
Sedangkan Kak Jo sendiri kini ia mengendarai motornya gede miliknya dan menuju ke sebuah tempat
Dengan kecepatan yang cukup tinggi ia membelah keramaian dan padatnya kendaraan yang berjajar rapi di sepanjang jalan, ia terus membunyikan klakson motornya sehingga membuat para pengendara yang lain merasa risih dan juga terganggu
"Hey, bisa diam tidak!" hardik salah seorang pengendara mobil warna hitam itu, ia menyembulkan kepalanya lewat jendela mobilnya sembari mengangkat tangannya, tapi Kak Jo yang kini masih tersulut emosi terus saja membunyikan klaksonnya seolah tidak mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh laki-laki berambut ikal itu
Tak lama berselang, salah seorang yang juga merupakan seorang sopir turun dari mobilnya, dengan raut wajah marah ia pun menghampiri Kak Jo yang masih bertengger di atas motornya
"Tolong hentikan tingkahmu, kami semua di sini juga bosan menunggu kemacetan ini, anak muda!" ucapnya pelan namun begitu menekan di setiap kata-katanya
Kak Jo tidak menanggapinya, ia justru berlalu begitu saja ketika ia melihat ada sela-sela jalan yang lenggang. Ia tidak berpikir panjang, ia juga tidak mampu berpikir logis apakah perbuatannya ini benar atau tidak. Sikap Kak Jo kali ini benar-benar sudah di luar kendalinya, ia yang biasanya akan bersikap ramah dan juga menghormati yang lebih tua tapi entah kenapa saat ini ia malah sebaliknya
"Dasar anak muda jaman sekarang, jika sedang putus cinta tidak usah ke luar rumah. Menyusahkan orang lain saja!" teriak sopir itu dan kemudian kembali ke dalam mobilnya dan melaju karena lampu sudah berbah warna
Kak Jo kini tiba di sebuah apartemen mewah yang menjulang tinggi, ia memarkirkan motornya dan kemudian segera masuk ke dalam dan menuju ke sebuah lift. Kak Jo memencet sebuah nomor dan tak berselang lama ia pun sampai di sana. Tanpa aba-aba ia mengetuk pintu kamar apartemen itu dengan rasa yang tidak sabar
"Catherine, buka pintunya!" teriaknya sembari memukul pintu
Tak lama kemudian sang pemilik kamar pun muncul, ia sedikit terkejut karena mendapati sang pujaan hati yang datang tanpa pemberitahuan sebelumnya
"Jonathan, sayang. Ayo masuk!" ucapnya sumringah sembari menggandeng lengan Kak Jo tapi dengan segera Kak Jo melepaskan tangannya dari Catherine
"Ganti bajumu dan ikut aku!" Kak Jo masih berdiri di ambang pintu dan tak berniat masuk
"Ke mana, apa kita akan kencan hari ini?" Catherine masih terus tersenyum sembari berusaha meraih tangan Kak Jo tapi Kak Jo sendiri masih terus berusaha menghindarinya
"Lepaskan, cepat ganti bajumu dan ikut aku. Ingat, jangan memakai baju kurang bahan seperti itu kita akan naik motor!" Tunjuk Kak Jo pada gaun yang dipakai Catherine saat ini, memang benar-benar kurang bahan. Gaun berwarna hitam dengan tali yang hanya se senti lebarnya menunjukkan belahan dadanya dan juga tingginya hampir separuh dari pahanya
"Kenapa harus naik motor, Jo. Ke mana mobilmu?" omel Catherine sembari berlalu mengganti bajunya, Kak Jo sendiri kini lebih memilih duduk di luar dan menunggu di sebuah kursi tunggu yang berada di depan kamar apartemen itu
Dua menit berlalu, Catherine pun ke luar dari kamarnya dan menghampiri Kak Jo yang kini tengah memainkan ponselnya.
