Teman Kakakku

Teman Kakakku
Adik Abang yang manis


__ADS_3

"Aku tahu Kakak bukan orang yang seperti itu, tapi aku juga sadar siapa aku dan lebih baik jika mulai saat ini kita kembali ke hidup masing-masing. Kak Jo tetap hidup seperti saat kita belum mengenal satu sama lain dan begitu juga Aulia, Aulia juga akan bersikap sama" aku mengatakan hal itu dengan perasaan yang tidak menentu, antara sakit dan juga lega karena pada akhirnya memang hal yang tidak bisa disatukan tidak seharusnya disatukan


"Apa maksudmu, Aulia?" Kak Jo menggenggam tanganku semakin erat, rasa dingin juga menjalar di sana. Hal yang dulu aku impikan kini malah menjadi hal yang tidak ingin aku lakukan


Aku menepisnya dan ia pun dengan rela melepaskan tautan tangannya, ia seolah menyadari jika aku kini sedang tidak bisa dipaksa


"Aulia mohon, Kak. Menjauh lah dari kehidupan Aulia. Biarkan Aulia menjalani kehidupan ini tanpa harus mengenal Kakak, aku tahu di antara kita berdua ada batas yang tidak mungkin bisa ditempuh, ada jalan yang memang seharusnya tidak kita lewati" jelasku kini mencoba lebih tenang


"Tapi aku tidak bisa, Aulia. Lagi pula aku dan Reza sudah berteman baik cukup lama dan itu tidak mungkin akan berakhir begitu saja"


"Aulia tahu, Kak. Aulia juga tidak akan melarang Kak Jo dan Bang Reza untuk berteman, kalian berdua bisa menjalani kehidupan seperti biasa tapi tanpa Aulia. Anggap saja di antara kita berdua tidak saling mengenal"


"Tapi aku ingin mengenalmu"


"Kenal saja aku sebagai adik dari Bang Reza tanpa harus tahu yang lainnya, aku tidak ingin lagi menderita karena aku sadar kita berbeda, kak!"


"Lalu bagaimana jika aku tidak ingin mengenalmu hanya sebagai adik dari Reza, aku ingin mengenalmu lebih dari ini. Aku ingin mengenal Aulia sebagai seorang wanita dan bukan sebagai adik dari sahabatku!"


Deg


Kata-kata itu akhirnya terucap, tanpa penjelasan yang lebih lanjut aku pun tahu apa maksud dari hal itu. Namun, semua sudah berakhir, semua sudah tidak ada gunanya lagi. Aku sudah putus asa dan tidak ingin lagi berjuang meski pada awalnya aku yakin tapi kini aku disadarkan jika nanti pada akhirnya aku hanya akan jadi beban dan benalu.


"Tidak, Kak. Jangan, jangan pernah berpikir untuk hal itu. Kita berbeda, kita bukan pada tempat yang sama. Aku cukup sadar diri, aku menghargai perasan Kakak karena aku sendiri juga sempat berpikir akan hal itu namun semuanya hanya cerita masa lalu, Kak. Sekarang aku tidak ingin lagi memikirkannya"


"Apa?" Kak Jo terkejut mendengar penjelasan tentang perasaanku padanya


"Katakan seklai lagi, Aulia. Katakan jika kamu punya pemikiran yang sama denganku!" Lanjut Kak Jo


"Iya, aku pernah menyukai Kakak, bukan hanya sebagai teman Bang Reza tapi sebagai seorang laki-laki. Kakak selalu ada di saat terburuk dalam hidupku, Kakak selalu hadir terdepan saat aku dan Bang Reza dalam kesulitan tapi setelah semuanya terjadi akhirnya aku sadar jika semua ini bukan cinta atau pun sayang tapi semua ini hanya rasa nyaman dan aman karena ada yang melindungiku" tuturku sekali lagi


"Bukan, itu semua bukan rasa aman dan nyaman tapi itu semua memang cinta, Aulia. Kamu dan aku bukan lagi anak kecil yang hanya menuntut perhatian sesaat, kita berdua sudah bisa membedakan mana itu perasan cinta dan juga bukan" Kak Jo meraih kembali tanganku tapi kali ini aku tidak menepisnya, aku membiarkannya karena aku pikir ini akan jadi yang terakhir sebelum pada akhirnya aku akan benar-benar menjauh darinya


