
Deg......
Hatiku kembali bergetar mendengar kata manis dan suara yang lembut itu, namun sekali lagi, benteng di hatiku sudah terlanjur tinggi dan terasa kuat untuk membendung godaan tidak terduga seperti ini. Tekadku sudah bulat, aku tidak mau lagi terlibat dengan orang yang memang tak seharusnya bersamaku
Kak Jo tersenyum manis sambil terus berdiri di belakangku, aku tak menghiraukannya, aku langsung masuk ke dalam rumah dan mendekat ke arah Bang Reza
"Maaf, Bang. Aulia pulang terlambat"
"Tidak apa, aku tahu kamu punya alasan tersendiri melakukan hal itu" aku mengangguk
"Sudah makan?" Sekali lagi aku mengangguk
"Ya sudah, cepat mandi dan istirahat" setelahnya aku masuk ke dalam kamarku, dan meninggalkan dua orang yang kini berada di ruang tamu rumahku
"Za, kok Aulia malah kamu suruh istirahat sih. Kamu enggak paham ya sama apa yang aku pikirkan sekarang?" Gerutu Kak Jo tidak terima dengan apa yang baru saja terjadi
"Tenang, Jo. Aku sudah merencanakan hal yang istimewa untuk kalian. Serahkan saja padaku" janji Bang Reza
"Memangnya apa yang ingin kamu lakukan?" Bang Reza kemudian meminta Kak Jo untuk membaca pesan yang baru saja dikirimkan oleh Syafa, senyuman terbit di bibir Kak Jo. Entah apa isi pesan itu, namun yang pasti hal itu membuat Kak Jo tampak senang
🌼
🌼
🌼
Di sebuah restoran bintang lima yang mewah, di sana sudah ada Syafa dan juga kedua orang tuanya serta seorang laki-laki yang berpenampilan sangat rapi. Ia duduk dalam diam, sembari terus memikirkan hal yang menurutnya sangat rumit dan juga sulit. Ia terus memandang keluarga yang terlihat bahagia di depan matanya.
Laki-laki itu adalah Sanjaya, dia merupakan pengacara keluarga Haryokusumo yang sampai saat ini masih terus menjaga wasiat yang ditinggalkan untukku dan juga Bang Reza, akan tetapi kami berdua sama sekali tidak tahu menahu soal hal itu
"Kasihan kamu, Nak. Cinta tulus yang kamu miliki hanya akan dijadikan alat oleh Ayahmu yang haus akan harta dan juga kuasa" batinnya sambil melirik Syafa sekilas lalu kembali pada sebuah undangan pernikahan yang kini ada di genggaman tangannya
"Benar-benar tidak tahu terima kasih. Apa dia lupa darimana ia berasal sebelumnya, hingga ia tidak puas dengan apa yang sudah ia miliki" batinnya terus saja mengguman, kali ini laki-laki itu menatap Pak Burhan yang terlihat sangat bahagia seolah ia sudah jadi pemenang dan bisa menaklukkan semuanya
Ayah Syafa tahu persis apa yang dipikirkan oleh laki-laki yang kini ada di hadapannya itu. Sejujurnya mereka berdua tidak lah berhubungan baik namun demi melancarkan aksinya maka drama seribu wajah pun rela ia lakoni agar sang rival percaya, tapi kali ini rival yang ia hadapi bukan lah orang-orang bodoh seperti apa yang ia hadapi kemarin, kali ini lawannya cukup tangguh sehingga ia harus berjalan dan bersandiwara dengan sangat hati-hati dan juga rapi
"Syafa sayang, coba hubungi Reza. Kenapa dia belum juga datang" Pinta Pak Burhan pada putrinya
"Dia masih di perjalanan , Ayah. Sebentar lagi sampai" jawab Syafa sesaat setelah melihat ponselnya
__ADS_1
🌼
🌼
🌼
"Memangnya kita mau ke mana sih, Bang?" Sekali lagi pertanyaan itu muncul
"Nanti kamu juga tahu" jawab Bang Reza sekali lagi dan itu adalah jawaban yang ia ucapkan berkali-kali
