Teman Kakakku

Teman Kakakku
Inisial HR


__ADS_3

Aku kemudian masuk ke dalam kamarku dan kemudian membuka sebuah lemari yang berada di samping ranjangku,


Kuambil sebuah kotak kecil berwarna coklat itu, kotak yang aku selipkan di antara baju-baju milikku yang aku susun rapi di dalam lemari.


Kubuka kotak itu dan kemudian aku kembali teringat saat di mana Ayah dan Ibuku memberikan cincin itu,


Tiba-tiba saja air mataku menetes, entah dari mana datangnya. Membasahi pipiku yang semula kering kini menjadi berair


Aku tidak ingin berlama-lama mengenang masa itu, masa tersulit selama hidupku yang pernah kualami.


"Ini, Bang!" aku menyerahkan kotak itu kepada Bang Reza, ia menerimanya dan lalu membukanya.


Terlihat di sana, Bang Reza juga mulai merasakan hal yang sama, seperti yang aku rasakan. Air matanya tertahan di ujung matanya dan ia berusaha agar benda itu tidak lolos dan tetap di sana.


Bang Reza dengan saksama melihat benda yang kini berada di genggamannya, sepasang cincin emas, yang masing-masing memiliki inisial 'HR ' yang entah apa artinya itu.


Cincin itu memang terlihat tidak begitu mewah dan juga mengkilap karena usianya yang sudah lama, tapi setidaknya cincin itu memiliki makna tersendiri karena benda itu merupakan benda peninggalan dari keluargaku.


Sampai sekarang aku tidak tahu apa maksud dari simbol HR itu, sedangkan kedua orang tuaku sendiri tidak berinisial HR atau mungkin itu adalah inisial dari tetua seperti apa yang pernah Ibu katakan padaku mengenai asal-usul cincin tersebut.


"Maaf ya, Aulia. Abang memakai cincin ini terlebih dahulu" ucap Bang Reza kemudian menutup kotak itu


Aku yang duduk di sebelahnya hanya tersenyum dan merasa bahagia, "Jangan meminta maaf, Bang. Bukankah Ayah dan Ibu pernah bilang, siapa pun di antara kita berdua yang terlebih dahulu menikah atau bertunangan maka cincin itu pula yang harus dipakai"


"Iya, memang benar. Tapi ...." Bang Reza tidak melanjutkan kalimatnya


"Tapi apa, Bang?" tanyaku penasaran


"Ah, tidak, bukan apa-apa, tidak perlu dipikirkan!"


"Oh, tidak perlu memikirkan hal yang tidak perlu, yang paling penting sekarang adalah Bang Reza mampu membuktikan cinta Bang Reza pada Syafa dan juga memenuhi syarat dari Om Burhan" lanjutku meyakinkan Bang Reza yang entah kenapa tampak gelisah dan ragu-ragu

__ADS_1


"Iya, terima kasih, kamu memang paling mengerti Abang" Bang Reza memelukku dan aku pun membalas pelukannya.


...*********...


Seorang wanita berbaju merah sebatas lutut, dan berlengan pendek itu tengah berjalan ke arah restoran Kak Jo


Sambil sesekali berkaca, membenarkan dan mempertebal riasan di wajahnya.


"Selamat datang, silakan masuk!" Ucap seorang penjaga yang membukakan pintu untuk wanita itu


Wanita itu kemudian duduk dan mengambil sebuah ponsel yang ia simpan di dalam tas kecil yang selalu ia bawa, tas merek ternama, berwarna merah menyala yang terlihat mewah dan pasti harganya tidak murah.


"Aku berada di restoranmu, Jo" ucapnya singkat lalu menutup panggilan teleponnya.


Tak lama kemudian Kak Jo ke luar dari ruangannya dan meminta wanita itu masuk. Ia sengaja mengajaknya ke ruangan miliknya, karena ia tahu jika setiap bertemu orang itu maka akan berujung ke hal yang tidak mengenakkan.


Dan demi menghindari keadaan yang kurang kondusif itu maka dengan terpaksa Kak Jo membawanya masuk ke dalam ruang miliknya


"Kenapa, Jo. Bukankah kita akan menikah sebentar lagi, apa kamu tidak ingin bersama dengan calon istrimu?" tanya wanita itu


"Catherine, stop. Sudah berulang kali aku mengatakan, aku tidak akan menikah denganmu, aku tidak menyukaimu!"


