Teman Kakakku

Teman Kakakku
Apa Ayah mau?


__ADS_3

Laki-laki yang baru datang itu pun duduk, ia terlihat tengah mengatur nafasnya yang tengah berlomba. Ia duduk di antara Mr. J dan juga Pak Burhan. Ia membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas yang penuh dengan tulisan


"Maaf sekali lagi, saya terlambat datang. Baik, di sini saya akan menjelaskan semuanya, harap Tuan Reza dan juga Nona Aulia menyimak semuanya dengan seksama"


Aku menoleh ke arah Bang Reza, kami berdua saling pandang. Mencoba mencari kejelasan dari apa yang baru saja kembali dengar. Tapi di sana Bang Reza hanya menggelengkan kepalanya sebagai tanda apa pun juga tidak tahu apa maksudnya


"Perkenalkan, saya Sanjaya. Saya adalah pengacara dari Almarhum Tuan Haryokusumo, kakek kalian. Mungkin selama ini almarhum orang tua kalian belum bercerita apapun mengenai Tuan Haryokusumo, tapi tenang saja, di sini saya akan menjelaskan semuanya dan menjawab pertanyaan apa pun yang kalian ajukan" jelas Tuan Sanjaya sekali lagi, kami masih berada di mode bingung hingga saat ini. Lain hal dengan Pak Burhan, ia malah mengulas senyum di bibirnya. Tampak rona bahagia terpancar di sana


Tuan Sanjaya kemudian menceritakan semuanya, mulai dari asal usul almarhum kedua orang tua kami berdua, kerabat kami berdua hingga pada akhirnya dia juga bercerita jika saat ini kami harus menandatangani sebuah wasiat yang ditinggalkan oleh almarhum kakek Haryokusumo. Kebingungan semakin menjadi kala ia membeberkan seluk beluk dan juga hal-hal rinci yang pastinya baru saja kami dengar dan lagi, ia juga bercerita jika selama ini kami memang selalu diawasi dan diikuti oleh orang-orang kepercayaan dari Almarhum kakek Haryokusumo


"Maaf sebelumnya, Tuan Sanjaya. Wasiat apa saja yang ditinggalkan oleh Almarhum kakek Haryokusumo pada kami?" Bang Reza yang masih diliputi kebingungan akhirnya menyuarakan isi hatinya


"Ada tiga hal yang diwasiatkan oleh Almarhum Tuan Haryokusumo, yang pertama adalah, siapa pun di antara kalian yang terlebih dahulu menikah maka akan mewarisi saham di sebuah perusahaan yang bernama PT. HR grup dan juga memimpin sebuah perusahaan yang bergerak di bidang itu juga, meskipun di antara kalian yang belum menikah juga punya saham di sana" ia membaca sebuah tulisan yang berada di kertas lusuh yang kini tak lagi berwarna putih itu


"PT. HR grup?" Bang Reza memastikan


Pak Sanjaya mengangguk, " Iya, perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan terbesar di kota ini. Hotel bintang lima yang kini berada di pusat kota itu adalah salah satu hotel yang termasuk dari HR grup dan kantor dari HR grup berada tidak jauh dari sana" jelas Pak Sanjaya. Netra Pak Burhan berbinar seiring dengan penjelasan yang ia dengar, bibirnya tak henti menyunggingkan senyum manis yang tidak satu pun tahu arti sebenarnya di balik itu semua


"Dan yang kedua, kalian berdua mewarisi sebuah rumah yang berada tidak jauh dari HR grup, rumah berlantai dua dan memiliki fasilitas yang modern. Yang ketiga, kalian berdua juga mewarisi tabungan yang nominalnya tidak perlu saya sebutkan sebab kalian bisa melihatnya langsung di sini" Pak Sanjaya mengeluarkan dua buah buku tabungan dari dalam tas hitam miliknya