"Ini acara penting, ya?" aku mulai merasakan tidak nyaman dengan pakaian yang kali ini aku kenakan. Dress sebatas lutut yang entah dari mana Bang Reza mendapatkannya, yang kini menempel pas di tubuhku. Aku yang biasanya memakai kaos longgar kini harus berganti pakaian yang menurutku bukan lah seleraku, ditambah lagi kini aku berada di dalam mobil yang sama dengan Kak Jo
Sedari tadi ia terus melirikku dari kaca yang berada tepat di depannya. Sesekali pandangan mata kita bertemu namun aku segera menghindar agar apa yang aku perjuangkan tidak sia-sia
Tak lama kemudian mobil yang kami naiki tiba di sebuah restoran mewah, Kak Jo memarkirkan mobilnya sementara aku dan Bang Reza menunggunya di dekat pintu masuk tempat itu
Kami bertiga segera melenggang masuk, dengan senyuman yang selalu menghiasi wajahnya, Bang Reza terus saja mantap melangkah menuju tempat yang aku pun tidak tahu. Banyak pertanyaan yang ingin aku lontarkan tapi sesaat setelah aku melihat keluarga Syafa maka semuanya tidak ada lagi gunanya. Apa yang aku pikirkan sudah terjawab dengan sendirinya
Sekali lagi pandanganku menyapu apa yang ada di dalam restoran mewah ini, restoran yang tentunya memiliki kualitas dan standar yang tinggi, bukan hanya dari tempatnya namun juga dari makanan yang mereka sajikan. Para tamu yang datang bukan lagi orang sembarangan, mereka tentunya para sultan dan juga para pengusaha yang memiliki uang yang tidak terkira jumlahnya
"Selamat datang, Nak Reza!" Pak Burhan menyambut Bang Reza antusias, tampak rona bahagia terpancar di sana. Hal serupa juga dilakukan oleh Syafa, ibunya dan seorang laki-laki yang sejak tadi terus saja bersikap dingin
"Oh ya, perkenalkan ini adalah Tuan Sanjaya" jelas Pak Burhan pada kami, kami pun menjabatnya dan saling berkenalan. Dia yang sedari tadi bersikap acuh, kini tampak berbeda, rona bahagia terpancar di wajahnya serta senyuman hangat mulai mengembang di sana
"Kalian sudah besar sekarang, seharusnya kalian berbahagia tapi sepertinya bencana akan menimpa kalian sekali lagi" batin Pak Sanjaya sesaat setelah menjabat tangan Bang Reza dan diriku
"Lalu, ini siapa?" tanya Pak Sanjaya saat menjabat tangan Kak Jo
"Ini teman saya, tadi kami ke sini diantar olehnya" jelas Bang Reza
"Tunggu, sepertinya wajah kamu tidak begitu asing bagi saya. Kalau boleh tahu siapa namamu?" lanjut Pak Sanjaya penasaran
"Saya Jonathan" jawab Kak Jo, tapi wajah Pak Sanjaya masih tampak bingung, ia masih menyimpan pertanyaan yang ingin ia utarakan
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Kak Jo mengingat-ingat apakah dirinya pernah bertemu dengan Pak Sanjaya atau tidak. Tapi setelah beberapa saat ia tidak ingat apa pun mengenai Pak Sanjaya karena bagi Kak Jo ini adalah kali pertama mereka bertemu
"Mungkin Pak Sanjaya pernah bertemu Jonathan di sebuah restoran, sebab dia adalah pemilik restoran yang tidak jauh dari kampus ABC" jelas Bang Reza dan dengan segera Pak Sanjaya mengangguk
"Ah, iya benar!" Pak Sanjaya tampak ragu dengan jawaban itu, karena baginya bukan di sana ia bertemu dengan Kak Jo. Ia mengiyakannya sebab ia ingin mencari waktu yang tepat untuk berbicara dengan Kak Jo
__ADS_1
"Baiklah, berhubung semuanya sudah berkumpul. Maka di sini saya akan menyampaikan hal yang sangat penting" Pak Burhan membuka suara, percakapan antara Kak Jo, Bang Reza dan Pak Sanjaya terhenti dan fokus mendengar apa yang diutarakan oleh Pak Burhan
