
"Apa yang ingin kamu sampaikan, Za?" Kak Jo beranjak dari kursinya dan kemudian mendekat ke arah kami
"Em, ini sebenarnya, itu" Bang Reza tampak bingung harus memulai percakapan ini dari mana. Sedari tadi ia diam, aku kira karena apa ternyata bingung harus memulai percakapan
"Tidak usah ragu, katakan saja. Bukankah kita sudah lama saling mengenal?" Kak Jo duduk di dekat Bang Reza yang masih tampak bingung, sesekali ia melihat ke arahku dan juga Syafa. Awalnya aku tidak tahu apa maksudnya tapi lama kelamaan aku pun paham dan mengajak Syafa ke luar dari ruangan itu
"Fa, ke luar yuk. Bosan di sini" ajakku pada Syafa, bak gayung bersambut dia pun mengiyakan ajakanku, aku rasa dia juga bosan
"Bang, kita ke luar sebentar ya" Bang Reza mengangguk
"Jangan jauh-jauh, nanti kamu hilang" sambung Kak Jo sembari tersenyum, aduh, rasanya mau pingsan saat aku melihatnya tersenyum seperti itu, aku serasa tidak rela untuk ke luar dari ruangan ini. Biar saja aku mati bosan, aku ikhlas asalkan aku bisa bersamanya dan terus melihat senyumnya
"Aulia, ayo!" Syafa menepuk pundakku dan membuatku tersadar. Buru-buru kami pun pergi dari sana sebelum aku merasa semakin malu karena terus membayangkan Kak Jo
Setelah kepergian kami berdua, Kak Jo dan Bang Reza pun melanjutkan percakapan mereka yang tertunda
"Ceritalah, siapa tahu aku bisa membantumu"
"Begini, Jo. Tolong bantu aku sekali lagi saja, apa yang harus aku lakukan sekarang. Ayah Syafa memintaku untuk segera menikahi anaknya, aku tidak tahu kenapa dia buru-buru seperti ini, padahal dia pernah berkata jika aku harus menikahi anaknya setelah Syafa lulus sekolah tapi sekarang ia mengubah keputusannya" raut wajah Bang Reza kini berubah menjadi layu
"Kenapa tidak kamu tolak saja usulan itu, katakan saja padanya jika kamu masih bisa menunggunya sampai dia lulus sekolah" saran Kak Jo
"Sudah, aku sudah mengatakan hal itu tapi dia malah memintaku untuk meninggalkan Syafa jika aku tidak segera menikahinya" jelas Bang Reza lagi
"Dia tidak memintaku menikah secara hukum, kami berdua cukup menikah secara agama dulu dan setelah dia lulus aku bisa melegalkan semuanya" Kali ini justru Kak Jo yang berubah wajahnya, ia terkejut dengan penjelasan Kak Jo
"Apa Syafa tahu ini semua?" Bang Reza mengangguk
__ADS_1
"Lalu?"
"Dia juga sudah menyakinkan ayahnya jika hal itu tidak perlu dilakukan, kita berdua masih bisa menunggu sampai hari itu tiba, tapi Ayah Syafa tidak menyetujuinya dan malah meminta kami berdua berpisah"
"Apa kamu benar-benar mencintainya?" Kak Jo memastikan
Bang Reza mengangguk, "Aku sangat mencintainya, aku memendam perasaan ini sangat lama dan kini semuanya menjadi kenyataan dan aku tidak mungkin melepaskannya, apa pun alasannya!"
Kak Jo menghela nafasnya dia juga menyeka keringatnya yang kini mengalir di dahinya, "Nikahi saja kalau begitu, sepertinya cintamu itu sudah akut" lanjut Kak Jo
"Tapi ...."
"Tapi apa lagi, kamu tidak sanggup berpisah darinya dan satu-satunya jalan ya kamu harus menikahinya"
"Aku takut!"
