
"Aulia!" Panggil Bang Reza berulang kali, ia saat ini tengah berada di ruang tamu bersama dengan Syafa. Aku sendiri kini tengah berada di dalam kamar, menangis sesenggukan mengingat hal apa yang baru saja aku alami
Tidak masuk akal memang, aku seharusnya tidak perlu marah atau pun sakit hati atas apa yang aku lihat karena aku bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa bagi Kak Jo tapi mau bagaimana lagi, rasa suka ini sudah terlalu jauh hingga membuatku tidak bisa menyadari di posisi mana aku berada
"Aulia!" Sekali lagi panggilan itu terulang dan kini kudengar pintu kamarku terbuka dan Bang Reza pun menghampiriku yang kini masih sesenggukan menangis
"Aulia!" Syafa memelukku dan kemudian disusul oleh Bang Reza, nafas keduanya begitu memburu terdengar jelas di telingaku
"Apa yang terjadi, Aulia?" Tanya Syafa pelan masih dengan terus memelukku
"Apa Jonatahan menyakitimu, apa yang sudah dia lakukan padamu?" Ganti Bang Reza bertanya tapi aku masih diam, mengatur nafasku yang tersengal karena menangis
Beberapa saat kemudian aku pun sudah bisa menguasai diriku sendiri, dan aku pun menjelaskan pada mereka apa yang terjadi. Ya, meskipun aku harus berbohong dan tidak mengatakan yang sebenarnya tapi agaknya mereka percaya dan akhirnya keduanya pun melepaskan pelukan mereka padaku
"Apa itu benar, apa kamu tidak berbohong dan menutupi semuanya. Ingat ya Aulia, meskipun Bang Reza dan Jonatahan sudah berteman baik selama ini tapi jika dia berani menyakitimu maka Abang tidak segan-segan untuk memberikan dia pelajaran!" ucap Bang Reza pelan tapi begitu mengerikan, sikap protektif Bang Reza mulai kembali aktif
Dengan segera aku pun menggeleng, aku takut jika nanti akhirnya ia kembali melarangku untuk bergaul dengan orang lain dan harus tetap di bawah pengawasannya seperti beberapa tahun terakhir ini
"Lalu kenapa kamu harus pergi dari rumah Jonathan?" selidik Bang Reza kembali
"Aku pergi dari sana karena tadi ada seorang wanita yang menunggunya, dan mana mungkin juga aku mengganggu mereka. Aku juga masih punya malu untuk melihat orang lain berpacaran" jelasku, entah kenapa hal itu melintas begitu saja di benakku
Bang Reza mengangguk, " Tapi sejak kapan Jonathan punya kekasih, kenapa dia tidak bercerita padaku. Pantas saja tadi rumahnya kosong" lanjut Bang Reza kemudian
"Mungkin baru saja dia punya pacar dan belum sempat bercerita pada Kak Reza" sela Syafa yang kini duduk di hadapanku
__ADS_1
"Ya mungkin. Baiklah, kalian di sini saja, aku akan memasak sarapan untuk kalian" Kami berdua mengangguk dan dengan segera Bang Reza keluar dari kamarku
...**********...
"Bos" Panggil Dion sekali lagi pada Kak Jonatahan yang kini tengah membolak-balikkan buku yang ada di depan matanya. Ia tak berniat membacanya atau pun menandatangani laporan itu. Pikirannya berkecamuk, menerawang kejadian tadi pagi
"Bos!" seklai lagi panggilan itu terucap dan kali ini dibarengi dengan pukulan pada pundak Kak Jo, tapi Kak Jo berekspresi lain, ia seolah tak terkejut dan malah berganti menatapa tajam Dion yang kini ada di belakangnya
"Jangan menatapa saya sepeti itu, Bos" Dion pun tidak begitu kaget dengan tatapan tajam dan mengerikan itu. Ia sudah terbiasa melihat semua itu dan itu adalah pertanda jika sang bos tengah dilanda hal yang rumit dan juga berat
"Cerita lah, Bos. Jangan dipendam sendiri" Kali ini Dion menggeser tubuhnya dan duduk di kursi yang berada di seberang meja Kak Jo
Kak Jo menghela nafasnya kasar, ia mengusap wajahnya yang kini terlihat semakin kusut dan juga berantakan, " Catherine datang lagi" lanjutnya dengan suara yang lemah
"Wanita yang sering datang ke sini dan memakai baju kurang bahan itu!" Dion kemudian mengangguk saat apa yang ia pikirkan terjawab, ia kemudian kembali mengingat kejadian di mana Catherine datang ke restoran ini dan membuat malu Kak Jo
"Dia berulah lagi, Bos?" Kak Jo mengangguk dan Dion pun menggelengkan kepalanya dengan cepat seolah merasa jijik dengan apa yang pernah ia lihat saat Catherine berulah
"Bukannya Pak Bos sudah biasa menghadapi ulahnya, lalu kenapa sekarang sepertinya berat sekali, apa yang dia lakukan?"