Ia menyodorkannya kepada kami berdua sebuah buku tabungan beserta ATMnya, mata kami berdua hampir saja melompat dari tempatnya kala melihat nominal yang tertera di sana. Berulang kali kami membacanya tapi hasilnya sama, nominalnya tidak habis dipikir dengan logika dan tentunya belum pernah terbayangkan sebelumnya


Aku menyodorkan kembali buku tabungan itu, ada amarah yang tiba-tiba menyeruak di dadaku. Kala kuingat kembali betapa sulitnya kami hidup selama ini, betapa kerasnya kami berusaha dan berkorban demi menyambung nafas yang entah sampai kapan. Dan lagi, jika memang selama ini kami selalu diawasi, kenapa pada saat Bang Reza harus dioperasi mereka semua tidak ada yang muncul dan juga memberi bantuan


"Saya kembalikan ini semua pada anda, maaf saya tidak bisa menerimanya" Bang Reza juga menyodorkan buku tabungan miliknya pada Tuan Sanjaya, ia sepertinya juga merasakan hal yang tidak terlalu mengenakkan di hatinya

__ADS_1


"Loh, ini milik kalian berdua. Ini hak kalian, kenapa kalian berikan pada saya?"


"Maaf sekali lagi, saya sudah cukup bahagia dengan kehidupan saya saat ini. Ini sudah cukup untuk saya dan adik saya, meski saat ini saya harus berjuang tapi setidaknya itu semua hasil dari kerja keras saya sendiri" Bang Reza kembali bersuara, ia sedikit menaikkan nada bicaranya kali ini. Ini adalah kali pertama aku mendengarnya berucap sedikit tinggi


"Memangnya kenapa?"


"Kami sudah terbiasa hidup apa adanya, kami menikmatinya dan kami tidak ingin terbebani dengan uang dan juga apa pun itu. Toh ini semua sudah tidak ada gunanya lagi, jika memang ini semua hak kami seharusnya kalian semua datang di saat yang tepat. Di mana ini semua saat Bang Reza sekarat dan butuh banyak uang untuk operasi, di mana ini semua saat lima tahun terakhir ini, di mana kalian saat Bang Reza harus banting tulang dan membagi waktunya untuk bekerja dan juga belajar. Jika memang pada awalnya ini adalah milik kami, seharusnya sudah dari awal ini semua diberikan" aku juga sedikit emosi saat ini, aku kecewa dengan ini semua


Pak Sanjaya terlihat menghela nafasnya, "Yang kalian katakan memang benar, semuanya memang sudah seharusnya berada di tangan kalian sebelum ini tapi wasiat yang dibuat oleh almarhum Tuan Haryokusumo menjelaskan bahwa semuanya akan diberikan jika salah satu di antara kalian menikah dan hal itu juga sudah disetujui oleh almarhum kedua orang tua kalian" jelas Pak Sanjaya sekali lagi


"Tapi maaf, saya tidak bisa menerima semua ini. Ini terlalu mendadak untuk kami berdua, saya dan adik saya masih terlalu kecil untuk memahami semua itu" nada bicara Bang Reza kini sudah seperti biasanya


"Dan lagi, Tuan. Kami berdua sudah nyaman dengan hidup kami yang sekarang, kami tidak mau terbebani dengan itu semua" aku ikut menimpali


"Dengan ini semua kalian bisa hidup lebih baik, tidak perlu lagi bekerja banting tulang dan tentunya kalian bisa hidup dengan senang" Pak Burhan ikut angkat bicara, ia seolah sudah gatal ingin melihat semua dokumen dan juga tabungan yang ada di atas meja itu


"Hidup senang itu tidak melulu tentang harta dan juga jabatan. Hidup senang itu tergantung bagaimana kita bersyukur dan menerima apa yang Tuhan berikan pada kita" Mr. J yang sedari tadi diam kini mulai angkat bicara, ia menatap Pak Burhan dengan tatapan tajam


