Teman Kakakku

Teman Kakakku
Gagal ginjal


__ADS_3

"Aulia" kata Bang Reza lirih, aku yang saat itu tengah membalas pesan dari Syafa langsung menghentikan aktivitasku dan mendekat ke arah Bang Reza.


"Iya, Bang. Aulia di sini" ucapku sambil memegang erat tangannya yang kini terasa sedikit hangat.


Bang Reza mulai membuka matanya perlahan, sambil sesekali mendesis dan memegangi perut bagian kirinya. Keringat juga mengucur deras di wajah pucatnya, aku merasa kembali takut dan juga khawatir.


Aku kemudian memencet tombol yang berada tepat di atas ranjang yang Bang Reza tempati,


"Bang, apa sangat sakit?" tanyaku kembali dan Bang Reza pun mengangguk,


Tak berselang lama, Dokter pun datang dan kemudian memeriksa Bang Reza yang kini masih tampak kesakitan.


Sepuluh menit berlalu, Bang Reza kini sudah kembali tenang dan rasa sakit yang ia rasakan sudah mulai hilang.


"Bisa tolong ikut ke ruangan saya sebentar," ucap seorang Dokter berbadan tinggi dan bermata sipit itu.


"Iya, Dok!" jawabku singkat. Setelah berpamitan pada Bang Reza aku kemudian mengikuti Dokter itu ke ruangannya.


Ruang dokter itu hanya beberapa meter dari ruang perawatan Bang Reza, ruangan yang sedikit lebih kecil dari ruang perawatan Bang Reza, memiliki lantai yang sama dan di dalam ruangan itu terdapat alat-alat medis dan juga beberapa gambar organ tubuh manusia beserta penjelasannya.


"Silakan duduk" Aku pun segera duduk di sebuah kursi berwarna hijau yang berseberangan dengan tempat duduk dokter itu.


"Baiklah, saya akan jelaskan bagaimana keadaan Tuan Reza saat ini, Tuan Reza harus segera di operasi karena penyakit yang ia derita sudah sampai di tahap serius dan jika dibiarkan maka akan mengancam nyawanya!" Jelas Dokter itu, meski belum secara rinci menyebutkan nama penyakit Bang Reza tapi aku sudah merasa sangat takut dan sangat khawatir.


Bayangan hal-hal buruk dan kemungkinan yang paling parah terukir jelas di benakku saat ini, aku hanya diam sambil menahan air mata yang hendak jatuh itu. Semua tulangku serasa seperti lepas dari tempatnya, membuatku terasa sangat lemas dan hendak jatuh.


Tapi untung saja aku segera menguasai diriku sendiri dan kemudian mencoba mencari penjelasan yang lebih detail lagi dari Dokter itu.


"Sebenarnya, penyakit apa yang diderita oleh Kakak saya, Dok?" lanjutku sedikit ter bata,


"Dia menderita gagal ginjal, sehingga dia sering merasa kram di bagian perutnya seperti yang baru saja dia alami!" Jelas Dokter itu, membuatku kembali ingin menangis


"Lalu, jalan pengobatan seperti apa yang harus Kakak saya lakukan?"

__ADS_1


"Jalan satu-satunya hanya operasi, karena selama ini dia sudah melakukan pengobatan dan pada kenyataannya itu hanya menghambat penyakitnya dan bukan menyembuhkannya"


"Berapa biaya yang dibutuhkan untuk melakukan operasi itu?" ucapku seakan memiliki uang yang cukup untuk membayarnya,


"Biasanya sangat mahal, bisa mencapai ratusan juta!"


Bagai disambar petir di siang bolong, setelah mendengar kata ratusan juta, aku menjadi semakin gemetar dan badanku terasa seperti hendak tumbang, namun dengan sigap dokter itu segera menangkapku dan membantuku untuk kembali duduk.


"Maaf, jika penjelasan dari saya membuat Nona menjadi seperti ini,"


"Tidak apa-apa, Dok. Baiklah, terima kasih untuk penjelasannya saya permisi dulu, saya ingin kembali ke ruangan Kakak saya" Dokter itu pun mengiyakan kata-kataku dan aku pun segera ke luar dari ruangannya dan kembali ke ruangan Bang Reza.


Aku berjalan ke arah ruangan Bang Reza sembari berpegangan pada dinding, agar langkahku tidak tumbang sebelum aku sampai di ruangan kakakku.


Semua kata-kata dokter itu kembali berputar di dalam benakku, mulai dari seberapa parah penyakit yang diderita Bang Reza sampai berapa banyak uang yang harus aku keluarkan untuk biaya operasi.


