mr. J, Bang Reza dan juga Syafa, mereka bertiga senyum-senyum sendiri seolah tak punya dosa


"Baik, saya mulai sekarang"


"Reza Anugrah bin Handi, saya nikahkan engkau dengan Syafa Anissa binti Burhan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan juga emas seberat sepuluh gram dibayar tunai"


"Saya terima nikah dan kawinnya, Syafa Anissa binti Burhan dengan mas kawin tersebut tunai!" lantang Bang Reza mengucapkan ijab qabul kali ini, meski tak dipungkiri, semalam dirinya terus saja salah dalam mengucapkannya dan terus menerus diulang


"Bagaimana?" tanya Pak Ustad pada kami semua


"SAH!" lantang suara pak Burhan menggema di ruang tamu rumah milik Mr. J, Pak Ustadz pun mengangguk, membenarkan ucapan Pak Burhan


"Alhamdulillah" serempak kami semua


"Selamat, kalian berdua telah resmi menjadi sepasang suami istri. Tapi ini hanya di mata agama dan belum di mata hukum. Saya sarankan segera melegalkannya agar kalian bisa lebih tenang"


"Terima kasih, Pak!" Mr. J menyalami Ustadz itu


"Sama-sama, Nak. Oh ya, segera nikahi dia setelah lulus agar tidak timbul fitnah yang berkepanjangan" Mr. J mengangguk seraya menatapku. Duh, tatapan itu, lama-lama tembok pertahanan bisa runtuh kalau terus menerus melihatnya seperti itu


"Insyaallah segera, Pak" Mr. J kembali tersenyum. Tapi tidak dengan diriku, selain merasa malu, aku juga tengah menata hati dan juga jantung yang kini tengah berlarian, aku mencoba mencegah mereka agar tidak meledak saat itu juga


"Mohon maaf, saya undur diri dulu. Ada acara lain yang harus saya datangi" Pamit Pak Ustadz pada kaki semua, kami mengiyakannya dan tak lupa kembali mengucap terima kasih sebab ia sudah mau menikahkan Bang Reza dan juga Syafa


"Maaf, saya terlambat!" seru seseorang dari ambang pintu

__ADS_1


__ADS_2