Teman Kakakku

Teman Kakakku
Jonathan, aku merindukanmu


__ADS_3

kami berdua pun berjalan ke arah sebuah bangku yang terdapat di bawah pohon yang sangat besar, daun yang lebat dan di sana juga banyak orang yang berjajar menyelonjorkan kaki mereka sehabis berlari dan melakukan olahraga yang lain


"Kenapa kita duduk, Bang. Bukankah kita ke tempat ini untuk berolahraga?" aku menatap Bang Reza yang kini malah memainkan ponselnya tanpa menoleh ke arahku sedikit pun. Tidak ada jawaban dari Bang Reza, ia malah celingukan sembari tersenyum. Seolah sedang mencari seseorang


"Bang!" aku menepuk bahunya karena apa yang aku tanyakan tidak ia jawab dan malah melakukan aktivitas lain


"Apa?" lanjutnya santai seolah tanpa dosa


"Kenapa kita malah duduk di sini, kita ke sini mau olahraga apa duduk sih, tahu begini Aulia tadi enggak bangun pagi-pagi buta" gerutuku sembari memasang wajah masam dan juga cemberut


"Iya, bentar lagi. Sabar ya" jawabnya masih terus menatap layar ponselnya


"Ya udah"


Tiga puluh menit berlalu, aku masih berada di samping Bang Reza dan tidak berani beranjak sejengkal pun. Aku juga tidak tahu kata sebentar lagi yang diucapkan oleh Bang Reza akan menjadi selama ini. Aku tidak tahu apa yang ia tunggu karena ia masih sama fokus pada ponselnya dan tidak memperhatikan aku sedikit pun. Kesal dan bosan, itu yang kini aku rasakan.


"Maaf, membuat kalian menunggu lama" suara itu terdengar jelas di telingaku, aku menoleh ke sumber suara dan di sana sudah ada Syafa dan juga Kak Jo. Entah sejak kapan mereka sampai di tempat ini tapi yang pasti kini mereka sudah ada di belakangku.


"Maaf, kami pergi dulu!" Bang Reza kemudian menggandeng tangan Syafa dan meninggalkan aku bersama Kak Jo. Keduanya lalu pergi ke tempat di mana sepeda kami berada dan segera menaikinya


Keduanya terlihat begitu bahagia, wajah keduanya memancarkan aura cinta yang tak bisa dikalahkan oleh siapa pun


"Jadi aku diajak ke tempat ini hanya untuk melihat mereka berduaan, benar-benar kakak tidak punya hati" gumamku sambil terus melihat aktivitas mereka. Kak Jo yang kini duduk di sampingku hanya tersenyum sambil terus melihat keadaan sekeliling

__ADS_1


"Apa kamu juga ingin seperti mereka?" lanjutnya bertanya padaku, aku menggeleng


"Kenapa?" aku masih diam dan Kak Jo pun mendekatkan wajahnya ke wajahku yang kini masih cemberut. Sontak aku memundurkan tubuhku dan tanpa di duga aku pun terjungkal dan kini terjatuh tepat di bawah bangku


Banyak mata yang melihat kejadian itu, tidak sakit memang tapi malunya itu loh tiada duanya, mereka semua tertawa sembari menunjuk ke arahku. Bisa-bisanya aku terjatuh hanya karena Kak Jo mendekat ke arahku, benar-benar tidak bisa dimengerti. Kenapa juga rasa gugup dan juga grogi selalu mendominasiku saat aku dekat dengannya, apa begitu besarnya rasa sukaku padanya sehingga aku lupa bahwa aku hanya dianggap adiknya. Menyebalkan sekali


Aku berdiri sambil merutuki diriku sendiri, membenarkan setelan baju yang aku pakai dan juga membersihkan rumput kering yang kini menempel pada celanaku


"Mana yang sakit?" Kak Jo mendekat dan membolak-balikkan tubuhku, aku menggeleng sembari merasakan malu yang tak berujung


"Ya sudah, ayo!" ajaknya padaku sembari menggandeng tanganku, ya elah di gandeng doang rasanya enggak karuan apalagi kalau diajak kencan pasti pingsan mendadak


"Ke mana?"


