Teman Kakakku

Teman Kakakku
Wanita haus harta


__ADS_3

"Jadi ini pekerjaan yang kamu banggakan, sampai-sampai kamu meninggalkan perusahaan keluargamu" teriak seorang laki-laki yang memakai setelan jas warna hitam, berbadan tinggi dan juga memasang wajah yang sangat seram


Laki-laki itu baru saja masuk ke dalam restoran yang dikelola oleh Kak Jo, laki-laki yang kini diikuti oleh beberapa orang penjaga yang selalu siaga di belakangnya.


Ia langsung menerobos masuk ke sebuah ruangan yang berada di sudut kiri restoran itu.


Restoran kecil namun nyaman, bernuansa etnik Nusantara. Di sana terdapat sekitar sepuluh meja, dan di setiap meja terdapat tiga buah kursi yang mengelilinginya. Meski restoran ini kecil, tapi restoran ini sudah tercatat sebagai restoran bintang lima.


Di setiap sudut terdapat berbagai ornamen khas dari berbagai suku dan juga kebudayaan beberapa daerah di Nusantara.


"Maaf, Anda tidak bisa masuk ke tempat ini" cegah seorang laki-laki yang kebetulan baru ke luar dari ruangan itu, laki-laki berbadan tinggi dan berambut ikal itu mengenakan sebuah setelan juru masak berwarna putih.


Laki-laki itu kemudian menghentikan langkahnya, dan mendekat ke arah laki-laki yang tadi mencegahnya. Salah seorang penjaga kemudian ikut mendekat ke arah mereka namun sang bos langsung melarangnya.


"Katakan pada atasanmu, aku menunggunya di luar!" lirih laki-laki itu dengan nada mengancam, dan dengan segera laki-laki berambut ikal itu segera berlari masuk ke tempat di mana Kak Jo berada, ia merasa terintimindasi dengan apa yang baru saja ia dengar, nyalinya tiba-tiba menciut meski sebelumnya ia mencegah laki-laki itu


Sebuah ruangan yang berukuran sedang, terdapat sebuah rak buku di sisi kanan dan kiri, berbagai ukuran lukisan makanan dan juga buah-buahan, beberapa sofa kecil yang mengelilingi sebuah meja berbentuk bulat serta sebuah meja dan kursi yang kecil, dipakai oleh Kak Jo untuk duduk ketika berada di tempat itu.


"Bos, ada tamu yang menunggumu di luar" ucapnya dengan wajah sedikit takut, ia menyandarkan tubuhnya di pintu masuk ruangan itu


"Siapa, Dion?" Kak Jo masih memperhatikan sebuah kertas yang bertumpuk di depannya, sempat menoleh ke arah karyawannya yang bernama Dion itu.


"Entah, Bos. Tapi dari wajahnya, di terlihat sangat menyeramkan dan juga diikuti oleh beberapa penjaga di belakangnya" jelasnya kemudian duduk di sofa ruangan itu. Mengatur nafas dan menyeka keringat yang kini mengucur deras di keningnya.


"Suruh dia masuk!" Perintah Kak Jo dan tanpa mampu dibantah oleh Dion, akhirnya ia pun ke luar dari ruangan Kak Jo dan mendekat ke arah laki-laki yang dikerumuni penjaga itu.


"Ma-maaf, Anda diminta masuk ke dalam ruangan Pak bos, dia sedang sibuk sehingga tidak bisa menemui Anda" terang Dion dengan suara yang lirih dan kemudian bergegas pergi dari sana

__ADS_1


"Dasar kurang ajar!" Laki-laki itu berdiri dan langsung berjalan ke arah ruangan di mana Kak Jo berada.


Dion dengan segera pergi menjauh dari tempat itu ketika pesan yang diberikan oleh Kak Jo telah ia sampaikan kepada laki-laki itu.


Meninggalkan para penjaga yang kini berwajah datar dan menyeramkan.


"Dasar anak kurang ajar, apa ini yang kamu dapatkan ketika kamu pergi meninggalkan keluargamu!" teriak laki-laki itu ketika sampai di dalam ruangan itu.


