
"Selamat pagi semuanya" sapa seorang wanita cantik berbaju merah muda, memakai rok warna hitam dan juga jilbab warna senada dengan bajunya. Wanita itu tampak muda dan juga ramah,
"Selamat pagi, Bu!" seru kami semua bersamaan, menjawab apa yang dilontarkan wanita itu. Aku sendiri yang kala itu masih sibuk mengeluarkan buku yang akan aku pakai merasa tidak asing dengan suara itu. Sepertinya aku pernah mendengar suara itu tapi di mana
Selesai dengan aktivitasku, aku pun kemudian melihat ke arah di mana wanita itu berada. Dan benar saja, aku pun seperti mengenalnya dan pernah berbincang dengannya tapi di mana. Kucoba mengingat-ingat di mana tepatnya saat itu
"Perkenalkan nama saya Ayunda dan mulai saat ini saya akan mengajar kalian pelajaran matematika menggantikan guru sebelumnya" lanjutnya kemudian, aku pun kembali berpikir sembari mengulang namanya berkali-kali
"Ayunda"
"Ayu-nda"
"Ayu, A..." Aku pun kembali menatapnya dan memastikan apakah dia wanita yang waktu itu, aku mengamatinya dengan seksama dan sepertinya iya.
Lalu aku pun kembali mengingat di mana aku pernah mendengar nama itu disebut, nama yang menurutku tidak asing. Dengan keras aku kembali berpikir dan kemudian mengingat nama itu, nama yang disebutkan oleh Catherine di hadapan Kak Jo dan seketika membuatnya marah, apakah Ayunda yang dimaksud adalah dia dan apa yang membuat Kak Jo begitu marah. Bukankah wanita itu cantik dan juga sempurna
Eh, tunggu. Kenapa aku berpikir tentang hal itu, lagi pula itu semua bukan urusanku dan kenpa juga otak ini masih menyimpan memori tentang laki-laki itu. Laki-laki yang seharusnya tidak perlu aku ingat dan aku simpan kenangannya, sudah cukup yang kemarin dan aku berharap itu tidak akan terjadi lagi
Bu Ayunda pun memulai pelajaran hari ini, pelajaran horor dan juga paling aku benci sepanjang hidupku. Tapi kali ini lain, penjelasan detail dan juga kesabaran Bu Ayunda membuatku mengerti dan paham lebih cepat dari biasanya, aku juga sudah tidak merasa benci atau jengkel lagi dengan pelajaran ini, beberapa kali Bu Ayunda melontarkan pertanyaan padaku dan dengan ajaib aku pun bisa menjawabnya dengan benar. Semua teman-teman menatapku dengan tatapan heran dan juga aneh, kebingungan kenapa aku bisa menjadi seperti ini, jangankan mereka , aku sendiri pun juga tidak paham dengan diriku sendiri
__ADS_1
Dua jam berlalu, pelajaran pun usai dan Bu Ayunda pun meninggalkan kelas. Kami semua pun segera bergegas pergi ke kantin karena ini sudah waktunya jam istirahat
Aku berjalan berdampingan dengan Syafa menuju ke kantin, namun baru saja melangkah beberapa langkah aku mendengar seseorang memanggil namaku
"Aulia!" Sekali lagi namaku dipanggil, aku menghentikan langkahku dan Syafa pun ikut berhenti
"Kenapa, Aulia?" tanya Syafa dan aku pun menjelaskan jika aku mendengar seseorang memanggil namaku
Ke sana ke mari aku mencari sumber suara itu, agak sulit aku menemukannya sebab banyak siswa-siswi lalu-lalang berjalan ke kantin maupun ke arah lain. Setelah beberapa detik, aku pun kemudian melihat seseorang melambaikan tangannya dan memanggil namaku
"Aulia!" teriaknya lagi. Aku pun meminta Syafa untuk pergi ke kantin terlebih dahulu dan memesankan makanan untukku, dia pun mengangguk dan berlalu. Dengan segera aku pun menghampiri seseorang yang memanggil namaku
Aku menghampirinya dan ternyata yang memanggilku adalah Bu Ayunda, banyak pertanyaan terlintas di benakku, aku punelanglah dengan segera dan kini berada di depannya
"Ayo duduk" dia mempersilakan dengan ramah dan aku pun duduk di sebuah kursi yang berseberangan langsung dengannya
"Masih ingat saya?" Sekali lagi ia mengeluarkan suara lembut dan ramahnya, aku mengamgguk tapi agak ragu tidak tahu apakah yang aku pikirkan adalah sama dengan yang dia pikirkan
"Maaf, Bu. Apakah Bu Ayunda adalah orang yang waktu itu saya temui?" Dia mengangguk dan kembali menceritakan kejadian tempo hari saat aku bertemu dengannya
__ADS_1
Aku kini tidak lagi ragu, dan semakin yakin bahwa apa yang aku pikirkan benar adanya. Kami berdua pun mengobrol ke sana kemari, hingga rasa lapar yang tadi aku rasakan sirna. Hampir 30 menit lamanya dan aku pun teringat jika aku meminta Syafa untuk memesankan makanan di kantin. Aku pun pamit dan segera bergegas ke kantin
...********************...
"Ayolah, Za" rengek Kak Jo pada Bang Reza. Mereka berdua kini berada di perpustakaan kampus ternama di kota ini. Sambil terus membuntuti Bang Reza, Kak Jo terus merengek meminta agar mau membantu dirinya melakukan sesuatu
"Aku sudah membantumu, Jo. Tapi bukankah kamu sudah tahu hasilnya?" jawab Bang Reza sembari memilih buku pada rak-rak yang berjajar rapi itu
"Cobalah sekali lagi, Za. Aku mohon" Kak Jo terlihat memelas, Bang Reza hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman kecil di bibirnya. Ia tidak pernah mengira jika seorang Jonathan yang selama ini ia kenal tegas dan juga berwibawa kini berubah bak anak kecil yang merengek meminta dibelikan permen. Sungguh, pemandangan yang langka
Bang Reza mengangguk dan kemudian senyuman terukir di wajah Kak Jo, kelegaan ia rasakan, ia pun mulai terbayang akan rencananya yang semakin dekat dan mungkin bisa dipastikan akan berhasil
"Lepasin, Jo. Malu dilihat orang" bisik Bang Reza pada Kak Jo yang masih memegangi pucuk jaket yang dikenakan oleh Bang Reza, sepersekian detik Kak Jo tidak menyadarinya namun kemudian dengan gerakan secepat kilat ia pun melepaskan apa yang ia pegang
Kak Jo dengan segera membenahi posisi berdirinya dan juga membenahi jaket hitam yang ia kenakan, seolah tanpa dosa ia pun kemudian mengambil sebuah buku dari rak yang berada di belakangnya dan mencari tempat duduk yang kosong, entah buku apa yang ia ambil ia pun segera membukanya dan membacanya. Bang Reza sendiri hanya bisa menahan tawa atas tingkah sahabatnya itu. Bang Reza pun menyusul Kak Jo dan duduk di seberangnya
"Setelah ini kamu akan ke mana, Za?"
"Aku akan menjemput Syafa, dan setelah itu aku akan kembali bekerja di tempatmu" jelas Bang Reza sambil membaca buku yang ia ambil
__ADS_1
"Aku ikut ya, sekalian saja bawa mobilku!" Kak Jo terlihat antusias, Bang Reza menatapnya sinis seolah bisa membaca pikiran Kak Jo kali ini
"Jangan menatapku seperti itu, Za. Bukankah kamu sudah berjanji akan membantuku?"