Teman Kakakku

Teman Kakakku
Ayunda


__ADS_3

Kak Jo melepaskan pelukan manja itu, ia kemudian melirik sekilas ke arahku yang berjalan gontai sembari memasang wajah yang tak menentu


Dia melenggang pergi, meninggalkan aku yang masih ragu hendak masuk atau tidak. Wanita yang sedari tadi menatapku penuh curiga kini menghalangi langkahku dan berdiri tepat di tengah-tengah pintu masuk


"Siapa kamu?" ia menunjukku dengan kuku rancangan dan berwarna merah itu


"Aku ..." belum lagi aku selesai berbicara, Kak Jo ke luar dan langsung menarik tanganku


"Jangan ganggu dia, pulang sana!" teriak Kak Jo tepat di samping telinga wanita cantik itu, ia sama sekali tidak menciut dan malah tersenyum . Aku pun langsung mengikuti arah ke mana Kak Jo pergi meski aku masih merasa terintimindasi dengan wanita itu


"Dia bilang apa?" aku menggeleng pelan


"Jangan bohong!" tegasnya sekali lagi tepat di depan wajahku, hembusan nafasnya terasa betul membuatku sedikit grogi


Dari kejauhan wanita cantik itu berjalan mendekat ke arahku yang kini berada di dapur Kak Jo. Dapur bernuansa modern itu, lengkap dengan berbagai peralatan canggih dan juga kekinian


"Siapa dia, Jo. Kenapa kamu malah memilih yang dari pada aku yang sedari tadi menunggumu!" wanita itu tampak kesal sambil menatapku dan Kak Jo bergantian


"Pulang sana dan jangan pernah datang lagi ke tempat ini" aku memundurkan langkahku dan berdiri agak menjauh dari keduanya yang kini bersitegang


"Kenapa, apa kamu akan menyembunyikan kenyataan bahwa kita sebentar lagi akan bertunangan. Apa kamu lupa atau kamu hanya pura-pura lupa jika kita sudah dijodohkan!" serunya sekali lagi, Aku yang semula sudah merasa tidak enak dengan situasi ini bertambah menjadi semakin tidak menentu.


Rasa sakit ini kembali menjalar, aku yang memang menyukai Kak Jo sejak awal harus menerima kenyataan jika aku hanya dianggap sebagai seorang adik, aku menerimanya dengan lapang asalkan aku masih bisa melihat Kak Jo bahagia. Tapi sekarang, keadaan malah semakin memburuk dan seolah harapan untuk selalu melihat Kak Jo bahagia akan segera musnah karena sebentar lagi dia akan bertunangan dan akan menikah


Apa sesakit ini rasanya mencintai, cinta pertamaku tak berujung bahagia tapi malah membuatku semakin terluka dan menderita. Tapi kata orang cinta pertama itu membahagiakan, lalu bagaimana dengan cinta pertamaku, mengapa harus seperti ini, apa yang salah dariku, kenapa takdir tidak pernah berpihak padaku


"Jangan terlalu berharap sebab sampai kapan pun aku tidak akan pernah mau bertunangan denganmu. Aku tidak akan pernah menikah denganmu, ingat itu baik-baik!" seru Kak Jo tak kalah tinggi dengan wanita itu

__ADS_1


Wanita itu tertawa sembari menajamkan matanya ke arahku, "Apa karena dia?" tunjuknya padaku, aku menyadari hal itu dan itu semua membuatku semakin takut


"Jangan bawa-bawa orang lain, dia tidak ada hubungannya dengan semua ini!"


"Lalu?" Kini wanita itu menyilangkan kedua tangannya di dada


"Apa si Ayunda, anak yatim piatu itu masih terus tertanam di otakmu. Apa kamu pikir Pak Wibisono akan merestui hubungan kalian?" Lanjut wanita itu membuat semuanya semakin jelas, aku yang mendengarkan semua itu semakin pusing dibuatnya. Sebenarnya di dalam kehidupan Kak Jo ada berapa banyak hal lagi yang tidak aku ketahui, ada berapa banyak wanita lagi yang kini menjadi cerita di hidupnya. Setelah wanita cantik itu muncullah Ayunda dan sebentar lagi ada siapa lagi