Laki-laki itu adalah Tian Wibisono, dia merupakan Ayah dari Kak Jo. Tian Wibisono adalah pemilik dari firma terbesar yang sangat terkenal di Negeri ini. Dia merupakan seorang pengacara dan kini ia meminta Kak Jo untuk ikut terjun di dunianya, namun, Kak Jo lebih memilih menjadi koki dan membangun sebuah restoran.


Itulah alasan mengapa ia pergi dari rumah, meninggalkan keluarganya dan membangun usahanya sendiri. Ayahnya terus memaksa dirinya untuk menjadi pengacara sampai saat ini.


"Bukankah ini yang Ayah inginkan, Ayah lebih menginginkan hidup bersama uang Ayah dari pada dengan anak Ayah" Kak Jo belum mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas itu


"Apa yang kamu katakan, apa kamu pikir Ayah sangat serakah dan lebih memilih uang dari pada dirimu?" laki-laki itu mendekat ke arah Kak Jo


"Ayah melakukan ini semua demi masa depanmu, masa depan yang cerah" jawab Wibisono


"Masa depan, masa depan yang cerah kata Ayah?"


"Iya, masa depan. Ketika kamu menjalankan perusahaan keluarga kita dan menikah dengan Catherine, maka hidupmu akan lebih bahagia!" lanjut Wibisono lagi


"Catherine, wanita haus harta dan juga suka mengumbar cinta itu tidak cocok denganku, lagi pula sekarang aku sudah menemukan seorang perempuan yang jauh lebih baik dari pada dia" Kak Jo berjalan menjauh dari mejanya dan membuka jendela kaca yang berada di belakangnya.


"Siapa wanita itu, apa lebihnya dari Catherine?"


"Dia lebih segalanya, dan yang pasti dia tidak haus akan harta!" Terang Kak Jo sambil memperhatikan pemandangan yang ia lihat dari jendela itu.

__ADS_1


"Pulanglah, dan jalankan perusahaan keluarga kita!" Wibisono kemudian membalikkan badannya hendak ke luar dari ruangan Kak Jo.


Wibisono sudah kehabisan akal bagaimana membawa anaknya kembali pulang, berbagai cara telah ia lakukan mulai dari hal yang lembut sampai hal yang bisa dibilang sedikit kasar.


Tapi Kak Jo tetaplah Kak Jo, ia tetap bertahan pada apa yang ia yakini. Meski hal itu mendapatkan ijin atau pun tidak.


"Aku sudah punya perusahaan sendiri, lebih baik Ayah meminta bantuan orang lain saja" lanjut Kak Jo kemudian kembali bergulat dengan kertas-kertas yang sedari tadi menunggunya.


Wibisono kini sudah berada di luar ruangan Kak Jo, dan segera bergegas pergi dari sana. Banyak pasang mata yang menatapnya karena siang ini restoran Kak Jo sangat ramai dan penuh dengan pembeli.


.


.


.


Aku baru saja ke luar dari kamarku, setelah pulang dari sekolah tadi siang aku langsung masuk ke dalam kamarku dan bergegas tidur.


"Kamu tidur siang apa mati suri, Aulia?" tanya Bang Reza yang kini tengah menyiapkan makan malam. Dia sudah sembuh saat ini dan sudah bisa memasak kembali, namun ia belum kembali bekerja.


Aku hanya tertawa dan kemudian mendekat ke arahnya, aku duduk di sampingnya yang kini tengah menata berbagai masakan.


"Bang, apa kita akan kedatangan tamu?" tanyaku ketika melihat ke arah meja makan yang penuh dengan berbagai masakan.


"Iya, malam ini Syafa dan Jonathan akan datang!" jelasnya kemudian ikut duduk


"Pantas saja, ternyata kekasihnya akan datang" ucapku sambil melirik Bang Reza yang kini tengah tersenyum.

__ADS_1


"Sudah, cepat mandi sana!" Perintah Bang Reza kemudian dan aku pun segera beranjak dari dudukku dan segera bergegas mandi.


__ADS_2