Teman Kakakku

Teman Kakakku
Kakak Kucing


__ADS_3

"Aku hampir saja bisa melupakannya tapi kenapa dia harus datang lagi"


"Itu berarti kamu belum bisa melupakannya, boleh jadi yang mengatakannya hanya mulut tapi sebenarnya hati masih berharap" Bang Reza mencoba menafsirkan semua yang dikatakan Kak Jo dari sudut pandang yang berbeda, ia tidak ingin merasa bahwa aku sedang dalam permainan yang diciptakan oleh sahabatnya sendiri itu. Tidak dipungkiri ada sekelumit emosi saat Kak Jo mengatakan hal itu, bukankah baru beberapa jam yang lalu ia mengatakan jika ingin mendekatiku tapi kenapa kini hatinya masih terpaut pada masa lalunya


"Aku awalnya memang masih berharap padanya, masih menunggu jawaban dari semua surat dan juga pesanku yang tak pernah ia balas, hingga pada akhirnya aku menemukan adikmu, gadis ceria yang karakternya mirip dengan Ayunda"


"Itu berarti kamu belum bisa move on sebab kamu memandang Aulia sebagai sisi lain dari Ayunda, aku sadar mereka orang yang berbeda tapi kamu menjadikan persamaan karakter mereka berdua sebagai tempat untuk menyembunyikan luka dan juga harapanmu yang tak kunjung terjawab"


Kak Jo kemudian terdiam, memang benar ucapan Bang Reza kali ini. Ia masih menyimpan cinta di masa lalunya tapi kini ia juga terjebak pada kisah hidup yang gagal move on


"Pikirkan semuanya dengan benar, Jo. Ini masalah hati dan juga perasaan yang bisa kamu putuskan dengan cepat. Ingat, pilihanmu sekarang akan menentukan masa depanmu!" Kak Jo mengangguk dan kemudian membenarkan duduknya dan mengajak Bang Reza untuk segera pergi dari sana


...**************...


Aku dan Kak Ayunda kini berada di sebuah rumah panti yang lumayan besar, rumah panti ini dibangun di sebuah lahan yang cukup luas. Memiliki taman bunga dan juga taman bermain sehingga anak-anak pun bisa bermain di sana. Rumah panti yang beberapa saat lalu hanya terlihat kecil dan bercat hijau kini telah berubah menjadi warna ungu


Bangunan bercat ungu itu dibangun oleh seorang donatur yang dermawan kata Kak Ayunda. Di panti itu ada sekitar 25 anak yang memiliki rentang usia yang bervariasi, mulai dari 3 tahun sampai ada yang sudah memasuki sekolah menengah pertama


Di sini, terdapat beberapa ruangan yang memiliki fungsi masing-masing, ada 2 kamar tidur di mana kamar itu untuk memisahkan antara anak laki-laki dan perempuan. Ada sebuah dapur yang terlihat rapi dan memiliki peralatan yang cukup modern yang juga merupakan donasi dari donatur itu, berdekatan dengan dapur terdapat beberapa kamar mandi yang fungsinya untuk masing-masing anak dan juga para pengunjung panti saat mereka di sana


Dan lagi, sebuah ruang tamu yang pasti jangan ditanya bagaimana rupanya. Berbagai jenis mainan berserakan di sana, meski sering dibereskan tapi mainan itu akan berantakan kembali, di sudut ruang tamu terdapat satu set kursi beserta mejanya yang terbuat dari kayu tua dan terlihat masih kokoh

__ADS_1


Ada 5 pengasuh di sana, Kak Ayunda salah satunya. Ia harus menyempatkan diri untuk mengasuh anak-anak di sela-sela waktunya selesai mengajar. Jangan ditanya bagaimana lelahnya dia, tapi satu hal yang mendasarinya melakukan hal iti adalah karena dia sendiri merupakan seorang yatim piatu


Sejak kecil ia sudah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, kesakitan dan juga penderitaan sewaktu ia kecil lah yang membuatnya punya tekad kuat untuk tidak membiarkan anak-anak terlantar dan kekurangan. Hal itu juga yang mendasarinya untuk memilih anak-anak daripada cintanya terlebih lagi ia sadar jika dirinya adalah orang rendahan dan orang yang ia cintai adalah seorang milyader


