
Mr. J baru saja datang, sore ini ia memakai jaket merah yang dan juga celana hitam sambil memakai topi berwarna putih. Berjalan dengan gagah di lorong rumah sakit ini sambil membawa beberapa kantong plastik berwarna putih.
Ia berjalan dengan sangat santai sambil sesekali membalas sapaan para perawat yang menyapanya, senyum manis dan juga lembut tutur katanya membuat siapa pun yang berbicara dengannya akan merasa sangat senang.
Mr. J kemudian masuk ke dalam ruang perawatan Bang Reza, meletakkan barang bawaannya di atas meja ruangan itu.
Di sana ia hanya mendapati Bang Reza yang kini tengah bersandar di tempat tidurnya.
"Kamu mencari siapa?" tanya Bang Reza pada Mr. J yang berdiri sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu.
"Aulia sedang ke luar," ucap Bang Reza lagi, dan lagi-lagi tidak ada jawaban dari Mr. J dan kemudian kembali ke luar dari ruangan itu.
"Mau ke mana?" tanya Bang Reza lagi dan tidak ada sahutan dari lawan bicara. Membuat Bang Reza menggelengkan kepalanya karena bingung dengan sikap Mr. J
.
.
"Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang, aku sama sekali tidak memiliki uang sebanyak itu" Aku masih terus menyandarkan kepalaku di bahu Syafa. Aku sudah menceritakan apa yang aku alami sekarang ini, bagaimana kondisi Bang Reza dan juga siapa saja yang menemaniku saat berada di tempat ini.
Syafa yang sore ini datang berkunjung ke rumah sakit, belum sempat ia melihat Bang Reza tapi kini ia harus mendengar ceritaku yang tidak tahu harus bagaimana lagi.
Aku dan Syafa kini tengah duduk di sebuah bangku yang berada di taman dekat ruang perawatan Bang Reza, taman kecil yang setiap pagi biasa dipakai oleh para pasien untuk berjalan-jalan, menguatkan fisik mereka yang tengah menjalani perawatan.
Taman ini hanya memiliki satu bangku kecil yang hanya muat untuk tiga orang saja, di sisi kiri dan kanan tempat ini hanya ditumbuhi oleh pepohonan kerdil yang tumbuh hijau dan berdaun lebat.
"Jika saja aku dan keluargaku bisa membantumu, pasti aku akan meminta Ayah untuk meminjamkan uang kepadamu, tapi sayangnya keuangan keluargaku juga sedang tidak baik" jawab Syafa kemudian menggenggam erat tanganku
Syafa yang awalnya merupakan gadis dari keluarga kaya, kini harus menelan pil pahit dan merasakan bagaimana susahnya hidup serba kekurangan seperti diriku setelah usaha keluarganya bangkrut.
"Kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu, aku sudah sangat berterima kasih karena kamu sudah mau mendengarkan ceritaku, mau berteman denganku lagi setelah apa yang Bang Reza pernah lakukan padamu!" ucapku lagi.
"Aku mengerti, kenapa Kak Reza bersikap seperti itu, jika saja aku berada di posisi Kak Reza mungkin aku juga akan melakukan hal seperti itu"
Aku pun kemudian menarik kepalaku dari bahu Syafa dan duduk dengan tegap di sampingnya.
__ADS_1
"Apa kamu masih menyukai Kakakku?" tanyaku sambil menatapnya, ia tak langsung menjawab tapi dari wajahnya yang kini bersemu merah maka aku bisa menyimpulkan jika apa yang aku tanyakan memiliki jawaban iya.
Tak berselang lama, ia pun mengangguk sambil tersenyum tipis. Aku pun semakin yakin jika sampai saat ini Syafa masih memiliki perasaan yang sama seperti beberapa tahun yang lalu.
Syafa memang menyukai Bang Reza sejak dia masih SMP, tapi sejak saat itu dia tidak pernah mengungkapkannya dan hanya menyimpan semuanya sendirian.
Aku pernah menceritakan hal itu kepada Bang Reza, tapi Bang Reza tidak menjawab iya atau pun tidak. Dia hanya diam sambil tersenyum dan aku tidak tahu senyuman itu senyuman sebagai tanda penolakan atau penerimaan.
"Oh iya, apa besok kamu punya waktu?" lanjutku
"Punya, memangnya kamu mau mengajakku ke mana?" Jawab Syafa
"Temani aku pergi ke Bank, aku ingin mengambil semua tabunganku, mungkin tidak seberapa tapi setidaknya aku memilikinya dan tinggal mencari tambahannya!" jelasku pada Syafa dan ia pun mengerti.
