
Pagi menjelang, sinar mentari memaksa masuk ke dalam ruangan gelap dan kecil. Ruangan yang tidak lain adalah kamarku, aku memang sengaja mematikan lampunya semalam agar aku bisa tidur dengan lelap dan nyaman
Aku menggeliat di balik selimut bermotif kartun itu sambil sesekali menguap dan mengucek mataku.
"Kenapa harus pagi, aku masih mengantuk" ucapku sambil meregangkan otot-otot di tubuhku yang semalam terbalut selimut tebal
Kulirik benda yang menggantung di dinding, di sana baru menunjukkan pukul 06.00 dan aku masih malas beranjak dari kasur usangku itu meski kini mataku tak lagi merasa mengantuk
Pintu kamarku terbuka, dan di sana tampaklah Bang Reza yang kini sudah terlihat rapi dan juga wangi. Dia mendekat ke arahku dan duduk di tepi ranjangku sambil tersenyum
"Aku sudah bangun, Bang" suaraku masih serak karena baru bangun, Bang Reza yang hendak membangunkanku kemudian mengurungkan niatnya
"Tumben bangun pagi" Ia mengusap kepalaku lembut, aku membuka selimutku dan kemudian duduk di sampingnya, menyandarkan kepalaku di bahunya.
"Kenapa?" aku menggeleng
"Maafkan, Abang" aku menatapnya dengan hari yang bingung, baru juga bangun, eh Abangku yang siap siaga ini sudah meminta maaf
"Untuk?" sambungku kemudian mengangkat kepalaku dari bahunya
"Untuk semuanya. Abang tahu yang kamu rasakan, Jonathan sudah menceritakan semuanya" jelasnya kemudian
Aku menggerutu dalam hati, kenapa Kak Jo malah menceritakan hal itu, harusnya dia diam. Kan itu semua hanya jawaban palsu yang aku jadikan dasar kesalahpahaman perasaanku. Aku kira hanya perempuan saja yang cerewet ternyata laki-laki juga bisa cerewet
"Abang tidak perlu minta maaf, ini semua bukan salah Bang Reza. Lagi pula aku saja yang terlalu aneh, harusnya aku tidak cemburu pada Syafa, sebab selama ini dia adalah sahabat baikku dan sebentar lagi akan menjadi kakakku" jawabku melerai perasaan bersalah Bang Reza
"Iya, Abang bisa memahaminya. Jangan terlalu mengkhawatirkan hal yang tidak perlu dikhawatirkan, sampai kapan pun rasa sayang Abang padamu tidak akan pernah berubah sedikit pun!" Bang Reza membelai kepalaku lembut
__ADS_1
Aku mengangguk dan mengusap air mata yang entah sejak kapan lolos dari peraduannya
"Cepat bangun dan mandi, nanti kamu terlambat" Bang Reza bangkit dari duduknya dan keluar dari kamarku. Aku pun segera beranjak dan kemudian pergi ke kamar mandi.
...**********...
"Nanti Abang akan menjemputmu, jangan pulang dengan sembarang orang" aku mengangguk sambil melepaskan helm yang aku kenakan dan menyerahkannya pada Bang Reza
Setelahnya aku pun segera masuk dan berjalan menuju ruang kelasku, sesampainya di sana aku tak mendapati Syafa yang biasanya berangkat pagi, kulihat bangku yang biasa ia duduki masih kosong
"Ada yang tahu enggak Syafa ke mana?" tanyaku pada semua siswa yang ada di dalam kelas itu
"Enggak tahu!" teriak seorang siswa yang duduk paling belakang itu
"Enggak masuk kali" sahut satunya lagi
"Tadi Gue lihat, dia datang sama Bapaknya tapi setelahnya dia balik pulang!" jawab siswa yang berambut pirang dan berbadan tinggi itu
"Entah" jawabnya kemudian duduk di kursinya
Aku merasa heran kenapa Syafa tak juga memberiku kabar tentang hal ini, aku pun segera merogoh ponsel yang aku simpan di dalam tasku. Di sana tidak ada notifikasi atau apa pun dari Syafa, aku pun segera memasukkannya kembali ke dalam tasku karena seorang Guru baru saja masuk ke dalam kelas.
