
"Benar, Pak Sanjaya. Anda sebentar lagi bisa bernafas lega karena beban yang Anda pikul akan segera berkurang" Pak Burhan mulai menunjukkan niat buruknya, ia mulai terlihat jelas bagaimana wujud aslinya.
Di dalam hatinya, ia merasa jika sudah menang dalam peperangan dan menyingkirkan semua musuhnya. Apa yang ia incar selama ini akan ia dapatkan selangkah lagi. Ia tidak peduli jika harus menjadikan anaknya sebagai alat atau pun tameng demi melancarkan semua niatnya
"Terima kasih, Pak Burhan. Anda sudah mengerti saya!" kepuasan jelas tergambar di wajah Pak Burhan tapi tidak dengan Pak Sanjaya, ia semakin merasa geram dan ingin rasanya segera menghancurkan rivalnya yang sudah ia incar bertahun-tahun itu
"Oh, ya. Kapan dan di mana saya harus menghadiri acara tersebut. Jika saya tahu lebih cepat, maka saya bisa dengan segera mempersiapkan wasiat yang harus ditandatangani oleh cucu Haryokusumo"
"Akhirnya, semuanya akan segera terwujud. Aku akan segera memilikinya" batin Pak Burhan diiringi dengan senyuman jahat dan juga pikiran menerawang kepada hal yang ia inginkan
"Dasar serakah. Apa menghilangkan nyawa orang lain tidak cukup, kini kamu juga menginginkan hartanya" batin Pak Sanjaya berbanding terbalik dengan apa yang ada di mulut dan juga wajahnya
"Ini undangannya, terima kasih sekali lagi dan saya harap Anda bisa datang tepat waktu" tawa kembali terdengar dari keduanya. Yang satu tertawa karena puas akan apa yang ia idaman akhirnya akan ia dapatkan dan yang satunya tertawa karena ia menutupi rencana yang akan ia jalankan. Benar-benar keadaan yang tidak bisa dimengerti
Selepas hal itu, Pak Burhan pun meminta ijin untuk pulang dikarenakan istrinya tadi menghubunginya, sedangkan Pak Sanjaya sendiri masih terus duduk di sana, memandang undangan yang menurutnya adalah hal buruk yang pernah ia lihat semasa hidupnya.
Senyuman kecut itu menghiasi wajahnya yang keriput itu, tak butuh waktu lama kertas yang berbentuk kotak itu kini telah menjadi bulat dan ia masukkan ke dalam gelas kopi yang ada di depannya.
...*************...
"Menikah?" Raut wajahku sudah tidak bisa dijelaskan ketika Bang Reza mengatakan jika dirinya akan segera menikah dengan Syafa. Ini begitu mendadak dan pasti di luar nalar
Kita yang baru duduk di bangku SMA kelas 2 sudah harus menikah, itu pun menikah siri. Apa tidak terlalu aneh menurut kalian semua
"Apa yang sudah Bang Reza lakukan pada Syafa?" aku mulai menginterogasinya karena jujur saja aku mulai berpikir hal yang aneh
__ADS_1
"Jangan berpikir yang macam-macam, Abang tidak melakukan apa pun pada Syafa. Ayahnya sendiri yang meminta kami untuk menikah cepat" jelas Bang Reza memutus pikiran yang aneh di otakku
"Tapi kan, perjanjian awal tidak seperti itu"
Bang Reza kemudian mulai menceritakan keadaan yang sebenarnya, awalnya aku memang tidak mengerti tapi lama kelamaan aku pun paham dan bisa mengerti
"Tapi, Bang. Dari mana kita bisa dapat uang untuk acara itu?" aku pun mulai ikut berpikir tentang keadaan ekonomi kita berdua yang sebenarnya sangat jauh dari kata cukup
Untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya kami berdua harus berhemat dan ditambah dengan hutang kami yang menumpuk pada Kak Jo dan juga tempat lainnya.
