Terjebak Pernikahan Kontrak

Terjebak Pernikahan Kontrak
Bab 141


__ADS_3

Keberadaan kedua orang tuanya di meja makan pagi ini cukup membuat twins dan Brian terlihat bahagia. Terutama twins yang memang sejak dulu menginginkan keutuhan keluarga kecil mereka.


Kini mereka tak perlu lagi memikirkan bagaimana caranya untuk membuat kedua orang tuanya bersatu.


Brian juga mulai kembali seperti sebelumnya, tak terlalu memikirkan mimpi itu. Dia percaya Papinya akan ikut bahagia jika melihat dia dan sang Mama bahagia.


"Pagi Mah, Pah,," Sapa Kinara. Dia yang paling antusias saat melihat Barra dan Yuna menghampiri meja makan.


"Pagi,,," Barra sempat mengusap pucuk kepada Kinara sebelum duduk di kursi depannya.


"Papa dan Mama tidak bawa oleh-oleh untuk kami.?" Kinara menatap kedua orang tuanya bergantian.


"Bukankah kalian sudah beli sebelum pulang.?" Tanya Yuna.


"Papa sudah kasih uang ke kalian untuk beli sendiri." Jelasnya lagi.


"Maksud Kinara bukan itu Mah," Ujar Kenzie menyahuti.


"Lalu.?" Yuna menatap dengan dahi berkerut.


"Adik untuk kita," Kata Brian. Ketiganya lalu menyengir kuda, terlihat santai bicara seperti itu pada kedua orang tuanya yang baru saja menikah seminggu yang lalu.


Mendapat permintaan seperti itu, Yuna tak memberikan tanggapan apapun. Dia memilih diam.


Usianya sudah 40 tahun, tak pernah berfikir untuk menambah anak lagi. Twins dan Brian saja sudah lebih dari cukup untuk melengkapi hidupnya hingga dunia terasa selalu cerah karna kehadiran mereka.


"Apa aunty Sisil yang menyuruh kalian bicara seperti ini.?" Tegur Barra.


Ketiganya kompak menggelengkan kepala. Sepertinya memang keinginan dari hati mereka untuk menambah anggota keluarga baru. Walaupun sudah pasti akan memiliki jarak usia yang jauh jika nanti mereka benar-benar memiliki adik.


"Kalian pasti tau usia Papa tak lagi muda, Papa dan Mama lebih cocok menggendong cucu nanti." Tutur Barra.


"Tidak akan ada adik untuk kalian." Tegasnya.


Barra juga tidak tega pada Yuna,di usianya yang tak lagi muda harus mengandung dan melahirkan, belum lagi harus mengurus bayi nantinya, pasti akan menyita waktu dan menguras tenaga.


Barra hanya ingin fokus memberikan kebahagiaan kepada Yuna dan ketiga anaknya.


Sudah waktunya Yuna merasakan kebahagiaan lagi setelah bertahun-tahun larut dalam kesedihan atas kepergian Chandra.


Sarapan pagi bersama sudah selesai beberapa menit yang lalu. Anak-anak sudah siap untuk berangkat ke sekolah.

__ADS_1


"Papa tidak ke kantor hari ini.?" Tanya Kinara sembari beranjak dari duduknya.


"Tidak sayang,,"


"Kalau begitu boleh kan di antar Papa ke sekolah.?" Seru Kinara antusias.


"Sudah lama Papa tidak mengantar kita ke sekolah. Aku bosan di antar supir dan bodyguard terus." Kinara mencebikkan bibirnya serta menatap malas.


Kesal karna tak pernah merasa bebas setiap kali pergi ke sekolah.


"Papa akan antar kalian, tapi kamu akan tetap di awasi bodyguard." Ujarnya pada Kinara. Barra tak mau mengambil resiko, pergaulan anak-anak jaman sekarang sudah mereka. Kinara anak perempuan satu-satunya yang harus di jaga ekstra agar tidak terjadi sesuatu yang tak di inginkan.


Tapi bukan berarti Kenzie dan Brian lepas dari pengawasnya. Barra lebih percaya pada keduanya soal menjaga diri. Mereka lebih mudah untuk di arahkan dan diberi tau, sangat jauh berbeda dengan Sisil yang lebih sering membantah dan cenderung penasaran dengan hal-hal baru.


"Ya ampun Pah, sampai kapan aku diperlakukan seperti tahanan." Keluh Kinara.


