
"Selamat pagi semuanya, mari kita mulai pelajaran hari ini" setelah meletakkan buku di atas mejanya Mr. J kemudian memulai pelajaran pertama hari ini, dengan telaten ia mulai menjelaskan pelajaran matematika.
Pelajaran paling horor dan juga angker yang aku rasakan, aku merasa sedikit frustrasi ketika memulai pelajaran ini, tapi beruntungnya, Guru yang mengajar begitu sedap dipandang sehingga membuatku sedikit memahaminya.
Aku kemudian mulai mengingat hal apa saja yang aku lalui dengannya, mulai dari perhatiannya hingga kesigapannya di setiap kesulitan yang aku hadapi.
Senyum terukir di bibirku sambil terus menatap seorang Guru yang kini tengah menggoreskan warna hitam di atas papan tulis putih itu.
"Eh, Aulia. Berhenti senyum-senyum sendiri, lama-lama bisa kering itu gigi" Syafa menempelkan buku miliknya tepat di depan mulutku
Aku menoleh ke arahnya dengan tatapan yang tajam, "Dasar, perusak kebahagiaan orang!" lanjutku kemudian aku dan Syafa tertawa cekikikan sambil bersembunyi di balik buku milik Syafa.
Pelajaran pun usai, Mr. J tidak langsung ke luar dari kelas seperti biasa tapi ia kembali berdiri di depan papan tulis itu.
"Mohon perhatian semua," semuanya terdiam dan langsung menatap ke arah sumber suara,
"Hari ini adalah hari terakhir saya mengajar kalian semua, karena Mr. Doris sudah kembali sehat dan sehubungan dengan itu, saya sebagai Guru pengganti sementara, mulai hari ini tidak bisa mengajar kalian. Maaf jika selama saya di sini membuat kalian tidak nyaman dengan segala cara saya mengajar maupun sikap saya" jelas Mr. J, namun mendapat penolakan dari seluruh murid yang berada di kelas ini.
Aku yang mendengarkannya merasa terkejut, aku tidak jika hari ini adalah hari terakhir aku melihatnya di depan kelas. Ya, meskipun di luar sana aku masih bisa bertemu dengannya.
"Jangan pergi, Mr. J. Aku tak berdaya tanpa dirimu!" Ucap seorang siswi dan langsung diserbu dan mendapat sorakan riuh oleh yang lainnya.
"Iya, Mr. J"
"Iya, jangan pergi. Kami lebih suka jika yang mengajar matematika adalah Mr. J" sahut yang lainnya bergantian.
Aku tidak mengemukakan pendapat seperti yang lainnya, karena aku sudah berjanji padanya, meskipun kita mengenal lebih dari seorang Guru dan murid tapi jangan sampai melampaui batas ketika kita sedang berada di dalam kelas.
Dan Mr. J juga pernah meminta padaku, jangan terlalu dekat dengannya saat berada di lingkungan sekolah agar tidak menimbulkan hal yang tidak diinginkan. Aku mengiyakannya
__ADS_1
Wajahku yang semula semringah kini berubah menjadi cemberut ketika mendengar hal itu,
"Jangan terlalu sedih, bukankah kamu bisa menemuinya kapan pun kamu mau?" Syafa mencoba menghiburku yang kini merasa sedikit kecewa.
"Aku doakan semoga Mr. Doris kembali sakit dan Mr. J kembali lagi mengajar di sini" ucapku lirih berbisik di telinga Syafa.
"Jangan gila kamu," dan kami pun kembali tertawa cekikikan.
"Terima kasih kalian semua sudah mau menerima saya, tapi maaf, saya di sini hanya sebagai Guru pengganti dan harus pergi setelah Guru yang asli sudah kembali. Belajarlah dengan rajin, ingat sebentar lagi kalian akan lulus dan kalian harus bisa lulus dengan nilai yang memuaskan!" lanjut Mr. J kemudian berlalu pergi dari kelas,
Ada rasa tidak rela, bukan hanya dariku tapi dari mereka semua. Karena jujur saja, selama Mr. J mengajar di kelas horor ini, nilai dari semua siswa sudah ada peningkatan dan kami semua menjadi lebih tertib dari biasanya.
