Teman Kakakku

Teman Kakakku
Warisan dari Kakek buyut


__ADS_3

Kami bertiga sekarang sudah sampai di rumah, kami diantar pulang oleh Kak Jo dengan mobil mewahnya yang berwarna hitam itu.


"Istirahatlah, Bang. Aku akan memasak untuk makan siang" ucapku meninggalkan Bang Reza yang kini berbaring di atas kasurnya.


"Kamu, memasak?" Bang Reza melirikku dengan tatapan tidak percaya. Aku bisa mengerti apa yang kini Bang Reza pikirkan.


Ya, wajar saja, memang selama ini aku tidak pernah sedikit pun memasak. Jangankan memasak, merebus air saja kadang-kadang aku lupa sampai panci yang aku gunakan menjadi gosong. Dan sejak saat itu Bang Reza melarangku untuk berinteraksi dengan dapur dan lingkungannya.


Aku mengangguk, "Percayalah, Bang. Sekali ini saja!" aku kemudian bergegas pergi dari kamar itu meninggalkan Bang Reza yang tengah tersenyum memikirkan apa yang baru saja aku katakan.


"Jangan mengosongkan panci lagi, ya" teriaknya dari dalam kamar, aku masih bisa mendengarnya walaupun kini aku berada di dapur.


Aku hanya tersenyum mendengarnya dan tidak berniat membalas kata-katanya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Kak Jo yang baru saja kembali dari arah luar rumah. Ia melihatku yang kini tengah mengeluarkan dua bahan yang ada di dalam kulkas dan meletakkannya di atas meja ruang makan.


Semua bahan itu bertumpuk di sana, jika dilihat, maka orang akan berpikir jika aku sedang berjualan sayuran dan tidak sedang ingin memasak.


"Aku ingin memasak!" Jawabku sambil memilah bahan yang akan aku masak.


"Kamu mau memasak ini semua?" Lanjut Kak Jo sambil menunjuk ke arah tumpukan sayuran itu. Kak Jo berdiri di seberang meja yang kini penuh dengan sayuran itu.


"Entah," jawabku asal masih memikirkan hal itu


Sepuluh menit berlalu, aku dan Kak Jo masih terdiam di sekitar meja itu, aku masih bingung harus memasak apa dan Kak Jo juga tidak berbicara sedikit pun.


"Kenapa diam, atau jangan-jangan kamu tidak bisa memasak?" lanjutnya lagi sambil menatap ke arahku


Aku terdiam, tidak menjawab. Aku malu jika harus mengakuinya.


"Aku bisa memasak, tidak perlu khawatir!" Jawabku kemudian memilih sayuran yang akan aku masak.

__ADS_1


"Syukurlah, jika begitu aku akan menunggu makanannya matang dan aku akan mencicipinya" Kak Jo kemudian bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam kamar Bang Reza.


"Ok" jawabku dengan percaya diri. Aku sebenarnya agak bingung dengan ini semua. Aku tidak tahu harus memasak makanan apa, karena kini di hadapanku terdapat kentang, wortel dan juga telur.


Dengan percaya diri, aku pun mencoba memulai memasak. berbekal resep yang aku dapatkan dari internet, aku pun memulai memasak makanan untuk pertama kali.


Sebelumnya aku sudah merebus air di dalam panci yang berukuran kecil. Sambil menunggu air mendidih, aku kemudian mengupas kentang dan juga wortel dan memotongnya dengan ukuran yang kecil, lalu setelahnya mencucinya sampai bersih.


Setelahnya, aku kemudian mencampur telur dengan garam di dalam mangkok yang rencananya akan aku buat menjadi telur dadar.


.


.


.


"Ayah, aku ingin mengatakan sesuatu" Syafa duduk tepat di samping Ayahnya yang kini berwajah serius sambil membaca koran pagi


"Sebenarnya, aku berpacaran dengan Kak Reza, maaf Ayah, aku tidak bermaksud untuk menentangmu yang tidak mengizinkan aku untuk berpacaran saat masih sekolah" Syafa tertunduk sambil mengatakannya dengan nada yang lirih.