"Aku juga ingin bebas di sekolah seperti kak Zie dan Brian." Tuturnya sendu.


"Zie dan Brian tidak bebas sayang, mereka tau batasan dan bisa menjaga diri." Jawab Barra. Karna sejauh ini kedua putranya tak pernah berbuat macam-macam. Berbeda dengan Kinara yang terkadang masih membuat ulah meski di awasi oleh bodyguard.


"Jadi maksud Papa, aku tidak bisa menjaga diri dan tak tau batasan.?" Tanyanya dengan tatapan kecewa.


"Sayang bukan begitu maksud maksud Papa kamu." Tutur Yuna lembut.


"Papa begitu karna sayang dan ingin menjaga putri satu-satunya. Saat kamu dewasa nanti, kamu pasti akan merasa bersyukur karna Papa benar-benar menjaga dan melindungi kamu." Yuna menatap teduh dan penuh kasih sayang pada putrinya itu.


"Dulu waktu Mama seusia kamu, Oma juga seperti itu. Tak pernah berhenti mengawasi dan menjaga Mama."


"Setiap orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, sayang,,"


Kinara langsung terdiam, kali ini hanya terlihat merenungi ucapan sang Mama.


"Sudah siang, ayo berangkat. Mama juga akan ikut mengantar kalian." Ujar Yuna.


"Mama serius.?" Raut wajah Kinara langsung berubah ceria lagi. Dia bersemangat untuk pergi ke sekolah.


"Iya,," Yuna menganggukan kepala.


"Ayo Zie, Brian,," Ajaknya sembari beranjak dari kursi.


Barra yang mendengar Yuna akan ikut, seketika terdiam. Tentu saja dia senang bisa mengantar anak-anak bersama Yuna. Walaupun hanya mengantar ke sekolah, setidaknya akan ada waktu baginya dan Yuna untuk berduaan.

__ADS_1


Mereka sudah meninggalkan rumah. Yuna duduk di sebelah Barra yang sedang mengemudi.


"Apa Mama dan Papa happy dengan honeymoonnya.?" Seru Kinara.


Yuna dan Barra langsung melongo kaget.


"Ara, kau itu bicara apa." Tegur Kenzie.


"Aku hanya bertanya saja." Sahutnya acuh.


"Apa tidak ada pertanyaan lain." Ujar Kenzie lagi. Dia lebih dewasa di banding Kinara walaupun usianya sama, hanya berjarak beberapa menit saja.


"Eumm apa yah.?" Kinara tampak berfikir.


"Honeymoon itu seperti apa.?" Tanyanya dengan raut wajah polos.


"Astaga Ara,,," Kenzie mengetuk kening adiknya.


"Sebaiknya kau diam saja." Dia membungkam mulut Kinara dengan telapak tangannya. Adiknya itu memang tak bisa menyaring ucapan, apa yang ada di pikirannya langsung keluar begitu saja.


"Mama, Papa, Kak Zie nakal.!" Adunya setelah menepis tangan Kenzie dari mulutnya.


"Aku kan hanya ingin tau seperti apa honeymoon,"


Yuna dan Barra kompak menggelengkan kepala. Entah bagaimana bisa salah satu dari anak mereka ada yang memiliki sifat seperti itu. Walaupun bukan sesuatu yang buruk, tapi sangat membahayakan jika di lepas begitu saja tanpa pengawasan.


"Sudah jangan berdebat,," Tegur Barra.


"Kamu itu tidak malu dengan Brian, kenapa jadi Brian yang lebih cocok menjadi Kakak kamu." Ujarnya pada Kinara. Brian lebih kalem dan dewasa, dia juga tak pernah bicara macam-macam. Selalu berfikir lebih dulu jika ingin mengatakan sesuatu.


Brian penuh dengan pertimbangan dan memikirkan dampaknya.


"Papa benar, Brian lebih bisa di beritau dan di arahkan." Sahut Kenzie.


Brian hanya mengulas senyum tipis tanpa bicara apapun.


"Papa kenapa jadi menyebalkan seperti Kak Zie." Keluhan Kinara.


Suasana di dalam mobil sangat bising mulai dari keluar rumah hingga sampai di sekolah.


Mereka terus berbicara akibat sifat Kinara yang memang tak bisa diam dan selalu membuat semua orang ingin menegurnya.

__ADS_1


__ADS_2