Teman Kakakku

Teman Kakakku
Si Jojon


__ADS_3

Mobil yang kami naiki kini sudah berada di pelataran rumah, entah pura-pura atau memang benar, Mr. J malah tertidur di pundakku, tangan kami masih terus terpaut satu sama lain dan bodohnya lagi, aku malah enggan melepaskan tangannya Mr. J. Duh, kok jadi munafik begini sih


Bang Reza menutup pintu mobil dengan suara yang cukup keras, seketika Mr. J menggeliatkan tubuhnya dan bersamaan dengan itu aku pun terlepas dari kejadian yang membuatku hampir mati terduduk tadi


Aku segera berlari ke dalam rumah, aku masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan suara yang cukup keras. Lemas rasanya, jantungku hampir saja meledak ketika kuingat kembali hal apa yang baru saja aku alami. Dari dalam kamarku, kembali kudengar deru mobil yang semakin lama semakin hilang, sebagai tanda Mr. J sudah pulang dari rumahku. Sekali lagi, hal bodoh terjadi padaku, dengan segera aku malah mengintip dari celah jendela kamarku. Kulihat lagi mobil yang tadi aku naiki, kini sudah menghilang dari pandangan


"Aulia!" suara Bang Reza menyadarkan otakku yang tak sejalan dengan hati. Aku bergegas dari tempat itu dan membuka pintu


"Boleh Abang masuk?" aku mengangguk. Aku dan Bang Reza duduk di atas kasur yang biasa aku pakai untuk tidur


"Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Abang tahu kamu masih menyukainya, kakak harap kamu bisa memaafkan semuanya dan kembali membuka hati untuk Jonathan" Kak Reza meraih tanganku


Kuhela nafasku kasar, " Semuanya lebih baik jika seperti ini Bang, aku dan dia lebih baik tidak mengenal satu sama lain" aku menunduk dan menyembunyikan wajahku yang tiba-tiba terasa sangat panas


"Lihat Abang, Aulia" aku mengangkat wajahku yang kini berderai air mata. Entah kenapa percakapan singkat ini membuat hatiku sangat sakit


"Maafkan Abang, Aulia. Abang terlalu keras padamu, abang terlalu protektif padamu selama ini dan ini efeknya" Bang Reza memelukku erat


"Jangan salahkan diri Abang, ini semua memang yang terbaik untuk Aulia. Aulia tahu, abang melakukannya karena abang sayang sama Aulia. Abang enggak mau hal buruk terjadi pada Aulia" kami masih berpelukan saat ini


"Aulia tahu, membohongi diri sendiri itu memang sakit, tapi memaksakan hal yang tidak seharusnya itu lebih sakit, Bang!" lanjutku lagi


"Aulia sudah dewasa sekarang, Aulia tahu mana yang baik dan tidak untuk Aulia. Lebih baik sekarang kita pikirkan pernikahan abang saja, bukan kah waktunya tinggal beberapa hari lagi?"


"Baik, jika itu yang kamu inginkan saat ini. Ternyata adik Abang sudah besar sekarang, ya" Bang Reza melepaskan pelukannya


"Abang hanya ingin mengatakan satu hal padamu" aku menatapnya lekat sembari mengangguk


"Jonathan menyukaimu, dia serius padamu. Selama abang mengenalnya, dia tidak pernah sekali pun mengejar seorang perempuan jika memang dia tidak menyukainya" aku mengangguk


"Terima kasih sudah mendukung Aulia, tapi untuk saat ini Aulia ingin fokus sekolah dan juga menikmati kebersamaan bersama abang, sebelum nanti jadi suami Syafa"


"Tidur lah, ini sudah malam. Besok ada hal yang harus kita lakukan"


🌼

__ADS_1


🌼


🌼


"Yuk berangkat!" aku dan Bang Reza kini tengah berboncengan, kami akan pergi ke suatu tempat. Kami bernyanyi sepanjang perjalanan, banyak mata melihat adegan romantis kami. Mereka mengira jika kami berdua tengah berpacaran sebab saat ini aku memeluknya erat dan kuletakkan daguku di pundak Bang Reza. Hal sederhana tapi mampu membuat kami berdua merasa sangat bahagia


Aku memanfaatkan waktu yang tersisa sebelum haru sabtu, sebelum nanti Bang Reza menikahi Syafa maka akan aku puaskan hatiku untuk terus memeluknya


"Kita kemana, Bang?" aku berteriak di samping telinganya agar ia mendengarku


"Apa?" teriaknya dan disambut tawa. Inilah hal membahagiakan itu, saat kita bertanya tapi tidak didengar malah malah balik bertanya


"Kita mau kemana?" Sekali lagi aku bertanya


"Ke rumah Syafa!" aku mengangguk


Tak lama, kami sudah sampai di rumah Syafa. Rumah yang sejak kecil selalu aku kunjungi, rumah yang sudah kuanggap sebagai tempat terindah kedua setelah rumahku sendiri. Di rumah ini banyak kenangan yang tertinggal, kenangan bersama kedua orang tuaku, masa-masa di mana kami masih saling berkunjung dan juga menikmati hidup sederhana yang indah, masa di mana kami berdua tinggal bersama di saat kedua orang tua kami pergi bekerja atau bahkan ke luar kota untuk waktu yang lumayan lama


Kehangatan itu kembali aku rasakan saat aku melangkah masuk ke dalam pelataran rumah itu. Kuingat kembali, masa kecil kami berdua, bermain apa saja yang bisa kami jadikan mainan, main petak umpet, main masak-masakan seperti anak kecil pada umumnya, hingga di sini kamu juga pernah bermimpi jika akan menjadi orang yang sukses dan ingin cepat dewasa