"Bukan masalah itu, ini masalah lain"
"Masalah apa lagi, biaya?" Bang Reza menggeleng
"Aku takut setelah menikah dengannya aku tidak bisa menahan diri dan kamu tahu sendiri apa akibatnya nanti!" mendengar jawaban itu ke luar dari Bang Reza sontak membuat Kak Jo tertawa begitu puasnya
Ia kemudian berhenti tertawa dan ketika melihat wajah Bang Reza ia kembali tertawa dengan lantangnya, "jika itu yang kamu takutkan, maka itu menjadi urusanmu sendiri. Aku dan yang lainnya tidak ikut campur" Sekali lagi tawa itu meledak dan membuat Bang Reza salah tingkah
Tapi bagaimana pun juga ia harus mengatakan semuanya agar beban di hatinya tidak semakin bertambah, meski Kak Jo menertawakannya tapi hal itu tidak membuat Bang Reza berkecil hati sebab teman yang ia miliki untuk saat ini hanya Kak Jo seorang, tidak ada satu pun hal yang tidak mereka tahu satu sama lain bahkan hal yang seperti ini
...***************...
__ADS_1
Di tempat berbeda,
Pak Burhan tengah menunggu seseorang. Ia kini tengah berada di sebuah pusat perbelanjaan ternama di kota ini. Senyum manis terus mengembang di wajahnya, deretan gigi putih itu tampak berbaris rapi sering sang pemilik bibir terus menyunggingkan senyumnya
Berkali-kali ia melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sebuah jam yang berwarna putih mengkilap dengan merek ternama dan pasti harganya tidak kalah dengan sebuah mobil. Jam tangan yang dulu dengan mudah ia beli saat usahanya sedang jaya, namun kini ia harus menabung cukup lama hanya untuk membeli barang tersebut karena usaha yang ia miliki sudah gulung tikar
Ia juga terus melihat ke arah ponselnya dan melihat beberapa pesan yang baru saja ia kirimkan pada seseorang yang ia tunggu
Tak berselang lama, seseorang yang terlihat sudah berumur, memakai setelan jas warna abu-abu dan menenteng tas warna hitam terlihat sedang berjalan menuju ke tempat di mana Pak Burhan kini sedang menunggu
Keduanya lalu berjabat tangan sembari tersenyum dan saling mengabarkan keadaan satu sama lain. Pak Burhan mempersilakan laki-laki itu duduk dan memintanya menikmati minuman yang sudah ia pesan sejak tadi
"Maaf, sudah membuat Anda lama menunggu" ucap laki-laki yang bernama Sanjaya itu. Beliau merupakan pengacara keluarga Haryokusumo.
Haryokusumo sendiri merupakan tetua dari keluargaku, tapi aku sendiri atau pun Bang Reza tidak pernah tahu bagaimana rupa dan juga wujud dari orang itu, hanya kedua orang tua kami yang tahu. Haryokusumo sendiri adalah seorang pengusaha terkenal dan paling hebat di masanya, berbagai perusahaan ia miliki dan ia wariskan pada kerabat dan juga anak cucunya.
"Tidak apa-apa, saya sendiri juga baru sampai" keduanya pun tertawa sambil menikmati santapan yang sudah dipesan oleh Pak Burhan
"Baiklah, apa yang bisa saya bantu?" Sanjaya memulai percakapan
"Saya hanya ingin mengabarkan pada Anda selaku pengacara keluarga Haryokusumo, cucu dari Haryokusumo sebentar lagi akan segera menikah dengan anak saya. Saya harap Anda bisa datang untuk menyaksikan kelangsungan acara tersebut" ucap Burhan santai tapi berbeda dengan Sanjaya
Wajah Pak Sanjaya mengisyaratkan sebuah ke tidak cocokkan akan apa yang baru saja ia dengar, ia merasa jika apa yang baru saja ia dengar adalah hal yang berbahaya dan patut ia selidiki. Ia bisa merasa seperti itu karena ia sudah tahu bagaimana liciknya Pak Burhan dan bagaimana buruknya sifat orang itu
Meski ia pandai menyembunyikan semuanya, tapi di belakang itu semua Pak Sanjaya sudah menyelidiki dan kini sudah mengantongi semua bukti kejahatan dari calon besan keluarga Haryokusumo.
Pak Sanjaya sendiri sampai saat ini hanya bersikap biasa dan terus berpura-pura jika dirinya tidak tahu apa pun tentang ulah Pak Burhan
__ADS_1
"Itu kabar yang menggembirakan, berarti sebentar lagi saya akan terbebas dari hal yang selama ini saya jaga" Sanjaya terus saja berpura-pura dan terus mencoba memancing apakah Pak Burhan memang tulus atau hanya mempunyai niat terselubung