
Kak Jo sendiri kini hanya bisa menatap kepergianku tanpa mampu untuk mengantarkan, dia hanya bisa memandang punggungku yang lama semakin lama tak terlihat lagi dan jauh dari pandangan, Kak Jo pun juga merasakan sesak di dalam hatinya. Ia yang berharap hari ini akan jadi hari yang menyenangkan malah berujung sebaliknya, rencana yang ia susun rapi harus berubah alur dan menjadi hancur
"Maaf, aku tidak bisa mengejarmu, aku akan menunggu hingga situasinya membaik dan akan aku jelaskan semuanya nanti" Kak Jo masih terus menatap kepergianku dengan mata merah dan berair
"Harusnya aku tahu diri, sejak awal harusnya aku tidak menuruti hatiku yang tidak tahu diri ini" batinku sambil terus berjalan menjauh dari pekarangan rumah Kak Jo
Aku pun menangis sesenggukan seraya berjalan ke arah yang aku pun tidak tahu, bukan pulang ke rumah atau ke tempat di mana aku berada sebelumnya, aku terus saja berjalan sembari mengusap air mata yang tak kunjung berhenti mengalir.
Hampir satu jam lamanya, kakiku terasa pegal dan aku putuskan untuk duduk di sebuah taman bermain, yang mana di sana terdapat beberapa pohon yang berdaun rimbun dan teduh, banyak bunga-bunga yang bermekaran dan juga berbagai arena bermain yang tentunya dikhususkan untuk anak-anak, aku pun kemudian mendaratkan bokongku di atas tempat duduk yang sudah usang dan terlihat berkarat itu
"Aku terlalu bodoh, kenapa aku harus memiliki perasaan pada orang yang tidak tepat. Kenapa Aulia, kenapa?" aku merutuki diriku sendiri yang kini terlihat bodoh dan jauh dari kata sempurna dibandingkan dengan perempuan yang tadi. Meskipun aku tahu Kak Jo tidak menyukainya tapi aku juga bukan tipe yang diharapkan olehnya, perasaan bahagia yang baru beberapa menit aku rasakan kini berubah menjadi sayatan luka yang menikam hatiku
Kuseka air mata yang kini mengalir dan mengamati keadaan sekitar yang terlihat sepi. Aku kemudian berdiri dan hendak pergi, aku sudah sedikit lega setelah menangis tadi
"Awas!" teriak seorang wanita yang aku pun tidak tahu arahnya, kuamati sekitar dan kemudian mendapati seorang wanita yang masih muda, berhijab dan terlihat sangat cantik. Ia tengah bersama dengan seorang anak perempuan berbadan mungil, berbaju setelan warna merah muda serta rambutnya yang dikuncir kanan kiri yang tengah menangis sembari memegangi lututnya yang terluka
Aku mendekat ke arah keduanya dan kini berjongkok di samping mereka. "Kenapa, Kak?" tanyaku kemudian seraya berdiri tepat di depan gadis kecil dan wanita muda itu
Wanita itu kemudian mendongakkan kepalanya ke arahku, matanya yang coklat serta wajahnya yang terlihat sendu itu begitu menyejukkan hati siapa pun yang memandangnya dan dibarengi dengan senyum manis yang menghiasi bibirnya
__ADS_1
"Dia terjatuh karena mengejar kucingnya yang lari" terangnya kemudian, aku pun hanya mengangguk
"Jangan menangis ya, kita cari sama-sama yuk" ucapku mencoba menenangkan anak itu yang kini menangis karena terjatuh dan juga kehilangan kucingnya
"Kitty, Kak, Kitty" rengek gadis kecil itu sembari menunjuk ke sebuah arah
"Sudah jangan menangis, kita cari sama-sama yuk, sama Kakak ini juga" lanjut wanita itu kemudian dan gadis kecil itu pun segera berhenti menangis dan menyeka air matanya, ia kemudian berdiri dan berjalan ke arah di mana ia melihat kucingnya berlari tadi