"Aulia, ayo masuk!" suara itu mengagetkanku, suara familiar yang selama lima tahun terakhir ini aku hindari. Aku tersadar dari lamunan dan berjalan ke arah Syafa yang kini sudah bergandengan dengan Bang Reza


"B aja kali, kalian mau nyebrang?" enggan aku melihat keduanya yang tampak mesra. Jiwa jomblo berteriak keras, memberontak ingin sekali seperti mereka. Bang Reza dan Syafa malah semakin mengeratkan gandengan itu, membuatku semakin ingin menangis


"Iri, bilang bos" dan kami pun tertawa. Syafa mengajak kami masuk ke dalam rumahnya. Kami duduk di sofa ruang tamu dan adegan saling bergandengan tangan pun masih saja terus terjadi


"Tahu ah" kataku sembari melipat kedua tanganku di dada


"Makannya, jangan kerasa kepala. Si Jojon sudah siap tuh buat nge gandeng tangan kamu, eh kamunya yang jual mahal" cibir Syafa


"Si Jojon, siapa?" aku agak bingung dengan nama itu, nama yang baru saja aku dengar


"Jonathan, Aulia" jawab Bang Reza


"Kok bisa si Jojon sih, nama bagus-bagus kok malah diganti enggak jelas kayak gitu?" sambungku

__ADS_1


"Cie-cie enggak terima nih ceritanya?" Syafa tergelak seketika, aku semakin tersudut dan menggaruk kepalaku yang tidak gatal


"Mulai kan ngomongin yang enggak penting. Mending juga sama si Bagas, ketua OSIS yang kece itu!"


"Oh, jadi sekarang mau ni sama si mas B?" aku mengangguk ragu. Entah kenapa aku malah bimbang dengan kata-kataku sendiri. Memang, Kak Bagas yang notabene adalah ketua osis kece itu, sudah berulang kali mendekatiku. Tapi alasan aku menolak adalah tidak lain karena Bang Reza yang protektif dan pastinya tidak akan membiarkan siapa pun untuk dekat denganku


"Jadi selama ini ada yang mendekati kamu?" selidik Bang Reza membuatku mati kutu seketika


"Bu-bukan begitu maksudnya, Bang" aku agak gugup dengan apa yang ditanyakan Bang Reza. Benar-benar ya, Syafa malah membuka aib yang selama ini aku tutup rapat. Aku melirik ke arah Syafa, dia malah cekikian seolah tanpa dosa


"Aulia" Bang Reza kembali bersuara


"Itu, maksudnya begini loh Bang" aku mulai menjelaskan keadaan yang sebenarnya, jika selama ini aku tidak menanggapinya dan terus mengacuhkannya. Tapi sedetik kemudian, Bang Reza malah tertawa melihatku yang kini menunduk dan merasa takut


"Jadi itu alasan kamu menolak dekat dengan si Jojon?"


"Bukan begitu, Bang!" seketika jawaban itu ke luar


"Lalu alasannya apa?" seseorang dari ambang pintu mengeluarkan suaranya. Kami menoleh ke arah suara dan di sana sudah berdiri Kak Jo, yang selama hampir lima belas menit ini jadi bahan obrolan kami. Laki-laki yang umurnya tidak beda jauh dari Bang Reza itu tampak lain kali ini, dia yang biasanya terlihat rapi dengan setelan batik dan juga pakaian formal lainnya, kini tampak lebih segar.


Kaos oblong warna hitam yang begitu kontras dengan warna kulitnya yang putih serta celana jeans yang berwarna biru tua itu semakin membuatnya tampak tampan dan juga menawan. Tak lupa tatanan rambutnya yang kini dipangkas seperti para model, membuat wajahnya yang tirus semakin terlihat menarik. Eh, tunggu-tunggu, kok jadi gini sih, kok jatuhnya malah mengagumi sih. Ini enggak bener, asli ini enggak bener


Dia berjalan mendekat dan kini duduk tepat di sampingku. Dari jarak sedekat ini, aku mampu mencium aroma parfumnya. Parfum yang sama seperti pertama kali aku bertemu dengannya. Lah, kok tambah aneh gini sih. Sadar Aulia, sadar


"Katakan, apa ada alasan lain yang membuat kamu menjauhiku selain ketua osis yang kamu bilang kece tadi?"


Semua diam seketika, tatapan mata mereka tertuju padaku. Aku merasa seolah sebagai pencuri yang tertangkap basah, isi otakku mendadak kosong, bahkan satu kata pun tak tersisa di sana. Manik mata Mr. J masih mengintimindasiku, meminta jawaban akan apa yang ia tanyakan tapi aku masih sama, diam dan menunduk


Aku merutuki kebodohanku, aku yang sedari tadi mampu mengoceh tak karuan kini seketika kaku dan tak mampu membuat mulutku terbuka meski hanya sepatah kata. Jantung pun seolah tengah lari maraton dan belum menemui titik akhir


"Kalian sudah lama?" terdengar suara lain dari arah pintu. Seketika aku merasa bahagia dan aman. Aku terhindar dari tuntutan seorang Mr. J. Kedua orang tua Syafa baru saja datang entah dari mana, aku mengelus dadaku lega. Kami semua berdiri dan menyambut mereka


"Kita belum selesai, Aulia" suara itu kembali kudengar, baru saja aku merasa lega kini sudah berganti gugup kembali


"Syafa, aku ikut!" aku berlari menyusul Syafa dan ibunya ke dapur, mencoba menghilangkan gugup yang baru saja kembali datang

__ADS_1


__ADS_2