Teman Kakakku

Teman Kakakku
Kalian ini masih kecil


__ADS_3

"katakan padaku, penyakit apa yang diderita Reza dan berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan" ucap Mr. J santai


Aku menghela nafasku kasar, sebelum akhirnya aku pun menceritakan bagaimana kondisi Bang Reza saat ini. Aku menceritakan semuanya, semua yang dikatakan oleh Dokter itu, bahkan berapa banyak biaya yang dibutuhkan, aku pun menceritakannya.


Aku melakukannya karena aku tidak tahu lagi harus berbagi pada siapa, karena sekarang Syafa dan keluarganya sudah tidak bisa membantuku seperti dahulu, aku merasa sangat sesak dengan masalah ini.


Nyawa Bang Reza dipertaruhkan dan aku sebagai adik tidak bisa berbuat apa-apa.


"Aku akan membayar biaya operasinya!" lanjut Mr. J masih dengan suara yang santai


"Tidak-tidak, Kak Jo sudah banyak membantu kami, aku tidak ingin merepotkan Kakak lagi, lagi pula aku masih memiliki tabungan yang selama ini aku kumpulkan" ucapku sambil menatap Kak Jo yang kini sudah memandang ke arahku dan mendekat ke arahku


Manik mata kami bertemu ketika aku mengatakan hal itu, ada sedikit ketenangan dalam hatiku ketika menatap mata Kak Jo, matanya yang teduh sedikit menghilangkan kegiatan dan kecemasan yang beberapa hari ini aku rasakan.


Entah kenapa aku bisa merasakan itu semua, itu terjadi karena aku memang memiliki rasa yang lebih atau hanya karena saat ini aku memiliki tempat untuk membagi kegelisahan hatiku.


Sesaat kemudian aku tersadar, ketika jantungku sudah tidak bisa lagi aku kendalikan. Kak Jo pun kemudian ikut berpaling dan menatap ke arah yang lain, mencoba mengusir rasa gugup yang mungkin juga ia rasakan.


"Aku ingin membalas budi pada Reza, dia sudah menyelamatkan aku beberapa waktu yang lalu. Kalian tidak merepotkanku, ini sudah waktunya aku membantu kalian. Simpanlah uangmu baik-baik, kamu pasti akan membutuhkannya suatu saat nanti " ucapnya tegas kemudian berdiri dari duduknya dan meninggalkan aku sendirian, sebelum aku membalas apa yang ia katakan.


"Kak Jo, tunggu" aku mencoba memanggil namanya, namun sang pemilik nama tidak menanggapinya dan terus berjalan entah ke mana.


Tiga puluh menit berlalu, aku masih duduk di taman itu, masih terus berpikir bagaimana caranya aku mendapatkan uang untuk biaya operasi Bang Reza.


Aku tidak tahu harus meminta tolong pada siapa, atau aku terima saja penawaran dari Kak Jo. Tapi jika aku menerimanya, aku tidak tahu kapan aku bisa mengembalikannya dan terlebih lagi aku baru saja mengenalnya.


Aku belum tahu bagaimana sebenarnya Kak Jo, ya walaupun Bang Reza sudah lama bekerja dengannya tapi aku juga tidak ingin nanti dianggap memanfaatkan pertemanan mereka untuk uang, dan belum lagi jika nanti Bang Reza tahu soal hal ini, pasti ia tidak akan setuju dan pasti akan memarahiku.


Ingin rasanya aku berlari sejauh mungkin, mencari tempat yang tidak berpenghuni dan meneriakkan semua isi hatiku, agar aku bisa merasakan sedikit kelegaan.

__ADS_1


"Hentikan, itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri!" Kak Jo kembali berdiri di depanku, entah sejak kapan ia kembali.


Aku berhenti mengacak rambutku ketika mendengar suara itu, aku hanya tersenyum malu ketika menyadari rambut di kepalaku sudah tidak beraturan.


"Kak Jo, sejak kapan Kakak berada di sini?" aku mencoba merapikan rambutku yang sudah terlihat seperti pohon beringin itu.


Kak Jo tidak menjawab, ia justru duduk di dekatku dan membantuku merapikan rambutku. Dan lagi, jantungku yang semula sudah normal kini mendadak tidak beraturan lagi ketika aku merasakan sentuhan tangan Kak Jo mengisap dan membenahi rambut di kepalaku.