Setelah Wanita cantik itu menyebutkan nama Ayunda, Kak Jo bersikap berbeda. Di wajahnya terdapat guratan kesedihan jan juga kekecewaan yang teramat dalam, ada cerita apa di balik nama itu, apa hal itu berpengaruh untuk hidup Kak Jo atau memang kelemahan Kak Jo berada di nama itu. Entah,


Plak


Suara tamparan itu menggema di ruangan itu, aku menutup mulutku dengan kedua tanganku saat melihat aksi Kak Jo yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Aku tidak mengira jika dia akan memukul wanita meski wanita itu memang bersalah


"Jonathan!" teriaknya sekali lagi sembari memegangi pipinya yang kini pasti terasa panas


Kak Jo menghela nafasnya kasar, ia kemudian melihat ke arah telapak tangannya yang baru saja ia pakai untuk menampar Catherine. Sedetik kemudian ia menatapku yang kini berdiri di pojok dan sudah terbentur ke dinding


Ia menghambur ke arahku dan tanpa aba-aba dia memelukku, aku terkejut dan hampir saja berteriak, "Maafkan aku, maaf untuk semuanya, kamu harus melihatku bersikap kasar seperti itu" lanjutnya dengan nada yang lembut tidak seperti beberapa detik yang lalu


Aku mematung, tidak menjawab apa pun. Aku masih terkejut atas kejadian yang baru saja melintas di depan mataku, aku sendiri tidak tahu harus bereaksi seperti apa, apakah aku harus senang atau aku harus marah, entah aku tidak tahu


"Aku ingin pulang!" ucapku sembari melepaskan pelukan itu


"Kenapa, Aulia. Kita baru saja sampai" liriknya sembari menyingkirkan rambut yang kini menutupi wajahku


"Aku ingin pulang, Kak. Biarkan aku pergi" dan tanpa aba-aba aku pun segera menghindari dari Kak Jo dan berjalan ke arah pintu, namun belum lagi aku mencapai tujuanku, Kak Jo mengejarku dan memelukku dari belakang.

__ADS_1


"Jangan marah padaku, dia bukan siapa-siapa, kita tidak ada hubungan apa pun" jelasnya lagi membuat aku semakin bimbang. Aku yang hanya dianggap adik kini semakin tidak memahami kenapa Kak Jo meminta maaf akan apa yang baru saja terjadi dan kenapa juga dia harus menjelaskan hubungan di antara mereka, apa maksudnya dan apa gunanya. Mataku terasa panas dan hendak menangis tapi dengan sekuat tenaga aku menahannya


"Maaf, Kak. Jika mereka bukan siapa-siapa maka aku pun sama, aku juga bukan siapa-siapa dan tidak berarti apa-apa!" ucapku lirih tapi mampu membuatnya terkejut, ia sontak melepaskan pelukannya dan membuatku mampu menghindar


Aku yang kini terbebas segera berjalan untuk ke luar dari rumah ini, tapi sekali lagi aku merasakan jika tanganku kini tengah di genggam oleh Kak Jo


"Biarkan seperti ini sebentar saja, aku mohon" wajahnya terlihat memelas tapi tak menyurutkan niatku untuk pergi dari sana


"Lepaskan aku, Kak. Aku mohon, biarkan aku pergi" air mata itu akhirnya jatuh juga, tameng yang sedari tadi membentang kini tak mampu lagi menghadang cairan bening itu


"Aku akan mengantarkanmu pulang" aku menggeleng


"Aku mohon, biarkan aku mengantarkanmu!" lanjut Kak Jo lagi


"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri" Dan aku pun kemudian pergi setelah genggaman tangan itu mengendur dan terlepas, kuseka air mata yang kini mengalir semakin deras. Entah apa yang aku tangis saat ini tapi satu hal yang pasti aku merasakan sakit yang teramat dalam meski aku sendiri tidak tahu apa sebabnya


Kak Jo sendiri kini hanya bisa menatap kepergianku tanpa mampu untuk mengantarkan, dia hanya bisa memandang punggung yang lama semakinlam tak terlihat lagi dan jauh dari pandangan


.


.


.


.


.

__ADS_1


yuk di like, vote dan juga komennya biar tambah rame


__ADS_2