Catherine berdiri dari duduknya, mencoba mendekatkan dirinya ke arah Kak Jo yang kini berdiri di depan jendela sambil menyilangkan kedua tangganya di dada.


"Jangan mendekat, tetaplah duduk di sana atau aku akan mengusirmu!" lanjut Kak Jo dan Catherine pun akhirnya kembali duduk


"Aku mencintaimu, Jo. Sejak awal aku mencintaimu, apa itu kurang cukup bagimu?" Lanjut Catherine sembari berwajah memelas,


Tapi Kak Jo tidak terpengaruh sedikit pun, ia sudah tahu bagaimana sifat asli dari wanita itu. Wanita yang selama ini mengejarnya karena ia tahu bahwa adalah pewaris tunggal dari keluarga Wibisono.


Kedekatan mereka memang sudah direncanakan, itu semua karena Pak Wibisono dan juga Pak Lukman, Ayah dari Catherine merupakan teman bisnis dan kemudian menjodohkan mereka berdua.

__ADS_1


"Tapi aku tidak mencintaimu, aku mencintai wanita lain" tegas Kak Jo mencoba


"Siapa?" tanya Catherine kemudian


"Kamu tidak mengenalnya, tapi satu yang pasti, dia lebih baik dari dirimu!"


"Lebih baik katamu?" Catherine terlihat emosi ketika ia dibandingkan dengan wanita lain, seumur hidupnya ia tidak pernah diperlakukan seperti itu.


Ia selalu menjadi yang terbaik dan mendapatkan semua yang ia inginkan.


"Iya" jawab Kak Jo singkat.


"Apa kamu masih mengharapkannya, mengharapkan si Ayunda, gadis lemah dan juga miskin itu" tanya Catherine sinis


Ayunda merupakan cinta pertama Kak Jo, dia bukan berasal dari keluarga kaya seperti yang diharapkan oleh keluarganya, dia hanya seorang yatim piatu yang kini tinggal di panti asuhan.


Meskipun begitu, Ayunda merupakan wanita yang cantik dan juga cerdas, buktinya sekarang ia masih berkuliah karena beasiswa yang ia dapatkan


Kedekatan mereka berdua berawal dari pertemuan saat keluarga Wibisono menyumbang ke panti asuhan itu, sejak saat itulah mereka berdua sering bertemu.


Tetapi, setelah beberapa bulan bertemu dan semakin dekat, keduanya harus berpisah karena Pak Wibisono tidak menyetujui hubungan itu, awalnya Kak Jo membantah tapi pada akhirnya menyerah karena Pak Wibisono mengancam jika mereka masih berhubungan maka Pak Wibisono akan menghancurkan panti asuhan itu.


Ancaman itu bukan hanya omong kosong, ketika Kak Jo masih nekat berhubungan dengan wanita itu dan Pak Wibisono tahu, panti asuhan itu sempat dihancurkan dan membuat penghuninya tidak memiliki tempat tinggal tapi setelah Kak Jo menjauh maka panti itu dibangun kembali.


"Jangan menghinanya, dia memang lemah, dan karena itu aku akan melindunginya, dan satu hal lagi meski dia miskin tapi setidaknya dia tidak haus harta sepertimu!" Kak Jo juga tampak emosi tapi mencoba meredakannya agar tidak lepas kendali


"Haus harta katamu, hanya wanita munafik yang tidak menginginkan harta, Jo!"


"Cukup, ke luar dari sini sebelum aku berbuat kasar kepadamu. Pintunya masih di tempat yang sama!" tunjuk Kak Jo pada pintu ruangannya


Catherine pun yang merasa emosi langsung berdiri, " Kita lihat saja, aku atau Ayunda yang akan menang" lanjutnya sambil membuka pintu

__ADS_1


"Jangan macam-macam, atau kamu akan tahu akibatnya!" Kak Jo terlihat frustrasi, ia duduk kembali di kursinya sambil mengacak rambutnya. Ia sengaja tidak menyusul Catherine karena ia tahu wanita itu akan semakin menjadi.


__ADS_2