"Ke KUA" jawabnya asal tapi mampu membuatku hampir pingsan betulan, lemas rasanya kakiku seakan otot dan juga tulangku luluh lantah


"Apa yang Kak Jo lakukan" ucapku yang kini sudah berada di punggungnya


"Jangan cerewet, kamu semakin berat jika terus bicara" lanjutnya dan kemudian terus berjalan entah ke mana


...**************...


"Jonathan!" teriak seorang wanita berbaju merah muda itu, ia sudah berulang kali mengetuk pintu rumah Kak Jo tapi tidak ada sahutan dari sang empunya rumah

__ADS_1


Dia mengambil ponselnya dan kemudian menghubungi Kak Jo tapi sekali lagi ia kecewa, Kak Jo tidak mengangkat panggilan atau pun pesan yang ia kirimkan. Ia memutuskan untuk menunggu Kak Jo di teras rumah mini malis itu


Lima belas menit berlalu, aku dan Kak Jo sudah sampai di sebuah rumah mini malis dengan cat warna coklat, di depan rumah itu terdapat sebuah pagar besi yang tidak terlalu tinggi, di halaman rumah itu terdapat sebuah pohon yang cukup rimbun daunnya meskipun tidak terlalu tinggi


Di sana juga terparkir dua buah mobil yang salah satunya aku pun sudah hafal jika itu adalah mobil Kak Jo yang kala itu dipakai untuk mengantarkan Bang Reza melamar Syafa dan dari situ pula aku bisa menyimpulkan jika ini adalah rumah Kak Jo


"Ini rumah siapa, Kak?" aku memastikan apa yang aku pikirkan


"Ini rumahku, ayo masuk" ajaknya


Tapi aku masih diam di luar pagar, aku tidak tahu kenapa dia membawaku ke sini. Aku segera menyadarkan otakku yang kini mulai berpikir hal aneh, aku harus segera menepisnya agar kejadian memalukan tidak lagi menghampiriku


"Ayo masuk!" ajaknya lagi dan aku pun segera mengikutinya. Kuamati sekitar pelataran rumah itu, bersih dan juga rapi


Kak Jo tiba-tiba mendadak menghentikan langkahnya ketika mendapati seorang wanita berambut panjang dan berbaju merah muda tengah duduk di sebuah kursi depan rumahnya. Wanita itu masih belum menyadari jika Kak Jo dan aku sudah berada di dekatnya, ia masih sibuk dengan ponselnya sepertinya tengah menghubungi seseorang, aku pun juga menyadari hal tersebut


"Apa pun yang dia katakan dan lakukan nanti, jangan pernah kamu menganggapnya serius!" ucapnya setelah membalikkan badannya. Aku hanya mengangguk dan tanpa menjelaskan apa maksud dari perkataannya


Kami berdua pun segera berjalan ke arah wanita itu yang kini sepertinya telah menyadari kehadiran kami. Ia berdiri sembari membenarkan baju yang ia pakai dan tersenyum cantik ke arah Kak Jo.


Wanita cantik itu segera melangkah ke arah Kak Jo dan kemudian memeluknya, "Jonathan, aku merindukanmu!" lanjutnya kemudian


Aku yang berada tepat di belakangnya hanya bisa menelan sebuah kenyataan pahit, lagi dan lagi baru saja aku bahagia bisa bersama Kak Jo sekarang harus melihat dirinya dipeluk oleh wanita lain yang tentunya lebih cantik dan lebih segalanya dari diriku yang hanya anak SMA ini, banyak pertanyaan terus berputar di otakku, siapakah wanita itu, apakah hubungan mereka berdua dan masih banyak lagi

__ADS_1


Kak Jo memberontak dan terus berusaha melepaskan pelukan itu hingga pada akhirnya pelukan itu pun terlepas. Sang wanita hanya bisa merajuk ketika Kak Jo memintanya melepaskan tubuhnya tapi tak mengurungkan niatnya untuk terus menempel pada Kak Jo


Kini dia pun bergelayut manja di lengan Kak Jo meskipun berulang kali Kak Jo melarangnya tapi ia tidak beringsut sedikit pun, sesekali matanya melirik ke arahku dan aku pun hanya bisa menghindari tatapan tajam itu sebab jujur saja aku takut


__ADS_2