
"Kenapa kita lewat sini, ini bukan jalan ke rumahku" aku melongok ke arah telinga Kak Jo yang masih fokus pada motornya. Aku menyadari jika ini bukan jalan ke rumah dan aku tidak tahu ini jalan ke mana, dan aku rasa baru kali ini aku melewati jalan ini
"Kita mau ke mana?" lanjutku setengah berteriak
"Sudah diam, jangan berisik!" kata Kak Jo dan aku pun terdiam kemudian, Kak Jo pun menambah laju kendaraannya hingga membuatku mau tak mau harus berpegangan pada jaket yang ia kenakan
Tak berselang lama kami berdua sampai di sebuah restoran, aku sendiri juga tidak tahu kenapa dia membawaku ke tempat ini. Apa dia akan mengajakku makan siang sebelum mengantarkan aku pulang. Entah
Aku kemudian mengikutinya masuk ke dalam tempat itu, tempat yang terlihat begitu mewah meski tempatnya tidak terlalu besar tapi terasa begitu nyaman ketika aku menginjakkan kaki di sana
Untuk beberapa saat aku terpana dengan apa yang aku lihat, aku baru menyadari jika tempat ini adalah restoran bintang lima yang banyak dibicarakan oleh khalayak ramai dan di sini pula makanan yang lagi hit itu di buat, aroma masakan seketika menusuk indera penciumanku dan membuat cacing di dalam perut berdendang riang
Restoran itu siang ini terlihat penuh oleh para pelanggan yang tentunya bukan dari kalangan bawah, di sana juga banyak muda-mudi dan juga anak-anak sebayaku yang kini tengah menikmati makan siang di tempat mahal ini
Aku mematung tepat di pintu masuk untuk beberapa saat, menikmati pemandangan yang tak pernah aku lihat, merasakan iri akan apa yang mereka lakukan. Andai saja aku bisa seperti mereka pasti aku akan sangat bahagia, tapi ya sudahlah, jalan hidup setiap orang berbeda dan tidak patut merasa iri satu sama lain
"Ayo masuk" Kak Jo dengan segera menarik lenganku, membuyarkan lamunan akan hal yang seharusnya tidak aku lamunkan
Dengan segera aku tersadar dan kemudian mengikutinya, dia mengajakku masuk ke dalam sebuah ruangan yang berada di sana
"Kenapa berhenti?" Kak Jo menoleh ketika merasakan tarikan tangannya terasa berat, aku berhenti berjalan dan kemudian mulai berpikir hal yang aneh, kenapa dia tidak memintaku duduk di kursi yang kosong dan malah ingin membawaku masuk ke dalam sebuah ruangan
"Kita mau apa ke sini?" aku tergagap ketika melihat pintu itu, jujur saja aku mulai berpikir hal yang entah aku tidak bisa menjelaskannya
"Kita duduk di sini saja, tidak perlu masuk ke sana" lanjutku sedikit tergagap
Kak Jo mendekat dan kemudian menyentil keningku dengan jarinya, "Jangan berpikir hal yang aneh, aku tidak suka dengan anak kecil!" lanjutnya dan kemudian ia kembali menarikku yang kini tengah mengusap keningku yang terasa sakit. Malu, itu juga yang aku rasakan sekarang
__ADS_1
Aku mengomel tidak jelas, ketika apa yang aku tanyakan tidak mendapatkan jawaban
Ceklek,
Pintu ruangan itu di buka oleh Kak Jo dan di sana sudah ada Bang Reza, Syafa dan juga seorang laki-laki yang entah siapa itu tengah duduk di atas sofa sambil mengobrol
Aku tersenyum lega ketika melihat mereka semua, hal buruk yang aku pikirkan sejak tadi benar-benar memalukan dan kenapa bisa-bisanya aku memikirkan hal konyol itu, ketakutan dan kegelisahan akan Bang Reza dan juga Syafa kini mulai menghilang setelah melihat keduanya baik-baik saja
"Duduklah" perintah Kak Jo dan aku pun kemudian duduk di dekat Syafa, dan dia kemudian pergi melenggang ke sebuah meja diikuti oleh laki-laki yang entah siapa itu namanya
"Aulia" Syafa memelukku erat dan aku pun membalasnya
"Maaf, Kakak tidak bisa menjemputmu tadi dan meminta bantuan dari Jonathan" ucap Bang Reza sembari menatapku dengan tatapan teduhnya
"Tidak apa-apa Bang, tapi lain kali biarkan aku pulang sendiri daripada harus dijemput oleh orang aneh itu!" kataku dengan wajah yang murung dan juga kesal dengan diriku sendiri yang sempat berpikir hal yang entah aku tidak ingin katakan
"Kenapa memangnya, apa dia mengganggumu?" Tanya Syafa dan Bang Reza bersamaan seraya memasang wajah agak panik
Memang, aku belum sepenuhnya memahami Kak Jo. Tapi jika aku memahaminya maka rasa suka ini akan bertambah dan itu akan membuatku bertambah sakit sebab rasa ini tidak akan pernah terbalas dan aku juga tidak ingin rasa sakit ini semakin dalam dan membuatku tidak mampu lagi berpaling
.
.
"Bos, siapa gadis itu?" tanya Dion lirih pada Kak Jo yang kini tengah memeriksa beberapa laporan yang diberikan oleh Dion
Kak Jo menghentikan aktivitasnya dan kemudian menatap ke arah Dion yang duduk tepat di depannya, tatapan tajam dari manik mata yang hitam itu mampu membuat Dion menelan ludahnya kasar
__ADS_1
"Jangan menatapku seperti itu, Bos. Aku hanya ingin tahu namanya" Dion merasa ciut dan kemudian langsung terdiam tidak mau lagi bertanya lebih lanjut sebab ia tahu isyarat apa itu
"Ini!" Kak Jo menyodorkan laporan itu kembali pada Dion karena dia sudah selesai memeriksanya dan membubuhkan tanda tangan dirinya di sana
"Jangan bertanya dia siapa, dia bukan urusanmu!" Lanjut Kak Jo pada Dion yang baru saja akan bertanya lagi tentang diriku, tapi ia mengurungkan niatnya dan kembali menutup mulutnya rapat
Tanpa suara ia pun kemudian mengambil laporan itu dan berjalan ke arah pintu. Namun, sebelum ia membuka pintu ia terlebih dulu menoleh ke arahku
Dia mengangukkan kepalanya sembari tersenyum, aku pun membalas sikap ramahnya. Tapi hal itu disadari oleh Kak Jo dan membuatnya sedikit menaikkan suaranya
"Dion, kembali bekerja!" suara Kak Jo menggema di ruangan itu. Ini pertama kalinya aku mendengar dia mengeluarkan suara lantangnya dan seolah mengisyaratkan hal yang membuatnya tidak suka
Kami bertiga menoleh ke arah sumber suara dan Dion sendiri segera bergegas pergi sebelum Kak Jo menaikkan suaranya kembali, Dion pun pergi secepat kilat
"Huh, menyeramkan" kata Dion seraya mengelus dadanya begitu sampai di luar ruangan itu, dia pun kemudian bergegas pergi ke tempat di mana ia biasa bekerja
.
.
.
halo reader semua, mon maaf ya ini novel lama banget up nya. insyaAllah mulai sekarang bakal aktif lagi dan bakal menyajikan alur cerita yang seru pokoknya. jangan lupa untuk selalu mendukung author ya dengan memberikan like, vote dan juga komennya.
dukung juga di novel author yang lain
_Hati yang terbagi
__ADS_1
_Dendam dan cinta
_Danisa