"Saya ingin Reza dan Syafa menikah secepatnya!" mendengar hal itu, semua orang nampak terkejut. Namun berbeda dengan Pak Sanjaya, ia bersikap biasa saja sebab ia sudah tahu dari jauh-jauh hari bahwa pernikahan mereka akan segera digelar. Pak Sanjaya juga sudah menerima undangan pernikahan yang waktu itu diberikan Pak Burhan
"Tapi, Ayah. Syafa masih bersekolah"
"Bukan kah kata Om, pernikahan itu akan dilaksanakan ketika Syafa sudah lulus?" sambung Kak Reza yang masih terlihat bingung. Aku sendiri kini hanya menatap semua orang bingung, terlebih pada Syafa yang kini mengaitkan jarinya pada jariku. Tangannya terasa dingin dan juga berkeringat
"Iya, Pa. Syafa baru kelas 2 dan masih buruh waktu satu tahun lagi untuk lulus" Mama Syafa juga tak ingin tinggal diam atas keputusan yang diambil oleh suaminya itu, meski ia sendiri tahu jika suaminya itu tidak bisa dibantah
"Bagaimana jika hal ini diketahui oleh pihak sekolah, bukan kah nanti Sayafa akan di keluarkan Om" aku juga tak ingin tinggal diam
"Kalian tidak perlu khawatir, memang benar Syafa masih harus lulus satu tahun lagi dan pastinya hal ini bukan hal yang patut diberitakan terlebih lagi sampai di telinga pihak sekolah. Tenang, kalian tenang saja. Saya sudah punya rencana yang pastinya tidak perlu diragukan lagi" jelas Pak Burhan tak terbantah kan
Semuanya diam, tidak ada yang menyahut. Bahkan Kak Jo dan Pak Sanjaya sedari tadi hanya menundukkan kepalanya seolah sibuk dengan pemikirannya sendiri
"Bagaimana Reza, siap menikah atau meninggalkan Syafa?" Sekali lagi ancaman itu terdengar, Bang Reza tidak tahu harus apa sebab ia tidak bisa membantah dan juga belum bisa mengiyakan. Ia terlalu takut untuk kehilangan Syafa tapi ia juga belum berani untuk menikah secepat ini
Masih banyak hal yang harus ia persiapkan untuk hal ini, bukan hanya dari segi mental tapi juga dari segi materi yang tentunya tidak sedikit. Bang Reza masih diam, belum berani memutuskan. Syafa pun sama, ia khawatir dengan jawaban apa yang akan ia dengar dari mulut kekasihnya. Apakah menikah atau meninggalkan
Kak Jo menangkap kepanikan dan juga kekhawatiran wajah Bang Reza, ia tahu apa yang Bang Reza pikirkan saat ini. Ia menepuk pundak Bang Reza lalu sedetik kemudian mengangguk
"Menikah lah, jangan sia-siakan apa yang sudah kamu perjuangkan selama ini" kata Kak Jo tiba-tiba. Sontak membuat Kami semua terkejut
"Tapi, Jo"
"Tinggal atau pergi?"
"Jika kamu ingin tinggal maka nikahi dia, tapi jika kamu ingin pergi maka putuskan dia. Akan tetapi kamu harus tahu konsekuensi apa yang akan kamu terima jika memilih satu di antaranya" kata Kak Jo lagi
"Nikahi saja dia, bukan kah hidup terpisah dengan orang yang kita cintai itu sangat sakit?" sambung Pak Sanjaya dengan santai. Dan kebingungan semakin menjadi di hati Bang Reza
"Baik, saya akan nikahi Syafa!" tegas Bang Reza, hal itu membuat Pak Burhan tersenyum penuh kemenangan. Ingin rasanya ia melompat saking senangnya, karena rencana yang ia susun sejauh ini berjalan dengan sangat mulus
"Lalu kapan kami menikah?" jawaban itu seketika membuatku dan Syafa terkejut. Kami saling pandang dan tidak tahu mesti bicara apa
"Akhir pekan ini, kalian harus menikah. Cukup nikahi Syafa secara siri dulu baru setelah dia lulus pernikahan kalian bisa dilegalkan di mata hukum"
"Saya bersedia!"
__ADS_1