"Ada apa ini, kenapa begini" batinku kemudian menundukkan kepalaku, mencoba menyembunyikan wajahku yang kini sudah terlihat merah karena rasa gugup dan juga deg-degan.


"A-aku bisa merapikannya sendiri," aku pun kemudian beringsut dari dudukku, agak menjauh dari Kak Jo. Dia pun hanya tersenyum sambil membenahi duduknya kembali, aku kembali melihat senyumnya, dan kemudian jantungku semakin tidak karuan rasanya.


"Oh ya, Kak Jo kenapa kembali?" aku sudah selesai merapikan rambutku dan sudah bisa mengontrol perasaanku.


"Apa Reza memiliki hubungan dengan temanmu itu?" Jawab Kak Jo


"Teman, Syafa maksudnya?" aku menoleh ke arahnya dan dia pun mengangguk.


"Kenapa memangnya, apa ini sebuah rahasia?" Kak Jo menyadari tingkahku


"Ah, itu, sebenarnya memang iya," ucapku jujur, mau bagaimana lagi, jika aku berkilah pasti dia tidak akan percaya, jadi ya, aku ceritakan saja. Maafkan aku Syafa, maafkan aku.


"Kalian ini masih kecil, tapi sudah memikirkan hal-hal seperti itu, pantas saja kalian ditempatkan di kelas angker itu, prestasi nol tapi sudah memikirkan pacaran!" ejek Kak Jo,


"Jangan menghakimi aku dan Syafa seperti itu, kami memang di tempatkan di kelas angker itu, tapi kami tidak seburuk kelihatannya, kami berdua juga belum pernah pacaran sebelumnya!" ucapku lirih sambil menundukkan kepala,


"Apa aku bisa percaya kata-katamu?" selidik Kak Jo yang kini mendekat ke arahku dan menatapku lekat, meski aku sedang menundukkan kepala.


Rasa gugup kini kembali hadir, mata itu dan senyum itu kenapa mengganggu pikiranku, dan lagi kenapa dia semakin mendekat ke arahku.

__ADS_1


Namun tiba-tiba, entah dari arah mana aku mendengar suara Syafa memanggil namaku, dan secara langsung kami pun menjauhkan diri masing-masing kemudian bersikap seolah tidak terjadi apa-apa .


"Ma-maaf, a-aku mengganggu kalian!" Syafa yang tadi berlari kini mendadak berhenti ketika mendapati aku dan Kak Jo duduk di bangku yang sama dengan jarak yang cukup dekat.


"Tidak-tidak, ini tidak sepeti yang kamu lihat" aku berdiri dan mendekat ke arah Syafa yang kini berwajah aneh.


"Aku pergi dulu, dan kalian berdua, perbaiki nilai kalian, jangan memikirkan cinta terus menerus!" Kak Jo berdiri dan menunjuk ke arah kami berdua dan kemudian melangkah pergi meninggalkan aku dan Syafa yang masih mematung di tempat itu.


Sedetik kemudian aku mengajak Syafa duduk dan mencoba mencari kejelasan dari apa yang ditanyakan oleh Kak Jo.


"Syafa"


"Aulia" ucap kami bersamaan dan Kami pun kemudian tertawa.


"Kamu dulu " pintaku pada Syafa


"Laki-laki itu siapa, apa dia kekasihmu?" tanya Syafa tanpa basa-basi


"Apa kamu tidak mengenalnya,?" jawabku dan Syafa pun terlihat semakin bingung.


"Apa aku mengenalnya?" Lanjut Syafa, dan kemudian aku pun menjelaskan jika dia adalah Mr. J, guru matematika yang mengajar di kelas kami dan juga merupakan teman dari Bang Reza.


Syafa awalnya tidak percaya, tapi setelah aku menjelaskan semuanya secara detail maka ia pun percaya. Memang, penampilan Mr, J saat ini sangat lah menipu. Jika di sekolah ia tampak berwibawa dengan pakaian formalnya tapi saat bersamaku saat ini ia terlihat lebih kekinian dengan pakaian anak muda jaman now


.


.


hay semuanya, otor up lagi nih. Jangan bosen yah untuk like vote dan juga komen. terima kasih banyak

__ADS_1


🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡


__ADS_2