"Aku juga sempat salah memahaminya tapi kini aku tersadar, aku hanya anak kecil yang selama ini kurang perhatian dan ketika ada orang yang memperhatikanku maka aku berpikir jika orang itu menaruh hati padaku, dan pada akhirnya aku pun tahu jika hal itu tidak nyata. Terima kasih, Kak. Kakak selalu ada saat Aulia sedang kesulitan dan maaf Aulia pikir semuanya harus segera diakhiri sebelum nanti akan ada lagi yang datang dan menambah luka lebih tajam dari ini. Aulia sadar siapa yang Aulia hadapi sekarang, Aulia juga tahu hal yang tadi tidak akan selesai begitu saja dan pasti akan berbuntut panjang"

__ADS_1


"Maka dari itu, ijinkan aku untuk ada di dekatmu, biarkan aku menjagamu dan melindungimu. Aku mencintaimu Aulia dan aku ingin melindungimu" Mata Kak Jo terlihat berkaca-kaca dan suaranya sedikit parau


"Tidak, terima kasih. Aulia akan menghadapi apa yang Aulia perbuat, ini semua sudah menjadi resiko untuk Aulia. Maaf, Kak, maaf!" aku pun kembali menangis dan sontak Kak Jo memelukku dengan erat, kudengar dia juga terisak tapi isakan itu ia tahan semampunya


"Istirahatlah, Aulia. Pikiranmu tengah kacau, jangan biarkan hatimu lemah dan akhirnya membuatmu menyerah. Istirahatlah aku akan kembali lagi besok!" Kak Jo melepaskan pelukannya, terlihat ia menyeka air mata yang mengalir di wajahnya


"Jangan, Kakak tidak perlu datang lagi, tidak perlu menungguku lagi dan tidak perlu mengingatku lagi. Aku sudah bertekad, Kak. Mulai sekarang di antara kita berdua bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa lagi dan memang seharusnya seperti itu. Terima kasih, pulanglah ini sudah malam!" aku pun beranjak dari duduk dan masuk ke dalam kamarku


Kak Jo pun masih terdiam di ruang tamu, ia mengacak rambutnya frustasi dan mengusap kasar wajahnya yang kini semakin semrawut, akhirnya ia pun berdiri meski kini kakinya melangkah tapi hatinya tertinggal dan masih tidak tega untuk pergi


Dia ke luar dan menutup pintu rumahku perlahan, melangkah dengan langkah yang pelan seraya sesekali menoleh ke arah pintu berharap aku akan ke luar dan mencegahnya pergi


Aku sendiri kini yang berada di dalam kamar mampu mendengar deru motor miliknya yang melaju dengan pelan dan seolah tak ingin pergi, aku hanya bisa menangis.


Menangisi keadaan yang seolah selama ini tak berpihak padaku, keadaan di mana pertama kali aku mengenal cinta namun cinta itu tak berbalas dan sekalinya cinta itu berbalas malah terasa sakit dan perih. Aku menyerah sebelum berperang, mungkin itu yang kini tepat menggambarkan apa yang terjadi, aku tahu ini tidak benar tapi aku juga tahu jika membiarkan perasaan ini tumbuh maka akan menjadi semakin tidak benar


Aku memutuskan berhenti berjuang, berhenti mempertahankan dan berhenti berharap meski saat ini aku tahu harapan itu terwujud namun bukan di waktu yang tepat. Aku sekarang menyadari jika selama ini yang dilakukan Bang Reza memang benar adanya, dia melarangku untuk tidak mengenal keadaan sekitar agar aku tidak terluka dan tidak merasa seperti ini. Cukuplah ini menjadi pelajaran berharga yang akan menjadi pembimbing untuk hidupku ke depannya, selebihnya aku akan kembali menjadi Aulia yang dulu.