"Apa aku cantik, Jo?" Catherine memutar badannya tepat di depan Kak Jo tapi Kak Jo tidak menyahutinya ia hanya menatap sekilas Catherine yang kali ini memakai celana panjang dan juga kaos menerawang yang ia balut dengan jaket
Kak Jo berdiri dan berjalan mendahului Catherine yang kini memasang raut wajah masam karena seklai lagi ia tak mendapatkan pujian atau apa pun dari orang yang ia puja
Mereka berdua kini sudah berada di atas motor, Kak Jo melajukan motornya dengan kecepatan yang sedang membuat Catherine berteriak dan mengomel sesuka hatinya, ia merasa takut karena Jonathan kali ini tidak seperti biasanya
"Jonathan, apa kamu gila. Perlambat laju motormu!" teriak Catherine tapi tak digubris oleh Kak Jo
...************...
Aku baru saja selesai mandi dan kemudian bergegas untuk mencuci peralatan kotor di dapur, acara makan siang tadi menyisakan beberapa gelas dan piring kotor. Aku dan Syafa tadi siang juga mendapatkan ilmu yang selama ini belum kami berdua ketahui, dengan eksklusif Bang Reza mengajari kami berdua beberapa menu yang biasa ia masak di restoran milik Kak Jo
"Akhirnya selesai juga" ucapku sembari mengelap tangan yang basah pada sebuah kain yang menggantung di tembok, setelahnya aku kemudian beranjak ke ruang tamu dan menyalakan televisi untuk mengisi kesendirianku saat ini dikarenakan Bang Reza yang sampai saat ini belum pulang dari mengantar Syafa
Kuambil remot yang berada di atas meja samping tv dan kemudian mendapati ponselku yang kini tengah berbunyi, kulihat dan kubaca pesan di sana ternyata itu dari Bang Reza yang mengatakan jika dirinya akan pulang terlambat karena mampir ke suatu tempat
Aku membalas pesan itu dan kemudian meletakkan kembali ponselku di sana, belum sempat aku duduk , aku sudah mendengar pintu rumahku diketuk oleh seseorang
"Assalamualaikum" ucap seseorang di luar pintu
"Waalaikumsalam" jawabku kemudian berjalan ke arah pintu, kubuka pintu itu dan tampaklah Kak Jo dan juga seorang wanita yang sepertinya aku pernah melihatnya. Kulihat sekali lagi wanita itu dan benar saja wanita itu adalah wanita yang tadi pagi aku temui di rumah Kak Jo, wangi parfum dari tubuh wanita cantik itu menguar tepat di depan indera penciumanku
__ADS_1
Wanita itu menatapku dengan tatapan yang aneh, tidak bisa aku artikan apa artinya, apakah ia benci atau ia jengah, entah aku tidak tahu dan Kak Jo sendiri mentapaku dengan tatapan yang sama seperti biasanya sembari menyunggingkan senyumnya yang manis
"Ini maksudnya apa?" Tanya wanita itu seraya memerhatikan sekeliling rumahku
"Maaf, mari masuk dulu , kita bicara di dalam" ajakku mempersilakan, Kak Jo hendak melangkah masuk tapi langsung dicegah oleh wanita itu
"Tidak perlu, kita bisa bicara di luar!" kata Catherine
"Tapi kan di luar tidak ada kursi"
"Kita bisa berbicara sambil berdiri!" terangnya lagi dengan nada yang sinis
"Oh ya, Jo. Apa yang sebenarnya kamu inginkan, kenapa membawaku ke tempat seperti ini, dan apa hubungannya dengan wanita ini?" Tunjuk wanita itu tepat di depan mataku dengan kuku jarinya yang panjang dan bercat merah itu
"Aku memintamu datang ke tempat ini karena aku ingin mengatakan hal yang penting, hal yang harus kamu ketahui dan harus kamu ingat!" terang Kak Jo kemudian
