
21+
Cukup lama Yuna berbicara dengan twins, sedangkan Chandra masih mengusap rambut Yuna dengan handuk meski sudah setengah kering.
Sesekali memainkan rambut panjang Yuna sambil terus menatap wajahnya dari samping.
Yuna matikan sambungan telfonnya dan meletakan ponsel di atas meja. Sudah terlalu lama dia menelfon, sedangkan sarapan di atas meja belum disentuh sama sekali oleh Chandra. Yuna tidak enak membuat Chandra terlalu lama menunggu untuk sarapan.
"Ayo makannn,,,,
Suara Yuna mengambang lantaran melihat Chandra yang tengah menatapnya lekat dengan tatapan dalam. Hal itu membuat Yuna salah tingkah.
"Jangan menatapku seperti itu." Pinta Yuna. Dia tidak berani berlama-lama menatap Chandra karna tatapan mata itu membuatnya hampir hanyut terbawa suasana.
"Lalu harus bagaimana, hmm.?" Tanya Chandra. Dia malah semakin mendekat, bahkan mengangkat dagu Yuna agar mau menatapnya.
"Mas,,," Yuna mendorong pelan dada Chandra. Tidak kuat rasanya mendapatkan tatapan dalam seperti itu darinya.
Tidak peduli walaupun Yuna mendorongnya untuk menjauh, Chandra justru kembali mendekat. Dia meraih tengkuk Yuna, mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir manis milik Yuna.
Melihat Yuna yang memejamkan mata dan tidak memberikan penolakan, Chandra kembali menempelkan bibirnya. Kali ini dia melu - m*t dan menye - sapnya dengan gerakan lembut.
Yuna hanya diam saja, tidak menolak ataupun membalas permainan bibir Chandra yang begitu memabukkan. Tidak di pungkiri, Chandra mberikan sesuatu yang berbeda. Dia terlalu mahir membuat lawan mainnya melayang dalam waktu singkat.
Chandra melepaskan tautan bibirnya setelah cukup lama mengabsen setiap inci bibir Yuna. Dia tersenyum tipis pada Yuna yang baru saja membuka mata. Nafas Yuna sedikit tersenggal.
"Kenapa diam saja.?" Goda Chandra, jemarinya menyeka sudut bibir Yuna yang basah akibat ulahnya.
Pipi Yuna seketika merona, dia tidak menjawab pertanyaannya Chandra.
"Duduk disini." Chandra menepuk pahanya, meminta Yuna untuk duduk di pangkuannya. Satu tangannya sudah menarik tangan Yuna untuk beranjak dan mengarahkan Yuna duduk di atas pangkuannya.
Lagi-lagi Yuna tidak memberikan penolakan. Dia sadar dengan tugasnya sebagai seorang istri meski sebenarnya belum siap untuk melakukan hal lebih.
Begitu Yuna duduk di pangkuannya, Chandra langsung melahap bibir itu lagi. Yuna juga mulai membalasnya dengan gerakan pelan.
Balasan dari Yuna seolah menaikan gairah Chandra berkali-kali lipat hingga membuatnya menye- sap dan melu - m*t bibir Yuna dengan gerakan kasar dan rakus.
__ADS_1
Kedua tangannya juga tidak bisa tenang lagi seperti tadi. Mulai menyusup ke dalam kain yang membungkus tubuh Yuna dan berhenti di bagian yang bisa dia mainkan.
Tubuh Yuna terlihat menegang, kedua tangannya yang di kalungkan pada leher Chandra, mulai meremas rambut belakang suaminya itu.
Dua benda kenyal milik Yuna sudah dikuasai oleh Chandra. Dia menggantikan posisi twins yang sudah tidak lagi meminum asi.
Tubuh Yuna dibuat semakin menegang. Des -sa-han tertahan hampir saja lolos dari bibir Yuna.
Tiba-tiba Chandra menghentikan aksinya disaat Yuna sudah mulai pasrah untuk menerima sesuatu yang lebih darinya.
Laki-laki itu dengan santainya merapikan kembali baju Yuna yang tadi sudah terbuka di bagian atasnya. Tidak merasa bersalah sedikitpun sudah membuat melayang tinggi dan mengakhirinya begitu saja.
Yuna menatap bingung sekaligus kecewa. Memperhatikan Chandra yang masih sibuk merapikan bajunya yang tadi di buka olehnya.
"Ada apa.?" Tanya Chandra dengan sebelah alisnya yang di angkat. Entah pura-pura tidak tau atau memang dia sengaja sedang mengerjai Yuna. Namun ekspresi wajah Chandra benar-benar datar, seolah tidak pernah terjadi apapun sebelumnya.