Ia tahu pendidikan yang ia kenyam saat ini memang cukup tinggi, ia merupakan lulusan terbaik dari universitas ternama di Amerika tapi hal itu tidak membuatnya yakin akan cintanya dan ia lebih memilih untuk menjauh dan merawat anak-anak, ia tidak lagi peduli meski kadang sakit ia rasakan tapi satu hal yang pasti jika memang jodoh pasti akan bersama


"Ayo masuk" ajak Kak Ayunda padaku, aku yang kini masih memakai baju sekolah pun kemudian berjalan mengikutinya dan langsung masuk ke ruang tamu


Di sana aku melihat betapa anak-anak menyayangi Kak Ayunda, ketika Kak Ayunda masuk mereka semua kemudian menghentikan aktivitasnya dan menghambur memeluknya secara bersamaan, ada rasa haru menyeruak dihatiku, aku kemudian kembali mengingat jika aku sendiri saat ini juga merupakan seorang yatim piatu


Kemudian dari arah dapur datanglah 4 orang yang berbeda usia. Satu di antaranya sudah cukup tua dan yang 3 lagi masih seumuran dengan Kak Ayunda. Mereka mendekat dan memperkenalkan diri mereka masing-masing, mereka semua terlihat bersahabat dan juga sangat ramah


"Selamat datang, perkenalkan nama saya Irah, biasa dipanggil Mak Irah" kata wanita berumur itu, aku menjabat tangannya dan kemudian menyebutkan namaku


"Saya Anis"


"Saya Arum" mereka semua memperkenalkan diri mereka padaku dan aku pun juga sebaliknya


Kak Ayunda yang telaten pun kemudian memeluknya satu per satu dan setelahnya memperkenalkan aku yang kini masih mematung di sampingnya


"Anak-anak, hari ini kita kedatangan seorang kakak baru, namanya Kak Aulia. Ayo beri salam untuk Kak Aulia"

__ADS_1


"Halo kak Aulia" ucap mereka serentak sambil melambaikan tangannya


"Halo semuanya" balasku sambil melambaikan tanganku juga


"Apa kakak juga ikut tinggal di sini?" tanya salah satu di antara mereka


Kak Ayunda menoleh ke arahku dan kemudian tersenyum, aku pun menjelaskan pada mereka jika aku hanya mampir dan belum ada niat untuk menginap di sini. Ada raut kekecewaan di wajahnya mereka tapi Kak Ayunda segera memberinya alasan dan ajaibnya mereka pun tidak lagi terlihat kecewa


"Mak Irah, di mana Nuna?" Tanya Kak Ayunda kemudian, kami semua pun kini sudah berjalan ke arah dapur untuk menyelesaikan kegiatan memasak yang sempat tertunda tadi


"Masih tidur, Neng" jawab Mak Irah, tak berselang lama tangis pun terdengar, bisa dipastikan jika itu adalah Nuna


"Aulia, ayo" ajak Kak Ayunda menuju ke sebuah ruangan yang menjadi sumber tangisan itu. Aku menurut dan mengikutinya menuju ke sebuah kamar yang penuh dengan ranjang di sisi kanan dan kiri, hanya ada sisa beberapa senti di tengah-tengahnya


Di sana terlihat Nuna yang tengah menangis di atas kasur, ia merengek sebab tak menemukan seorang pun saat ia bangun


"Sayangnya Kak Ayu udah bangun, cup jangan nangis ya cantik" Kak Ayunda menggendongnya sambil sesekali mengusap punggungnya, tak berselang lama Nuna pun berhenti menangis


"Nah, gitu kan cantik. Oh iya, coba Nuna lihat yang berdiri di sana itu siapa?" Tunjuk Kak Ayunda padaku yang kini masih berdiri di samping pintu


Nuna mengusap sisa air matanya dan kemudian menatap ke arahku yang kini tersenyum padanya

__ADS_1


"Kakak kucing" ucapnya ceria


__ADS_2