
Aku dan Mr. J masih berada di ruang perawatan Bang Reza. Ruangan VIP yang sengaja dipilih oleh Mr. J untuk Kakakku. Ruangan yang berlantai putih, berdinding kaca dan juga memiliki fasilitas yang luar biasa lengkap dari ruangan yang lain.
Aku sebenarnya tidak ingin berada di ruangan ini. Alasan utamanya adalah karena aku tidak akan sanggup untuk membayar tagihan yang pastinya akan sangat banyak dan terlebih lagi kamar ini adalah permintaan dari Mr. J dan aku tidak ingin merepotkannya.
Aku sempat menolaknya, tapi Mr. J masih tetap di dalam pendiriannya dan sedikit memaksaku, akhirnya aku pun mengalah dan menurutinya. Aku juga berjanji kepadanya jika aku akan mengembalikan uang yang ia keluarkan untuk biaya perawatan Bang Reza suatu saat nanti.
Selang oksigen, selang infus dan banyak alat lainnya masih terpasang di tubuh Bang Reza, alat pendeteksi detak jantung juga masih terdengar nyaring di telingaku, kekhawatiran yang aku rasakan semakin memuncak ketika melihat kondisinya yang sedikit bertambah pucat dari semalam. Dan sampai saat ini Bang Reza masih belum sadarkan diri.
Aku mendekat ke arahnya dan duduk di dekat ranjangnya, aku menggenggam jarinya yang kini tak bergerak, sekali lagi air mata yang sudah aku anggap kering kini kembali tumpah.
Kesedihan dan kegundahan tak berujung kembali menghampiri kehidupanku dan Bang Reza, jika kuingat kembali, semua hal menyakitkan ini terjadi sejak kedua orang tuaku meninggal dunia.
Bang Reza yang awalnya hanya sebagai seorang Kakak, mulai saat itu harus merangkap perannya sebagai orang tua dan juga tulang punggung keluarga. Semua pengorbanan yang Bang Reza lakukan untukku kembali berputar otomatis di dalam otakku.
"Katamu, air matamu sudah kering dan tidak akan jatuh lagi. Tapi itu apa?" Mr. J menunjuk ke arah wajahku yang kini sudah basah oleh air mata sambil memberikan sebuah sapu tangan berwarna putih. Dia berdiri tepat di sebelahku
Aku menoleh ke arahnya dan kemudian menerima sapu tangan itu, sapu tangan putih yang wangi dan bertuliskan sebuah nama yang aku pun pernah mendengarnya.
Nathan, nama itu adalah Nathan. Kepanjangan dari Jonathan. Aku kemudian menggunakan sapu tangan itu untuk mengusap air mataku dan juga mengelap ingusku.
"Ih, jorok" Mr. J masih menatap ke arahku yang kini menggunakan sapu tangannya.
"Bodo amat," ucapku singkat dan dia pun tersenyum.
"Sudah, jangan terlalu sedih, dia akan baik-baik saja. Dokter sudah melakukan yang terbaik untuk Reza" jelasnya padaku dan kini aku merasa sedikit lebih tenang.
Aku hanya mengangguk, kemudian keheningan meliputi kami berdua. Tidak ada kelanjutan percakapan setelahnya.
Tiba-tiba perutku berbunyi, suaranya terdengar begitu jelas karena kami bertiga tidak mengeluarkan suara sama sekali.
"Mau makan apa?" tanya Mr. J kemudian, aku sebenarnya malu ketika mendengar suara itu, namun di sisi lain aku juga merasa lapar karena pagi ini aku belum makan apa-apa.
"Terserah," ucapku singkat masih merasa malu
"Tidak ada makanan yang namanya terserah," Aku pun hanya tersenyum.
__ADS_1
"Nasi sama telur saja," lanjutku dan dia pun menatapku dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Nasi sama telur?" Ucapnya mengulang kata-kataku sambil berwajah aneh dan aku pun mengangguk.
"Baik, tunggu di sini, aku akan segera kembali!"
Mr. J kemudian ke luar dari ruangan tersebut, aku pun kemudian duduk di sebuah sofa putih yang berjejer rapi di dekat ranjang Bang Reza.
Tiga puluh menit kemudian, Mr. J baru kembali. Aku penasaran kenapa dia kembali begitu lama, namun aku kemudian mengurungkan niatku untuk bertanya ketika ia kembali sembari membawa beberapa kantong berwarna coklat. Aku berdiri mendekat ke arahnya dan membantunya membawa barang bawaannya.
Dia kemudian meletakkan semua kantong itu di atas meja yang berada tepat di depan mataku. Begitu juga aku.