Kami bertiga pun kemudian mencari kucing itu di antara semak-semak dan juga arena bermain, anak kecil itu terlihat antusias sambil sesekali memanggil nama hewan kesayangannya itu
"Nah ini dia" aku pun menangkap kucing itu, kucing yang bertubuh gembul dan juga berbulu putih itu terlihat jinak dan tidak melawan sedikit pun, ia bersembunyi di antara bunga-bunga yang bermekaran sehingga sulit dibedakan antara dirinya dan juga bunga-bunga itu
"Yuk kita pulang, kan Kitty udah ketemu" ajak wanita cantik itu pada gadis kecil itu
"Iya, Kak. Tapi Nuna mau mengucapkan terima dulu sama Kakak ini, dia udah bantu Nuna mencari Kitty" wanita itu mengangguk dan memberi kesempatan Nuna untuk mengucapkan terima kasih padaku
"Kak, terima kasih banyak ya" lanjut gadis kecil yang bernama Nuna itu, aku pun menatapnya dengan perasaan gemas. Bibirnya yang mungil begitu fasih mengucapkan terima kasih ditambah lagi suara khas anak kecil yang cempreng dan juga ceria
Aku pun berjongkok dan mendekat ke arah gadis itu, "Iya, sama-sama. Kittynya dijaga ya biar enggak lepas lagi" Dia pun mengangguk sambil terus tersenyum riang
__ADS_1
"Terima kasih, ya. Oh ya nama kamu siapa, kita belum berkenalan" wanita itu mengulurkan tangannya ke arahku tanpa ragu aku pun menjabatnya
"Aulia" ucapku kemudian
"Ayu" balas wanita itu
"Apa kamu orang baru di area sini?" lanjutnya dan aku pun hanya menjelaskan jika aku baru saja dari rumah temanku dan kebetulan melintas di tempat ini
Dia mengangguk, "Jika tidak keberatan mampirlah ke tempat tinggal kami, tidak jauh dari sini, di seberang jalan itu!" tunjuknya pada sebuah rumah kecil bercat hijau tua yang memiliki pekarangan cukup luas dan dipenuhi dengan aneka arena bermain anak dan juga beragam bunga
"Terima kasih atas tawarannya, Kak. Mungkin lain kali saja" tolakku halus
"Baiklah, terima kasih sekali lagi. Hati-hati jika berjalan pulang" aku pun mengangguk dan setelahnya ia pun pergi sembari memegang Kitty dan juga menggandeng tangan Nuna. Aku sejenak terdiam sesaat setelah dia berjalan pergi, meskipun aku baru mengenal wanita itu tapi rasanya sangat nyaman berbicara dengan dia, suaranya yang lembut serta peringainya yang halus ditambah lagi dengan parasnya yang ayu, persis seperti namanya. Aku berharap bisa bertemu dengan dia di lain kesempatan
Baru beberapa langkah, si Nuna, gadis kecil berwajah imut itu kembali menoleh ke arahku dan melambaikan tangannya, aku pun membalasnya
Memori masa kecilku pun kembali berputar di benakku, mengingat ketika kami semua masih bersama. Masih bisa merasakan kasih sayang dari Ayah dan juga Ibu, merasakan kebersamaan yang tidak ada duanya, meski pada saat itu kami semua hidup dalam kesusahan dan kekurangan tapi kebersamaan dan kehangatan keluarga kami mampu mengalahkan semuanya. Ingin rasanya aku memutar waktu dan kembali ke masa itu, walaupun pada saat itu aku pernah berharap segera beranjak dewasa dan tidak lagi dianggap sebagai anak kecil
Air mata kembali luruh, kesedihan itu semakin nyata dan jelas di depan mata. Aku pikir setelah dewasa aku bisa lebih bahagia, tapi ternyata tidak, jadi anak kecil malah lebih bahagia sebab menangis karena pertengkaran dengan Bang Reza lebih membahagiakan daripada jatuh cinta
__ADS_1
...************...