Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 38


__ADS_3

Kedua tangan Yuna mengepal erat selepas kepergian Barra. Dia merasa telah dipermainkan dan dibodohi oleh Barra, meski memang semua ini terjadi atas keteledorannya yang tidak membaca keseluruhan poin perjanjian.


Tapi pada saat itu Yuna sudah meminta untuk membaca ulang surat perjanjian itu, namun Barra tidak mau menunjukan perjanjian itu lagi pada Yuna.


Itu sebabnya Yuna merasa telah dibodohi.


Selama ini Yuna juga tidak pernah mengira kalau Barra telah memiliki istri. Karna tidak pernah terlintas dalam benak Yuna, laki-laki sebaik Barra akan menikah lagi. Tapi ternyata alasan Barra menikah lagi karna untuk suatu tujuan bersama dengan istri pertamanya.


Yuna tersenyum kecut, kecewa yang mulai berubah benci kini menyelimuti hatinya.


Dia tak habis pikir Barra bisa memainkan peran dengan mulus untuk mencapai tujuannya.


Tak hanya kejam, Barra juga egois karna hanya memikirkan kepentingan dia dan keluarganya sendiri tanpa memikirkan bagaimana perasaan Yuna yang akan di campakkan setelah mendapatkan anaknya.


Karna seperti itu isi surat perjanjian yang dibuat oleh Barra.


"Jadi selama ini bukan pergi keluar kota,," Gumam Yuna. Senyum sinis mengembang di bibirnya.


Betapa bodohnya dia di mata Barra sampai bisa diperlakukan seperti ini. Barra memang pembohong yang ulung. Dia sangat menjiwai perannya sampai Yuna tidak bisa melihat sedikitpun kebohongan yang Barra lakukan padanya.


...*****...


Sudah 2 jam yang lalu Barra duduk di depan kamar Yuna, tepatnya setelah keluar dari kamar. Barra mengurungkan niatnya untuk beristirahat di kamar atas dan memilih untuk mengawasi Yuna. Dia takut Yuna akan pulang diam-diam tanpa sepengetahuannya.


Posisinya saat ini sangat sulit. Dia melakukan semua ini demi keutuhan rumah tangganya bersama Cindy dan untuk membuat Cindy terlihat hamil di depan keluarganya. Namun melihat Yuna yang begitu terluka setelah mengetahui semuanya, Barra jadi berfikir ulang untuk menceraikan Yuna. Itu sebabnya dia tidak setuju saat Yuna tetap memilih untuk bercerai.


Selain itu, Barra juga memikirkan nasib anaknya yang akan ikut Yuna. Barra tidak bisa membiarkan Yuna membawa dan merawat salah satu dari mereka tanpa pengawasan darinya. Dia ingin menjamin kebahagiaan baby twins meski nantinya baby twins harus dipisahkan.


Sebenarnya Barra bisa saja mengambil semua anaknya dari Yuna, sesuai apa yang ada dalam isi perjanjian itu. Karna yang tertulis di sana, Yuna harus menyerahkan anak mereka untuk di asuh oleh Barra dan Cindy. Sekalipun baby twins, tetap saja keduanya akan menjadi hak Barra.


Tapi kembali lagi, Barra tidak akan tega membuat Yuna kehilangan dua anaknya sekaligus.


Jam sudah menunjukan pukul 11 siang, Barra beranjak dari sofa, berdiri di depan pintu kamar Yuna dan mengetuknya.


"Yuna,,," Panggilnya dengan suara lirih.


Ketukan pintu dan panggilannya tak kunjung membuat Yuna keluar dari kamar.


Barra terpaksa membuka pintu itu yang memang tidak di kunci.


Hal pertama yang dia lihat adalah tubuh Yuna yang tengah tidur meringkuk.

__ADS_1


Wajah polos dan lugunya yang selalu membuat Barra tidak tenang setiap kali ingat akan melukai hatinya.


Menutup pintu dan berjalan mendekat, Barra duduk disisi ranjang dengan hati-hati. Dia membenarkan rambut Yuna yang menutupi sebagian wajahnya.


Saat itulah Barra bisa melihat kehancuran Yuna yang sesungguhnya. Yuna terus meneteskan air mata meski dalam keadaan tertidur.


Bantal yang dia pakai bahkan terlihat sangat basah.


Tangan Barra perlahan menghapus air mata Yuna. Dia tidak bermaksud menyakiti siapapun, tapi takdir yang membuatnya tidak memiliki pilihan selain menikah lagi.


Dia tidak mau kehilangan Cindy, tapi harus ada wanita lain yang menjadi korban keegoisannya.


"Maaf,," Ucap Barra lirih.


Dia terus menghapus air mata Yuna yang masih menetes.