"Memang, hidup senang itu tidak melulu tentang uang. Tapi kita tidak perlu munafik, uang memang bukan segalanya tapi segalanya membutuhkan uang" balas Pak Burhan tak mau kalah, ia kali ini jugaembalas tatapan tajam Mr. J


"Ada hal yang bisa kita lakukan tanpa perlu mengeluarkan uang, Pak" lagi Mr. J berucap


"Sudah, jangan diperpanjang. Ini bukan waktunya untuk berdebat" Pak Sanjaya menengahi keduanya. Mr. J yang kini merasa geram karena tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi Pak Burhan sendiri malah merasa seolah ia tahu segalanya dan tidak menyadari jika dirinya kini tengah bertamu


"Bagaimana Tuan Reza dan Nona Aulia?"

__ADS_1


"Saya dan adik saya sepakat, jika saat ini kami belum bisa menerima semuanya. Kami butuh waktu untuk berpikir" keputusan ini kami ambil ketika ada perdebatan argumen antara Mr. J dan Pak Burhan tadi


"Baik, jika memang kalian belum bisa menerima uang dan juga rumah itu, tidak apa-apa. Tapi ada satu hal yang tidak bisa anda hindari"


"Apa?"


"Berhubung anda sudah menikah, maka otomatis anda harus tanda tangan di dokumen ini. Ini dokumen penyerahan jabatan dari orang yang memimpin perusahaan itu sekarang kepada anda tuan Reza, meski saya tahu ini baru pernikahan siri" Pak Burhan serasa ingin melompat dari tempat duduknya saat ini, keinginan untuk memimpin perusahaan sudah dekat dengan dirinya


Ia berkeyakinan jika Bang Reza pasti tidak akan ampun memimpinnya maka kemudian hal itu akan dialihkan pada dirinya, sang mertua yang memang selama ini bekerja di perusahaan dan pernah punya perusahaan


"Apa ini harus?" Pak Sanjaya mengangguk


"Tapi saya tidak mau memimpin perusahaan itu, saya tidak tahu seluk beluk tentang perusahaan dan semacamnya terlebih lagi saya juga belum memutuskan untuk menerima ini semua atau tidak" jelas Bang Reza lagi


"Jika memang anda belum mau memimpinnya, itu tidak menjadi masalah besar karena yang terpenting sekarang adalah kalian bertanda tangan sebagai bukti bahwa ini semua sudah beralih menjadi milik kalian dan mau dipakai untuk apa itu terserah pada kalian, kalian bisa menunjuk seseorang untuk menggantikan kalian sementara memimpin perusahaan itu atau membiarkan orang yang sebelumnya memimpin untuk memimpin perusahaan itu sementara anda belum mau terjun langsung ke sana" Pak Burhan semakin besar kepala, ia sudah sangat yakin jika dirinya yang akan ditunjuk untuk hal ini


"Tapi saya tidak tahu harus menunjuk siapa?" Bang Reza menatap kami semua satu per satu, Pak Burhan yang kini ditatap oleh Bang Reza melebarkan senyumnya, Mr. J dan Pak Sanjayatahu hal itu dan keduanya pun memandangnya penuh ancaman. Cukup lama ia berpikir hingga akhirnya ia bersuara


"Bagaimana jika anda yang menggantikan saya?" tawar Bang Reza pada pak Sanjaya, raut wajah Pak Burhan sedikit kecewa tapi ia bisa menutupinya dengan cepat


"Saya tidak berkompeten dalam hal itu, saya takut tidak bisa menjalankan semuanya. Apa saya boleh memberi saran?" Bang Reza mengangguk


"Bagaimana jika Tuan Burhan saja yang menggantikan posisi Tuan Reza sementara ini, toh beliau pernah berkecimpung di dunia bisnis dan mengolah perusahaan" saran itu muncul seketika dan membuat Mr. J mengerutkan keningnya, ia menatap Pak Sanjaya tapi hanya senyuman yang terbit di sana


"Apa Ayah mau?"

__ADS_1


__ADS_2