"Aku akan menghubunginya nanti, saat pulang nanti" batinku dan kemudian segera mengikuti pelajaran pagi ini
Semua pelajaran pun usai, aku kini sudah berada di luar pagar sekolah, menunggu Bang Reza menjemputku. Aku kembali merogoh ponselku dan menghubungi Syafa, meminta kejelasan tentang apa yang terjadi pagi ini.
Berulang kali aku menghubunginya namun tak ada jawaban, berulang kali pula aku mengiriminya pesan tapi tak satu pun yang ia balas. Ada apa dengannya, hal itu terus saja berputar di otakku, bukan hanya itu, Bang Reza pun juga sulit aku hubungi. Pesan dan panggilanku ia abaikan begitu saja
__ADS_1
Satu jam lamanya aku menunggu, hingga semua siswa dan juga para Guru sudah pulang ke rumah masing-masing tapi sampai sekarang Bang Reza belum juga muncul.
Aku mencoba menghubunginya, tapi ponselnya malah tidak aktif, kegelisahan tentu saja kurasakan, ditambah lagi dengan keadaan sekitar yang semakin sepi dan sudah semakin sore
Tiba-tiba sebuah motor berhenti tepat di depanku, motor gede warna merah, sepertinya aku pernah melihatnya tapi di mana dan siapa
Sang pengendara membuka helmnya dan di sana tampaklah Kak Jo yang kali ini terlihat tampan, ya memang setiap hari ia selalu tampan dan berhasil membuatku jatuh cinta, meski pada akhirnya cinta ini tak terbalas dan aku sakit sendirian
Rambutnya yang tertata rapi, wajahnya yang terlihat semakin bersih, serta wangi parfumnya yang menguar dan menusuk indra penciumanku
Dia tersenyum ke arahku yang kali ini masih melongo karena terpesona akan ketampanan yang ia miliki, ia pun turun dari motornya dan mendekatiku
"Apa aku setampan itu, sampai-sampai kamu seperti itu?" Dia menunjuk ke wajahku yang kini masih menatapnya, beberapa detik berlalu, aku masih belum tersadar akan kata-kata yang ia ucapkan.
"Hai!" dia kemudian menjentikkan jarinya tepat di depan mataku dan dari situlah aku baru tersadar jika aku sedari tadi melongo. Rasa malu pun mulai aktif, dengan segera aku memalingkan wajahku dan merutuki diriku sendiri yang sedari tadi terus melamun, mengagumi ciptaan Allah yang sangat sayang jika dilewatkan
"Ayo pulang!" ajaknya kemudian
"Tapi aku harus menunggu Bang Reza, dia memintaku untuk tidak pulang dengan sembarang orang" ucapku sama seperti pesan Bang Reza
Kak Jo kemudian menarik ponselnya dan menunjukkan kepadaku sebuah pesan yang dikirimkan oleh Bang Reza, di sana tertulis jika Bang Reza sedang ada urusan dan kemudian memintanya untuk menjemputku
"Iya" aku sudah selesai membaca pesan itu dan dengan segera ia menarikku untuk segera naik ke atas motornya, namun sebelumnya Kak Jo memakaikan helm yang ia bawa ke kepalaku.
Jantungku serasa mau lepas, terlebih lagi ketika matanya menatapku intens dan sesekali menyunggingkan senyumnya yang manis.
Perasaan cinta ini kembali mengembang, tapi pada akhirnya aku kembali teringat jika dia hanya menganggapku sebagai seorang adik. Aku yang semula tersenyum kini kembali cemberut dan merasa sakit.
__ADS_1
"Aku bisa memakainya sendiri" kataku agak ketus sambil menepis tangan Kak Jo yang hendak mengancingkan helm itu
Kak Jo hanya tersenyum dan kemudian segera memintaku naik. Setelahnya ia pun melajukan motornya dengan sangat pelan