Pagi menjelang, aku pun sudah bersiap untuk memulai aktivitasku yaitu kembali ke sekolah. Sudah cukup aku meratapi semuanya semalaman dan kini aku akan mulai menjadi Aulia yang baru, yang bisa mewujudkan apa impian agar aku tidak lagi dihina oleh banyak orang


"Selamat pagi, Bang Reza" ucapku seraya menarik kursi meja makan


"Selamat pagi juga, Adik abang yang manis. Terima kasih ya , sudah memasak dan menyiapkan semuanya" kata Bang Reza yang juga baru duduk di depan meja makan sambil meraih piring dan menyendokkan sarapan. Sayur sop dan juga tahu goreng, itulah menu sarapan pagi ini meski aku tahu rasanya pasti tidak akan seenak masakan Bang Reza tapi setidaknya aku sudah berusaha


Ya, pagi ini aku bangun lebih awal dan menyiapkan semuanya, aku sudah bertekad jika aku tidak mau lagi merepotkan Bang Reza yang sudah banyak bekerja dan mengorbankan masa mudanya untuk menghidupiku


"Tidak perlu berterima kasih, Bang. Kita kan keluarga sudah semestinya kita saling membantu satu sama lain" jawabku sembari menyendokkan sarapan ke dalam mulutku


"Ah, ternyata adik Abang sudah besar ya sekarang" Bang Reza mengacak rambutku pelan


"Jangan merusaknya, Bang. Aku sudah menyisirnya sejak pagi tadi" aku menggerutu karena dandananku diacak-acak oleh Bang Reza


"Oh jadi sekarang sudah mulai berdandan, ya. Apa adik Abang ini sekarang ini sudah punya pacar jadi lebih memerhatikan penampilannya?" ledek Bang Reza

__ADS_1


"Tidak, aku tidak ingin berpacaran dulu. Aku ingin fokus sekolah dan kuliah baru nanti jika aku punya waktu maka aku akan memikirkan hal itu" aku merasa percaya diri mengatakannya


"Yakin tidak mau pacaran, tapi beberapa hari ini ada seseorang yang datang sama Abang, dia bilang dia menyukaimu dan akan mengejarmu sampai dapat" Bang Reza kembali menggoda


Aku menoleh, "Siapa, Bang?"


"Katanya tidak mau pacaran dulu?" lagi-lagi Bang Reza menggoda


"Tahu lah, terserah Abang. Yang penting sekarang aku hanya ingin sekolah dan mengejar cita-citaku. Soal dia siapa aku tidak mau tahu" Aku sedikit cemberut, jujur saja aku penasaran dengan apa yang dikatakan Bang Reza tapi lain sisi aku tidak ingin membuat hal itu menggoyahkan apa yang sudah aku tekad kan


"Jangan marah, ya. Nanti cantiknya hilang loh" aku tidak menyahutinya dan lebih memilih menghabiskan sarapan pagiku


"Tidak. Oh ya, Bang bagaimana rasanya masakanku, maaf kalau tidak sesuai harapan Abang" ucapku mengalihkan pembicaraan


"Tidak buruk, hanya saja jangan memakai garam terlalu banyak ya, tidak baik untuk kesehatan" saran Bang Reza, ya memang masakanku kali ini agak kelebihan garam sedikit, sedikit saja😁😁😁


"Tingkatkan ya, jangan menyerah" Bang Reza berdiri dan kemudian meletakkan piring bekas sarapannya ke tempat pencucian piring. Meski masakanku kelebihan garam tapi ia menghabiskan apa yang ia ambil dan tidak membuangnya, itulah sisi lain Bang Reza yang membuatku kagum, menghargai karya orang lain meski tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan, ia tidak mencelanya, ia justru mengarahkannya ke dalam hal yang lebih baik


"Ayo berangkat!" seru Bang Reza yang kini sudah berada di luar rumah dan bertengger di atas motor miliknya


"Siap, Bos!" aku pun memyambar tas sekolahku dan berjalan ke arah Bang Reza


.


.


.


.


.


jangan lupa untuk like vote dan komen ya, mohon maaf typo bertebaran dimana-mana

__ADS_1


__ADS_2