
Nuna pun seketika turun dari gendongan Kak Ayu, gadis kecil itu berlari menghampiriku yang kini masih berdiri di ambang pintu kamar itu
"Kakak kucing!" serunya sekali lagi, khas suara anak kecil. Ia memelukku dan aku segera mengangkat tubuhnya ke dalam pelukanku
"Namanya Kak Aulia, Nuna. Bukan kakak kucing" Kak Ayu mendekat dan mengelus kepala gadis ceria itu
"Tapi Una lebih suka memanggilnya kakak kucing" tampak raut wajah sebal terlihat jelas di sana, Nuna menyilangkan kedua tangan kecilnya sambil memajukan bibir mungilnya. Seolah protes dengan apa yang dikatakan oleh Kak Ayu, aku gemas melihatnya yang berekspresi sangat lucu itu
"Ya udah, Kak Ayu ikut Una aja. Tapi kalau boleh usul jangan kakak kucing ya panggilnya, Kak Kitty aja gimana?" tawar kak Ayu sekali lagi, Nuna sejenak terdiam, ia tampak berpikir dan sedetik kemudian ia menganggukkan kepalanya
"Ok, mulai sekarang Una panggilnya Kak Kitty aja ya?" tatap gadis itu ke arahku, tanpa berpikir panjang aku pun mengiyakan apa yang jadi keinginannya. Nuna tampak senang dan kemudian ia meminta turun dari gendonganku. Sesaat setelahnya ia mengajakku keluar dari kamar itu dan menuju ke suatu tempat
Aku menurutinya, ku sejajarkan langkahku dan kuikuti langkah kecilnya hingga pada akhirnya ia sampai di kebun belakang yang juga penuh dengan mainan
"Kak Kitty, ini kucing Una" ia menunjuk pada sebuah kandang kucing yang tampak bersih, di sana ada seekor kucing yang tengah terlelap, bulunya tampak halus dan juga bersih pertanda ia terawat dan juga terjaga
"Ini kucing yang waktu itu hilang?" aku ikut berjongkok di depan kandang kucing itu, Nuna mengangguk dan dia tampak senang. Matanya berbinar seiring tangan kecilnya yang terus mengelus bulu lembut kucing itu
"Dia lucu kan, Kak Kitty?" suara cempreng itu kembali terdengar lagi dengan raut wajah yang kembali gemas. Aku menatapnya lagi, teduh rasanya melihat manik mata yang bening dengan mulut yang komat-kamit terus mengoceh membahas kucingnya
Dia juga bercerita darimana ia mendapatkan kucing itu, ia merawatnya selama beberapa bulan terakhir ini dan akhirnya kucing itu tumbuh menjadi kucing yang menngemaskan seperti dirinya
"Aulia, Nuna, ayo makan dulu!" panggil kak Ayu dari pintu belakang, ia melambaikan tangannya pada kami berdua yang tengah duduk di depan kandang kucing itu
"Iya, Kak" sahutku kemudian. Aku kemudian mengajak Nuna beranjak dari sana, ia mengiyakannya dan beranjak dari tempat itu. Kami berdua berjalan masuk ke dalam rumah dan ikut berkumpul dengan para penghuni panti lainnya yang kini sudah berada di ruang tamu
Setiap orang yang berada di sana sudah disuguhi dengan meja kecil yang di atasnya tersaji makan siang sederhana. Nasi putih hangat yang diberi lauk telur ceplok dan juga tahu dan tempe goreng. Menu ala kadarnya itu mampu membuat mereka tersenyum senang, dalam hati kembali terucap syukur akan keadaanku selama ini, keadaan yang sering aku keluhkan ternyata lebih baik dari apa yang aku hadapi sekarang
Aku yang selama ini selalu menyalahkan takdir dan juga jalan yang Allah berikan, karena kehilangan orang tua dan hidup sangat pas-pasan dengan Bang Reza. Namun, ketika aku berada di antara mereka, barulah kembali aku tersadar betapa aku lebih beruntung dari mereka yang kini berada di panti ini. Mereka bahkan tidak sempat berkumpul bersama orang tua mereka dan merasakan bagaimana kasih sayang orang tua, mereka yang seolah terbuang dan kini justru mampu tersenyum dan berdiri kokoh melewati jalan yang sangat terjal
"Ayo duduk sini!" seru Kak Ayu sembari menepuk tempat yang kosong di sampingnya, aku tersadar dari lamunanku dan kemudian mendekat ke arahnya. Nuna sudah berada di sana entah sejak kapan ia melepaskan genggaman tanganku
Di tempat lain
__ADS_1
"Kok Aulia belum balik ya, Za?" Kak Jo berjalan mondar-mandir sejak tadi, ia terus keluar masuk rumahku sambil sesekali melihat jam yang kini melingkar di tangannya
"Emangnya dia ke mana sih, Za?" belum juga pertanyaan yang pertama terjawab, kini sudah disusul pertanyaan lain lagi. Bang Reza menghela nafasnya kasar, ia tidak tahu harus berkomentar pada pada sahabatnya itu. Ia juga enggan menjelaskan kenapa aku belum pulang, kemana aku pergi dan kenapa sampai sekarang belum kembali. Karena yang pasti dia sudah tahu kemana aku pergi dan akan pulang kapan
"Duduk dulu, Jo. Sebentar lagi dia pulang" ucap Bang Reza santai sambil terus menatap layar ponselnya. Ia tengah berkirim pesan dengan calon istrinya yang sangat ia cintai. Mau tidak mau Kak Jo duduk, meski sesekali ia melirik ke arah pintu masuk rumah kecil itu
"Memangnya kamu sudah siap bertemu lagi dengannya?" Bang Reza meletakkan ponselnya di atas meja, ia melirik ke arah Jonathan yang kini masih terlihat gusar
"Aku sudah siap, Za. Aku sudah bertekad akan memulai semuanya dari awal" Kak Jo tampak yakin dengan jawaban yang ia lontarkan
"Tapi kalau Aulia menolak bagaimana?"