Mr. J kemudian mengeluarkan semua yang ada di dalam kantong-kantong itu.
Mataku terbelalak ketika melihat beraneka jenis makanan yang baru saja ia keluarkan, aku menatap ke arahnya dengan wajah yang penuh pertanyaan, tapi dia tidak menyadarinya karena masih sibuk mengeluarkan makanan-makanan itu.
"Memangnya ada yang akan datang?" tanyaku ketika Mr. J sudah selesai dengan aktivitasnya.
"Tidak, ini semua untuk kita berdua" jawabnya sambil membuka sebuah mangkok putih yang memiliki penutup dari kaca, terdapat sebuah gambar laki-laki yang memakai celemek dan topi koki lalu menyerahkannya padaku. Makanan yang tengah populer di masyarakat dan tengah jadi bahan pembicaraan hangat di antara semuanya.
"Makanlah, aku tidak tahu apa makanan kesukaanmu, tapi aku harap kamu menyukainya" aku pun menerima makanan itu dan kemudian kulihat apa yang ada di dalam mangkok putih itu.
Nasi merah, telur, daging sapi berbalut wijen putih dan juga beberapa sayuran. Menu makanan sehat dan juga mahal yang selama ini aku inginkan. Isinya memang sederhana, tapi karena berasal dari restoran bintang lima dan juga dibuat oleh seorang juru masak yang ahli sehingga membuatnya menjadi makanan yang mahal.
"Kamu tidak akan kenyang jika kamu hanya melihatnya saja dan tidak memakannya" ucap Mr. J
"Ah, iya" aku pun kemudian memulai aktivitas memakan makanan populer itu.
"Akhirnya aku bisa merasakan makanan ini" batinku sambil memulai makan. Mr. J terus saja memperhatikan aku yang sudah mulai makan.
Aku mengetahuinya karena setiap aku menoleh ke arahnya dia masih terus menatapku dan tersenyum.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Mr. J
"Iya, makanan ini sangat enak" ucapku polos tanpa banyak berpikir. Mr. J lalu kembali tersenyum. Benar-benar membuatku gugup, pagi ini mendapatkan kejutan dua kali lipat lebih banyak.
__ADS_1
Pertama, aku bisa merasakan makanan yang sudah sejak lama aku inginkan dan yang ke dua, aku bisa terus melihat senyuman manis dari seorang laki-laki yang menjagaku dan juga Bang Reza sejak semalam, meski aku baru mengenalnya beberapa hari tapi aku sudah bisa merasakan ketulusan dan kenyamanan ketika dekat dengannya.
"Syukurlah jika kamu menyukainya, aku akan membuatkannya setiap waktu kapan pun kamu mau!"
"Memangnya Mr. J bisa membuatnya, ini buatan juru masak ahli di restoran bintang lima itu" kataku sambil terus mengunyah makanan itu.
"Apa kamu akan percaya ketika aku katakan, bahwa aku juru masak itu, juru masak dari restoran bintang lima itu" aku menoleh ke arahnya, sendok yang hampir masuk ke dalam mulutku kemudian aku tarik kembali dan meletakkannya ke dalam mangkok itu.
"Aku tidak percaya, mana mungkin seorang Guru matematika bisa memasak" aku meletakkan mangkok putih itu di atas meja masih dengan rasa tidak percaya.
"Apa salahnya jika seorang Guru bisa memasak, aku hanya menjadi Guru sementara, sampai Guru yang sebenarnya sembuh dari sakitnya!" jelasnya lagi.
Ya, memang benar, tidak ada salahnya jika seorang Guru bisa memasak, tapi aneh saja jika Mr. J adalah seorang koki dan juga pemilik dari restoran bintang lima itu. Karena sejak pertama aku bertemu dengannya, dia tidak pernah sekalipun menunjukkan hal yang menjurus ke dalam hal masak memasak.
Ya, meski kemarin dia sempat mengatakan jika memiliki restoran, tapi aku tidak mengira jika restoran yang dimaksud adalah restoran terkenal itu
Berarti, yang selama ini dibicarakan oleh banyak orang tentang koki yang ahli dan juga tampan adalah dirinya, tapi entah, itu benar atau salah aku tidak akan memercayainya sebelum aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.
"Tidak juga, tapi hanya aneh saja,"
"Aneh bagaimana?" Mr. J menatapku lagi
"Entah," aku tidak tahu harus menjawab apa, aku merasa tidak percaya jika yang dia katakan adalah hal yang sejujurnya.
"Lain kali akan aku tunjukkan padamu, agar kamu percaya jika aku bisa memasak" janji Mr. J dan aku pun mengangguk.
.
.
.
jangan lupa vote like dan komennya
🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡
__ADS_1