"Hal apa, Jo. Bukankah hal yang paling penting adalah hubungan kita berdua?" jawabnya sembari menyilangkan kedua tangannya di dada seraya mentapaku sinis. Aku yang mendapatkan tatapan itu langsung menundukkan wajahku
"Jangan pernah membahas hal itu lagi, mulai sekarang kamu harus jauh-jauh dariku karena aku sudah memiliki kekasih!" Jawab Kak Jo sembari merangkul pundakku, aku yang semula menunduk kini mulai mengangkat wajahku dan menatap Kak Jo
Wanita itu pun tidak terkejut sama sekali dan malah tertawa lantang, ia mendekatiku dan kemudian menarik daguku dan mentapku tajam
"Jangan berbohong, Jo. Lagi pula hal ini tidak akan membuatku percaya, wanita seperti ini bukan tipemu dan bukan yang kamu inginkan. Aku tahu kamu melakukan itu semua karena kamu ingin menghindari perjodohan kita" ia berganti menatap Kak Jo
Aku kembali terkejut, ternyata keduanya memang dijodohkan dan aku pun sama sekali sudah tidak punya harapan untuk bersama Kak Jo. Kucoba melepaskan rangkulan tangan Kak Jo tapi sepertinya itu sia-sia karena Kak Jo merangkulku dengan sangat erat
"Memang, wanita seperti dia bukan tipeku. Tapi itu dulu, dan sekarang semuanya sudah berubah. Aku menyukai wanita bukan karena fisiknya tapi karena hati dan juga sifatnya. Percuma menyukai wanita cantik tapi sifat dan juga hatinya busuk dan hanya mengincar harta!" Kak Jo tak kalah tajam menatap wanita itu
"Kamu menyindirku?"
Perang argumen pun tak terelakkan, Kak Jo yang bersikeras mengakui jika aku adalah kekasihnya tapi di sisi lain wanita itu tidak percaya tentang apa yang baru saja ia dengar
"Hey gadis kecil, berapa bayaran yang kamu terima atas sandiwara ini?" wanita itu kembali melirikku
"Aku tidak membayarnya sama sekali!" teriak Kak Jo
"Aku tidak bertanya padamu, Jo!"
"Oh, aku tahu. Apa karena dia kaya lalu kamu menggodanya dan akhirnya dia pun berbalik mengejarmu. Ah, benar-benar tidak aku sangka gadis sekecil kamu dan sepolos kamu ternyata bisa bersikap licik juga" wanita itu bertolak pinggang dan menyunggingkan senyumnya sinisnya
Aku yang awalnya biasa menghadapi percakapan ini tiba-tiba merasa emosi setelah dituduh menggoda Kak Jo yang kaya, aku pun mengumpulkan keberanian untuk membalas perkataannya tapi yang terjadi malah sebaliknya, aku tidak menjawabnya dengan kata-kata tapi justru malah menampar pipi wanita cantik itu
Plak
Kak Jo dan wanita itu terkejut atas apa yang aku lakukan, dia pun memegangi pipinya yang kini tampak merah. Aku sendiri pun kini juga tidak tahu apa yang baru saja memasuki tubuhku hingga aku berani melakukan hal itu. Wanita itu pun mengambil ancang-ancang untuk membalas tamparan itu dan benar saja ia pun megangkat tangannya dan kemudian hendak memukulku
Plak
Plak
Dua kali tamparan itu hinggap di pipi, tapi aku sendiri yang saat itu menutup mata malah tidak merasakan apa pun. Dan ternyata setelah aku membuka mata, Kak Jo sudah berada tepat di depanku menghalangiku yang saat itu akan jadi sasaran tamparan, dan benar saja dua tamparan itu mendarat di pipi Kak Jo
"Kamu membelanya, Jo?" Kak Jo mengangguk
__ADS_1
"Apa hebatnya dia dibandingkan aku, Jo. Apa?" Sekali lagi ia berteriak
"Apa kamu tidak berpikir jernih, Jo. Wanita ini bisa saja hanya memanfaatkan dirimu yang kaya raya dan nanti setelahnya dia akan meninggalkanmu setelah kamu tidak punya apa-apa!"