Karna merasa malu, Yuna hanya menghelengkan kepalanya dan bergegas turun dari pangkuan Chandra. Kemudian beralih pada makanan diatas meja.
Chandra mengulas senyum sembari mengacak gas pucuk kepala Yuna. Ulahnya itu hanya mendapat lirikan datar dari Yuna.
"Kamu butuh tenaga yang banyak untuk mengimbangi ku." Bisik Chandra.
Yuna langsung membisu mendengar penuturan Chandra. Tiba-tiba saja merasa takut, bahkan tidak berani membayangkannya.
Permulaannya saja sudah membuat Yuna panas dingin karna gerakannya yang sedikit kasar dan rakus.
...*****...
Sesuatu yang di harapkan mereka berdua harus tertunda setelah Chandra mendapatkan telfon dari orang kepercayaannya. Raut wajahnya berubah, merah padam dengan satu tangan yang mengepal kuat. Sorot matanya dipenuhi dengan amarah. Ini pertama kalinya Yuna melihat Chandra seperti itu selama lebih dari 1 tahun dekat dengannya.
Entah apa yang sedang di bicarakan oleh Chandra di balkon kamar. Yang jelas Yuna bisa melihat emosi Chandra yang meluap.
Chandra mematikan sambungan telfonnya, menyimpan ponselnya di saku celana dan menghampiri Yuna yang tengah duduk di sisi ranjang.
"Kita harus pulang sekarang, sesuatu terjadi di perusahaan." Ucap Chandra lembut.
"Kita lanjut nanti di rumah." Godanya dengan senyum penuh arti. Dia terus mengusap kepala Yuna yang sedang menatapnya bingung.
__ADS_1
"Atau mau lanjut.?" Tawar Chandra yang melihat Yuna kebingungan untuk bicara.
"Selesai dulu saja masalah di kantor." Jawab Yuna. Dia lalu beranjak dari duduknya.
"Ini tidak akan lama, aku akan segera kembali jika sudah selesai." Tutur Chandra. Satu kecupan mendarat di bibir Yuna.
Keduanya lalu meninggalkan hotel, Chandra mengantar Yuna sampai di depan rumah dan bergegas pergi dengan buru-buru.
Sepertinya sesuatu yang besar telah terjadi di perusahaannya.
Chandra sampai terlihat tidak konsen saat menyetir tadi. Dia bahkan terus di hubungi oleh asisten pribadinya.
Yuna masuk kedalam rumah. Suasana terasa sepi karna tidak ada twins. Hanya ada suara benda yang beradu dari dapur.
"Mah,," Yuna menghampiri Mama Rena yang sedang mencuci piring.
Kepulangan Yuna sedikit membuat Mama Rena bigung. Harusnya Yuna dan Chandra pulang nanti sore, tapi baru pukul 10 pagi sudah kembali ke rumah.
"Kamu sudah pulang.?" Tanyanya.
Yuna tersenyum sembari menganggukan kepala dan berjalan mendekat.
"Mas Chandra harus ke kantor karna ada masalah di perusahaan." Jawab Yuna.
"Rumah ini sepi sekali tanpa twins." Keluhnya dengan raut wajah sendu.
Mama Rena mengerutkan kening, sedikit menaruh curiga pada Yuna. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan oleh putrinya itu.
"Ada apa.? Apa Chandra membuat kamu sedih.?" Tanya Mama Rena dengan tatapan menelisik dan curiga. Pasalnya tiba-tiba Yuna pulang sendiri dan wajahnya berubah sendu. Seolah tidak adanya twins hanya di jadikan sebagai alasan untuk menunjukkan kesedihannya atas sikap Chandra.
Yuna menggeleng cepat.
"Mas Andra sangat baik Mah, mana mungkin membuatku sedih." Sahut Yuna tegas.
"Yuna benar-benar memikirkan twins, rasanya sangat rindu pada mereka." Tiba-tiba Yuna memeluk Mama Rena dari belakang.
"Yuna nggak bisa bayangin kalau harus berpisah dengan mereka lebih lama lagi." Tuturnya. Dia teringat dengan niat Barra yang akan mengambil hal asuh anak-anak. Entah apa jadinya jika Barra benar-benar melakukan hal itu padanya.
__ADS_1
"Mereka hanya mengajak anak-anak selama 3 hari, jangan khawatir." Mama Rena mengusap kepala putrinya. Dia paham perasaan Yuna yang tidak bisa jauh dari anak-anak.
Yuna mengangguk, dia tidak lagi bicara dan memilih bungkam. Tidak ada niatan untuk membahas rencana Barra terhadap twins. Takut Mama Rena juga akan memikirkan masalah ini dan hanya akan membuatnya sedih.