Teman Kakakku

Teman Kakakku
Kenapa harus kakak, bukan yang lain?


__ADS_3

Aku dan Kak Jo begitu terharu ketika melihat pemandangan itu, memandang di mana cinta yang tulus dan berbalas kini akan berlabuh ke sebuah muara kebahagiaan.


Cinta yang bertahun-tahun terpendam pada akhirnya tumbuh dan bertunas dan kini telah menjadi daun dan bahkan berbunga.


Pandangan mata mereka berdua tidak lepas dari apa yang terjadi malam ini, sudah lama aku sendiri tidak melihat Bang Reza sebahagia ini.


Senyum manis dari bibir Bang Reza begitu jelas nyata terukir di sana, begitu juga dengan Syafa, berulang kali pandangan matanya beralih dari Bang Reza dan pada cincin yang kini melingkar indah di jari manisnya yang mungil.


"Terima kasih, Kak" ucap Syafa ketika melihat sebuah cincin yang melingkar di jarinya.


"Sama-sama, terima kasih juga karena kamu sudah sabar menunggu cinta ini" sambung Bang Reza sembari menggenggam tangan Syafa


"Stop, belum muhrim!" ucap Kak Jo ketika melihat Bang Reza yang hendak mencium tangan Syafa. Aktivitas itu terhenti, keduanya pun tampak gugup dan salah tingkah.


"Iya, aku tahu" Ucap Bang Reza kemudian menggeser duduknya agak menjauh dari Syafa yang kini masih tampak malu karena ulah Kak Jo.


Aku pun mendekat ke arah Syafa, "Kakak ipar, selamat ya" lanjutku kemudian memeluknya dan dia pun membalas pelukanku.


"Terima kasih, Reza. Karena kamu sudah benar-benar membuktikan cinta Reza pada putri Bapak" Ayah Syafa mulai membuka suara setelah sekian menit terdiam menyaksikan anaknya yang tengah berbahagia. Bang Reza pun kemudian kembali menggeser duduknya ke samping orang tua Syafa


"Sama-sama, Om. Reza sendiri juga berterima kasih karena Om dan Tante sudah mengizinkan Reza untuk bersama dengan Syafa" jawab Bang Reza


"Mulai saat ini jangan memanggil kami dengan sebutan Om dan Tante, panggil kami dengan sebutan Mama dan Papa, sama seperti Syafa" Bang Reza pun mengangguk dengan mantapnya.


Semua orang tampak bahagia, tak terkecuali kedua orang tua Syafa yang kini tengah duduk bersama dengan Bang Reza dan juga Kak Jo. Aku dan Syafa pun mengobrol berdua dan tidak ingin mencampuri pembicaraan orang dewasa.


"Ayo kita makan malam" ajak Ibu Syafa setelah apa yang mereka bicarakan sepertinya selesai. Kami berlima pun segera bangkit dan kemudian berjalan ke arah ruang makan.

__ADS_1


Acara makan malam pun usai. Aku, Bang Reza dan Kak Jo pun pamit pulang. Kebahagiaan masih terlihat di wajah kami semua meski sekarang Syafa tampak agak sedih karena harus berpisah dari Bang Reza, ya meski ini hanya perpisahan biasa. Toh besok mereka bisa bertemu lagi.


Memang susah ya, kalau orang lagi jatuh cinta. Bawaannya menempel terus kayak cecak sama dinding.


"Aku akan datang lagi ke sini besok, setelah aku pulang dari kampus" Bang Reza mengusap air mata yang kini luruh di pipi Syafa, keduanya masih berada di teras rumah Syafa sedangkan yang lainnya sudah berada di pelataran.


Syafa mengangguk, " Iya, hati-hati, Kak. Hubungi aku setelah sampai rumah"


"Iya, Sayang" Bang Reza tiba-tiba mencium kening Syafa yang saat itu masih menundukkan kepalanya. Sontak saja Syafa membelalakkan matanya setelah hal itu terjadi dan menatap Bang Reza


"Diam" Bang Reza menempelkan telunjuknya di bibir Syafa agar Syafa tidak bersuara dan membuat yang lain curiga


Syafa kemudian diam dan tanpa aba-aba ia membalas ciuman itu yang kini ia daratkan di pipi Bang Reza. Bang Reza tak kalah terkejut dengan sikap Syafa yang kini berani menciumnya.