"Dia sudah melewati batas, aku semakin geram. Hari ini harusnya jadi hari yang mengesankan tapi harus berubah jadi buruk karena kedatangannya" jelas Kak Jo dengan emosi
"Sabar, Bos. Wanita seperti itu akan semakin berulah jika kita bertindak kasar, lebih baik diamkan saja dan jangan membalas apa yng ia lakukan" saran Dion
"Terima kasih sarannya, mungkin aku harus mencobanya. Jujur saja aku sudah tidak tahu bagaimana harus menghadapinya ditambah lagi Ayahku selalu mencoba untuk menjodohkan kami berdua dan itu membuatnya semakin percaya diri"
__ADS_1
"Sudahlah, Bos. Jangan terlalu ditanggapi meski pun dia mendapatkan dukungan, dia akan berhenti ketika Bos tidak lagi meladeninya" Kak Jo mengangguk lagi
"Oh ya, Bos. Ada hal yang ingin saya tanyakan" lanjut Dion
"Hal apa?"
"Apa aku boleh tahu siapa gadis yang kemarin?" Dion cengar-cengir ketika mengatakan hal itu, ada perasaan tidak enak di hati Kak Jo
"Gadis yang mana?" Kak Jo mencoba mencari kejelasan
"Yang itu loh, Bos. Yang kemarin datang ke sini bersama Bos" jelas Dion dan itu membuat apa yang dipikirkan Kak Jo terjawab
"Maksudmu Aulia?" Kak Jo menajamkan penglihatannya pada Dion yang masih senyum-senyum tidak jelas
"Jadi namanya Aulia. Nama yang cantik seperti orangnya!" Dion kegirangan dan sontak saja membuat Kak Jo berdiri dan menggerakkan mejanya, emosi menguasai hati dan juga pikirannya. Ia sangat marah ketika ada orang yang bertanya tentangku, ia juga tidak tahu kenapa hal ini terjadi padanya
"Bos!" teriak Dion yang kala itu tengah memikirkan tentangku tiba-tiba terkejut dan terjungkal dari kursi yang ia duduki, ia meringis kesakitan mendapati tubuhnya yang kini tergeletak tertimpa kursi
"Jangan berpikir kamu bisa mendekatinya, jangan pernah!" hardik Kak Jo tiba-tiba dan kemudian ke luar dari ruangannya meninggalkan Dion yang kini masih berpelukan dengan kursi
"Bos, tunggu. Kenapa anda marah?" Pertanyaan itu tak dijawab oleh Kak Jo, Dion tampak semakin bingung dengan bosnya, ia juga tidak tahu sebenarnya yang ia permasalahkan itu Catherine atau pertanyaan Dion yang baru saja ia lontarkan
Dion pun bangkit dan membenarkan pakaian yang ia kenakan, ia juga mengembalikan kursi ke tempat semula dan mengambil berkas yang seharusnya sudah di tanda tangani oleh bosnya tapi nasib sial kembali menimpanya, berkas yang seharusnya sudah mendapatkan tanda tangan itu ternyata belum dilihat sama sekali oleh Kak Jo. Dengan langkah yang hampa ia pun ke luar dari kantor bosnya dan kembali ke tempat di mana ia bekerja
Sedangkan Kak Jo sendiri kini ia mengendarai motornya gede miliknya dan menuju ke sebuah tempat
__ADS_1