Jika saja aku memiliki uang yang disebutkan oleh Dokter itu, aku pasti langsung menyanggupi operasi itu saat ini juga, tapi apa hendak dikata, jangankan uang untuk biaya operasi, uang untuk membayar sekolah saja aku masih sering terlambat membayarnya.


Jika saja ada sebuah keajaiban yang datang, seseorang yang berhati baik mau meminjamkan aku uang dan aku langsung bisa mengoperasi Bang Reza, tapi itu hanya jika dan tidak nyata.


Di dalam ruangan Bang Reza, sudah ada Mr. J yang entah sejak kapan tiba di sini. Ia duduk tepat di samping Bang Reza yang kini tengah berbicara dan mencoba terlihat baik-baik saja.


"Aulia, kamu sudah kembali" ucap Bang Reza yang menoleh ke arahku yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu, Mr. J pun ikut menoleh dan sekali lagi ia mengembangkan senyum manisnya.


Bang Reza memintaku untuk duduk di sampingnya, dan aku pun mengiyakannya. Aku duduk di sebelah Mr. J yang siang ini memakai baju batik lengan pendek dan juga celana kain. Aku bisa menebak jika dia baru saja pulang dari aktivitas mengajarnya. Dia terlihat begitu gagah dan juga tampan.


"Bagaimana, Bang. Apa sudah lebih baik?" tanyaku sambil mengusap air mata yang entah sejak kapan mulai jatuh.


"Abang baik-baik saja, kamu tidak perlu bersedih seperti itu" jawab Bang Reza sambil mengusap air mataku yang kembali menetes lagi dan lagi.


"Maaf, Bang. Abang seperti ini karena Aulia, karena Aulia yang selalu merepotkan Bang Reza dan juga membebani Bang Reza" aku kembali menangis,


" Jangan menyalahkan dirimu seperti itu, kamu tidak merepotkan dan juga tidak menyusahkan Abang, karena kamu adalah keluarga Abang satu-satunya dan sudah sepantasnya Abang menjagamu!"

__ADS_1


Aku tidak bisa lagi mengatakan apa pun, aku hanya bisa menangis dan menangis, entah kenapa dua hari ini air mataku kembali mengalir padahal sebelumnya aku tidak pernah merasa cengeng seperti ini.


Mr. J yang berada di dekatku, tiba-tiba menggenggam erat tanganku, aku terkejut dan menoleh ke arahnya namun ia hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala yang entah apa artinya itu.


Bang Reza mengetahu hal itu, namun ia sama sekali tidak marah atau melarangnya.


"Apa kalian sudah semakin dekat?" tanya Bang Reza tiba-tiba, mengatakan hal yang menurutku aneh.


Aku dan Mr. J hanya saling pandang tidak tahu harus menjawab apa.


"Kami dekat, karena kami adalah guru dan murid. Iya, kan?" dan aku pun hanya mengangguk karena tidak tahu harus menjawab apa.


"Syukurlah, aku menjadi lebih tenang sekarang karena di sekolah ada seseorang yang mengawasimu!" lagi-lagi ia membicarakan tentang pengawasan, hal yang dua hari ini terasa sudah punah kini hidup kembali, bahkan dalam keadaan yang tidak sehat seperti ini bisa-bisanya Bang Reza masih membicarakannya.


Tapi biar saja, aku tahu Bang Reza melakukan ini semua ketan dia menyayangiku dan ingin menjagaku.


"Ternyata kamu sangat menyayangi adikmu, ya?" Mr. J semakin mengetatkan genggaman tangannya.


"Pastilah, dia satu-satunya keluarga yang aku miliki saat ini, aku tidak ingin ada orang yang melukainya sedikit pun" jawab Bang Reza dan disambut tawa oleh Mr. J


"Apa kamu tidak berniat menambah keluarga lagi?" tanya Mr. J lagi sambil menatap ke arahku yang kini masih berpegangan tangan dengannya.


"Ah, kenapa juga aku harus bergandengan tangan seperti ini, aku kan sedang tidak ingin menyeberang" batinku, aku juga tidak tahu kenapa aku tidak ingin melepaskannya, justru genggaman tangan itu malah membuatku melupakan hal yang menyedihkan.


"Kalau kamu mau, kamu bisa jadi bagian dari keluargaku!"


Tawa pun pecah di antara keduanya, tapi tidak denganku, aku semakin gugup dan berkeringat karena Mr. J tak kunjung melepaskan tangannya.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa vote like dan komennya


🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡


__ADS_2