"Berani ya sekarang" Bang Reza mengulas senyum dan menggenggam erat jemari Syafa,


"Reza!" teriak Kak Jo yang kala itu kembali menggagalkan Bang Reza yang hendak mencium tangan Syafa. Keduanya kembali canggung dan menjauh.


Kami bertiga segera berpamitan pulang dan masuk ke dalam mobil Kak Jo. Di saat-saat itu, Bang Reza dan Syafa masih saja memberikan kode satu sama lain yang entah kode itu apa artinya.


Mobil yang kami tumpangi pun melaju dengan kecepatan sedang, membelah keramaian malam yang kali ini terasa lebih padat dari sebelumnya.


Beberapa menit kemudian, kami pun sudah sampai di rumah. Mobil yang kami tumpangi sudah masuk ke dalam pekarangan rumahku. Kami bertiga turun


"Masuk dulu, Jo" Kak Jo mengangguk dan dengan segera ia pun berjalan cepat masuk ke dalam rumah, meninggalkan aku dan Kak Jo yang kini berjalan santai.


Aku menyadari jika Kak Reza sebenarnya memberikan waktu untuk Kak Jo dan diriku mengobrol, tapi aku masih canggung dan kemudian berinisiatif untuk menyusul Bang Reza

__ADS_1


Namun, hal yang tak terduga terjadi. Baru saja aku melangkah tiba-tiba tangan Kak Jo mencekalku dan hal itu otomatis membuatku berhenti dan menoleh ke arahnya.


"Bisa kita bicara?" wajahnya tampak serius, tanpa persetujuan dariku, ia langsung membawaku kembali masuk ke dalam mobil.


Aku yang sampai saat ini masih merasa sedikit kecewa karena Kak Jo hanya menganggapku sebagai adiknya dan tidak lebih. Sedangkan aku sendiri berharap lebih darinya tapi pada dasarnya hanya aku sendiri yang punya perasaan itu.


"Kenapa dari tadi cemberut terus, apa kamu tidak bahagia melihat Reza bahagia?" aku menggeleng


"Terus?" Dia masih meminta jawaban dari apa yang ia tanyakan. Tetapi aku sendiri belum tahu harus menjawab apa, kan aneh jika aku harus mengatakan jika aku kecewa karena aku hanya dianggap adik olehnya. Malu tujuh turunan pastinya.


"Aku hanya takut, jika nanti Bang Reza akan lebih fokus pada Syafa dan mengabaikan aku" jawabku lirih sambil menundukkan kepala. Entah dari mana tiba-tiba jawaban itu meluncur dari mulutku


Kak Jo mengusap pucuk kepalaku lembut, memberikan semangat padaku. Tapi aku sendiri malah mengartikan perhatian itu berbeda dan alhasil untuk yang ke sekian kalinya aku sadar jika aku hanya seorang adik dan tidak lebih


"Jadi kamu cemburu pada Syafa, katamu dia sahabat baikmu, lalu kenapa kamu harus cemburu?" pertanyaan beruntun itu keluar dari ucapan Kak Jo yang kini bersuara lembut itu


Aku hanya menggeleng dan tidak tahu harus menjawab apa. Kak Jo semakin mendekat dan kemudian meraih tubuhku, memeluknya dengan pelukan yang hangat. Jantung serasa akan lepas dari tempatnya, keringat dingin dan tubuh gemetar kini menjalar.


"Jangan cemburu pada orang yang tidak tepat!" lanjutnya kemudian melepaskan pelukan itu, pelukan persaudaraan yang telah salah aku artikan.


Aku tidak berani menatapnya, karena aku tidak ingin dia melihat wajahku yang kini memerah karena gugup.


"Maaf," Kak Jo tersenyum


"Jangan meminta maaf padaku, minta maaflah pada dirimu sendiri. Reza tidak akan pernah meninggalkanmu, aku bisa menjaminnya. Dan jika dia benar-benar meninggalkanmu demi kekasihnya, maka ingatlah, aku masih ada di sini untuk menjadi kakakmu"


"Kenapa harus kakak, bukan yang lain?" batinku dan kemudian aku mengangguk

__ADS_1


"Ayo turun, aku ingin berbicara dengan Reza" kami pun turun dari mobil dan bergegas masuk ke rumah, sekali lagi hal yang tak terduga terjadi, Kak Jo menggandeng tanganku erat


Rasa bahagia dan juga sakit timbul bersamaan, aku tidak bisa mengartikan apakah ini rasa suka sebagai lawan jenis atau hanya sebatas saudara. Entah


__ADS_2