
Hati Bang Reza berkecamuk dan penuh dengan berbagai pertanyaan, tidak munafik, dia begitu menginginkan Syafa menjadi orang pertama dan terakhir dalam hidupnya, ia juga ingin mencintai orang yang sama selama seumur hidupnya.
"Tapi, apa ini tidak terburu-buru, Om. Lagi pula Syafa masih bersekolah," Akhirnya Bang Reza mengutarakan apa yang ia pikirkan,
"Tidak, Reza. Bukankah lebih cepat lebih baik?" imbuh Pak Burhan berusaha meyakinkan Bang Reza
"Apa nanti tidak akan beredar gosip di luaran sana, Om. Anak Om masih bersekolah tapi sudah bertunangan" Bang Reza kembali mengutarakan isi hatinya.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan semuanya, kita bisa menyembunyikan semuanya sampai Syafa lulus sekolah, lagi pula ini adalah bukti darimu jika kamu memang benar-benar mencintai Syafa. Jika kamu tidak mampu sebaiknya kamu tinggalkan saja Syafa"
"Bu-bukan begitu, Om. Saya mencintai Syafa, dan saya tidak ingin kehilangan dia. Tapi saya belum siap" Bang Reza kali ini kembali berwajah panik
"Tidak ada hal yang perlu kamu siapkan, ini hanya acara di antara keluarga Om dan juga keluargamu. Tidak ada orang lain!" lanjut Pak Burhan.
"Pikirkan lagi apa yang baru saja Om katakan, jika kamu sudah punya jawaban segera datanglah ke rumah Om" Pak Burhan kemudian berdiri dan meninggalkan Bang Reza yang masih diliputi oleh kebingungan.
Kebingungan antara mengiyakan atau menolaknya. Jika ia menolaknya maka dengan segera ia harus melepaskan Syafa, tapi jika ia mengiyakan maka otomatis ia harus segera melakukan syarat yang sudah disebutkan oleh Pak Burhan.
Bang Reza memang senang jika harus bertunangan dengan segera, tapi di sisi kanan ia juga harus memikirkan harga dirinya, dia sendiri tidak tahu ke mana harusnya bantuan untuk hal ini.
Setelah meminum jus yang ada di hadapannya, ia kemudian berdiri dan ke luar dari kafe itu, dan bergegas pulang.
...****...
Bang Reza baru saja memarkirkan motornya tepat di depan restoran Kak Jo, dan setelahnya ia pun langsung masuk ke dalam tempat itu.
"Ke mana saja selama ini, Gue kira Elo ke luar dari restoran ini?" tanya Dion ketika mendapati Bang Reza yang baru saja masuk ke dalam tempat itu.
Kala itu Dion baru saja membereskan piring dan juga gelas yang kotor, sisa dari makanan pelanggan.
"Maaf, selama ini lagi ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan" Kilah Bang Reza dan tidak menceritakan sebab dirinya tidak bekerja selama ini.
Dion pun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi karena Kak Jo juga tidak pernah bercerita kepadanya tentang Bang Reza yang baru saja menjalani operasi.
"Oh, begitu rupanya" Dion mangut-mangut sambil berjalan ke arah dapur untuk membawa barang yang baru saja ia bereskan,
Bang Reza mengikutinya, "Jonathan di mana?"
__ADS_1
"Dia di kantornya, kenapa memangnya?" tanya Dion sambil meletakkan nampan yang ia bawa di tempat cuci piring,
Bang Reza tidak menjawabnya, ia kemudian membalikkan tubuhnya dan segera berjalan ke arah ruangan Kak Jo
"Kenapa itu bocah, enggak biasanya dia bersikap seperti itu?" Dion tampak heran dengan sikap Bang Reza yang biasanya tidak seperti itu.
Bang Reza mengetuk pintu ruangan Kak Jo, setelah mendapatkan ijin dari sang pemilik, ia kemudian segera masuk ke dalam tempat itu
"Apa aku mengganggu?" tanya Bang Reza seraya melenggang masuk ke sana
"Tidak, aku baru saja datang dan belum mengerjakan apa pun" jawab Kak Jo yang kini masih terlihat memakai baju batik dan juga celana panjang warna hitam,
Ia belum mengganti pakaiannya setelah pulang dari mengajar di sekolahku.