"Ya kamu harus membantuku meyakinkan dia, bagaimana pun caranya"
"Yakin sudah bisa move on dari Ayunda?"
Kak Jo terdiam sejenak, baru saja sedetik yang lalu ia lupa jika pernah mengenal perempuan bernama Ayunda namun kini saat nama itu kembali disebut ia malah kembali teringat masa di mana mereka bersama
"Kan bener kan, mana sekarang tambah enggak denger lagi" sekali lagi Bang Reza berucap, namun entah apa yang Kak Jo pikirkan hingga ia tak menyahutinya
"Jo!" teriak Bang Reza tepat di telinga Kak Jo, sontak sang pemilik nama terkejut dan sadar dari lamunan masa lalunya
"Gue belum budek, Za" ia menggosok telinganya yang berdengung karena suara Bang Reza, ia berdiri dan berjalan ke arah pintu. Bang Reza hanya terkekeh mendapati pemandangan yang langka itu
"Memangnya dia pergi ke mana sih, Za. Apa urusannya sangat penting sampai-sampai hampir petang dia belum pulang"
"Entah" singkat jawaban dari Bang Reza namun tidak membuat Kak Jo langsung berhenti bertanya
"Dia pergi dengan laki-laki atau perempuan?" ia kembali bertanya
"Perempuan" jelas Bang Reza dan kini ia tampak lega. Memang, tadi ia tahu jika aku mengobrol dengan Kak Ayunda namun ia tidak tahu jika aku pergi dengannya Sebab Kak Jo segera pergi setelah melihat hal itu dan aku pergi dari sana setelah Kak Jo
"Hubungi dia, Za. Minta dia segera kembali" kembali sikap posesif dari Kak Jo terlihat, entah apa yang kini ada di hatinya. Panik, khawatir, was-was dan tentunya sedikit cemburu meski ia sendiri tahu, ia belum berhak atas semua hal itu
__ADS_1
Kak Reza menuruti apa yang dikatakan Kak Jo, ia sudah mulai bosan mendengar ocehan sahabatnya yang dirasakan terus berulang itu. Ia sangat menyesali keputusannya hari ini, jika saja ia tahu Jonathan akan bawel seperti ini maka ia lebih memilih untuk bekerja dan tidak menemani sahabatnya sekaligus bosnya itu
Ia mengetikkan pesan yang akan ia kirim padaku, namun belum sempat ia mengirimkannya, aku sudah berada di depan pagar rumahku. Aku pulang dari panti diantar oleh salah seorang tukang ojek yang kebetulan berada di lingkungan panti
"Za, dia pulang!" teriak Kak Jo girang, Bang Reza hanya bisa menggelengkan kepalanya mendapati sikap Kak Jo. Ia urungkan untuk mengirimkan pesan singkat itu dan kembali meletakkan ponselnya di tempat semula
"Terima kasih, Pak" kataku sembari menyerahkan helm yang tadi aku pakai. Tukang ojek itu pun segera berlalu, aku pun segera membuka pagar
Aku berjalan masuk dengan hati yang bahagia, mengingat keceriaan dan juga keharmonisan anak-anak panti tadi. Namun sedetik kemudian semuanya berubah, aku melihat seseorang yang sangat tidak ingin aku temui. Dengan jelas aku melihatnya berdiri sembari melipat kedua tangannya, senyum terbit dari wajahnya
Moodku seketika berubah, entah apa yang aku rasakan tapi hal yang pasti aku tak lagi bahagia. Kaki yang tadi terasa ringan kini kembali berat dan dada terasa sesak. Beberapa detik aku mematung, melihat hal yang dulu aku rindukan namun kini tak lagi aku harapkan. Hingga pada akhirnya dering ponsel menyadarkanku dan aku bisa menguasai diriku kembali
Lalu aku lanjutkan langkah kakiku, aku berjalan masuk ke dalam rumah melewati Kak Jo yang tak pernah beralih melihatku
"Assalamualaikum" kuucap salam tepat di depan pintu. Dari dalam terdengar sahutan salam dari Bang Reza namun berbeda dengan orang yang ada di belakangku
"Waalaikumsalam, sayang!"
.
.
.
.
yeeeeeyyyyeeeeyyyyeeee
finally bisa up lagi.......
yuk yuk yuk jangan sampai ketinggalan
vote, like, komennya jangan lupa ya
__ADS_1