Tabungan yang aku miliki pun sudah menipis dan entah bisa bertahan sampai aku lulus atau tidak, aku juga menyadari jika saat ini Bang Reza juga tidak memiliki apa pun meski sesekali ia mengatakan jika tidak perlu khawatir tentang biaya hidupku dan juga sekolahku
"Entah, Abang juga tidak tahu. Jika Abang harus memakai tabungan yang Abang miliki, bagaimana dengan kuliahmu nanti. Tapi jika uang itu tidak Abang pakai maka Abang harus siap melepaskan Syafa untuk selamanya" Bang Reza tertunduk, wajahnya terlihat memelas
"Pakai uang itu, Bang. Jangan pikirkan Aulia terus, sesekali Abang harus memikirkan diri Abang sendiri. Masalah kuliah itu semua bukan hal yang penting bagi Aulia, karena kebahagiaan Abang juga kebahagiaan Aulia"
"Tapi kamu harus lulus menjadi sarjana dan mewujudkan permintaan terakhir dari orang tua kita" Bang Reza melepaskan pelukan itu, ia kemudian mengelap air mata yang entah sejak kapan menetes
"Itu bisa dipikir nanti, Bang. Yang penting sekarang aku sekolah SMA dulu dan soal kuliah itu semua bisa aku lakukan sembari bekerja nanti, atau mungkin aku bisa mengikuti jalur beasiswa seperti Abang, tapi jika nanti pada akhirnya aku tidak bisa kuliah maka aku akan menerimanya dan menganggap itu semua sudah sebagai jalan yang harus aku lewati" jelasku sekali lagi meyakinkan Bang Reza yang masih bimbang
"Tapi ...."
"Jangan mencari alasan lagi, Bang. Aku akan memusuhi Abang jika Abang tidak menuruti kata-kata Aulia!" aku berpura-pura merajuk agar Bang Reza tidak lagi mencari alasan dan terus berkelit. Aku memunggunginya yang dan menghadap ke arah tembok kamarku
"Jangan memusuhi Abang. Abang tidak tahu lagi harus hidup dengan siapa jika kamu melakukan hal itu" aku menoleh dan mengembangkan senyum
__ADS_1
"Lalu?" Bang Reza mengangguk pelan, menandakan apa yang aku tanyakan mendapat persetujuan dan itu membuatku merasakan bahagia
"Alhamdulillah"
.
.
.
.
Pagi menjelang, aku kali ini sudah terbangun pagi sekali dan rencananya akan pergi lari pagi ke alun-alun yang lokasinya tidak jauh dari rumah. Aku berangkat ke sana dengan sepeda tua peninggalan Ayah, sepeda yang terlihat usang namun masih kuat menopang bobot kami berdua
Sepatu dan juga setelan baju olahraga sudah melekat di tubuh kami berdua, dengan semangat 45 kami berdua pun segera pergi ke tempat yang dimaksud. Aku yang kini berada di belakang, membonceng sembari menyemangati Bang Reza yang terus berusaha mengayuh sepeda tua itu
"Ayo, Bang. Semangat, Bang!" teriakku sepanjang perjalanan
"Kamu berat, Aulia" balasnya sembari tertawa
"Aku berat?" aku mencubit punggung Bang Reza karena sudah berani mengatakan jika aku ini berat, dia mengaduh kesakitan karena ulahku tapi ia terus mengayuh sepeda tua itu sampai di tempat tujuan
Kami berdua akhirnya sudah sampai di tempat tersebut, tempat yang memang setiap paginya dipakai oleh beberapa orang untuk berolahraga. Terlebih di saat hari minggu seperti ini, hampir seluruh warga yang berada di sekitar tempat itu berkumpul di sana. Entah untuk berolahraga atau hanya sekedar berjalan-jalan dan menikmati kuliner yang memang selalu ada di setiap akhir pekan seperti ini
"Ayo!" ajak Bang Reza setelah memarkirkan sepeda tua itu di bawah pohon
__ADS_1