Tapi semuanya harus tetap berjalan, rasa tidak rela itu harus kami biasakan karena sejak awal kita tahu jika Mr. J hanya pengganti dari Mr. Doris. Dan ketika Mr. Doris sebuah maka Mr. J pun harus pergi.
...****...
Siang ini Ayah Syafa tiba-tiba menghubungi Bang Reza dan meminta untuk bertemu. Dan setelahnya mereka sepakat untuk bertemu di sebuah kafe kecil yang berada tidak jauh dari rumah kami.
Kafe mini malis yang bercat warna coklat dan, berdinding kaca dan berada tepat di persimpangan jalan raya.
Mereka berdua duduk saling berhadapan, di depan mereka sudah tersaji dua gelas jus jeruk yang tadi sudah dipesan oleh Pak Burhan.
"Siang, Reza. Alhamdulillah Om baik, kamu sendiri bagaimana, apa sudah pulih?" basa-basi Om Burhan pada Bang Reza
"Alhamdulillah, Om. Saya sudah pulih. Oh ya, apa ada hal yang penting sampai-sampai Om meminta saya menemui Om?" tanya Bang Reza kemudian
Pak Burhan membenarkan posisi duduknya, laki-laki yang memakai setelan baju kantor itu menggeser duduknya mendekat ke arah Bang Reza.
"Apa kamu benar-benar menyukainya Syafa?" tanyanya langsung tanpa basa-basi
__ADS_1
Bang Reza sedikit terkejut, ia tidak mengira jika pada akhirnya Pak Burhan mengetahui hubungannya dengan Syafa, ada kepanikan tersendiri di hati Bang Reza karena ia tahu jika Syafa sebenarnya tidak diperbolehkan berpacaran sebelum lulus sekolah
"Tidak perlu gugup seperti itu, Om sudah tahu semuanya" lanjut Pak Burhan dengan santainya, dan dari situlah Bang Reza merasa sedikit lega.
Ia sudah berpikir yang tidak-tidak sebelumnya, ia sempat berpikir jika Pak Burhan akan marah dan memintanya untuk meninggalkan Syafa.
"I-iya, Om" jawab Bang Reza gagap
Pak Burhan malah tertawa, " Tidak perlu takut, Om merestui kalian"
Jawaban dari Pak Burhan benar-benar membuat Bang Reza seperti terbang, hal mustahil yang ia pikirkan kini menjadi kenyataan dan pada akhirnya berakhir dengan hal yang membahagiakan.
"Maksud, Om?" Bang Reza memastikan
"Iya, Om merestui kalian. Walaupun pada awalnya, Om memang melarang Syafa untuk berpacaran sebelum dia lulus sekolah, tapi setelah Om tahu dia berpacaran dengan kamu, Om tidak keberatan karena Om tahu kamu anaknya seperti apa, terlebih lagi kita sudah dekat sejak lama, bukan?" Lanjut Pak Burhan panjang lebar,
Bang Reza semakin merasa lega, beban di hatinya sudah hilang dan sirna setelah mendengar penjelasan dari Pak Burhan, akhirnya cinta yang ia perjuangkan selama ini terwujud dan bahkan sudah mendapatkan restu.
"Terima kasih, Om. Saya berjanji akan menjaga Syafa dengan baik!" Bang Reza memeluk Pak Burhan karena saking semangatnya, Pak Burhan pun membalas pelukan itu tapi dengan raut wajah yang berbeda, antara senang dan sinis.
"Sama-sama, tapi ada satu syarat yang harus kamu penuhi jika memang kamu benar-benar menyukai putri Om"
"Syarat, syarat apa Om?" Bang Reza kini kembali terlihat bingung
"Jika kamu memang benar serius dengan Syafa, maka kalian harus bertunangan secepatnya," Pak Burhan menyebutkan syaratnya.
Bang Reza kembali terkejut untuk yang ke sekian kalinya. Ia tidak mengira jika di balik kesanggupan Pak Burhan mengizinkan putrinya untuk berpacaran memiliki sebuah syarat yang harus ia penuhi,
Ia tahu syarat itu adalah pembuktian keseriusan cintanya, tapi bukanlah itu terlalu terburu-buru, toh Syafa sendiri juga masih sekolah. Apa kata mereka semua ketika tahu hal ini, dan apa pihak sekolah akan mendiamkannya.
__ADS_1