Bang Reza kemudian duduk di kursi kosong yang berada di ruangan itu, Kak Jo yang merasa janggal dengan tingkah Bang Reza pun segera mendekat ke arahnya.
"Ada masalah apa?"
"Apa sangat terlihat?" Bang Reza membalikkan pertanyaan Kak Jo
Setelahnya Bang Reza kemudian menceritakan apa yang di alami, mulai dari pertemuannya dengan Pak Burhan sampai pada akhirnya ia harus memenuhi syarat dari Pak Burhan.
"Lalu di mana masalahnya, jika kamu memang benar-benar menyukainya, bukankah itu bukan hal yang sulit?" kata Kak Jo
"Iya, tapi kamu tahu sendiri jika aku sudah tidak punya apa-apa lagi, biaya operasi dan rumah sakit saja kamu yang membayarnya dan setelah itu untuk kehidupan sehari-harinya aku harus menguras tabungan Aulia" kegelisahan dan kesedihan tampak di wajah Bang Reza
"Lalu, kamu akan meninggalkannya?"
"Tidak, aku menyukainya sejak lama, tidak mungkin aku meninggalkannya!" Jelas Bang Reza penuh keyakinan.
Kemudian obrolan di antara keduanya mulai terdengar serius dan lebih serius lagi, kegelisahan dan juga kesedihan yang Bang Reza rasakan sedikit demi sedikit mulai berangsur hilang.
...****...
Aku baru saja selesai mandi dan berganti pakaian dengan pakaian yang santai, kini aku sedang duduk di depan televisi untuk menghilangkan kejenuhan dan juga mengusir rasa penat yang seharian ini aku rasakan.
Sampai sekarang Bang Reza belum juga pulang, aku sudah menghubunginya namun ia hanya mengatakan akan pulang secepatnya,
__ADS_1
Tak berselang lama terdengar deru kendaraan bermotor masuk ke dalam pelataran rumahku, aku bisa memastikan jika itu adalah Bang Reza.
"Aulia," panggilnya kemudian
"Iya," sahutku agak malas
Bang Reza kemudian menoleh ke arahku yang kini berada di depan TV dan sedang memencet tombol tempat berulang kali tanpa menentukan saluran mana yang akan aku tonton.
"Aulia, ada hal yang harus Abang bicarakan!" Bang Reza mendekat dan kemudian duduk di sampingku, memasang wajah serius.
Aku menoleh ke arahnya dan mendapati dirinya menghela nafas kasar, dan berwajah tegang.
"Kenapa, Bang?" tanyaku kemudian
"Aku akan bertunangan dengan Syafa!" jelasnya langsung, aku terlonjak dari dudukku dan kini berdiri tegak di samping Bang Reza
"Apa, bertunangan?" Bang Reza mengangguk
"Kenapa secepat ini, apa yang terjadi dengan kalian, apa yang sudah Abang lakukan pada Syafa?" beribu asumsi dan juga pemikiran aneh mulai melintas di pikiranku
"Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak!" Bang Reza menarik lenganku dan memintaku untuk duduk
Aku menurut dan kemudian duduk tapi aku masih memasang wajah yang penuh dengan pertanyaan.
Bang Reza kemudian menceritakan semuanya, seperti apa yang ia ceritakan pada Kak Jo, aku awalnya tidak mengerti tapi pada akhirnya aku paham jika ini semua adalah wujud dari keseriusan Bang Reza pada Syafa.
"Apa kamu masih menyimpannya?" tanya Bang Reza ketika sudah selesai bercerita
"Menyimpan apa?"
"Cincin yang pernah diberikan oleh Ayah dan Ibu, apa kamu masih menyimpannya?"
Aku kemudian teringat, jika dulu Ayah dan Ibu pernah memberikan aku sepasang cincin yang katanya adalah cincin warisan dari para tetua dahulu.
Cincin itu diberikan padaku agar aku menyimpannya, dan kelak siapa pun yang akan menikah terlebih dahulu maka cincin itu pula yang harus dipakaikan kepada kedua calon pengantin.
"Iya, Aulia masih menyimpannya, akan aku ambilkan"
__ADS_1