Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 115


__ADS_3

Yuna tengah duduk di taman belakang bersama Chandra setelah keluar dari kamar Brian.


Cukup lama mereka saling terdiam, memikirkan kejadian yang terjadi tadi pagi. Sama-sama memiliki ketakutan tersendiri di hati masing-masing.


Chandra tak pernah bermaksud melukai hati Yuna hingga membuat wanita itu menangis. Tidak menceritakan tentang keluarganya bukan bermaksud untuk menutupinya dari Yuna. Bagi Chandra mereka sudah tidak ada lagi di dalam hidupnya, tak berarti secuilpun untuk dirinya.


Andai saja bisa dilakukan, dia ingin menghapus ikatan darah antara anak dan seorang ayah.


Laki-laki yang lebih memilih wanita lain dan anak sambungnya dibanding dengan anak kandungnya sendiri. Chandra tak pernah meminta hal itu terjadi.


Yuna melirik Chandra, menatap lekat wajahnya yang terlihat sendu dengan sorot mata yang menerawang jauh. Perlakuan Chandra yang selama ini berusaha untuk selalu membahagiakannya, membuat Yuna sedikit tidak yakin jika pria itu akan menyakitinya.


Namun saat mengingat perkataan wanita itu, ada ketakutan tersendiri dalam hatinya. Takut jika semua itu adalah kebenaran.


"Kamu masih ingat dengan gadis yang dulu datang ke kantor dan membuat kekacauan.?" Tiba-tiba Chandra bersuara dengan pandangan mata yang masih lurus ke depan. Meminta Yuna mengingat kejadian di kantor lebih dari 10 tahun yang lalu.


Kening Yuna terlihat berkerut, berusaha mengingat kejadian yang di tanyakan oleh Chandra.


"Gadis yang membuat kekacauan itu adalah Agatha, adik tiriku." Tuturnya. Chandra tersenyum kecut, terlihat muak harus mengakui Agatha sebagai adiknya.


"Sejak dulu dia memang terobsesi padaku," Tuturnya kemudian kembali mengukir senyum, kali ini dengan senyum yang terlihat sinis.


"Tidak hanya terobsesi padaku, tapi pada apa yang aku miliki." Lanjutnya lagi.


Sambil mendengarkan ucapan Chandra, Yuna masih berusaha untuk mengingatnya. Perlahan kejadian itu muncul dalam ingatan.


Dulu seorang gadis yang masih memakai seragam sekolah, datang ke kantor dan memarahi semua resepsionis serta security yang melarangnya masuk ke ruangan Chandra. Kejadian itu sempat membuat heboh seluruh kantor.


Yuna tak mengira jika wanita yang tadi pagi datang menemuinya adalah gadis cantik yang dulu masih terlihat lugu. Penampilannya benar-benar berubah 180 derajat, bahkan Yuna tidak mengenalinya.


"Aku tidak pernah menganggap mereka ada." Seru Chandra tegas.


Dia menatap Yuna, meraih tangan istrinya dan menggenggamnya.


"Semua yang dia katakan padamu tidak benar, tidak ada hubungan ataupun sesuatu yang pernah terjadi di antara aku dan wanita itu." Ucap Chandra tanpa ada kebohongan sedikitpun dari sorot matanya.


“Bagaimana mungkin aku bisa memiliki hubungan dengan wanita lain di belakangmu. Tidak ada yang lebih berarti dari kalian." Ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


"Aku tidak akan mencari kebahagiaan semu dengan mengorbankan kamu, Brian dan juga twins."


Perlahan Chandra menarik Yuna dalam dekapannya.


Mana mungkin dia menjalin hubungan dengan wanita lain yang sudah pasti akan membuatnya kehilangan Yuna dan anak-anak.


"Aku tidak akan mengecewakan kamu dan anak-anak selama aku masih bernafas." Tuturnya.


Dia tau betul bagaimana rasanya terbuang. Sakit dan merasa tak berarti.


Yuna menitikkan air mata, membalas dekapan Chandra dengan pelukan erat. Menenggelamkan wajahnya pada dada bidang suaminya.


Sungguh tidak ada hal yang dia inginkan selain kebahagiaan dan keutuhan keluarganya.


"Maaf,," Ucap Yuna dengan suara yang tercekat. Dia merasa bersalah sempat berfikir buruk pada suaminya.


"Aku tidak akan memaafkanmu kalau masih menangis." Sahut Chandra. Dia melepaskan Yuna dari dekapannya, menghapus air mata Yuna dengan kedua tangannya.


"Tersenyumlah,," Pintanya dengan menunjukkan senyum pada Yuna. Hal itu membuat Yuna ikut tersenyum.