Yuna menggeliat. Gerakan tangan Barra di wajahnya telah mengusik tidurnya. Padahal Yuna berharap dia akan tidur panjang, kemudian bangun tanpa harus berada di situasi yang mengerikan ini.


Barra buru-buru menyingkirkan tangannya begitu Yuna membuka Mata.


Yuna terlihat kebingungan menatap Barra, dia belum sadar sepenuhnya.


"Tidur lagi saja kalau masih mengantuk, aku akan keluar sebentar untuk membeli makan siang." Barra mengulas senyum tipis sembari beranjak dari duduknya.


"Aku mau ikut, kita makan diluar saja." Pinta Yuna. Dia langsung turun dari ranjang.


"Aku akan cuci muka dulu." Yuna pergi ke kamar mandi tanpa menunggu jawaban dari Barra yang berhenti di tempat. Terlihat bingung dengan sikap Yuna yang normal seperti biasanya. Barra pikir, Yuna akan mendiamkannya karna kecewa.


Yuna menghampiri Barra setelah mencuci muka dan mengoleskan lipstik untuk mempertegas warna bibirnya agar tidak terlihat pucat.


"Ayo,," Ujar Yuna. Dia beranjak keluar tanpa menatap sedikitpun ke arah Barra.


Barra yang menunggu di sofa, kini langsung beranjak menyusul Yuna.


"Mas Barra sudah berbaik hati mengajakku berlibur kesini, sayang sekali kalau aku hanya di dalam kamar." Gumam Yuna. Dia terkesan bicara sendiri karna pandangnya lurus ke depan, sedangkan posisi Barra masih berjalan di belakangnya.


"Jadi kita akan makan dimana.?" Tanya Yuna, kali ini dia menoleh kebelakang untuk melihat Barra, namun hanya beberapa detik saja.


"Kamu ingin makan apa.?" Barra balik bertanya. Dia memilih menyerahkan pilihannya pada Yuna.


"Aku.?" Ujar Yuna.

__ADS_1


"Dalam keadaan seperti ini aku rasa siapapun nggak akan berfikir untuk makan." Yuna tersenyum santai. Barra yang sudah berjalan di samping Yuna bisa melihat senyum itu dengan jelas.


"Tapi baby twins harus tetap sehat kan.?" Yuna bertanya pada Barra. Suami kontraknya itu hanya menganggukan kepala.


"Ya, tentu saja mereka harus sehat. Karna Mas Barra membutuhkannya." Sambung Yuna.


Masuk ke dalam mobil, Yuna membuang pandangan keluar jendela.


Barra membawa Yuna ke tempat makan terdekat. Dia merasa kondisi Yuna tidak baik-baik saja, jadi tidak mau membuat Yuna terlalu lama berada di luar.


...****...


1 hari menginap di villa, tidak ada interaksi yang berarti di antara Yuna dan Barra. Mereka hanya akan bersama pada saat jam makan saja, selebihnya Yuna akan masuk dan berdiam diri di dalam kamar.


Kini duanya sedang dalam perjalanan pulang.


Sudah hampir 1 jam, suasana didalam mobil masih hening. Yuna juga terkesan enggan bicara dengan Barra karna sejak masuk kedalam mobil, dia samasekali belum menatap.


Sampainya di rumah, Yuna bergegas turun. Begitu juga dengan Barra.


"Terimakasih untuk liburannya." Ucap Yuna, kemudian langsung masuk ke dalam rumah.


Barra terlihat menghela nafas berat.


"Kalian sudah pulang.?" Mama Rena baru keluar dari kamarnya dengan pakaian yang rapi.


Dia tersenyum senang melihat anak dan menantunya pulang setelah berlibur. Rumah tangga putrinya cukup bahagia dimatanya.


"Mama mau kemana.?" Tanya Yuna. Tidak biasanya Mama Rena serapi ini, bahkan sedikit merias wajahnya.


"Mama mau ke rumah sakit. Bibi kamu sedang dirawat."


Yuna terkejut mendengar jawaban Mama Rena. Dia bukan terkejut mendengar kabar buruk itu, tapi terkejut karna sang Mama masih mau menjenguk adik kandungnya yang sudah memperlakukan mereka dengan buruk.


"Mama nggak salah mau jenguk Bibi.? Bibi Liona sudah jahat sama kita. Untuk apa Mama peduli padanya." Yuna tidak setuju Mama Rena pergi ke rumah sakit.


"Jangan terlalu baik Mah, mereka akan semakin senang mempermainkan dan menginjak-injak kita.!" Serunya geram.


Nada sindiran terdengar jelas di telinga Barra. Dia tau Yuna sekalian melampiaskan kekesalannya menyindir dirinya secara tidak langsung.


...****...

__ADS_1


Jangan lupa vote buat yang belum, makasih masih stay disini🄰


__ADS_2