"Kenapa kamu tidak bercerita?" tanya Mr. J tiba-tiba, tepat di belakangku dan juga Syafa. Entah sejak kapan ia berada di sana, apa mungkin di sudah mendengar semua percakapan kami berdua.
Aku dan Syafa menoleh bersamaan dan kemudian kami berdua saling tatap,
"Mr. J," ucap kami berdua bersamaan
"Ayo kembali ke ruang perawatan Reza, tadi dia mencarimu" ucap Mr. J lagi, tanpa menjawab, aku dan Syafa kemudian segera berdiri dan mengikuti langkah Mr. J ke tempat yang ia sebutkan tadi.
"Syafa," ucapnya ketika kami bertiga masuk ke ruangannya.
"Kok yang di sapa cuma Syafa, Bang. Aku dan Mr. J juga di sini, loh" aku menggoda Bang Reza yang kini tengah tersenyum.
Syafa kemudian menyenggol lenganku sambil menundukkan kepalanya, dan kami pun kemudian duduk bersamaan di samping tempat tidur Bang Reza.
"Kak Reza, bagaimana keadaan Kakak sekarang?" tanya Syafa sedikit malu-malu, aku dan Mr. J hanya terdiam menyaksikan dua manusia yang terlihat canggung itu. Bang Reza sendiri juga agak malu. Kali ini Syafa mencoba meyakinkan dirinya untuk berbincang dengan Bang Reza, meski sesaat sebelumnya ia merasakan keraguan apakah Bang Reza mau berbicara dengannya atau tidak
"Alhamdulillah Kakak baik, kamu sendiri bagaimana,?"
"Syafa baik, Kak" Syafa masih menundukkan kepalanya
"Syafa, maafkan Kakak, ya. Selama ini Kakak sering mengintimidasimu, melarangmu untuk bersama dengan Aulia padahal kalian sudah berteman sejak TK."
__ADS_1
"Tidak perlu minta maaf, Kak. Syafa tahu jika Kakak melajukan itu semua karena Kakak ingin melindungi Aulia." Bang Reza pun mengangguk dan kemudian tersenyum kepada gadis berbaju biru dan bercelana hitam itu.
Syafa semakin salah tingkah melihat gelagat Bang Reza, Mr. J kemudian menyenggol kakiku dan memberikan kode kepadaku untuk ke luar dari ruangan itu dan meninggalkan mereka berdua, agar mereka bisa mengobrol berdua. Aku pun hanya mengangguk dan mengikuti Mr. J
Beberapa menit kemudian, Syafa tersadar jika aku dan Mr. J sudah meninggalkannya berdua dengan Bang Reza. Syafa hendak berdiri namun tiba-tiba Bang Reza mencekal tangannya, membuat Syafa terinjak dan semakin gugup.
"Duduklah, kita harus bicara!" Perintah Bang Reza dan Syafa pun kemudian duduk
"Iya, Kak." Syafa menundukkan kepalanya lagi
"Jika sedang berbicara, lihatlah ke arah lawan bicaranya. Jangan menunduk seperti itu" Syafa pun kemudian menaikkan dagunya dan menatap ke arah Bang Reza.
"Nah, seperti itu kan cantik" Rasa gugup yang sedari tadi coba Syafa sembunyikan kini tak lagi dapat ia bendung, wajahnya terlihat berkeringat dan juga semu merah.
.
.
Aku dan Mr. J kini kembali duduk di taman, kami pun juga kembali duduk di bangku itu meski kini jarak duduk kami tidak dekat seperti saat aku duduk denga Syafa.
"Kenapa kamu tidak bercerita padaku, jika Reza harus dioperasi secepatnya?" tanya Mr. J
"Aku tidak ingin merepotkan Mr. J lagi, semua hal yang Mr. J lakukan sekarang sudah lebih dari cukup. Aku tidak mungkin membebani Mr. J dengan hal yang lain!" terangku padanya yang kini menoleh ke arahku.
"Panggil aku Kak Jo, kita sekarang tidak sedang berada di sekolah"
"Kak Jo"
.
.
.
Jangan lupa vote like dan komennya, maaf ya reader semua, otor jarang menyapa, mohon maaf ya akhir-akhir ini sedang sibuk di dunia nyata.
__ADS_1
🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡
Jang pernah bosen untuk mampir di cerita otor yang lain yah .