Senyum manis yang membuat Chandra tak bisa memalingkan pandangannya, terus menatap lekat wajah Yuna hingga akhirnya semakin mendekatkan wajahnya. Yuna memejamkan mata, siap menyambut kecupan hangat dari bibir Chandra.


"Oke, mungkin harus menunggu Brian tidur nanti malam." Ujar Chandra sembari bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri putranya.


Yuna hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala.


...******...


3 hari berlalu, Barra menikmati kebersamaannya dengan kedua buah hatinya dan juga keluarganya.


Menghabiskan waktu bersama twins, mengurus segala keperluan twins dan setiap malam bisa tidur sembari mendekap mereka.


Tidak ada hal yang membahagiakan kecuali kebersamaannya dengan anak-anak.


Meski hatinya masih terbelenggu dengan Ibu dari anak-anaknya.


"Papa, Ara mau pulang."

__ADS_1


Barra menoleh pada putrinya yang masih merengek untuk pulang. Sudah pukul 12 malam, Kinara tak kunjung memejamkan mata. Berbeda dengan Kenzie yang sudah terlelap 2 jam yang lalu.


"Sudah malam sayang. Besok setelah sekolah, Papa antar Ara dan Kak Zie pulang."


"Sekarang Ara tidur dulu, kalau Ara tidak tidur, Papa tidak mau antar Ara pulang." Ujar Barra sembari mengusap lembut kepala Kinara.


Gadis cantik itu sedikit cemberut, tapi kemudian menganggukkan kepalanya. Dia memeluk Barra, kemudian memejamkan mata.


Barra menarik nafas dalam, mungkin kehadiran twins yang pada akhirnya membuat perasaannya tak bisa lepas dari Yuna. Kenangan saat bersamanya bahkan masih sering berputar di ingatan. Tak mudah melupakan begitu saja wanita yang telah memberikan dua buah hati untuknya.


Bahkan setiap menatap wajah twins, Barra seolah menatap Yuna dan merasakan kehadirannya.


Bukan salahnya jika hatinya masih terbelenggu.


...*****...


Siang itu Barra meninggalkan kantor untuk menjemput twins. Dia sudah janji akan mengantarkan mereka pulang siang ini.


Twins terlihat sangat bahagia sepanjang perjalanan menuju rumah. Hanya 3 hari berpisah dengan Yuna, keduanya sudah sangat merindukannya.


Hal itu yang akhirnya membuat Barra mengurungkan niat untuk mengambil hak asuh twins dari Yuna.


Dia takut akan mengambil kebahagiaan dan keceriaan twins, serta takut psikisnya terganggu jika setiap hari sedih karna merindukan Yuna.


Seperti yang dia alami selama ini. Dan Barra tau betul bagaimana rasanya.


"Ayo masuk Papa,," Ajak Kenzie. Dia terus menarik tangan Barra agar ikut masuk ke dalam rumah. Berniat untuk menghindari kontak mata dengan Yuna agar tidak semakin merindukannya, Kenzie justru memintanya untuk ikut ke dalam.


"Papa harus kembali ke kantor nak, nanti Papa jemput Kak Zie dan Ara 4 hari lagi. Oke,,,?" Ujar Barra memberikan pengertian.


"Tidak mau, Zie mau main sama Papa sekarang.!" Pintanya memaksa.


"Mama,,,," Ara berlari kencang, Barra menatap Ara yang akan menghampiri Yuna di depan pintu.


Dia terdiam, menatap Yuna dari kejauhan. Semakin lama dipikirkan, entah kenapa semakin terasa sakit setiap kali melihatnya.


"Papa,,,! Papa.!" Seru Kenzie sambil menggoyang goyangkan tangan Barra. Dia tersadar dari lamunan, lalu mengalihkan pandangannya dari Yuna.

__ADS_1


"Ayo masuk,," Pinta Kenzie sembari menarik tangan Barra. Mau tidak mau, Barra mengikuti langkah putranya. Yuna terlihat diam saja melihat Kenzie menarik tangan Barra dan mengajaknya untuk masuk. Tidak ada teguran ataupun larangan yang keluar dari mulutnya.


"Jangan lama-lama mainnya Zie, Papa kamu harus ke kantor lagi." Yuna baru bersuara setelah mereka sudah berada di hadapannya, dia lalu meminta tas milik Ara dan Zie, kemudian membawanya masuk ke dalam. Hanya sekilas Yuna melirik ke arah Barra, tak ada sapaan darinya. Dan Barra yang terlalu mengharapkan hal itu.


__ADS_2