Sang Ayah menoleh, "Tidak perlu takut, aku tidak akan memarahimu, lagi pula kamu berpacaran dengan Reza dan bukan orang lain"


Syafa kemudian menaikkan kepalanya dan menatap Ayahnya dengan tatapan yang tidak percaya, ia tidak mengira jika Ayahnya akan bersikap lembut seperti ini.


Ia juga tidak mengira jika Ayahnya tidak memarahinya seperti terakhir kali saat ia ketahuan berpacaran dengan teman sekelasnya.


Memang, Ayahnya melarangnya untuk berpacaran sebelum ia lulus sekolah dan itu semua hanya untuk kebaikannya dan bukan untuk hal yang lain.


Sang Ayah hanya tidak ingin, putri semata wayangnya salah bergaul dan terjerumus ke dalam hal yang tidak diinginkan.


"Maksud Ayah?" tanya Syafa sekali lagi

__ADS_1


"Aku menyukai Reza dan keluarganya, mereka bukan orang yang buruk dan terlebih lagi mereka pasti akan menjamin kehidupanmu di masa mendatang"


Syafa menatap Ayah sekali lagi, dan lagi-lagi ia tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Ayahnya.


"Aku tahu yang kamu pikirkan, pasti kamu akan berpikir kenapa Ayah mengatakan hal itu. Jadi begini, dengarkan baik-baik semua yang Ayah ceritakan" Sang Ayah mendekatkan dirinya ke arah sang putri.


Sang Ayah kemudian bercerita jika keluargaku sebenarnya saat ini masih memiliki kekayaan yang cukup banyak dan masih berada di tangan pengacara keluargaku, hanya saja semuanya akan menjadi milik kami berdua kali setelah salah satu di antara kami menikah.


Itu semua adalah warisan dari Kakek buyut kami yang sudah lama meninggal, orang tua kami belum sempat menceritakan semuanya kepada kami tapi mereka sudah meninggal dan hanya beberapa orang yang dipercaya saja yang mengetahuinya.


Dan salah satu yang mengetahuinya adalah Ayah dari Syafa. Dia merupakan sahabat baik dari Ayah dan juga ibuku.


"Jadi sebenarnya mereka adalah orang kaya?" Syafa memastikan dan Ayahnya pun mengangguk.


Tapi di dalam hati Syafa masih ada segelintir rasa tidak percaya, jika memang keluargaku adalah keluarga yang kaya, tapi kenapa Bang Reza harus bersusah payah bekerja paruh waktu dan aku harus bingung mencari pinjaman hanya untuk mengoperasi Bang Reza.


"Tapi kamu jangan pernah membicarakan ini semua kepada mereka, ini rahasia!" Syafa pun mengangguk tanda mengerti.


"Tapi Ayah, kenapa hal seperti ini harus disembunyikan, apa kerabat mereka tidak merasa kasihan melihat Kak Reza dan juga Aulia yang harus hidup serba kekurangan seperti sekarang ini?"


"Itu semua dilakukan agar mereka tidak mengalami hal yang sama seperti kedua orang tua mereka, banyak orang di luar sana yang mengincar kekayaan mereka dan demi keselamatan mereka maka ini semua harus dirahasiakan sampai waktu yang ditentukan!" Jelas Ayah Syafa selalu lagi.


"Oh, begitu rupanya. Baiklah, jika ini semua demi kebaikan mereka maka aku tidak akan pernah mengatakan apa pun!"


"Anak pintar" Sang Ayah tersenyum atas reaksi putrinya


Akhirnya mereka pun menyudahi percakapan berdua mereka pagi itu, karena sang Ibu yang kebetulan pagi itu sedang berbelanja ke pasar, Syafa kemudian berpamitan kepada Ayahnya untuk pergi mengunjungi Bang Reza yang baru saja pulang dari rumah sakit.


Syafa kali ini lebih memilih pergi ke rumahku dengan mengendarai motornya. Dia juga berdandan secantik mungkin demi menemui sangat pujaan hati yang baru saja pulang.


"Kita lihat, siapakah yang akan menang!" Ucap Ayah Syafa ketika Syafa sudah melajukan motornya.

__ADS_1


Ia memasang wajah yang terlihat menyeramkan sambil menyeruput kopinya yang kini sudah dingin itu.


__ADS_2