"Hentikan, Catherine" pinta Kak Jo lirih masih terus melindungiku
"Tidak, Jo. Jika memang kamu tidak bisa menerimaku tapi setidaknya jangan memiliki kekasih yang miskin seperti dia, orang miskin hanya akan menjadi parasit untuk hidupmu nanti" lanjut Catherine, aku yang kini merasa semakin emosi kemudian menarik tubuh Kak Jo dan berhadapan langsung dengan wanita itu
"Saya memang miskin, Nona. Tapi setidaknya saya tidak mengemis cinta dari orang yang tidak pernah mencintai saya. Harusnya anda sadar jika cinta itu bukan hal yang bisa anda paksakan dan bisa anda beli meski anda punya banyak uang!" Sekali lagi keberanian itu muncul entah dari mana
"Berani juga kamu, ya?"
"Iya, saya memang berani dan apakah anda tahu jika keberanian orang miskin akan jauh di luar pemikiran anda. Cepat pergi dari sini sebelum saya mengumpulkan warga sekitar dan membuat anda menjadi lebih malu dari pada ini!" teriakku sekali lagi tapi kini dibarengi dengan air mata yang menetes entah sejak kapan
Kak Jo melihatnya dan spontan mengenggam tanganku erat, Catherine pun tahu aksi Kak Jo dan itu membuatnya semakin murka dan marah. Tanpa sepatah kata, ia pun kemudian pergi dengan kemarahan yang masih memuncak
Setelah kepergian Catherine, aku pun kemudian menangis sesenggukan sambil berjongkok di pelataran rumahku. Perasaan sakit karena cinta yang tak terbalas dan juga hinaan karena aku orang tidak punya berkumpul jadi satu dan membuat luka semakin dalam. Kenapa aku harus mengalami semuanya, ditinggalkan orang tua saat masih kecil, tidak memiliki harta yang bisa dibanggakan dan ditambah lagi harus menerima hinaan yang aku pun tidak tahu di mana letak salahku sampai hinaan itu pun menghampiriku
"Aulia" lirih Kak Jo memelukku dari belakang dan membantuku untuk berdiri. Aku pun berdiri dan berjalan ke dalam rumah
"Duduklah, aku akan mengambilkan air untukmu"
Tak lama kemudian Kak Jo datang sembari membawa segelas air putih dan ia pun memintaku untuk meminumnya agar aku lebih tenang. Kak Jo pun ikut duduk di sampingku
"Aulia" aku pun menoleh dan dia pun membantuku mengusap air mata yang kembali jatuh dan membasahi pipiku
"Maafkan aku, aku melibatkannu dalam masalah yang harusnya aku hadapi sendiri. Aku minta maaf, Aulia" Kak Jo kemudian menggenggam erat tanganku
"Karena diriku kamu harus menerima hinaan dan juga tamparan itu" lanjut Kak Jo
"Tidak apa-apa, Kak. Lagi pula aku memang benar miskin dan orang miskin akan jadi benalu pada akhirnya"
"Jangan katakan itu, Aulia. Aku tidak pernah melihat seseorang dari apa yang ia punya karena yang paling penting adalah hati yang mau menerima kita apa adanya"
"Aku tahu Kakak bukan orang yang seperti itu, tapi aku juga sadar siapa aku dan lebih baik jika mulai saat ini kita kembali ke hidup masing-masing. Kak Jo tetap hidup seperti saat kita belum mengenal satu sama lain dan begitu juga Aulia, Aulia juga akan bersikap sama" aku mengatakan hal itu dengan perasaan yang tidak menentu, antara sakit dan juga lega karena pada akhirnya memang hal yang tidak bisa disatukan tidak seharusnya disatukan
"Apa maksudmu, Aulia?"
.
.
.
.
.
.
malam ini otor benar-benar lagi dapet wangsit, enggak tahu kenapa ide muncul dan mengalir dengan lancar enggak kayak kemarin2, 🤣🤣🤣
berhubung malam ini otor up 2000 kata, mohon jangan lupa untuk like, vote dan juga komennya ya para reader tercinta
__ADS_1
ditunggu loh ya